
Annan melihatnya dan membaliknya,
"Ini Buku harian siapa?" Ujar Annan
"Kami pikir itu milikmu," Ujar Bagas, Annan menggeleng,
"Ini bukan milikku, aku tidak menyimpan buku harian"
Annan membuka sampulnya dan di kiri bawahnya terlihat nama seseorang,
"Morgan Wijaya" Ujar Annan sambil tertawa kecil
"Siapa Morgan?" Tanya Udon
"Kakakku," Ujar Annan sambil menyeringai.
"Apakah ada sesuatu yang menarik yang kamu temukan di sini?" Ujar Annan kepada mereka, mereka menganggukkan kepala dan membuka halaman di mana mereka tinggalkan.
Mereka berempat duduk di lantai dan membaca tentang bagaimana remaja Morgan jatuh cinta dengan seorang gadis yang ditemuinya di sekolah.
"Bisakah kamu bayangkan apa yang akan dilakukan Tiara jika dia menemukan ini?" Ujar Annan dengan lantang.
"Siapa Tiara?" Tanya Mega
"Tiara adalah Kekasihnya Morgan, dia sangat menakutkan ketika marah... Dan dia tipe pencemburu," Ujar Annan.
Mereka semua saling memandang memikirkan hal yang sama,
"Bagaimana jika kami mengirimkan ini kepadanya? Dia tidak akan pernah tahu itu adalah kami" Ujar Bagas dengan tatapan jahat di matanya.
"Apa yang kalian lakukan" Tiba-tiba suara seseorang mengangetkan mereka, Mereka semua melihat ke atas dan di depan Mereka ada Morgan.
Annan segera menyembunyikan buku itu di belakang punggungnya, tetapi Morgan melihatnya.
"Apa itu?" Ujar Morgan penasaran
"Tidak ada" Ujar Annan.
Morgan berjalan mendekat lalu berjongkok dan mulai menggelitik Annan dan pegangan Annan pada Buku harian itu pun seketika melemah, dengan cepat Morgan mendapatkannya.
Ketika dia menyadari apa itu, Morgan mulai tersipu malu,
"Da Dari mana kamu mendapatkan ini!" Ujarnya Gugup
__ADS_1
"Mereka menemukannya di salah satu kotak pakaian lama kita yang ingin ku singkirkan," Ujar Annan sambil menyeringai.
"Untung aku tidak melakukannya," Lanjut Annan.
Morgan melihat ke arah tiga remaja lainnya dan menatap Annan.
"Dengar Annan ketika aku berkata kamu harus mendapatkan beberapa teman, aku berharap kamu akan mendapatkan lebih banyak teman yang seusiamu" Ujar Morgan sinis.
Annan berdiri dan memukul lengan Morgan.
"Mereka menginap di sini malam ini, mereka tidak punya tempat lain untuk pergi. Ditambah mereka memberi tahuku beberapa informasi tentang kasus Kirana" Ujar Annan
Annan berjalan menuju ruang tamu dengan Morgan di belakangnya dan Mereka pun duduk di sofa. Dia memperhatikan semua file dan menyadari bahwa itu tentang kasus Kirana
"Di mana kamu mendapatkan ini?" Ujar Morgan
"Piter mendapatkannya untukku, tapi bagaimanapun juga," Ujar Annan dan menyerahkan file tentang apa yang dilihat pasangan itu.
"Di sana dikatakan bahwa pasangan yang menemukan Kirana Melihat beberapa anak mencoba menyentuhnya dan mereka menyelamatkannya," Ujar Annan.
"Tapi itu tidak benar?" Tebak Morgan.
"Tidak, ketiga remaja itu tidak mencoba menyentuh kirana, tapi mereka sebenarnya mencoba mengangkatnya untuk membawanya ke rumah sakit," Ujar Annan.
"Apakah mereka melihat siapa itu?" Morgan Bertanya dan Annan Menggelengkan kepalanya
"Mereka bersembunyi karena mereka tidak ingin ketahuan tinggal di dalam gedung, jadi mereka tidak melihat... tetapi mereka memang mendengar suara orang itu, mereka tahu bahwa itu adalah laki-laki dan karena mereka sudah mendengar suaranya mereka akan mengenalinya jika mereka mendengarnya lagi" Ujar Annan.
