
Sekitar satu jam yang lalu Annan duduk di Sofanya Sedangkan piter duduk di depannya di sofa lain.
"Ini file yang kamu minta," Ujarnya dan menyerahkan setumpuk file kepada Annan
Annan pun mengambilnya dan membuka salah satu sambil membaca isinya. membuat Piter terkekeh,
"Apa?"
"Aku tidak pernah berpikir aku akan mendengar Seorang Annan keanu Winata yang hebat akan meminta bantuanku," Ujar Piter dengan senyum di wajahnya.
Annan menatapnya dan melemparkan salah satu bantal sofa ke wajahnya, namun dia menangkapnya dengan mudah.
Piter menyodorkan badannya sedikit kearah Annan
"Kirana Larasati kau tahu gadis ini?" Ujar Piter bertanya sambil terus melihat file-file itu.
Annan menganggukkan kepala, Piter terus saja membaca file-file itu,
"Katanya di sini dia dirampok" Ujar Piter.
"Dia ... saat ini dia dalam keadaan koma, aku ingin menemukan siapa yang melakukan ini kepadanya," Ujar Annan masih melihat file-file itu,
"Aku tidak berusaha untuk menjadi penasehat atau apa pun itu, tetapi kemungkinan kamu menemukan sesuatu sangatlah sulit, jika nanti kamu menemukannya pun aku takut itu akan membuat dirimu rugi..." Ujar Piter dengan nada lembut, berhati-hati agar tidak membuat Annan kesal.
"Ya, aku tau itu ... Aku hanya curiga jika ini ada sangkut pautnya dengan suaminya" Ujar Annan
"suaminya?" Ujar Piter lalu melihat-lihat file itu lagi.
"Dia tidak tertera disini!" Ucapan Piter, membuat Annan menatapnya dia terlihat bingung. Annan mengambil file dari tangannya dan melihat, Piter benar Adit tidak ada di situ.
"Aneh" Ujar Annan pelan pada dirinya sendiri, Piter menyambar berkas itu lagi.
"Mereka mungkin lupa," Ujar Piter menepis asumsi jeleknya, Annan setuju dengannya dan melihat kembali file lainnya.
Annan membaca salah satunya, dikatakan disini ada barang-barang dari Kirana yang hilang. Yaitu barang-barang biasa, dompet, telepon, dompet, dan cincin kawinnya. File berikutnya adalah gambaran seperti apa barang-barangnya yang hilang,
Mata Annan berhenti ketika ia melihat jika itu bukan cincin kawin Kirana
Annan memelototinya, itu sudah menjadi kebiasaan sejak aku tahu dia sudah menikah.
Annan telah menghafal setiap tanda dan garis di cincin aslinya dan akan mengenalinya di mana saja. Annan menutup file dan mengambil yang lainnya lagi.
Sekitar 3 jam kemudian Annan dan Piter sudah selesai membaca semua file tapi tidak ada petunjuk sama sekali. Membuat Annan mendesah
__ADS_1
"Kita harus masuk ke dalam rumahnya," Ujar Annan, membuat Piter kaget
"APA?" Teriak Piter berpikir mungkin dia salah dengar.
"Suaminya... Aku bilang dia tahu sesuatu" Ujar Annan lagi.
"Aku tidak bisa mengeluarkan surat perintah hanya karena firasat mu Annan aku butuh bukti... ditambah jika dia menyembunyikan sesuatu, dia mungkin menjaga keamanan rumahnya dengan ketat." Ujar Piter sambil menatap Annan
Annan membanting tinjunya ke meja dengan marah.
"Annan santai, kita akan menemukan orang ini, Percayalah" Ujar Piter menenangkan, lalu meletakkan tangannya di pundak Annan
Keesokan harinya, Annan telah membaca kembali file tersebut sepanjang malam dan masih belum ada petunjuk nyata yang ia temukan.
Annan memutuskan untuk keluar dari rumah dan pergi makan siang. masuk ke dalam kafe pertama yang ia lihat dan memesan
Ketika Annan sedang menunggu Makanannya datang, tiba-tiba ada seseorang yang duduk di depannya, dan ia adalah Harima.
