Jatuh Cinta Oleh Kehangatan Pria Lain

Jatuh Cinta Oleh Kehangatan Pria Lain
Telpon dari Rumah Sakit


__ADS_3

"Annan Keanu Winata kau ditahan karena menyerang ayahmu Bramana Winata!" kata Polisi dan memborgol Annan setelah itu mereka membawanya ke bawah.


Kirana berjalan ke tepi dan melihat Para polisi memasukkan Annan ke dalam mobil dan pergi. Kirana menghela nafas dan melihat kembali ke arah Harima, Wanita itu duduk di tanah bersandar di pintu.


Kirana berjalan ke arahnya,


"Anda tahu Nyonya Harima,, bahwa apa yang pria itu lakukan padamu itu salah kan" Gumam Kirana mencoba berhati-hati dengan topik pembicaraan. Harima terkekeh, membuat Kirana meliriknya dan melihat ada air mata mengalir di pipi Wanita itu.


"Aku tahu Kirana... tapi... aku masih mencintainya..." Ujar Harima tanpa menatap Wajah Kirana lalu menyeka air matanya.


"Pasti ada alasan..."


"Pasti ada alasan mengapa seseorang sepertimu mau bertahan dalam hubungan yang kasar...selalu ada alasan," Lanjut Kirana.


Harima menghela nafas dan melihat ke arah depan,


"Dulu dia sangat manis," Ujar Harima mengenang.


"Aku bertemu dengannya di sekolah menengah... dia adalah anak laki-laki paling manis yang pernah ku kenal," Lanjutnya sambil tetap memandang ke arah depan. Kirana memandangnya heran,


Bagaimana bisa seseorang berubah begitu drastis!?


"Tentu saja aku tidak terlalu memperhatikannya di sekolah menengah, aku lebih tertarik pada Satria" Ujar Harima lagi lalu tersenyum, matanya masih melihat ke arah depan namun kali ini sorot matanya terlihat seperti bersinar.


"Siapa Satria?" Ujar Kirana ingin tahu.


"Satria adalah cinta Pertama ku..." Ujarnya


"Apa yang terjadi padanya?" Kirana bertanya.


"Dia mati dalam perang..." Ujar Harima pelan. namun setelah itu ia terkekeh,


"Dia adalah seorang pahlawan... dia mati untuk melindungi kelompoknya," Lanjutnya.


"Meski begitu... Itu tidak mengurangi rasa sakit mu kan?" Ujar Kirana pelan sambil melihat beton, Harima mengangguk setuju.


"Aku pantas diperlakukan dengan buruk," Ujar Harima tiba-tiba. Kirana menatapnya bingung

__ADS_1


"Apa yang membuatmu berpikir begitu?" Ujar Kirana


"Aku menyebabkan banyak rasa sakit pada ibu Annan sebelum dia meninggal," Balasnya penuh penyesalan.


"Maksud anda?" Kirana bertanya rasa ingin tahu membuncang dalam hatinya


"Aku adalah wanita lain dalam pernikahan mereka ..." Harima mengaku dan air mata baru mengalir di wajahnya, lalu dia menyekanya.


Kirana diam saja, Annan pasti sudah tahu makanya dia tidak menyukai Harima.


"Mengapa?" Kirana bertanya lagi.


"A-Aku tidak tahu... Aku masih depresi tentang apa yang terjadi pada Satria bertahun-tahun kemudian, aku tidak ingin berada dalam sebuah hubungan yang nyata... Hingga kemudian suatu hari aku bertemu dengan ayah Annan dan... satu hal mengarah ke yang lain... Dan sebelum aku menyadarinya aku telah jatuh cinta padanya!" Ujar Harima pelan.


"Aku jatuh cinta dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama... aku bahagia... dengan mengorbankan orang lain tapi aku tidak peduli... selama aku memiliki dia... dia membuatku merasa dicintai... dan hanya itu yang penting..."


"Kupikir aku bisa mengubahnya" Lanjut Harima


"Kupikir mungkin jika aku sangat mencintai Bram dia akan berubah kembali seperti semula... dan kita bisa bahagia bersama..." Ujarnya panjang lebar lalu ia terkekeh


"Tapi siapa aku? Satu-satunya orang yang bisa mengubah pria itu sudah lama mati" Ujar Harima mengacu pada ibu Annan


"Aku tidak tahu..." Ujarnya dan mulai menangis.


