
Mereka tidak mendapat tanggapan, Kirana dan Morgan berjalan lebih jauh ke dalam, rumah yang sangat besar hampir sebesar rumah Ayah Kirana.
Morgan membawa Kirana ke ruang kerja ayahnya. Di sana mereka melihat ayah Morgan di lantai tak sadarkan diri, Pria tua itu dipenuhi oleh memar dan darah. Morgan turun dan mulai memeriksa organ vital ayahnya sementara Kirana menelpon memanggil ambulans.
Ketika ambulans sampai di sana, Morgan pergi bersama mereka. Morgan memberi tahu Kirana bahwa ayahnya membutuhkan perhatian medis segera dan sementara itu, Kirana harus pergi mencari Annan.
Kirana ingat kata-kata Annan.
"aku suka datang ke sini, ini seperti pelarian bagi ku!"
Kirana masuk ke dalam mobilnya dan kembali ke kantor. Sesampainya di sana ia naik ke rooftop. Di sana Kirana melihat seseorang duduk bersandar di sisi bangunan.
Perlahan Kirana berjalan ke orang itu dan melihat itu adalah Annan, Kirana duduk di sebelahnya. Mereka berdua diam, Annan tidak mengakui kehadiran Kirana, Tapi Setelah beberapa menit, Annan akhirnya membuka mulutnya.
"Apakah dia baik baik saja?" Annan berkata memecah kesunyian, Kirana menatapnya tapi Annan melihat lurus ke depan. Membuat Kirana melihat ke depan juga,
"Mungkin!... Morgan bilang dia perlu dijahit" Ujar Kirana.
"Apakah kamu baik-baik saja?" Ujar Kirana lagi masih melihat ke depan. Annan menatap Kirana sebentar dan setelah itu Dia melihat ke bawah tangannya. Kirana pun mengikuti Arah Pandangan Annan dan melihat tangan Pria itu berdarah dan memar. Sebelum Annan memiliki kesempatan untuk menarik tangannya, Kirana bergerak dan duduk di depannya sambil memegang tangan kanan Annan.
Kirana dengan cepat mengambil tasnya dan mengeluarkan kotak P3K yang ia simpan di sana untuk keadaan darurat dan mulai membersihkan serta membalut tangan Annan dengan perban.
"Aku tidak bermaksud memukulnya terlalu keras" Ujar Annan sambil melihat ke bawah ke arah tangannya.
"Aku sangat marah," Lanjutnya.
"Mengapa?" Tanya Kirana, Kirana tahu Annan tidak terlalu menyukai Harima
Jadi Kirana ragu Annan akan sangat menyakiti ayahnya demi Harima, atau apakah ada sesuatu yang tidak Kirana ketahui.
Annan terus melihat tangannya,
"Itu karena ibuku" Ujar Annan membuat Kirana menatapnya bingung, Kirana tahu Harima bukan ibu kandungnya ia mendengar desas-desus bahwa Ibu Annan meninggal ketika Annan masih muda.
"Apa hubungannya dia dengan ini?" Tanya Kirana lagi
"Dulu dia melakukan hal yang sama pada Ibuku," Ujar Annan pelan. Membuat Kirana tersentak kaget
__ADS_1
"A-apa," Ujar Kirana tanpa sadar.
Kirana terus melihat Annan, Pria itu memiliki ekspresi yang sama di wajahnya seperti anak yang tak berdaya. Kirana tidak pernah berpikir ia akan melihat ekspresi seperti itu pada Wajah Annan, bukan seperti Annan Keanu Winata yang hebat, Tapi Seperti Annan yang lemah
"Dia biasa memukuli ibuku... Dan aku tidak pernah bisa berbuat apa-apa... Aku mendengar dia menjerit dan menangis kesakitan... Beberapa kali aku bahkan melihatnya melakukannya juga... dia selalu wajahnya seperti ini ketika dia melakukannya," Ujar Annan menahan amarah.
"Seolah-olah dia bangga dengan apa yang dia lakukan... Seperti memukul istrinya di depan putra mereka adalah sebuah pencapaian... Dia senang melakukannya... Dia senang mengetahui bahwa keluarganya ketakutan. Karena dia..." Lanjutnya dan tiba-tiba ekspresi anak kecil tak berdaya itu hilang digantikan oleh ekspresi dingin i wajahnya.
"Tu tuan Annan kau baik-baik saja?" Ujar Kirana, Annan membelakanginya. Tidak menjawab.
