
Annan sedang tidur di tempat tidurnya ketika ia mendengar teleponnya berdering. Annan pun membuka mata dan melihat jam weker di meja samping tempat tidur, menunjukkan pukul 03.23 pagi, membuat ia mengerang.
Siapa sih yang akan menelepon pada jam 3 pagi? Annan pun menjawab telepon dan memejamkan mata lagi ingin kembali tidur,
"Halo"
"Annan" suara Morgan berkata di seberang telepon terdengar jelas di telinga nya
"Morgan? Kenapa kau meneleponku pagi-pagi buta begini Bodoh?" ujar Annan ke telepon dengan sedikit kesal karena tidurnya terganggu.
"Annan, Kirana Ada di sini!" Ujarnya, membuat Annan membuka kembali matanya yang tertutup tadi
"Kenapa Kirana bisa ada di sana?"
"Tck, Annan Sadarkan dirimu, Sekarang Kirana ada di sini di rumah sakit,"
Segera setelah Annan mendengar bahwa Kirana masuk rumah sakit, ia pun bangun dan mulai memakai sepatu dan jaketnya dengan Cepat
"Aku akan segera ke sana," Ujar Annan sambil menutup telepon. ia dengan cepat berkendara ke rumah sakit dengan kaos dan celana olahraganya, membelah jalanan kota dengan Cepat pada jam 3 pagi.
Ketika ia sampai di sana Annan berteriak pada perawat dan mengancam beberapa dari mereka sebelum mereka memberi tahunya di kamar mana Kirana berada.
Ketika Annan mengetahui di kamar mana dia berada, ia pun berlari ke sana dan perlahan membuka pintu. Tidak tahu apa yang terjadi di dalam.
Annan melihat Kirana berbaring di tempat tidur, matanya terpejam. Annan berjalan mendekatinya, Kepala dan Lehernya di lilit dan di perban.
Kirana memiliki memar di sisi kanan rahangnya dan luka di bibirnya. Bibirnya terlihat kering dan terkelupas, tidak terlihat seperti itu saat terakhir kali ia melihatnya beberapa jam yang lalu. Kirana terlihat lebih pucat dan kulitnya lembap.
Annan menarik salah satu kursi dari sisi lain ruangan di samping tempat tidur itu dan duduk.
Annan meraih tangan kanan Kirana dengan kedua tangannya dengan perlahan dan hati-hati seolah-olah dia kaca yang rapuh.
Annan melihat tangannya dan melihat kotoran di tangan Kirana dan betapa dinginnya tangan itu. Yang Annan tau Tangan Kirana tidak pernah dingin. Apa lagi bisa sedingin ini.
Pintu terbuka tapi Annan tidak mendongak untuk melihat siapa itu. ia mendengar langkah kaki mereka berjalan ke arahnya, baru setelah ia merasakan tangan di bahunya, Barulah ia melihat ke atas.
__ADS_1
Morgan menatapnya, dia meremas bahu Annan pelan. Annan memalingkan muka darinya dan kembali menatap Kirana.
"Apa yang terjadi?" Ujar Annan pelan
"Sepasang suami istri membawanya masuk, mereka berkata bahwa mereka menemukannya di tanah samping jalan raya dalam perjalanan pulang dari kencan mereka!"
"Kami memeriksanya, dia mengalami luka parah di kepala dan memar di lehernya... Kami menduga dia dirampok" Ujar Morgan dengan simpatik.
"Aku berada di rumah sakit lain pada saat itu dan ketika aku berdiri disana aku melihat Kirana dibawa ke ruang gawat darurat, Aku pun memberi tahu ambulansnya untuk membawanya ke sini," Lanjutnya.
"Dari memar di lehernya, kita bisa tahu bahwa dia dicekik sampai pingsan atau hampir," Ujar Morgan sambil melihat perban di leher Kirana
"Apakah dia akan baik-baik saja?" Tanya Annan takut akan jawabannya.
"Saat ini dia dalam keadaan koma, siapa pun yang melakukan ini memukul kepalanya cukup keras. Kita tidak akan tahu seberapa parah kerusakannya sampai dia bangun... jika dia bangun..." Morgan mengoreksi Ucapannya, membuat Annan menatap dirinya
"jika dia bangun?" Ujar Annan ulangi saat hatinya sakit mendengar itu, Morgan menganggukkan kepalanya dengan sedih.