Dan untuk kedua kalinya hari itu Kirana memeluk Harima kecuali kali ini dia tidak menarik diri. Harima tetap di pelukannya menangis karena hanya itu yang bisa dia lakukan...


Setelah Harima menangis dalam pelukannya, Kirana membawanya ke rumah temannya karena dia tidak mau pulang.


Pada saat Kirana akhirnya sampai di rumah, waktu sudah menunjukkan pukul 2 pagi.


Kirana siap untuk pingsan. Segera setelah ia sampai di kamarnya, bahkan tidak repot-repot untuk berganti pakaian atau bahkan melepas sepatunya, sekarang ia hanya ingin tidur


Namun itu hanya sementara karena tidak sampai 30 menit kemudian teleponnya mulai berdering, ia mengangkatnya.


"Ha Halo" Ujar Kirana dengan suara serak yang belum sepenuhnya bangun.


"Nyonya Lestari, saya sangat menyesal membangunkan Anda pada jam ini, saya seorang perawat dari rumah sakit Winata, saya menelepon untuk memberi tahu Anda bahwa Kakak Anda telah bangun dari komanya"

__ADS_1


Itu benar-benar membangunkan Kirana, ia dengan cepat duduk di tempat tidurnya


"A-Apa? kak Gilang sudah bangun?" Kirana bertanya lagi sedikit tidak yakin dengan apa yang aku dengar


"Ya, itu benar" jawab perawat. Kirana tersenyum saat Hatinya diliputi oleh kebahagiaan.


"Aku akan ke sana secepat mungkin," Ujar Kirana lalu menutup telepon. Kirana bangun dari tempat tidur sambil merapikan rambutnya ia sudah memakai sepatu dan jaketnya karena ia tidak melepaskannya dari awal.


Kirana mengambil kunci dan tasnya dan pergi ke rumah sakit dengan tergesa-gesa tidak peduli jika ia akan mendapatkan tilang, di perjalanan ku ke Rumah sakit nanti.


Ia Hanya ingin cepat-cepat melihat Kondisi Kakaknya itu.


Sesampainya di sana ia dengan cepat masuk dan langsung menuju kamar inap Gilang. Saat Kirana masuk ia melihat Gilang sedang duduk di tempat tidurnya sambil menonton acara tv didepan.


Kirana pun berlari ke arahnya dan memeluknya dengan erat. membuat Gilang tegang terkejut oleh pelukan yang tiba-tiba yang di berikan Kirana Namun itu tidak berlangsung lama karena Sekarang Pria itu sudah membalas Pelukan Kirana


"Aku merindukanmu Kak Gilang," Ujar Kirana pelan.


Kirana menarik diri dan menatap Galang.


"Apa yang kamu lakukan? Ini jam 3 pagi kamu seharusnya menunggu beberapa jam lagi sampai matahari terbit, setidaknya kamu bisa tidur lebih banyak sebelum kamu datang kesini." Ujar Galang. Lalu dia menyentuh wajah Kirana pelan


"lihat kamu punya lingkaran hitam" Ujar Galang dengan cemas.


"Aku tidak peduli bagaimana penampilanku, selama kamu Bangun dan sehat," Balas Kirana dengan Senyuman lebarnya.


"Apakah kamu lapar? Apakah kamu ingin aku mengambilkan sesuatu dari mesin penjual otomatis?" Ujar Kirana bertanya.


"Tidak, tidak Usah," Balas Galang.


"Apa kamu yakin?" Kirana bertanya lagi. membuat Galang tersenyum,


"Ya, aku yakin," Ujar Galang.


"Kirana istirahat saja, tidur di sofa sana," Ujarnya dan menunjuk Kirana untuk tidur ke sofa di sisi lain ruangan itu. Kirana pun dengan enggan setuju dan berbaring di sofa. beberapa menit kemudian Kirana pun terlelap


Kirana terguncang bangun, sambil duduk dan menggosok matanya dan mencari orang yang telah membangunkan dirinya dari tidur nyenyak nya.

__ADS_1


Namun Yang Kirana lihat malah Morgan yang sedang tersenyum lebar kepadanya sambil menyodorkan secangkir kopi panas yang ia bawa.


__ADS_2