"Dimana Morgan saat itu?" Kirana bertanya. Annan mengeluarkan tawa tanpa humor,
"Morgan bahkan tidak tahu... dia sibuk di sekolah kedokterannya," Ujar Annan Datar.
"Apakah kamu tahu bagaimana ibuku meninggal?" Annan bertanya pada Kirana dengan wajah serius. Kirana mulai berpikir,
Kirana ingat pernah mendengar ayahnya membicarakannya ketika ia masih muda.
"Bukankah dia meninggal dalam kecelakaan mobil?" Ujarku sedikit ragu,
"Itu yang semua orang pikirkan... bahkan Morgan berpikir begitu tapi itu tidaklah benar" Ujar Annan dan berjalan menuju tepi gedung, Kirana pun mengikutinya
"Dia bunuh diri... Suatu hari aku pulang dari sekolah dan menemukannya di kamarnya dengan luka di pergelangan tangan..." Ujarnya pelan membuat Kirana terkesiap dan menutup mulutku dengan tangan.
"Ayahku mempekerjakan beberapa orang dan membuatnya seolah-olah dia meninggal dalam kecelakaan mobil," Ujar Annan lalu menatap Kirana
"Hanya 3 orang yang tahu yang sebenarnya, ayahku, aku dan sekarang kamu" Lanjutnya
"Ke Kenapa kamu memberitahuku ini?" Ujar Kirana ingin tau lagi
Annan melangkah lebih dekat ke arah Kirana dan meletakkan tangannya di pipi Gadis itu,
"Kirana jika sesuatu terjadi padaku, aku ingin kamu mengatakan yang sebenarnya tentang apa yang terjadi pada ibuku" Ujar Annan pelan
"Apa... Tapi tidak akan terjadi apa-apa padamu... kan?" Ujar Kirana. Annan tidak menjawabnya
"Berjanjilah padaku Kirana!"
__ADS_1
Setetes air mata jatuh di pipi Kirana saat memikirkan sesuatu yang buruk akan terjadi pada Annan
"Aku berjanji pada!." Ujar Kirana pelan.
Annan memberinya senyum kecil dan menghapus air mata Kirana. Tiba-tiba Annan dan Kirana mendengar suara sirene, Kirana melihat ke tempat parkir dibawah dan melihat itu mobil polisi.
"Sial" Ujar Annan mendesis
"Bagaimana mereka tahu di mana kau berada?" Ujar Kirana panik
"Aku tidak tau"
Mereka melihat polisi sudah memasuki gedung. Annan menatap Kirana.
"Apakah ayahku pingsan saat kalian menemukannya?" Tanya Annan cepat
"iya," Ujar Kirana terkejut dengan pertanyaan yang tiba-tiba itu.
"Kalau begitu dia seharusnya belum bangun ... mereka mungkin memberinya obat yang akan membuatnya tidur sampai besok ... dan Morgan tidak akan ..." Ujar Annan lebih pada dirinya sendiri kemudian mereka sadar dan Kirana menyadari apa yang Annan katakan.
"Lalu siapa yang menelepon polisi?"
"Aku yang melakukannya!" Mereka melihat ke arah pintu dan di sana ada Harima.
"Nyo Nyonya Harima? kamu menelepon polisi" Ujar Kirana terkejut.
"KENAPA KAU MELAKUKAN ITU!" Annan berteriak marah pada Harima. Dia mulai berjalan ke arahnya, niat membunuh terpancar jelas dari mata Annan. Tapi sebelum itu Kirana sudah berdiri di depannya.
"Tuan Annan tenanglah," Ujar Kirana menenangkan,
"KENAPA KAU MEMANGGIL POLISI HA?!" Annan berteriak kepada Harima mengabaikan Kirana
"A-aku harus Annan! Kau menyakiti pria yang kucintai," Ujar Harima ketakutan.
"PRIA YANG KAMU CINTAI!" Annan berteriak, "BAJINGAN ITU TELAH MEMPERLAKUKAN MU SEPERTI SAMPAH!" teriaknya lagi.
"Annan tenanglah!" Kirana menyebutkan namanya tanpa ada kata Tuan hingga membuat Kirana sendiri terkejut.
__ADS_1
Annan menatap Kirana kemudian mendesah. Annan berjalan menuju tepi atap lagi untuk menenangkan diri. Pintu terbuka dan polisi masuk. Mereka berjalan menuju Annan.