Jaya Ningrat

Jaya Ningrat
Ingat Kembali


__ADS_3

Setelah suasana menjadi tegang dengan sorotan mata tajam menatap Jayabaya sang guru perempuan itu yang menggunakan semua atribut baik baju serta celananya dan rambut yang panjang berearna serba merah gelap seperti api yang kelam, dengan menggunakan nada tinggi untuk memberikan pertanyaan kepada Jayabaya sang guru perempuan itu sambil dalam hati berkata.


"Apakah ia terkena masalah akhir akhir ini, kenapa dia seperti linglung begitu, dasar bocah ini tidak seharusnya memikirkan hal - hal yang tidak perlu"


Dengan menaikan tangan ke dagu dan sambil mengelus elus dagu serta tangan satunya di tekut di perut sedari tadi posisi duduk, Jayabaya dengan kesadaran Narantaka sepenuhnya sudah di ambil alih oleh Narantaka itu sendiri dan hanya saja ingatan mereka menjadi menyatu serta hanya dapat di kontrol oleh kesadaran Narantaka yang tinggi, berkata dalam hatinya.


"Lah dalaahh pertanyaan macam apa ini, anak kecil saja sudah tahu ini seharusnya kenapa di tanyakan kepada penyuling terhebat empu ⭐ 9 seperti diri ku ini?"


Dengan posisi sikap meremehkan Jayabaya memejamkan matanya dan menjawab pertanyaan dari guru yang ada di kelasnya tersebut dengan gaya sangat santai.


"Membuat pemurnian senjata suci tingkat biasa terdapat 58 cara"


Mendengarkan jawaban itu sontak ekspresi sang guru terkaget, dan murid murid yang lain langsung menyoraki si Jayabaya silih berganti sambil berkata dalam keramaian.


"Hahaha dasar dungu"


salah satu teman di kelasnya berteriak sambil menunjuk Jayabaya


"Sudah pasti dia gila hahaha"


salah satu temannya memegang perut karena kesakitan berlebihan ketawa

__ADS_1


"hahahhaa"


beberpa orang lainnya ikutan juga tertawa


"Bisa bisanya menjawab dengan jawaban yang salah padhal sudah ada di buku"


beberpa orang yang lain saling berbisik


"Dia seperti sampah tidak patut hidup di tanah agung panjalu ini, bisa bisanya salah"


lalu ada orang yang mengangkat bukunya sambil memperlihatkan halaman bertuliskan aksara.


"Hahahaha....."


"Beginilah kelakuan orang bodoh yang tidak pernah membaca bukunya."


"Sungguh bodoh sekali ya orang itu, hahahahaha......" di ikuti oleh tertawaan dan cemooh dari banyak odang lainnya.


Dengan tampang yang sangat cuek dan sikap meremehkan sambil meremehkan, Jayabaya menjawab kembali apa yang sudah di pertanyakan oleh orang yang menunjukan isi buku bertuliskan aksara tersebut.


"Ramidi ?? bocah itu berani juga melupakan 12 metode pemurnian yang di susun Narantaka??"

__ADS_1


Mendengarkan jawaban Jayabaya, sang guru menjadi lebih kaget lagi, ekspresinya melotot mengarah dengan tatapan tajam dan mukaknya sangat tegang memerah sambil berkata ke arah Jayabaya sambil berteriak dengan penuh nada yang tegas.


"Apa yang baru saja kau katakan ??!!"


Disusul dengan anak anak lain di dalam kelas itu yang terus melontarkan cemooh kepada Jayabaya silih berganti dengan banyak perkataan.


"Dia sepertinya kelewat bodoh"


"Mungkin dia takut di hukum makanya mengada ada"


"Bagaimana mungkin Master Ramidi membuat kesalahan, sudah jelas nyata dia adalah murid kaisar abadi Narantaka"


"Bocah bodoh memang berani beraninya mengatakan sesuatu yang tidak tidak kepada master Ramidi"


karena suasana menjadi ricuh dan sangat ribut, tiba tiba sang guru menaikan telapak tangannya dan menggebrak meja yang ada di depan kelas dengan sangat kencang sekali.


"duuuueeeeebbbbraaaakkk......"


"DIIIIAAAAAMMMM!!!"


BERSAMBUNG . . .

__ADS_1


__ADS_2