"Apa maksudnya Kirana tidak akan bangun?" Batin Annan
"Apakah kamu sudah menelepon keluarganya?" Ujar Annan bertanya. Dari sudut matanya, Annan melihat Morgan menggelengkan kepalanya,
"Ini sudah larut dan aku pikir kamu ingin berduaan dengannya dulu ..." Ujar Morgan.
"Terima kasih, Morgan.." Ujar Annan jujur, Morgan menganggukkan kepalanya.
"Kita Saudara..." Ujar Morgan meremas bahu Annan untuk terakhir kalinya sebelum dia meninggalkan ruangan.
Annan masih menatap Kirana, ia mengulurkan tangannya dan membelai rambut Kirana lembut.
"Kirana... aku berjanji padamu... aku akan mencari tahu siapa yang melakukan ini..." Ujar Annan berbisik padanya saat air mata perlahan mulai mengenang di matanya, Annan merasakan tenggorokannya tercekat.
"Aku tidak akan membiarkan mereka lolos dengan melakukan ini padamu..." Lanjutnya
Annan memaksa senyumannya yang menyedihkan, tetapi seberapa baik ia tersenyum itu tidak akan membuat Senyuman itu terlihat Bahagia.
__ADS_1
Annan melihatnya berbaring di tempat tidur Dengan tabung di sekelilingnya beserta mesin yang membantunya agar tetap hidup.
"Aku mohon bangunlah..." Ujar Annan rapuh dan perlahan berdiri. ia mencium kening Kirana dalam beberapa detik sebelum menarik dirinya
"Aku harus pergi... aku yakin keluargamu ingin bertemu denganmu..." Ujar Annan sambil menyentuh wajah Kirana untuk terakhir kalinya, dan dengan berat hati berjalan keluar ruangan.
Adit duduk di lantai dapur menatap jam,. Ini jam 5:05 pagi, ia terus melihat gerakan jarum jam dan kemudian jam 5:06 pagi. Matanya lelah dan kelopak matanya terasa berat tetapi Adit terus menatap jam saat ia perlahan-lahan jatuh semakin jatuh ke dalam kegilaan.
Adit mengalihkan perhatiannya ke meja dapur kayu yang bersih, di atasnya tergeletak Vas bunga besar yang berlumuran darah istrinya, Adit terus mengawasinya, takut jika ia memalingkan muka, seseorang akan datang dan mencurinya.
Adit pun berdiri dan berjalan ke arahnya, Adit mengambilnya tetapi begitu memegangnya, ia menjatuhkannya kembali seolah-olah tangannya terbakar.
Telepon mulai berdering membuatnya takut, ia berjalan ke arah telepon dan perlahan menjawabnya.
"Halo,"
"Apakah ini Tuan Adit Putra?" Ujar seorang wanita di jalur lain.
"Ya,"
"Apakah mereka sudah mengetahuinya?" Batin Adit takut
"Halo Tuan Putra, Saya seorang perawat dari rumah sakit Winata, Saya minta maaf untuk memberitahumu tapi istrimu Kirana Lestari mengalami beberapa cedera dan saat ini sedang berada di rumah sakit kami!" Ujar Wanita itu membuat Adit sedikit lega
"Kirana ada di rumah sakit?" Ujar Adit masih melihat Vas itu.
"Ya, itu benar, kami yakin dia mungkin telah diserang secara fisik," Ujar Wanita itu
"Aku tidak bisa membayangkan siapa yang ingin menyakiti istriku... aku akan segera ke sana," ujar Adit lalu menutup telepon tanpa menunggu jawaban. ia berjalan ke arah Vas bunga itu dan mengambilnya, kali ini tidak menjatuhkannya lagi.
Adit pun berjalan keluar dari pintu belakang yang mengarah ke halaman belakang Rumah.
Satu Minggu Kemudian.
Annan berbaring di tempat tidurnya di bawah selimut menatap ke luar langit. Ketika ia mendengar pintu Kamarnya yang terbuka,
__ADS_1