
"Apakah dia tidak akan marah?" Ujar Kirana khawatir.
"Tidak, Dia tidak melakukan sesuatu yang penting, dia mungkin hanya menonton tv karena ini hari liburnya," Ujar Annan dengan tenang.
Kirana pun mengangguk mengerti, ia melihat ke luar jendela dan melihat kami melewati kota.
Melalui jendela, Kirana dapat melihat pasangan berpegangan tangan di atas meja sambil berbicara satu sama lain, mereka tidak bisa mengalihkan pandangan, ia melihat cincin pertunangan di tangan wanita itu. Kirana melihat tangannya sendiri dan melihat cincin kawinnya, ia merasa sedikit cemburu, Adit dan dirinya tidak pernah saling memandang seperti itu. Yah... Adik tidak pernah menatapnya seperti itu.
Kenangan beberapa hari yang lalu melintas di kepalanya, di mana Annan menyelamatkannya dari gadis-gadis di toko itu. Kirana pun tersenyum mengingatnya dan sedikit tersipu, ia menatap Annan.
Annan melihat lurus ke jalanan, Kirana mulai memperhatikan wajahnya, ia melihat garis rahangnya dan bagaimana hidungnya mengarah ke ujung dan bibirnya.
Kirana mengalihkan pandangannya dengan cepat saat Annan menanyakan apakah ada sesuatu di wajahnya, Kirana pun merasa malu dan dengan cepat menggelengkan kepalanya dan berbalik ke arah jendela lagi dengan wajahnya yang sama seperti tomat merah.
Ketika Kirana berbalik ke arah jendela, ia melihat mereka melewati taman, ia melihat sekelompok anak berlarian, Membuat Kirana Tersenyum melihat mereka. ia juga melihat para ibu berusaha mengejar anak-anak mereka dan para ayah berusaha mengajari anak-anak mereka naik sepeda atau cara menerbangkan layang-layang.
Ini gambaran yang bagus, Kirana terjebak di dalamnya. Kirana tidak mendengar Annan memanggil namanya sampai Annan menepuk pundaknya. Kirana pun menoleh kepadanya,
"Y-Ya" mencicit Kirana pelan membuat Annan terkekeh,
"Aku ingin tahu apakah kamu akan mengizinkanku mentraktir mu makan siang karena kamu sudah mau membantuku," Ujar Annan dengan mata yang masih tertuju ke arah jalan.
"O-Oh ya itu akan menyenangkan," Ujar Kirana terburu-buru.
Saat Annan berkendara ke rumah Morgan, ia ingat apa yang Morgan katakan kepadanya tempo hari ketika mereka makan malam bersama.
...Flashback...
"Apakah kamu menelepon ayah baru-baru ini?" Ujar Morgan Bertanya
"Tidak" Ujar Annan tidak perduli membuat Morgan menghela nafas,
__ADS_1
"Annan, kamu harus melupakan hal yang membuat mu berselisih dengan ayah," Ujar Morgan dengan suara serius. Annan pun menjatuhkan garpu nya keras-keras di atas meja.
"Lupakan saja?" Annan mendesis memelototinya,
"Morgan Itu Salahnya," Lanjut Annan meninggikan suaranya tetapi tidak cukup bagi siapa pun untuk berbalik.
Morgan menghela nafas lagi,
"setidaknya mulailah berbicara dengan Bibi Harima," Ujar morgan dengan suara tenang, "Tidak! Dia yang terburuk" Balas Annan kepada Morgan yang mulai marah.
"Annan, dia menikah dengan ayah, dia secara hukum adalah ibu tiri kita-" Ucapan Morgan Terpotong saat Melihat Tatapan membunuh Annan
"Wanita itu tidak akan pernah menjadi ibu kita, dia bahkan tidak akan pernah bisa menggantikannya" Ujar Annan mendesis padanya kehilangan kesabaran.
"Aku tahu dia bukan ibu kita dan dia tidak akan pernah bisa menggantikannya, tapi setidaknya dia mencoba untuk membantu kita, kamu dan aku sama-sama tahu bahwa dialah satu-satunya alasan kamu mendapatkan pekerjaanmu itu," Ujarnya menenangkan Annan.
