Jangan Paksa Kita Menikah!

Jangan Paksa Kita Menikah!
Menyusuri Gedung


__ADS_3

Wilda memberi senyum kecil pada Dimas.


"Selamat bergabung, tuan Dimas," ucap wanita itu.


"Terima kasih," ucap Dimas.


"Dimas, ini Wilda, sekretaris yang papa maksud," Asberto mengenalkan wanita itu pada putranya.


Dimas membalas senyum wanita sekilas.


"Ah ya, tuan. Saya ke sini untuk meminta tanda tangan tuan yang tertunda dia hari lalu. Dan ini harus di tanda tangani sekarang juga." Wilda menyodorkan beberapa berkas yang ia bawa di tangannya.


Asberto mengecek berkas tersebut, membacanya sekilas. Setelah itu ia menandatangi berkas tersebut. Dimas memperhatikan cara kerja papanya. Ternyata tidak sesulit yang ia bayangkan.


Usai menanda tangani berkas tersebut, Asberto memberikannya lagi pada Wilda.


"Ini tanda tangan saya yang terakhir kalinya. Selanjutnya, kau bisa minta tanda tangan Dimas."

__ADS_1


Wilda mengangguk paham. "Baik, tuan. Kalau begitu saya permisi."


"Silahkan."


Wilda beranjak dari sana, meninggalkan ruangan tersebut.


"Terlihat mudah, tapi tidak semudah yang kau bayangkan juga, Dimas. Kau harus berhati-hati sebelum menandatangani berkas-berkas tersebut. Sebab sekali saja kau salah ambil langkah, maka taruhannya adalah perusahaan. Mengerti!?" Asberto mencoba memberi peringatan.


"Baik, pa. Aku pasti ingat pesan papa. Untuk berhati-hati dalam mengambil langkah."


"Bagus. Kalau begitu, kita pergi untuk menyusuri gedung ini. Sebab ini kali pertama kau menginjakan kaki di sini. Ayo."


Dimas mengikuti langkah papanya. Sepertinya akan menyenangkan menyusuri setiap sudut ruangan yang ada di gedung ini. Pintu lift sudah terbuka, Asberto sudah melangkah masuk, namun pandangan Dimas tiba-tiba tertuju pada ruangan terpencil yang kira-kira berjarak dia puluh meter dari tempat berdirinya.


"Ayo cepat, Dimas," seru Asberto sebelum pintu lift tertutup.


"Ah ya, pa. Itu ruangan apa? Bagaimana kalau kita ke ruangan itu dulu sebelum naik ke lantai atas?" tawar Dimas.

__ADS_1


"Tidak usah, itu gudang. Ayo cepat."


Alih-alih masuk ke dalam lift, Dimas justru semakin terpaku di sana.


"Ruangan apa itu sebenarnya? Sepertinya itu bukan gudang. Apa ada sesuatu di sana?"


Dimas jadi penasaran dengan ruangan yang ia lihat itu. Sampai akhirnya ia di sadarkan begitu papanya menarik pergelangan tangannya untuk cepat masuk.


***


Sementara di tempat lain, Sora memilih untuk jalan-jalan pagi di sekitaran rumah tersebut. Lumayan bisa mendapat segar, daripada tetap berada di rumah yang membuatnya merasa pengap. Terlebih tadi ia mendapat ancaman berupa hukuman dari sang papa mertua, meski itu tadi karena kecerobohannya juga.


"Sedikit-sedikit ancaman, hukuman, ancaman, hukuman. Kok bisa gitu, Dimas betah jadi anaknya?" pikir wanita itu.


"Kalau aku jadi Dimas, aku lebih baik kehilangan fasilitas, angkat kaki dari rumah berasa neraka itu, dan tidak masalah jika tidak di anggap anak."


"Pokonya aku ingin segera keluar dari rumah itu tanpa menunggu Dimas punya cukup uang untuk beli rumah. Aku masih punya sedikit tabungan. Tidak masalah tinggal di rumah kecil, yang penting nyaman tanpa tuntutan aturan ini itu. Aku harus bicarakan lagi soal ini pada Dimas. Jika Dimas tetap kukuh dan memilih tinggal di sini sampai tiga bulan ke depan, maka akupun akan tetap pada pendirian ku, yaitu keluar dari rumah ini."

__ADS_1


Sora melanjutkan lagi langkahnya berniat untuk pulang saja. Lantaran matahari sudah semakin tinggi, dan ia merasa sangat haus.


_Bersambung_


__ADS_2