Kakak Tiriku, Maduku

Kakak Tiriku, Maduku
Bima Junior


__ADS_3

Di sebuah kamar terjadi kehebohan, Saskia menggerakkan jari-jarinya dan mulai membuka matanya. Ibunya yang melihat Saskia sadar berteriak memanggil Bima yang lagi sarapan pagi di meja makan. Pelayan yang sudah di minta Bima memasakkan bubur, segera menyiapkan menu sarapan pagi  untuk Nyonyanya yang sedang sakit. Bima sengaja libur tidak ke kantor karena ada yang lebih penting yang harus di perhatiannya daripada pekerjaannya. Dia sudah mulai mengerti akan keadaan Saskia yang tulus berdampingan dengannya.


Saskia sudah sepenuhnya sadar, dia melihat kamar sepi tidak ada orang di dalam kamarnya. Dilihatnya punggung tangannya terdapat jarum infus. Saskia memerhatikan sekeliling kamar yang rapi dan terlihat jarum jam sudah pukul 08.00 pagi. Saskia mencoba untuk duduk tapi terasa kepalanya berdenyut. Tanpa sadar suara eluhannya keluar dari mulutnya.


"Aduh," keluh  Saskia sambil memegang kepalanya.


Ceklek!


Bima masuk  membawa nampan berisi bubur dan segelas susu hamil, melangkah mendekati Saskia.


"Sayang kamu sudah bangun, kamu kenapa?," Ucap Bima Dengn nada lembut kepada istrinya.


Saskia tersenyum mendengar suaminya menyebutkan kata sayang. Dia senang suaminya sangat perhatian.


" Kamu masih pusing?," ucap Bima  kepada Saskia yang memegangi kepalanya.


" Sedikit Mas, kenapa aku sampai di infus Mas...?," ucap  Saskia yang lupa kejadian subuh tadi.


"Coba kamu ingat-ingat lagi, kamu kenapa? Ucap Bima yang membuat diriku mengingat kejadian subuh tadi.


" Iya aku ingat, terus sudah berapa lama aku tidur Mas?," ucap Saskia yang sudah mengingat peristiwa subuh tadi di kamar mandi.


"Lumayan lama sampai aku khawatir melihatmu," ucap Bima dengan tersenyum


" Mas, kok gak ke kantor," ucap Saskia yang penasaran sudah siang tapi masih di rumah.


"Mas sengaja enggak pergi ke kantor, Mas sudah meminta Daniel untuk menangani urusan kantor. Kalau Mas ke kantor, Mas bakal gak tenang memikirkan keadaan kamu Saskia?," ucap Bima yang sudah memberikan tanggung jawab pekerjaan kantor kepada orang kepercayaannya.


"Saskia gak apa-apa Mas," ucap Saskia yang merasa tidahnenak hati.


"Kamu aja masih sakit, nanti bagaimana kalau kamu muntah lagi, siapa yang akan bantu kamu, Kasian Baby kita di dalam sini Saskia..," ucap Bima mengelus perut rata Saskia, yang membuat Saskia merasa bingung.


" Apa Mas!," ucap Saskia tidak percaya.


"Iya..., Bima Junior sudah ada di dalam sini," ucap Bima dengan wajah tersenyum menjelaskan kepada Saskia.

__ADS_1


"Benar Mas , aku hamil, Alhamdulillah ya Allah...," ucap Saskia merasa tidak percaya dan mengucapkan syukur kepada yang maha kuasa. Tanpa sadar air mata kebahagiaan menetes di pipi yang membuat Bima terkejut.


"Kamu mengapa menangis Saskia..., apakah kamu tidak menginginkannya," ucap Bima terheran akan sikap Saskia.


"Bukan Mas, Saskia ingin dan bahagia bahkan sangat bahagia, saking bahagianya Saskia sampai menangis," ucap Saskia merasa terharu dengan perkataan Suaminya.


"Sudah tenang, Cup...," Bima menenangkan Saskia dan mengecup keningnya.


"Iya Mas," ucap Saskia yang menyapu air matanya.


"Terima kasih ya sayang, sudah memberi kado terindah untuk Mas, kalau kamu hari ini sudah membaik, nanti sore kita akan memeriksakan junior ke dokter kandungan, apakah kamu bersedia dan kuat untuk pergi ke sana? Ucap Bima kepada Saskia dengan memberi semangat.


" Iya Mas, aku mau..., Aku kuat Mas, aku sudah gak sabar melihat junior," ucap Saskia dengan semangat.


"Ya sudah, sini Mas bantu bangun, kita sarapan dulu ya...habis ini minum obat supaya  kamunya gak muntah lagi," ucap Bima membujuk Saskia.


" Iya Mas," ucap  Saskia menatap wajah suaminya.


"Suapan demi suapan di telan oleh Saskia. Bima terlihat telaten menyuapi istrinya. Bima juga memberikan potongan buah Apel untuk Saskia dan senang hati dia memakannya. Saskia terlihat sehat, wajahnya kembali segar setelah sarapan. Kemudian Bima memberikan segelas susu rasa vanila dan memberikannya kepada istrinya.