Annan benci mengakui jika perkataannya itu benar.! Membuat Annan mendesah merasa frustrasi,
Annan mengeluarkan uang dari dompetnya dan meletakkannya di atas meja,
"Terima kasih atas obrolannya yang sangat menyenangkan ini, Morgan, tapi sebaiknya aku pulang" Ujar Annan sinis. ia bangkit untuk pergi dan saat ia akan pergi, Annan mendengar Morgan mengatakan sesuatu.
"Annan, berjanjilah padaku, setidaknya kau akan mencoba menjadi lebih baik," Ujarnya. Annan pun menoleh ke arahnya,
"Baik... aku akan mencobanya" Ujar Annan Malas lalu pergi.
...Flashback end ...
Sebelum Kirana menyadarinya, mereka sudah sampai di gedung apartemen Morgan yang sangat besar, mereka masuk dan naik lift ke lantai kamar Morgan, Ketika mereka sampai di pintunya, Annan pun memasukkan kode dalam waktu kurang dari sedetik, mereka masuk ke dalam apartemen dan itu besar dan agak bersih selain beberapa kotak makanan di sana-sini.
Mereka berjalan lebih jauh ke dalam apartemen dan masih belum ada tanda-tanda keberadaan Morgan
__ADS_1
"Kurasa dia keluar," Ujar Annan mereka berdua menoleh ke arah pintu kamar tidur utama ketika mereka mendengar seseorang membukanya diikuti dengan cekikikan.
Keluar dari kamar, Munculah Morgan tanpa kemeja dan berkeringat serta di belakangnya ada Tiara yang hanya memakai kaos hitam besar yang hanya 3 inci di bawah pantatnya.
Begitu mereka melihat Annan dan Kirana, mereka membeku. Kirana menatap Tiara dengan tatapan ingin membunuh,
"Ki Kirana, apa yang kau lakukan di sini?" Tiara bertanya dengan gugup.
"Aku bisa menanyakan hal yang sama padamu," Ujar Kirana dengan suara mematikan. Kirana menggerakkan mulutnya untuk berbicara tetapi tidak ada kata-kata yang keluar,
"Ahh baiklah kamu lihat apa yang telah terjadi tadi" Tiara menjawab namun setelah itu dia berlari karena Kirana sedang mengejarnya sambil meneriakkan kata-kata ancaman
Sedangkan Annan dan Morgan hanya diam berdiri menyaksikan Kirana yang terus saja sedang mengejar adiknya itu.
Beberapa Detik Kemudian Morgan memecah kesunyian di antara Ia Dan Annan.
"Kupikir Kirana berbeda dengan Tiara setelah melihat ini aku yakin jika Kirana dan Tiara itu sama-sama menakutkan!" Ujar Morgan dengan suara serius, Annan pun mengangguk setuju
Setelah sekitar satu jam mengejar Tiara dan menarik rambutnya, mereka masuk kembali ke mobil Tiara dan Kirana mengantarnya pulang.
Kirana mengingatkan bahwa dia seharusnya tidak melakukan hal-hal seperti itu dengan pria yang belum lama ini dia kenal, tetapi Kirana sangat ragu dia akan mendengarkan ucapannya
Keesokan harinya Kirana sedang duduk di mejanya menyelesaikan beberapa pekerjaan ketika ia melihat ke arah Tuan Annan dan melihat ekspresi aneh di wajahnya.
Annan berdiri namun beberapa detik kemudian kembali duduk lagi. Ini berlanjut selama beberapa menit, pria itu terlihat berdebat dengan dirinya sendiri tentang sesuatu.
"Tuan Annan kau baik-baik saja?" Ujar Kirana mulai khawatir padanya. Annan menatap Kirana dan wajahnya tiba-tiba menyala, seperti orang yang baru saja mendapatkan sebuah ide
Annan berlari ke arah Kirana dalam waktu singkat, itu mengejutkan Kirana, hingga membuat Gadis itu tersipu. Annan menatap Kirana.
"Kirana, aku ingin kamu membantuku" Ujarnya dengan sedikit terengah-engah karena tadi dia sangat cepat berlari ke arah Kirana
__ADS_1