Jangan Paksa Kita Menikah!

Jangan Paksa Kita Menikah!
Ancaman dan Pembelaan


__ADS_3

Dimas melirik jam dinding yang menempel di tembok. Lima menit lagi tepat jam enam. Ia seketika bangun dan bergegas turun dari tempat tidur. Berjalan ke arah kamar mandi dengan langkah tergesa. Papa nya bisa marah jika ia terlambat di hari pertamanya kerja, dan bukan yang akan ia dapat, melainkan hukuman.


Sora mengambil pakaian yang tadi ia setrika dan sempat tertindih Dimas. Ia menghela napas lega lantaran pakaiannya tidak kusut.


Di meja makan saat keluarga Asberto tengah sarapan. Dimas dan Sora terlambat datang ke meja makan. Wajah Asberto sudah tampak mengerikan. Sepertinya pria paruh baya itu akan memberinya hukuman.


Bu Merry memberi sebuah kode agar Sora dan Dimas duduk dan segera sarapan. Begitu ia dan Dimas baru saja mendaratkan dirinya di kursi, Asberto beranjak menyudahk sarapannya.


"Aku sarapan nanti saja, papa pasti akan lebih marah jika aku membiarkannya menunggu lama. Apalagi sampai harus terlambat ke kantor," kata Dimas.


"Tapi, Dimas-"


"Aku berangkat kerja dulu, ya. Ma, aku berangkat," pamit pria itu menyusul langkah papanya.


"Hati-hati, Dimas," ucap bu Merry.


Dimas berlalu dari sana. Kini hanya ada Sora dan mama mertuanya saja di sana.


Semalam Dimas makan sedikit saat mereka makan malam di rumah ayahnya. Mereka kembali ke rumah Asberto usai makan malam di rumah Wiranto. Sora bergegas pergi dari sana dan menuju dapur.


"Sora, mau kemana?" tanya bu Merry, namun Sora tidak menjawab.


"Aku boleh minta kotak makan?" tanya Sora pada seorang pelayan yang tengah membereskan pantry.

__ADS_1


Pelayan itu menoleh. "Untuk apa, nyonya?"


"Boleh?"


Pelayan itu mengangguk. "Iya. Sebentar, saya ambilkan."


Sora tidak sabar menunggu pelayan tersebut mengambilkan kotak makan nya.


"Ini, nyonya."


Sora segera menyambar kotak makan tersebut dari tangan si pelayan.


"Terima kasih," ucapnya lalu pergi untuk kembali ke meja makan.


Sora memasukan beberapa potong roti ke dalam kotak makan tersebut.


"Untuk Dimas, ma," jawab Sora masih sibuk memasukan roti ke dalam kotak makan.


Setelah selesai, Sora berlari untuk menyusul langkah Dimas. Berharap jika pria itu belum benar-benar berangkat.


Begitu sampai depan rumah, ia melihat mobil yang membawa Dimas sudah hampir melewati gerbang.


"Tungguuuu ...!!!" teriak Sora dan segera lari dari sana.

__ADS_1


Sora lari dengan sekuat tenaga. Beruntungnya ia bisa menghadang mobil tersebut sebelum mobil itu keluar dari pintu gerbang.


Asberto sontak mengerem mendadak. Ia menatap seseorang yang menghadang mobilnya, lalu berganti menatap Dimas yang duduk di sebelahnya.


"Kenapa dia?" tanya Asberto pada Dimas.


"Aku tidak tahu, pa."


Sora lalu mengetuk kaca pintu dan Dimas membuknya.


"Dimas, aku bawakan bekal untukmu. Aku tahu kau pasti akan lapar di kantor." Sora menyodorkan kotak makan tersebut pada Dimas, pria itu menerimanya.


"Kau tahu apa yang barusan kau lakukan itu membahayakan?" seru Asberto, seketika membuat tubuh Sora tesentak kaget. "Sekali lagi berbuat seperti barusan, saya tidak akan segan-segan memberi hukuman!" ancam nya kemudian.


Sora menunduk. Ia tahu apa yang di lakukannya barusan sangat berbahaya.


"Aku minta maaf," ucap Sora kemudian.


Dimas jadi tidak tega melihat Sora ketakutan seperti itu karena papanya.


"Jika papa ingin memberi hukuman, hukum aku saja. Sora tidak salah, aku yang melewatkan sarapanku," sahut Dimas.


Pria itu berusaha membela Sora dari ancaman papanya. Asberto tidak berkata apapun lagi, ia memilih untuk mengemudikan lagi mobilnya, lantaran ia bisa terlambat jika harus meneruskan perdebatan ini.

__ADS_1


Sora menghela napas lega. Beruntung Dimas membelanya di depan papa mertuanya yang begitu menyeramkan.


_Bersambung_


__ADS_2