Saskia menggeleng, menolak pemberian Suaminya, tetapi Bima tetap memaksa untuk meminumnya karena ada makhluk kecil di dalam rahimnya yang perlu asupan gizi. Saskia memijit hidungnya dan meminum susunya sampai habis. 


1 jam sudah berlalu, Saksia sudah selesai membersihkan tubuhnya, ketika akan keluar dari kamar mandi, Bima dengan sigap membopong Saskia ke tempat tidur. Saikia tidak di beri kesempatan bergerak. Bima tidak ingin Saskia kecapekan sehingga dapat mempengaruhi kandungannya.


Bima mengambil baju piama yang longgar, dan memakaikan kepada istrinya. Saskia begitu malu, melihat suaminya yang memakaikan semuanya. Terakhir Bima yang menyisir rambutnya yang harum dengan shampo. Ketika sudah selesai berpakaian, Saskia merasa mual kembali, perutnya bagai di aduk-aduk. Bima yang melihat Saskia seperti akan muntah segera menghampiri istrinya. Saskia segera  berlari ke kamar mandi dan menutup pintunya.


Huek


Huek


Saskia memuntahkan semua makanan yang telah di makannya. Tenggorokannya terasa pedas dan kepalanya semakin pusing. Bima yang mendengar Saskia kembali muntah-muntah merasa khawatir. 


Tok...tok...


"Sas...Saskia, buka pintunya," ucap Bima yang khawatir mendengar Saskia muntah-muntah.

__ADS_1


Saskia mendengar teriakan Bima hanya bisa diam, kepalanya yang pusing membuat pandangan Saskia terasa berkunang-kunang. Saskia terduduk di closet, tubuhnya terasa lemas. Perutnya yang mual selalu membuat dirinya ingin muntah selalu.


Bima merasa tidak tahan harus menunggu, dia takut Saskia akan jatuh dan tidak sadarkan diri kembali. Bima mencari kunci cadangan, dia sudah tahu di mana letaknya.


Bima berhasil membuka pintu, dia terkejut melihat Saskia yang terduduk masih memuntahkan isi perutnya. Tubuh Saskia berkeringat, wajahnya terlihat pucat. Bima mengurut leher Saskia, membantu agar muntah cepat keluar. Saskia mendapat elusan dari suaminya merasa tenang.


Ia merasa nyaman bila di peluk suaminya. Saskia membersihkan milutnyabdan merapikan pakaiannya, Bima yangbmelihat istrinya akan berdiri memapahnya menuju tempat tidur dan membaringkannya.


"Tunggu di sini ya Sayang..., Mas mau minta sama Bibi buatkan wedang Jahe supaya kamu gak mual lagi," ucap Bima melangkah ke lar dari kamar.


Saskia terlihat gelisah karena dia menunggu suaminya hanya sebentar keluar, tetapi perasaannya sudah sangat lama. Suara pintu terbuka membuat Saskia menoleh ke arah suara.


Bima kembali masuk ke kamar membawa secangkir wedang jahe yang di racik sendiri olehnya.


" Mas Bantu bangun ya..." ucap Bima membantu Saskia bangun dan menyandarkannya di headboard.


Saskia duduk dan menerima cangkir dari suaminya, meminumnya sedikit demi sedikit. Rasa hangat ditenggorokannya membuat Saskia merasa tenang. Bima ingin mengembalikan cangkir dan nampan ke dapur, tetapi Saskia mencegah Suaminya agar jangan Meninggalkan dirinya.


"Mas, Mas mau kemana?," ucap Saskia seakan tidak rela di tinggalkan suaminya walaupun


hanya sebentar saja.


"Mas mau mengantar ini Sayang...," ucap Bima menunjukkan benda yang ada di tangannya.


" Mas di sini saja, jangan kemana-mana? aku ingin di peluk," ucap Saskia dengan manjanya dengan menegakkan kedua tangannya.


" Kamu biasanya gak manja gini Yang...," ucap Bima yang merasa heran sikap istrinya selama hamil muda.


" Sini cepat...," ucap Saskia yang merengek meminta Bima segera mendekat.


" Iya Sayang...," Bima naik ke kasur dan memeluk istrinya. Saskia mencium harum tubuh Bima seakan membuatnya tenang sampai wajahnya menempel di tubuhnya.


Bima merebahkan tubuhnya dan memeluk istrinya. Diciumnya kening istrinya dan dielusnya kepalanya. Dengan menjadikan lengannya bantalan, Tidak butuh lama Saskia tertidur di lengannya.


Azan zuhur membangunkan Bima dari tidurnya, di amenciba bangun, tetapi Saskia msih tertidur pulas di lengannya. Pelan-pelan dia menggeser tubuh Saskia, tapi sayang orang yang di geser merasa terganggu dan  Akhirnya Saskia terbangun.

__ADS_1


Ketika Saskia membuka matanya pandangannya berputar, dia pun merasa mual dan secepatnya menutup mulutnya guna mencegah muntah yang sudah tidak tahan ingin dikeluarkannya.


Bima merasa bersalah sudah mengganggu tidur istrinya, dia segera menghampiri Saskia dan mengurut lehernya. Saskia terasa lemas karena perutnya telah kosong. 


__ADS_2