Jatuh Cinta Oleh Kehangatan Pria Lain

Jatuh Cinta Oleh Kehangatan Pria Lain
Berita panas


__ADS_3

"Sedangkan Adit malah bertunangan dengan Sabila?" Lanjut Citra berbisik. Annan menganggukkan kepalanya


"Ya," Ujar Annan


"Kita harus melakukan sesuatu!" Ujar Citra berteriak, beberapa orang menoleh ke arah mereka tapi Citra tidak memperhatikan mereka.


"Seperti apa?" Ujar Annan, Citra mendesah. "Sesuatu! Dia seharusnya malu pada dirinya sendiri!" Ujar Citra dengan marah.


Kemudian dalam sepersekian detik, semua kemarahan menghilang di wajahnya dan digantikan oleh tersenyum nakal.


"Apa?" Ujar Annan mempertanyakan,


"Kita harus memastikan dia merasa malu..." bisiknya.


"Dan bagaimana kita harus melakukan itu?" Ujar Annan bertanya. Citra bersandar,


"Media... aku tahu banyak wartawan yang akan senang mengetahui bahwa CEO sebuah perusahaan Hukum besar akan menikah dengan Kekasih gelapnya sementara istrinya yang malang berjuang untuk hidup dan mati di rumah sakit..."


(Dua minggu kemudian)


Annan meniup lembut kopi hitam di dalam cangkir dan menyesapnya sedikit. Annan meletakkan cangkirnya dan melihat ke sudut restoran tempat TV berada. Berita sedang berlangsung.


"Dan dalam berita lain, CEO Firma Hukum Putra, Adit Putra telah bertunangan? Rumor telah muncul bahwa meskipun sudah menikah dengan Istrinya, Kirana Larasati, Adit tampaknya telah bertunangan dengan wanita lain. Kirana saat ini dalam keadaan koma berjuang untuk hidupnya." Ujar pembawa berita.


Selanjutnya, mereka menunjukkan foto Adit dan Kirana di pernikahan mereka.


"Beberapa sumber yang bekerja di Firma Hukum Putra telah mengkonfirmasi bahwa Adit memang menjalin hubungan serius dengan wanita lain, meskipun identitas wanita tersebut masih menjadi misteri. Yang kami tahu saat ini adalah dia adalah karyawan di Firma Hukum Putra dan bekerja sebagai asisten Adit" lanjutnya.

__ADS_1


"Berita itu benar-benar meledak, setiap saluran berita membicarakannya," Ujar Annan pada Citra, dia berbalik melihat layar, dia menoleh ke arah Annan.


"kamu harus melihat apa yang dikatakan para bawahannya tentang dia," Ujar Citra sambil tersenyum licik. Citra berbalik dan melihat kembali ke layar saat para reporter itu terus membicarakannya.


"Aku tidak berharap orang-orang di perusahaannya benar-benar mengkonfirmasi hubungan Mereka," Ujar Annan. Citra berbalik ke arah Annan lagi, "perkataanmu seperti itu adalah hal yang buruk" Ujarnya dengan wajah bingung. Annan menghela napas dan bersandar di kursinya


"Adit tidak akan membiarkan ini begitu saja Citra, apalagi sekarang begitu banyak orang mengetahuinya," Ujar Annan.


"Menurutmu dia bisa melakukan apa kepada kita?" ujar Citra dengan tatapan serius. Annan menganggukkan kepalanya,


"Dia akan melakukan sesuatu, dia tidak akan membiarkan ini selesai... Lebih baik kau mulai tidur dengan satu mata terbuka Citra, hanya masalah waktu sebelum dia menyerang kita balik..."


Sedangkan di tempat lain Adit sekarang sedang duduk di depan televisi terus beralih ke saluran lain dan lagi-lagi melihat acara bincang-bincang pagi membicarakan dirinya. Adit mematikan tv dan membuang remote itu ke lantai dengan frustrasi.


"Hati-hati dengan itu, kamar hotel ini cukup mahal. Aku tidak membutuhkanmu untuk melempar dan memecahkan barang" Ujar Sabila dari tempat duduknya di dekat jendela.


