Jangan Paksa Kita Menikah!

Jangan Paksa Kita Menikah!
Hari Pertama Kerja


__ADS_3

Keesokan harinya.


Pagi-pagi sekali Sora sudah bangun. Lantaran ini hari pertama Dimas akan bekerja. Meski pria itu begitu menyebalkan, tapi ia tidak akan pernah lupa dengan tugasnya sebagai seorang istri. Kecuali melayani suaminya di atas ranjang. Ia belum siap untuk hal itu.


Sora mencari sesuatu di dalam lemari Dimas. Pria itu akan kerja di kantor, berarti harus menggunakan stelan rapi. Kemeja putih, dan jas yang warnanya senada dengan celana.


Sora memilih jas berwarna hitam juga celana hitam. Sebab itu terlihat formal baginya untuk hari pertama kerja. Lantaran pakaian nya sedikit kusut, Sora berinisiatif untuk menyetrika nya. Ia meminjam setrika pada pelayan di sana yang sudah bangun.


"Biar saya saja yang menyetrika pakaian tuan Dimas, nyonya Sora. Sebab mencuci dan menyetrika sudah menjadi bagian dari tugas saya," ujar wanita yang usianya tidak jauh beda dari Sora.


"Tidak apa-apa, biar aku saja. Ini kan tugas aku juga sebagai istri. Lagipula, ini hari pertama Dimas bekerja. Jadi biar aku saja yang siapkan semua keperluannya."


Wanita itupun mengangguk patuh. Daripada harus ada perdebatan seperti kejadian di dapur beberapa hari lalu yang menyebabkan menantu bosnya sampai terluka akibat sebitan pisau.


"Iya, nyonya. Silahkan."


"Terima kasih," ucap Sora.


Sora mulai menyetrika pakaian Dimas di tempat biasa pelayan itu menyetrika. Hanya membutuhkan waktu sekitar lima belas menit, ia sudah selesai. Sora tidak melipat pakaiannya, melainkan ia menggantung pakaian tersebut dan meletakkannya di tepi ranjang. Sebelum membangunkan Dimas, Sora memilih untuk menyiapkan air hangat untuk pria itu mandi.

__ADS_1


"Menyetrika pakaian sudah, menyiapkan air hangat sudah. Sekarang tinggal bangunin dia."


Sora bergegas kembali ke arah ranjang tempat tidur untuk membangunkan Dimas, namun iris matanya seketika melebar begitu melihat pakaian yang sudah ia setrika tertindih oleh pria itu.


"Ah ya ampun, Dimaaaass ...!!!"


Sora melangkah dengan lebar dan mengguncang-guncangkan tubuh pria itu.


"Dimasss ... Bangun, Dimaaaass ... Dimaaaass ..!!!"


Dimas menggeliatkan badannya. Kedua matanya masih terpejam.


Sora terus mengguncang-guncangkan tubuh Dimas sampai pria itu membuka mata.


"Apa sih pagi-pagi teriak-teriak?" tanya Dimas dengan nada bicara khas orang baru saja bangun tidur.


"Apa, apa. Lihat jarum jam! Ini sudah hampir jam enam dan kau belum mandi!? Ini hari pertamamu kerja. Cepat bangun! Aku sudah siapkan air hangat untukmu mandi."


Dimas melirik jam dinding yang menempel di tembok. Lima menit lagi tepat jam enam. Ia seketika bangun dan bergegas turun dari tempat tidur. Berjalan ke arah kamar mandi dengan langkah tergesa. Papa nya bisa marah jika ia terlambat di hari pertamanya kerja, dan bukan yang akan ia dapat, melainkan hukuman.

__ADS_1


Sora mengambil pakaian yang tadi ia setrika dan sempat tertindih Dimas. Ia menghela napas lega lantaran pakaiannya tidak kusut.


Di meja makan saat keluarga Asberto tengah sarapan. Dimas dan Sora terlambat datang ke meja makan. Wajah Asberto sudah tampak mengerikan. Sepertinya pria paruh baya itu akan memberinya hukuman.


Bu Merry memberi sebuah kode agar Sora dan Dimas duduk dan segera sarapan. Begitu ia dan Dimas baru saja mendaratkan dirinya di kursi, Asberto beranjak menyudahk sarapannya.


"Aku sarapan nanti saja, papa pasti akan lebih marah jika aku membiarkannya menunggu lama. Apalagi sampai harus terlambat ke kantor," kata Dimas.


"Tapi, Dimas-"


"Aku berangkat kerja dulu, ya. Ma, aku berangkat," pamit pria itu menyusul langkah papanya.


"Hati-hati, Dimas," ucap bu Merry.


Dimas berlalu dari sana. Kini hanya ada Sora dan mama mertuanya saja di sana.


Semalam Dimas makan sedikit saat mereka makan malam di rumah ayahnya. Mereka kembali ke rumah Asberto usai makan malam di rumah Wiranto. Sora bergegas pergi dari sana dan menuju dapur.


_Bersambung_

__ADS_1


__ADS_2