Jaya Ningrat

Jaya Ningrat
Ancaman Yang Lebih Besar


__ADS_3

Setelah mengalahkan anak kembar dari keluarga Kleng, Jayabaya langsung berbalik arah meninggalkan tempat kejadian perkara dengan santainya membawa pedang yang besar dan berat, sambil di teriaki oleh tuan putri kerajaan Wuratan, namun iya tetap berjalan dengan santainya sambil berakata.


"Aku akan kembali ke asrama ya, sampai nanti semuanya!"


"Sepele sekali ya kamu!, menyebabkan semua masalah disini dan langsung pergi begitu saja!" teriak tuan putri Wuratan.


"Jangan khawatirkan dia tuan putri, karena jika mereka dari keluarga Kleng ingin benar benar mengirimkan pembunuh masuk ke akademi, itu berarti kematian yang lebih cepat hanya akan membuat tertuju kepada keluarga Kleng" Nehen berkata sambil menenangkan tuan putri Wuratan.


"Biasanya orang di luar akademi tidak akan berani membuat masalah dengan internal akademi, namun jika pertarungan antar murid seperti ini keluarga Kleng pasti mencari cara lainnya" Anba mencoba memberitahu tuan putri Wuratan bahwa tidak akan orang luar berani melanggar aturan akademi.


"Apa maksud mu kau berbicara tentang Tanpe??" tuan putri Wuratan mencoba menebak yang dimaksud oleh Anba.

__ADS_1


"Yaa benar sekali tuan putri, semua orang tahu bahwasanya sikembar keluarga Kleng itu adalah salah satu anak buah Tanpe di akademi ini" lanjut Anba sambil memasang wajah serius dan Nehen serta tuan putri Wuratan menghelas nafas semakin khawatir.


"Apalagi Tanpe sudah mengaktifkan simpul tubuhnya sampai tingkat tujuh, ia akan menuju ke tingkat sembilan untuk menjadi jawara sejati, kekuatannya pasti akan sangat besar!" Nehen dengan pesimis menjelaskan perbedaan kekuatan Jayabaya dengan si bos anak kembar keluarga Kleng itu.


"Benar sekali, bagaimana pun itu, Jayabaya bahkan tidak bisa mengaktifkan simpul tubuhnya menuju ke tingkat pertama, dia sangat jauh sekali dari seimbang dengan Tanpe!" Anba melanjutkan percakapan dengan nada khawatir akan temannya yang bernama Jayabaya itu akan meninggal di akademi karena di hajar habis habisan.


Beralih ke tempat lain yang dimana Jayabaya sudah sampai di asrama yang ia tempati di berikan oleh akademi sebagai pelajar, setelah memasuki kamarnya iya langsung melempar pedang yang berat itu ke lantai dan langsung duduk bersiap siap untuk melakukan eksperiment kepada tubuh sampahnya itu sambil bergumam di dalam hati.


"Tetapi aku tidak boleh heran dengan fasilitas ini , karena sebagus apapun fasilitas jika tubuh ini tetap seperti ini maka hanya akan menjadi sampah di masa depan"


"Tubuh ini terlalu lemah sekali, aku perlu melatihnya meski aku belum mengaktifkan simpul tubuh sampah ini"

__ADS_1


"Aku seorang yang memiliki gelar Kaisar Abadi di kehidupan ku sebelumnya dan nama ku Narantaka yang terkenal di seluruh benua akan membuat tubuh sampah ini menjadi kuat!"


"Tetapi cara seperti apa ya yang akan aku gunakan untuk meningkatkan kemampuan tubuh ini??" memikirkan sambil mengambil posisi duduk dan meregangkan badan.


"Apakah aku harus mencoba cara itu yang sudah sangat kuno, namun tidak ada salahnya untuk mencoba, aku akan menahannya sekuat tenaga!" ekspresi tersenyum jahat sambil berbinar binar di wajah Jayabaya.


"Baiklah jika seperti itu aku sudah menentukan menggunakan tehnik kuno itu saja kepada tubuh sampah ini, lagi pula tidak ada yang bisa membuat perkembangan sepesat tehnik keilmuan kuno itu!"


"Mari lakukan praktek keilmuan kuno bernama tubuh surgaloka!!"


BERSAMBUNG . . . . .

__ADS_1


__ADS_2