Harima tersenyum kepada Annan
"Harima, bagaimana perasaanmu?" Ujar Annan
"Aku merasa jauh lebih baik sekarang, hampir semuanya sembuh," Ujarnya tersenyum
"Aku sudah memutuskannya kemarin, aku meninggalkan surat cerai di meja dapur untuk dilihatnya ketika dia kembali nanti" Ujarnya dengan ekspresi lega membuat Annan memberinya Senyuman kecil,
"Aku senang" Ujar Annan dengan tulus,
Annan mungkin tidak terlalu menyukainya tapi ia tidak akan pernah berharap apa yang terjadi pada ibunya terjadi pada Harima juga
"Terima kasih Annan..." Ujar Harima pelan
"Untuk apa?"
"Semuanya... jika bukan karena kamu dan Kirana aku akan tetap di rumah seperti orang bodoh yang terus menunggunya kembali," Ujar Harima tersenyum pahit
mereka saling bertatapan selama beberapa detik hingga pelayan datang membawakan makanan Annan.
"Kau mau memesan sesuatu? Aku akan membayarnya" Ujar Annan
"Aku baru saja makan, aku hanya datang untuk berterima kasih" Ujar Harima lalu berdiri dan pergi.
.......
__ADS_1
.......
.......
Saat ini, Annan sedang berjalan-jalan di sekitar tempat mereka menemukan Kirana. ia mencari bukti yang mungkin tertinggal yang tidak dilihat oleh polisi.
Tapi sepertinya tidak ada, Itu di tempat sepi jadi tidak ada kamera dan kemungkinan memiliki saksi tidak mungkin.
Annan menghela nafas, ia pulang. Annan berjalan kembali ke kota karena tempat itu cukup dekat dengan apartemennya, Annan tidak perlu membawa mobil. Namun saat ia melangkah pergi ia melihat sesuatu yang menarik.
Sekelompok anak remaja berjalan melewatinya sambil tertawa, Annan memperhatikan mereka dan melihat mereka berlari ke sebuah bangunan terbengkalai di depan lapangan tempat Kirana ditemukan.
Annan berjalan menuju gedung yang terbengkalai itu. Cat di atasnya terkelupas, sepertinya satu saja pukulan keras ke gedung itu, gedung itu akan runtuh belum lagi betapa kotornya tampilan dan baunya.
Annan berhenti di depan pintu dan mendengar musik keras diputar dari dalam. ia pun mengetuk pintu dengan keras dan mendekatkan telinganya ke arah pintu. Annan mendengar musik berhenti. Namun pintu tetap saja tidak di buka.
Annan menyeringai.
"Pura-pura tidak ada di sana ya!" Batin Annan lalu mengetuk lagi kali ini lebih keras,
"AKU TAHU KAMU ADA DI SANA! AKU POLISI, KALIAN DITANGKAP!" teriak Annan. Annan mendengar beberapa bisikan dari dalam, mereka terdengar seperti panik
Annan mengetuk lagi,
"INI PERINGATAN TERAKHIRMU! JIKA KAMU TIDAK MEMBUKA PINTUNYA, AKU AKAN MENDOBRAKNYA DAN MENEMBAK SEMUA ORANG! AKU AKAN MENGHITUNG SAMPAI TIGA!" teriak Annan lagi.
"1..." Ujarnya dengan suara keras,
"2..." Desis Annan siap menendang pintu. Saat ia akan mengatakan tiga, seorang remaja laki-laki membuka pintu dan mengangkat tangannya.
"A-aku minta maaf kami melanggar, tolong jangan tembak," Ujarnya dengan suara panik.
Annan melihat ke belakangnya dan melihat dua remaja lainnya, laki-laki, dan perempuan.
"SIAPA NAMAMU?" Ujar Annan dengan suara lantang.
"Na namaku Ba bagas" Ujar orang yang membuka pintu masih ketakutan. Dia menunjuk ke arah anak laki-laki di belakangnya,
"Ini U-Udon" katanya lalu menunjuk ke arah gadis itu.
"Dan dia Me mega,"
"Tolong jangan sakiti kami!" Ujarnya memohon lalu berlutut dan menjulurkan kedua tangannya seperti sedang meminta ampun di ikuti oleh dua anak lainnya. Annan pun menghela nafas,
__ADS_1