Jatuh Cinta Oleh Kehangatan Pria Lain

Jatuh Cinta Oleh Kehangatan Pria Lain
Terguncang


__ADS_3

"Tentu saja," Ujar Annan. Morgan dan Annan mengantarnya ke pintu depan,


"Oh, aku hampir lupa" kata Aldo dan mengeluarkan selembar kertas dan pulpen, dia menulis beberapa angka di atasnya dan memberikannya padaku.


"Itu nomorku, mungkin Kapan-kapan kita bisa nongkrong untuk minum," Ujarnya, dan Annan hanya menyeringai padanya.


"Ya, aku akan menelepon mu," Ujar Annan, lalu Aldo pergi. Morgan dan aku berjalan kembali ke ruang tamu, ia berhenti ketika melihat Bagas bersandar di dinding di sebelah pintu masuk ruang tamu, Bagas melihat ke bawah lantai.


Annan berjalan ke arahnya, Bagas terlihat pucat hampir seperti melihat Hantu. Membuat Annan mulai khawatir, apakah dia sakit atau apa?


"Bagas ada yang salah?" ujar Annan bertanya kepadanya. Bagas menatap Annan, dia terlihat ketakutan.


"A annan..." Ujarnya. Annan memegang bahunya,


"Bagas ada apa? beritahu aku".


Dia menelan gumpalan di tenggorokannya,


"A Annan pria yang baru saja di sini..." Ujarnya pelan.


"Ya dia Aldo, bagaimana dengan dia?" Ujar Annan mulai penasaran dan khawatir di saat yang bersamaan.


"Suara Dia yang kudengar pada hari tubuh Kirana dibuang!" Bagas berbisik menatap Annan berharap mendapatkan Reaksi Annan Namun Wajah kosong lah yang ia terima,


Annan memang hanya menampilkan wajah Kosong Namun di dalam Hatinya Annan merasa seperti gunung berapi yang baru saja meletus.


Napas Annan tersangkut di tenggorokan, semuanya berjalan lambat, semuanya kabur. Hal berikutnya yang ia tahu, Annan berada di dalam kamarnya, merobek semuanya.

__ADS_1


Semua barang-barangnya sekarang tergeletak di tanah, beberapa di antaranya rusak, yang lain tergeletak begitu saja.


Annan mendengar seseorang memanggil, mungkin Morgan tapi ia tidak menggubrisnya. Annan terlalu sibuk menghancurkan kamarnya, tempat perlindungannya. Satu-satunya tempat di bumi yang menyerupai dirinya, dan sekarang semuanya hancur, semuanya hancur, semua pecahan berserakan di Atas lantai


Annan akan melempar bingkai foto ke lantai ketika ia merasakan dua tangan menghentikannya, Annan mendongak dan melihat wajah Morgan sedang menatapnya, Morgan memberikannya tatapan Simpati.


Annan menjauh darinya dan duduk di tempat tidur yang sekarang sudah rusak, Morgan duduk di sebelahnya dengan tenang.


"Aku tahu kamu marah, dan kamu mungkin tidak mau bicara denganku," Ujar Morgan dengan suara tenang.


"Kamu benar, aku tidak mau bicara dengan mu" Ujar Annan dengan nada marah.


"Kau harus rasional Annan kau tidak bisa pergi dan menghancurkan kamarmu karena kau marah atau sedih" Ujar Morgan menghela nafas, Annan berdiri dan mulai berjalan menjauh dari Morgan


Morgan benar, ia tahu dia marah. Annan memang tidak rasional dan tidak waras, tapi Annan tidak Peduli... Tidak sekarang, Annan tidak ingin rasional. Salah satu teman terdekatnya sejak masa kanak-kanak entah bagaimana terkait dengan penyerangan terhadap satu orang yang ia cintai...


Annan berjalan ke pintu, Morgan dan Bagas mencoba membujuk Annan untuk tetap tinggal dan menenangkan diri. Tapi permohonan mereka Sama sekali tidak di gubris oleh Annan.


Annan berjalan mendekati pintu dan mengambil jaketnya, di sakunya berisi kunci, dompet, dan ponsel.


Annan pun membuka pintu dan pergi, tidak repot-repot mengatakan apa pun kepada mereka atau bahkan melirik mereka sekalipun.


