
Kirana bergerak dan memberi ruang baginya untuk duduk di sofa. ia melihat sekeliling ruangan tapi Kirana tidak melihat Gilang dimanapun. ia pun menatap Morgan bingung.
"Gilang sedang menjalani pemeriksaan, jangan khawatir dia akan kembali dalam beberapa menit," Ujar Morgan Santai
Kirana pun menyesap kopinya dan melihat jam tangan, ia melihat sudah jam 6 pagi. Kirana pun berdiri dengan cepat karna ia harus masuk kerja
"Kirana, Aku tidak berpikir kamu harus pergi bekerja hari ini" Ujar Morgan mengentikan
"Selain itu apa yang akan kamu lakukan? Annan tidak ada disana," Lanjutnya.
Kirana duduk kembali,
"Apakah menurutmu Tuan Annan akan baik-baik saja?" Ujar Kirana pelan Morgan menatap Kirana dan tersenyum.
"Apa Kamu benar-benar peduli kepada saudaraku," Ujar Morgan dengan wajah menggodanya. Membuat Kirana tersipu malu
"Dia bosku itu sebabnya..." Ujar Kirana terburu-buru. Membuat Morgan tertawa.
"Dan kau pasti sangat peduli pada adikku itu sebabnya kau ada di sini kan" Ujar Kirana dan Sekarang giliran Morgan yang merasa malu.
Pintu tiba-tiba terbuka, masuklah seorang Suster.
"Dokter Morgan, Anda harus keruangan sebelah, a ayahmu!" Ujar seorang Suster terburu-buru. Mereka berdua pun berdiri,
"Ada apa?" Ujar Morgan dan mulai mengikuti Suster ke kamar ayahnya.
"Dia mengunci pintu, kami mendengar teriakannya dari dalam, kami pikir istrinya ada di sana bersamanya,"
Kirana mengikuti mereka diri belakang, Mereka berhenti di depan pintu ayah Morgan, dari dalam mereka bisa mendengar teriakan Harima. Morgan berteriak pada Suster untuk mengambil kunci cadangan.
Morgan mulai mendobrak pintu dan setelah percobaan ketiga, dia berhasil mendobrak pintu hingga terbuka.
Morgan berlari masuk, Sedangkan Kirana berdiri di depan pintu. Kirana melihat ayah Morgan di sudut berdiri di atas tubuh Harima.
Morgan mendorong ayahnya menjauh dari Harima, Kirana pun masuk ke dalam dan membantu Harima sambil membawanya keluar ruangan, Suster membawa Kirana dan Harima ke ruangan lain dan mereka mulai membersihkan luka Harima, hidungnya patah dan beberapa memar di sekujur tubuhnya. Suster memberinya obat penghilang rasa sakit.
"Nyonya Harima!" Ujar Kirana mulai bingung harus mengatakan apa untuk membuatnya merasa lebih baik.
__ADS_1
Apa yang bisa ia katakan kepada seorang wanita yang suaminya menemukan kesenangan dengan membuatnya berdarah? Harima menatap Kirana dengan mata kirinya, karena mata kanannya bengkak tertutup.
"Apakah kamu masih berpikir kamu pantas mendapatkan rasa sakit ini?" Ujar Kirana berbisik. Harima berpaling dari Kirana dan meletakkan kepalanya di pangkuan Gadis itu.
Kirana mulai membelai rambutnya,
"Aku tidak ingin merasakan rasa sakit ini lagi Kirana..." Ujar Harima begitu sangat pelan
"Kau akan segera merasa lebih baik..." Ujar Kirana lembut
Segera itu pun Harima tertidur, Kirana dengan lembut menjauh dari Harima dan meletakkan kepalanya di atas bantal dan meninggalkan ruangan. ia kembali ke kamar Gilang dan melihat Kakaknya itu sudah kembali.
Kirana tidak memberitahunya tentang apa yang baru saja terjadi, Kirana hanya berbaring di tempat tidur di samping Gilang, mencari kenyamanan
Sekitar satu jam kemudian lebih banyak keluarga mulai muncul. Kirana berjalan keluar untuk mengambil kopi untuk dirinya sendiri saat ia berjalan kembali. Kirana melihat Morgan, dia berjalan ke arahnya.
"Itu kamu, aku membutuhkanmu untuk membantuku," Ujar Morgan.
