
Sepanjang hari Kirana cukup banyak berada di kantor, setiap kali ia keluar kantor untuk mengambil barang-barang, seseorang akan mendatanginya dan bertanya apa yang terjadi 2 hari yang lalu.
Memang melelahkan terus-menerus diburu oleh rekan kerja yang usil.
Setiap kali Kirana akan membuat alasan untuk lari dari ruangan Annan.
Untuk makan siang, Kirana memutuskan untuk makan siang dengan Citra karena mereka sudah lama tidak berbicara satu sama lain.
"Jadi apa yang terjadi 2 hari yang lalu?" Citra bertanya kepada Kirana setelah ia memberitahunya bagaimana semua orang terus bertanya padanya
"Citra, aku tidak bisa memberitahumu bahwa... ini pribadi" Ujar Kirana Menjeda Ucapannya.
"Cukup adil... Jadi bagaimana kabarmu dan Annan?" Ujar Citra lagi.
Kirana pun menceritakan semuanya dari apa yang terjadi di pesta hingga pagi ini.
"Ya Tuhan ... Apakah Adit tahu dia menghabiskan malam di sana?!" Ujar Citra terkejut membuat Kirana menghela nafasnya
"Kurasa ia tidak tau, soalnya saat kita bangun dia tidak ada di sana, dia pasti sudah pergi bekerja saat itu," Ujar Kirana.
"Kau beruntung dia tidak mengetahuinya... Bisakah kau bayangkan apa yang akan terjadi jika dia menemukan Annan di tempat tidurmu sedang meringkuk bersamamu," Ujar Citra kemudian mulai tertawa.
"Jika itu kamu, Kakak mu Melihat kalian seperti itu, Apa yang akan kau lakukan?" Ujar Kirana bertanya, Citra berhenti tertawa.
"Mungkin Kakak akan mengejarnya keluar rumah dengan pisau daging di tangannya," Jawab Citra sambil tertawa seolah-olah itu memang sudah terjadi sebelumnya.
"Bagaimana kamu bisa seyakin itu?" Ujar Kirana bingung
"Itulah yang Kakak ku lakukan pada Ali ketika dia menemukannya tidur di sofaku, Ali yang malang masih mengalami mimpi buruk!" Ujar Citra sambil menggelengkan kepalanya menjelang akhir.
"Jadi, bagaimana kabarmu dan Ali?" Ujar Kirana ingin mengganti topik pembicaraan. Matanya mulai berbinar,
"Kami baik-baik saja! Dia akan segera mengadakan pertunjukan seni, dia sekarang mendapatkan lebih banyak pekerjaan!" Ujar Citra memberitahu dengan Wajah gembiranya
"Itu bagus," Balas Kirana sambil tersenyum, Citra mulai bercerita lebih banyak tentang beberapa pekerjaan yang ali dapatkan tapi ada salah satu yang menonjol bagi Kirana.
"Oh ya, dia juga mendapat pekerjaan lain di mana seorang wanita tua menyewanya untuk menggambar seperti apa rupa anaknya," Ujar Citra
__ADS_1
"Bagaimana rupa anaknya?" Tanya Kirana bingung. Citra menganggukkan kepalanya,
"Rupanya wanita itu dulu menikah karena uang dari pada cinta, dan ada satu pria yang selalu ada di hatinya selama ini, jadi dia memberi Ali foto mereka ketika mereka masih muda!" Ujar Citra dengan suara sedih.
"Itu sangat menyedihkan..." Ujar Kirana pelan saat melihat sahabatnya itu menyeka air matanya
"Ya, ketika dia memberitahuku aku mulai menangis" Ujar Citra.
"Aku tidak suka hal seperti itu terjadi padaku," Lanjutnya, dan Citra menatap Kirana sambil meraih tangan Kirana
"kau harus keluar dari pernikahan itu... kau harus menceraikannya" Ujar Citra pelan dengan nada serius.
"Citra..." Ujar Kirana menegurnya pelan
"Kenapa kau harus tetap menikah dengannya Kirana!? Dia tidak mencintaimu dan kau tidak membutuhkannya!" Ujar Citra membuat Kirana frustrasi.
"Citra. kau dan aku sama-sama tahu aku tidak bisa melakukan itu..." Ujar Kirana pelan, Citra menunduk dan mulai menangis, Kirana melihat air mata Sahabatnya itu dan ia pun mulai menggosok bahunya.
