
Mata Sabila beralih ke perut nya tepat di bawah pusar nya. Ia memiliki bekas luka yang sepertinya tidak pernah pudar atau sembuh.
"PELACUR"
Kata itu terukir di kulit lembutnya, bekas luka merah sangat kontras dengan kulit putihnya. Sabila mencengkeram handuk dengan erat dan memakainya ke tubuhnya. Memaksa matanya untuk berpaling.
Sabila membuka salah satu lemari dan mengeluarkan tas makeup nya. Sabila mengambil alas bedak yang bagus dan membuka handuk nya. Ia menutupi bekas luka itu seperti orang yang sudah biasa melakukannya. Bahkan ketika ia selesai, Sabila masih melihat garis samar dari kata kutukan itu. Ia akan selalu melihatnya, bahkan jika kulit nya terbakar, Sabila akan selalu melihatnya. Mengejek nya dan mengingatkan nya tentang orang seperti apa dirinya.
Adit tidak akan pernah mengerti perasaan ini. Kelangsungan hidup dari insting terkuat yang selalu melekat pada dirinya. Hanya mereka yang telah kehilangan segalanya yang mengetahui perasaan ini...
Morgan selesai mengancingkan kemeja putih nya dan melihat ke cermin apakah ada noda atau bekas. Morgan mengalihkan pandangannya ke sosok Tiara yang merosot di tempat tidurnya.
"Tiara? Apa kamu ingin aku membuatkanmu sarapan sebelum aku pergi?" Ujar Morgan dengan suara lembut.
Tiara masih bersembunyi di bawah selimut,
"Tidak apa-apa Morgan, aku tidak terlalu lapar" Ujar Tiara dengan suara seraknya, Morgan melihat arloji di pergelangan tangan nya,
"Apa kamu tidak mau bersiap-siap untuk bekerja?" Ujar Morgan saat menyadari sekarang sudah jam 7:02 pagi Tiara biasanya pergi sebelum Morgan.
"Aku tidak enak badan hari ini, aku akan bekerja dari sini saja" ujarnya malas. Morgan desah pelan.
"Baiklah... aku harap kamu merasa lebih baik. Aku harus pergi sekarang tapi aku akan kembali lagi nanti" Ujar Morgan sambil berdiri dan merapikan kerutan di bajunya, Morgan melihat ke bawah ke arah tiara tapi wanita itu tidak mengatakan apa-apa. Morgan pun keluar kamar dan menuju ruang tamu.
Morgan berhenti di depan meja dan mengambil barang-barangnya. Morgan membuka pintu depan dan meninggalkan apartemen.
Morgan masuk ke dalam mobilnya dan mulai menjalankan nya, ia berniat pergi melihat apakah Annan ingin sarapan bersama.
__ADS_1
Morgan berhenti di gedung apartemen Annan. Ia keluar dari mobil dan berjalan masuk. Morgan memasukkan kode sandinya dan membuka pintu. Morgan melangkah masuk ia akan mengambil langkah lagi tetapi ia hampir jatuh karena sesuatu. Dan saat ia melihat ke bawah lantai ternyata disana ada Annan yang sedang pingsan.
Morgan membungkuk dan melihatnya lebih dekat, bau alkohol dan rokok langsung menerpa hidung Morgan.
"Ya tuhan Annan" ujar Morgan pelan. Morgan mencoba membangunkannya tapi dia bahkan tidak bergerak.
"Apa anak ini sudah mati!" Batin Morgan menghela nafas lalu iapun mengangkat nya. Dan berjalan ke kamar tidur setelah itu Morgan pun langsung melemparkannya dengan kasar
Morgan melepas sepatunya dan menutupinya dengan selimut. Morgan berjalan ke dapur dan mengambil segelas air dan aspirin.
Morgan kembali dan melihat bingkai foto yang ada di atas meja samping tempat tidur. Morgan mengambilnya, dan ternyata itu adalah gambar Annan dan Kirana yang sedang menari.
Morgan melihat wajah Kirana dan memperhatikan nya dengan teliti.