"Itu Bagus!"
"Ya, jadi sekarang setidaknya kita bisa pergi ke suatu tempat," Lanjut Morgan. Mereka pun mendengar bel pintu.
"Apa ada lebih banyak teman yang datang?" Tanya Morgan
"Ini mungkin hanya pizza" Ujar Annan dan membuka pintu dan benar saja itu pizza. Annan membayar dan memberinya tip setelah itu ia membawa pizza itu ke dapur.
Setelah itu, Mereka semua duduk dan makan.
"Jadi siapa namamu?" Tanya Morgan
"Namaku Bagas, namanya Udon, dan namanya Mega," Ujar Bagas dengan keju di seluruh wajahnya.
Morgan menertawakannya dan terus berbasa-basi dengan mereka. Sedangkan di sisi lain Annan terus memikirkan kasus ini dan tentang Kirana.
__ADS_1
Annan berhenti sejenak ketika telepon Morgan mulai berdering, dia menjauh. Tiga lainnya terus berbicara satu sama lain.
Beberapa menit kemudian Morgan masuk ke kamar, dia menatap Annan dengan ekspresi sedih di wajahnya.
"Annan, bisakah aku berbicara denganmu secara pribadi?" Ujar Morgan. dan Annan menganggukkan kepalanya dan berdiri untuk mengikuti Morgan ke kamar tidurnya
Morgan menutup pintu kamar dengan rapat.
"Ada apa Morgan?" Ujar Annan bingung, Morgan menatap Annan dengan tatapan sedih di matanya,
"Sekitar seminggu yang lalu ketika Kirana dibawa masuk, kami melakukan beberapa tes..." Ujar Morgan mengehentikan ucapannya sebentar, membuat Annan menjadi penasaran.
"Dan," Ujar Annan terburu-buru
"Yah... salah satu dari mereka kembali positif..." Ujar Morgan.
Ucapan Morgan membuat Annan terdiam membisu.
"Dia di perkosa... Ada yang melakukan pelecehan seksual terhadap Kirana saat dia tidak sadarkan diri" Ujar Morgan sarat akan kesedihan
Annan terbelalak kaget mendengarnya, lalu tiba-tiba Annan pun bergerak, ia tidak ingat kapan ia mulai berdiri, tetapi hal berikutnya yang Annan tahu ia berlari keluar, Annan berlari keluar apartemen tanpa kunci atau pun dompet
Annan ingin berada di tempat lain, di tempat lain selain di sana. Annan tidak bisa membiarkan mereka melihatnya lemah,
Morgan terus meneriakkan namanya di belakang, tapi Annan tidak memperdulikan nya. Annan terus saja berlari, berharap agar ia bisa melupakan masalahnya saat ia berlari sangat cepat.
Annan terus saja berlari sampai-sampai ia tidak sengaja menabrak beberapa orang tetapi ia tidak repot-repot melihat ke belakang untuk melihat apakah mereka baik-baik saja, yang harus ia lakukan sekarang hanya terus berlari.
Setelah beberapa saat paru-parunya terasa seperti terbakar, Annan berhenti berlari.
Annan mencoba mengatur napas, ia melihat sekelilingnya untuk melihat di mana ia berada.
Annan baru sadar sekarang ia berada di depan rumah Kirana, Rumah itu masih terlihat sama seperti hari ketika ia mabuk dan tidur dengan Kirana.
Bahkan dari sini ia bisa melihat tanamannya yang belum disiram. Annan terus saja berjalan dan mendapati dirinya berjalan menaiki tangga yang mengarah ke pintu depan.
Annan membunyikan bel pintu dan menunggu. Annan setengah berharap kalo Kirana Keluar sambil tersenyum padanya, tetapi sebaliknya, Annan malah bertemu dengan Adit yang terlihat kesal. Betapa mengecewakannya
"APA YANG KAMU INGINKAN!" teriak Adit saat merasakan Sakit di lehernya
Annan meletakkan tangannya di leher adit dan mendorongnya masuk dan menutup pintu.
"AKU TAHU KAMU PELAKUNYA BAJINGAN!" Ujar Annan berteriak marah.
__ADS_1
"APA YANG KAMU BICARAKAN?!" Teriak Adit berteriak memelototi Annan.