Sabila sedang duduk di sofa berwarna hijau, di pangkuannya ada sebuah majalah. Adit memutar matanya,


Adit berdiri dan berjalan ke arahnya,


"Kau tahu ini hanya masalah waktu sebelum mereka mengetahui siapa dirimu... Dan begitu mereka mengetahuinya, kau tidak akan bisa mendapatkan pekerjaan lain di bidang hukum lagi" Ujar Adit berkata dengan suara yang menekan.


Sabila terus menatapnya Adit, mereka berdua beradu kontak mata. Kedua tangan Adit berada di kedua sisi kursi, menjebaknya.


"Adit, aku memiliki wajah yang cantik dan polos. Kamu adalah CEO salah satu firma hukum terbesar, kamu tumbuh dengan sendok perak di mulutmu, kamu menikah dengan Kirana namun juga bertunangan denganku. Bahkan jika mereka menemukan dan tahu siapa aku, mereka hanya akan melihat seorang gadis muda bingung yang jatuh cinta dengan pria yang salah. Tapi kamu? Kamu akan menjadi monster yang berselingkuh dari istrinya dan yang menjadi alasan kenapa Kirana bisa menjadi seperti itu" Ujar Sabila berbisik sambil terus menatap Wajah Adit


Adit menjauh dari Sabila dan mencengkeram rambutnya saat kata-kata Wanita itu mulai meresap di otaknya.

__ADS_1


"INI SEMUA SALAHMU!" Ujar Adit berteriak dan berbalik ke arah Sabila dengan menuduh.


"Salahku?" Ujar Sabila dan mencemooh.


"Jika kamu tidak menggoda ku-!" Adit mulai berbicara tapi Sabila lebih dahulu berdiri dan berjalan ke arah Adit


"Aku tidak pernah memaksamu melakukan apapun Adit! Aku memberimu syarat dan kamu memilih untuk mengikutinya... Dasar idiot yang mencekik istrinya dan kemudian memukul kepalanya dengan Vas bunga!" bisiknya.


"Tutup mulutmu Sabila, Atau" Adit mengancam.


"Atau apa? Kamu akan mencoba membunuhku juga?" Ujar Sabila menantang.


"Jangan lupakan Adit, satu panggilan telepon saja dan aku bisa menghancurkan seluruh hidupmu..." Ujar Sabila menakan Ucapannya. Adit meletakkan tangannya di rahang Sabila, mencengkeramnya erat-erat tetapi wanita itu terus menatapnya tanpa takut.


"Mengapa kamu setuju untuk membantuku dan dengan syarat aku harus menikah denganmu?" Ujar Adit dengan suara rendah.


Sabila mendorong tangan Adit menjauh,


"Kamu tumbuh dengan segala sesuatu ada di kakimu, jadi aku tidak akan mengharapkan orang sepertimu untuk bisa mengerti" Ujar Sabila dan berjalan pergi. Setelah beberapa saat Adit pun mendengar pintu kamar mandi tertutup dan shower mulai mengalir.


Di dalam kamar mandi itu Sabila membiarkan air hangat menerpa wajahnya, berharap air mata itu menyatu dan membuatnya menghilang.


Tapi ia masih merasakannya, Sabila masih merasakan sengatan yang familiar di mata dan hidungnya yang tersumbat. Sabila tidak bisa membuat perasaan cintanya menghilang tetapi ia bisa menyembunyikannya sehingga orang lain berpikir ia tidak memiliki perasaan itu.


Mungkin jika Sabila melakukannya dengan cukup baik, perasaan itu akan menghilang dengan sendirinya. Itu adalah kebohongan yang Sabila sering katakan pada dirinya sendiri.


Setelah selesai mandi Sabila mematikan air dan membuka pintu kaca shower. Ia mengambil handuk dan membungkusnya rambutnya. Ia melangkah keluar dari kamar mandi dan melangkah ke matt. Ketika ia mengambil handuk lain untuk membungkus tubuh nya, Sabila menangkap bayangan nya di cermin.

__ADS_1


Ia tidak pernah benar-benar sadar diri tentang tubuh nya, yakin payudara nya bisa lebih besar dan pantat nya sedikit lebih gemuk tapi Sabila selalu puas dengan itu.


Tidak, bentuk tubuh alami nya bukanlah hal yang membuat nya malu saat bercermin. Ini bekas luka dari masa lalu. Di paha nya, Sabila memiliki bekas kecil. Itu sebagian besar memudar sekarang.


__ADS_2