"Sepertinya kau adalah akar dari semua masalah Kirana..." Ujar Morgan pelan
Morgan menaruh kembali bingkai itu di tempatnya semula. Morgan menatapnya beberapa detik lebih lama sebelum keluar dari kamar dan meninggalkan apartemen. Morgan masuk ke mobil nya dan mulai mengemudi untuk bekerja,, ia tidak jadi pergi makan.
Sabila melepas tutupnya dan mengaplikasikannya ke bibir saya sambil melihat ke cermin. Ia menutupnya lagi dan meletakkan Lipstik nya sambil tetap melihat ke cermin.
Semua riasan nya diterapkan tetapi ia masih merasa ada sesuatu yang hilang. Sabila terus melihat ke cermin dan mencoba menemukan apa yang salah. Apakah ia menerapkan sesuatu yang salah? Apakah wajah nya terlihat gemuk? Apakah ia berlebihan?
Sabila terus melihat tetapi ia tidak bisa meletakkan jari nya di atasnya. Sabila mengangkat tangan kirinya dan menjambak rambutnya dengan frustrasi. Sabila mendorong rambutnya ke belakang dan melihat pergelangan tangannya melalui cermin.
Garis-garis merah familiar yang mengotori tubuhnya menarik perhatian Sabila, ia memalingkan muka dari cermin dan mengalihkan perhatiannya ke kedua pergelangan tangannya.
Tanda garis miring yang identik melukai kedua pergelangan tangan nya. Upaya yang gagal untuk mengakhiri hidup nya. Mengingat kesedihan bahwa tidak ada yang menginginkannya...
__ADS_1
Bahkan jika ia mati.
Sabila mengambil alas bedak nya dan mengaplikasikannya ke pergelangan tangan nya, menutupi bekas itu. ia melihat dirinya di cermin. Sabila mengenakan pakaian dalam yang mahal dan tidak nyaman.
Ia pun bersiap-siap untuk memberikan kejutan untuk Adit. Tapi ia tahu kenyataannya Sabila ingin merasa dibutuhkan meski hanya untuk ****. Sabila tahu ia adalah orang yang tertekan dengan masalah.
Sabila tersenyum tapi tidak sampai ke matanya, ia membuka pintu kamar mandi dan berjalan keluar ke kamar tidur. Adit duduk di tempat tidur di depan komputernya.
Dia berhenti mengetik saat melihat Sabila. Ia berjalan ke arah Adit dan dia meletakkan laptopnya di samping. Ia duduk di pangkuan Adit dan Adit tersenyum kepada nya.
"Kamu ingin menggoda ku," Ujarnya dengan suara lembut. Sabila menutup matanya saat Adit mencium bibirnya.
Adit tidak menciumku seperti pria lain.
Dia mencium sabila seperti... Seorang suami sedang mencium istrinya... Lembut dan penuh cinta...
Semua ciuman yang pernah ia miliki adalah ciuman yang hambar, marah dan penuh nafsu... Dari pria yang hanya menginginkan satu hal darinya
Tapi Adit berbeda...
"Aku mencintaimu Sabila" bisik Adit lembut sambil mencium pelipisnya
Dia mencintai sabila Itulah yang membuatnya berbeda dari yang lain... Itulah yang membuatnya berbeda dari semua orang... Tidak seperti kematian dan semua orang lain dalam hidupnya dia benar-benar menginginkan dirinya
"Aku juga mencintaimu Adit" bisik Sabila
Itu sebabnya ia akan melakukan apapun untuknya... Sabila akan melakukan apapun untuk melindungi satu-satunya hal yang ia cintai...
__ADS_1
Gilang melihat ke luar jendela mobil dan melihat pemandangan saat mereka lewat. Meskipun sebagian besar hanya gedung-gedung tinggi yang penuh dengan orang-orang berjas.
Hal yang sama yang ia lihat setiap hari. Wajah-wajah kosong berjalan serempak, ketika ia masih muda dulu ia mengira mereka terlihat seperti robot yang tidak punya pikiran. Gilang dulu membayangkan mereka semua dikendalikan dengan menekan satu tombol.