"Tentu, ada apa?" Tanya Kirana
"Aku ingin kau menjemput Annan dari kantor polisi, ayahku telah membatalkan tuntutannya,"
"Terima kasih," kata Morgan lalu pergi. Kirana kembali ke kamar Gilang dan memberi tahu mereka bahwa ia akan pergi dan mengambil kunci beserta tasnya
Kirana berkendara ke kantor polisi. Ketika ia sampai di sana, Kirana melihat Annan di luar di bangku yang terkantuk-kantuk. ia melihat betapa lelahnya dia, Annan pasti belum tidur.
Kirana pun berlari ke arahnya dan memeluknya senang melihat dia tidak terluka.
"Ki kirana... tidak bisa... bernafas" Ujar Annan dengan ucapan tersedak membuat Kirana menjauh darinya dan tersipu malu,
"Maaf" Ujar Kirana. membuat Annan tersenyum,
"Aku pikir aku tadi menelpon saudara laki-laki ku yang baik untuk menjemput ku. Apakah dia malah menipu mu untuk melakukannya?" Ujar Annan sedangkan Kirana hanya menggelengkan kepalanya
Mereka masuk ke mobil dan Kirana mengantarnya pulang dan memberitahunya apa yang terjadi di rumah sakit antara ayahnya dan Harima. Sedangkan Annan hanya tetap diam sepanjang waktu.
"Tuan Annan?" Ujar Kirana dengan nada khawatir karena Annan tidak mengatakan apa pun.
__ADS_1
"Hm"
"Bagaimana pendapatmu tentang situasi ini?"
"Aku pikir pria itu menyakitinya karena dia sudah tahu bahwa harima mengajukan tuntutan terhadap ku!"
Setelah itu, mereka diam selama sisa perjalanan pulang. Setelah Kirana mengantarnya, ia berkendara pulang dan langsung mandi karna tubuhnya sangat membutuhkan air, Setelah selesai mandi Kirana pun langsung menjatuhkan diri ke tempat tidur dan akhirnya tertidur.
Kirana terguncang bangun sekali lagi dan itu adalah Adit membuat Kirana langsung duduk di tempat tidurnya dengan terkejut.
"Adit apakah kamu butuh sesuatu?" Ujar Kirana heran melihatnya.
"Maaf, tapi aku lupa memberitahumu bahwa aku membutuhkanmu untuk menemaniku ke pesta ulang tahun yang diadakan teman dekatku," Ujar Adit.
"Oh, tidak apa-apa kapan pestanya?" Kirana bertanya. dan Adit melihat arlojinya,
"Dalam waktu sekitar dua jam lagi, apakah kamu pikir kamu bisa bersiap-siap tepat waktu?" Ujar Adit Ragu
"Y-Ya itu waktu itu cukup untuk aku bersiap-siap," Ujar Kirana berbohong,
"Baiklah kalau begitu, aku akan meninggalkanmu sendirian untuk bersiap-siap," Ujarnya lalu berjalan keluar ruangan. membuat Kirana menghela nafas dan bangun dari tempat tidurnya langsung menuju ke kamar mandi.
Setelah ia selesai bersiap-siap, Mereka pun pergi ke pesta.
Kirana mengenakan gaun biru royal yang memiliki atasan terbuka, hingga membuat leher dan bahunya terekspos, gaun itu menjulang ke bawah dan mencapai pergelangan kakinya. Untuk rambut Kirana, ia mengeriting gantung nya dan meletakkannya ke samping bahu kirinya.
Segera setelah mereka masuk ke ruangan itu, Adit pergi untuk berbicara dengan beberapa temannya meninggalkan Kirana sendirian.
Kirana merasa tidak nyaman, iapun menghela nafas dan berjalan ke meja minuman untuk minum.
"Kirana" Kirana mendengar seseorang memanggil namanya. ia pun berbalik dan melihat itu adalah Annan,
"Tu tuan Annan apa yang kau lakukan disini?" Ujar Kirana menanyakan sambil tersenyum setidaknya Kirana kenal orang lain di sini.
"Aku bisa menanyakan hal yang sama padamu," Ujar Annan
"Suamiku berteman dengan pria yang mengadakan pesta ini... bagaimana denganmu?"
__ADS_1
"Keluarga kami berteman dengannya, Jadi salah satu dari kami harus datang dan kebetulan Morgan hari ini sedang bekerja jadi dia tidak bisa datang," Ujar Annan