Annan mengambil langkah cepat ke mobilnya dan masuk ke dalam, ia menyalakannya dan mengemudi dengan cepat tidak peduli ke mana Arah tujuannya.


Setelah sekitar satu jam berkeliling Annan pergi ke pom bensin dan mengisi tangki, ia masuk ke dalam toko dan sangat tergoda untuk membeli salah satu dari banyak botol wiski yang ada di rak.


Tapi Annan memutuskan untuk tidak melakukannya, ia tidak akan mabuk di saat mengemudi, ia tidak mau mengambil resiko menabrak orang yang tidak bersalah hanya karena ia sedang Kalut.

__ADS_1


Annan memilih sebungkus rokok sebagai gantinya, ia dulu merokok di sekolah menengah tetapi berhenti ketika Morgan mengetahuinya.


Tapi sekarang, ia tidak peduli siapa yang tahu. Annan membeli sebungkus dan korek api. Segera setelah ia keluar dari toko kecil itu, Annan memasukkan salah satu batang rokok ke dalam mulutnya dan menyalakannya. Annan menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya, merasa sedikit lebih tenang dari sebelumnya.


Annan kembali ke dalam mobilnya dan mulai mengemudi, sekali lagi ia mulai berkeliling tanpa tujuan. Setelah berhasil menghabiskan 3 batang rokok, Annan menghentikan mobil ketika ia melihat taman masa kecil yang dulu ia kunjungi ketika ia masih kecil.


Annan memarkir mobil dan berjalan ke taman bermain yang sekarang terbengkalai, terlihat seperti kebun dibandingkan dengan dulu. Annan berjalan ke ayunan, satu-satunya yang masih berdiri. Ia berjalan ke arah ayunan dan duduk di salah satu yang tampaknya paling stabil dari keenamnya.


Annan duduk di sana selama berjam-jam, hanya berpikir. Bagaimana ia bisa begitu dekat dengan seseorang yang terlibat dalam kejahatan yang begitu mengerikan?


Bagaimana mungkin ia bisa dulu tidur di kamar yang sama dengannya? Memanggilnya saudaranya yang lain? Bagaimana mungkin seseorang yang sangat berarti bagi Annan melakukan sesuatu yang begitu mengerikan kepada wanita yang ia cintai?


Tumpukan pertanyaan menumpuk di benak Annan, masing-masing membuatnya merasakan semacam penyesalan.


Annan duduk sendirian dengan pikiran yang sedang mengenang kenangan masa kecilnya dulu.


Ia melihat-lihat taman bermain, kenangan tentang Morgan, Aldo dan Dirinya saat kecil berlarian dengan senyum di wajah mereka terus menghantuinya.


Mungkin suatu hari nanti ia akan membawa Kirana ke sini, sebelum mereka meruntuhkan semuanya dan membangun sesuatu yang baru di atas reruntuhan ini. Annan melihat sekeliling lagi, mereka mungkin akan membangun semacam toko dengan semua tanah ini. Sayang sekali, Annan selalu berharap untuk membawa anak-anaknya ke sini kelak, sehingga mereka dapat membangun kenangan indah di sini seperti yang dilakukan ayah mereka bertahun-tahun sebelumnya.


Tapi bagaimana jika ia tidak bisa membawa Kirana ke sini? Bagaimana jika dia tidak bangun tepat waktu sebelum mereka merobohkannya? Apa Kirana tidak akan bangun?


Akankah Kirana akan menghilang dari ingatanku?


TIDAK,! Itu tidak akan terjadi


Bahkan jika semua orang melupakan Kirana, Annan tidak bisa. Ia tidak bisa melupakan Kirana, apa pun yang terjadi. Annan berdiri dari ayunan setelah berjam-jam duduk di sana. Matahari baru saja memuncak di cakrawala, Annan berjalan kembali ke mobil dan menyalakannya, dan mulai mengemudi. Ia memiliki tempat tujuan yang ingin ia kunjungi

__ADS_1


Setelah satu jam berkendara akhirnya Annan sampai disana, ia memarkir mobil dan keluar. Memastikan untuk mengunci pintu mobilnya, Annan berjalan ke depan gedung itu, Annan menarik napas dalam-dalam dan membuka pintu kaca itu.


__ADS_2