"Citra kenapa kamu menangis?" Tanya Kirana lembut.
"Dari apa?"
"Aku takut suatu hari aku akan mendapat telepon dan mengetahui Adit telah menyakitimu," Ujar Citra sedih.
"Shh, Citra jangan khawatir tidak akan terjadi apa-apa padaku..." Ujar Kirana memeluk sahabatnya itu
Setelah makan siang bersama Citra, Kirana kembali ke kantor dan melanjutkan pekerjaannya.
Tapi sepanjang hari kata-kata Citra terngiang-ngiang di kepalanya.
"Adit tidak akan pernah menyakitiku, kan?" Batin Kirana
Orang-orang mengatakan bahwa pernikahan awalnya memang seperti itu.
Kirana pun menggelengkan kepalanya,
"tidak, ini tidak mungkin!" Batinnya
__ADS_1
Kirana menangkap bayangannya di layar ponsel.
Untuk sesaat Kirana berani bersumpah lingkaran hitamnya kembali, Kirana memalingkan muka dan menggosok matanya, Stres membuatnya melihat banyak hal, membuat ia Mendesah lelah
"Kau baik-baik saja Kirana?" Ujar Annan bertanya dari seberang ruangan, Kirana tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Aku baru saja melihat ada sesuatu di mataku" Ujar Kirana berbohong, Annan tidak terlihat yakin tetapi kemudian Annan melanjutkan kembali pekerjaannya.
Sebelum jam pulang kantor datang, Kirana mengumpulkan barang-barangnya dan mengucapkan selamat tinggal pada Annan untuk pulang.
Ketika ia sampai di rumah Kirana melihat Adit tidak ada di sana, Ia pun mulai memasak makan malam dan ketika ia hampir selesai memasak, tiba-tiba Kirana mendengar suara pintu yang dibanting. Membuat Kirana ketakutan dan berjalan perlahan menuju pintu dan melihat ada Adit di aula depan, Kirana Pun menghela nafas lega.
"Adit, selamat datang," Ujar Kirana saat aroma alkohol menerpanya
"DI MANA DIA?!" Adit tiba-tiba berteriak sambil melotot. Kirana menatapnya bingung,
"Siapa?" Ujar Kirana ketakutan.
"DIMANA ANNAN!" Teriak Adit dan mengambil langkah lebih dekat Kearah Kirana. membuat Kirana mengambil satu langkah ke belakang,
"Ke Kenapa Annan ada di sini?" Ujar Kirana dengan suara kecil.
Adit mengambil satu langkah lebih dekat saat Kirana mundur, Hingga membuat punggung Kirana terbentur dinding saat Adit melangkah lebih dekat lagi,
tiba-tiba Kirana merasakan Adit meletakkan tangannya di lehernya dan mulai meremasnya.
membuat Kirana mulai terengah-engah. Kirana mencoba berteriak tapi tidak bisa, tidak ada suara yang keluar tidak peduli seberapa keras ia mencoba. Kirana lhn menatapnya dengan mata memohon tapi Adit terus memperkuat cengkeramannya.
Kirana meletakkan tangannya ke depan dada Adit dalam upaya untuk mendorong nya menjauh tetapi tidak ada gunanya.
Adit mengatakan sesuatu tetapi Kirana tidak mengerti, yang bisa Gadis itu fokuskan hanyalah tangannya dan bagaimana tangannya menghalangi jalan napasnya. Kemudian semuanya mulai redup, Kirana mulai melihat bintik hitam. membuat Kirana berhenti memberontak dan mulai memejamkan mata, Saat itulah Kirana jatuh ke lantai. Dan setelah ia terlepas dari cekikan Adit Kirana mulai terengah-engah dan terbatuk-batuk.
Kirana melihat ke atas dan hal terakhir yang ia lihat adalah Adit dengan tatapan tajamnya sambil mengangkat suatu benda untuk di lempar ke arah Kirana.
PRANG
Tiba-tiba Kirana merasakan sakit yang luar biasa di kepalanya pandangan Kirana sedikit Buram. Namun ia masih bisa melihat jika Adit Suaminya sekarang sedang Menatap Dirinya dengan tatapan Tajam, setelah itu semuanya menjadi gelap.
__ADS_1