
Setelah makan malam, Sora dan Dimas langsung masuk ke kamarnya. Keduanya membaringkan tubuh di atas tempat tidur yang sama. Sementara Dimas sibuk dengan ponselnya, Sora tampak berpikir untuk mencari topik pembicaraan.
"Dimas," panggil Sora lirih.
"Hm," jawab Dimas tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponsel.
"Aku punya rencana untuk pindah dari sini tanpa menunggu satu atau sampai tiga bulan lagi."
Kalimat Sora menarik perhatian Dimas. Pria itu langsung menaruh ponselnya ke atas nakas, lalu memandang wajah Sora dengan serius.
"Maksudmu?"
"Aku tidak tahan berada di rumah ini setiap hari dengan aturan yang konyol itu. Aku tidak sanggup jika harus menunggu sampai tiga bulan lagi. Maka dari itu aku putuskan untuk pindah saja, tidak perduli kau setuju atau tidak, kau mau ikut atau yidak."
"Tapi-"
"Iya tapi. Tapi itu sebelum aku tahu kalau peraturan di rumah ini ternyata tidak berlaku jika papamu sedang tidak ada di rumah," pangkas Sora memotong kalimat yang hendak Dimas katakan.
"Jadi?"
"Jadi aku putuskan untuk tetap bertahan tinggal di sini selama waktu yang sudah kau tentukan, yaitu tiga bulan. Atau jika kau masih juga belum punya cukup uang untuk membeli rumah yang nantinya akan kita tinggali, aku tidak apa-apa jika harus menunggu waktu empat sampai enam bulanan lagi."
Dimas memandang wajah Sora ragu. "Kau yakin?"
Sora mengangguk. "Tentu saja."
"Kau tahu alasan kenapa papa memaksa aku menikah denganmu?" tanya Dimas dan mendapat gelengan dadi Sora.
"Memangnya kau tahu?" Sora balik bertanya.
"Aku tidak tahu. Tapi aku yakin, salah satu alasan di antara alasan yang kuat itu, papa ingin aku meneruskan perusahaannya. Dan sekarang aku sudah mau menjadi pemimpin di perusahaan papa."
__ADS_1
"Lantas?" Sora masih tidak paham.
"Jika aku sudah menggantikan papa untuk memimpin perusahaan, maka papa akan berada di rumah. Dan jika papa ada di rumah, maka aturan itu akan berlaku. Sampai sini kau paham mengapa aku meragukanmu barusan?"
Sora diam sejenak, mencoba mencerna baik-baik kalimat Dimas. Dan begitu ia sudah paham, ia langsung menggeleng keras.
"Sekarang masih mau bertahan empat sampai enam bulanan lagi?" tanya Dimas.
"Tidak, tidak, tidak. Aku tidak mau. Aku tarik lagi saja ucapanku."
Dimas terkekeh melihat ekspresi wajah Sora.
"Kalau begitu kau jangan bekerja di kantor papamu saja. Kau yang enak, bisa bebas dari aturan rumah. Sementara aku?" Sora menunjuk dirinya sendiri. "Aku akan sangat menderita, Dimas."
"Hahaha ..." Dimas malah tertawa, itu membuat Sora jadi kesal.
"Kau senang melihatku menderita? Kau senang kan?"
Sora mengernyit. "Apa maksudnya mudah di bohongi?" seru wanita itu.
"Kau pikir papa hanya mempunyai satu perusahaan saja?"
"Maksudmu?"
"Papa menginginkan aku meneruskan perusahaannya karena papa masih memiliki urusan lain yang tidak bisa di handle oleh orang lain."
Sora menghela napas lega. Ia pikir Dimas bicara sungguhan jika papa mertuanya itu akan lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah.
"Tapi kali ini kau bicara serius kan?" Sora memastikan jika pria itu tidak membohongi nya lagi.
Dimas menggeleng. "Aku bicara serius."
__ADS_1
"Ya sudah, kalau begitu aku bisa tidur nyenyak sekarang." Sora yang semula duduk menyandar kini membaringkan tubuhnya.
"Bukankah setiap malam juga kau tidur nyenyak? Sampai-sampai kau tidak sadar jika aku sudah menyentuh bagian tubuhmu."
Sora yang hendak memejamkan mata kini malah memelotot. Ia yang sudah berbaring sontak bangun lagi.
"APA KAU BILANG?" seru wanita itu.
"Aku menyentuh bagian tubuhmu," jawab Dimas santai.
"Bagian yang mana? Cepat katakan padaku kau menyentuh bagian tubuhku yang mana, Dimas? Kenapa kau lancang sekali?" cecar Sora.
"Itu bukan lancang, tapi hak. Dan aku bebas menyentuh tubuhmu bagian manapun. Termasuk itu." Dimas mengedikan dagunya ke arah bawah perut Sora.
Wanita itu spontan memegangi area tersebut dan iris matanya semakin melebar.
"Kau menodaiku!" Sora mencubit pinggang Dimas hingga membuat pemiliknya memekik antara rasa sakit dan juga geli.
"Aaww hentikan, Sora! Hentikan!"
"Ini hukuman untukmu!"
"Aww ahaha .. A aww ..."
Dimas berusaha mengalihkan tangan Sora dari pinggang nya, lantaran wanita itu tidak juga mau berhenti menghujani nya dengan cubitan. Sampai akhirnya ia tidak sengaja mengalihkan tangan wanita itu ke bagian area terlarang.
Seketika keheningan terjadi di antara mereka. Lagi-lagi iris mata Sora melebar. Melihat tangannya saat ini menyentuh sesuatu yang terasa mengeras.
"Aaarrggghhhh ..."
_Bersambung_
__ADS_1