Kakak Tiriku, Maduku

Kakak Tiriku, Maduku
Masih Proses


__ADS_3

Hari ini tepat 3 minggu Saskia dan Bima berlibur di Lombok. Saskia sangat Rindu dengan Papanya dan dia ingin mencari tahu kabar Papanya sekarang. Dia mengambil ponselnya untuk menghubungi sang Papa, tetapi terlebih dahulu ponsel Bima berdering sehingga menyurutkan hati Saskia untuk menelepon sang Papa. Bima yang masih tidur langsung terbangun mendengar ponselnya berdering. 


"Hallo, apa!!!," teriak Bima kepada orang yang di seberang sana.


" Cepat kau atasi, aku akan pulang hari ini juga," ucap Bima kepada orang suruhannya.


Saskia terkejut mendengar teriakan Bima yang begitu keras. Bima yang sudah emosi langsung beranjak dari tidurnya dan pergi ke balkon menelepon seseorang.


Beberapa menit kemudian Bima berjalan menuju lemari untuk mengemasi pakaiannya. Saskia yang bingung melihat Bima berkemas, segera menghampirinya.


" Mas, Mas mau kemana," ucap Saskia dengan kebingungannya.


"Kita mau pulang! cepat kemasi barang-barangmu! Ucap Bima dengan nada dinginnya meminta Saskia untuk mengemasi barang-barangnya.


" Ada apa Mas? bukankah masih Satu minggu lagi kita disini," ucap Saskia yang penasaran.


" Diam, jangan banyak tanya, cepat kemasi barang-barangmu atau kau akan ku tinggalkan di sini!" ucap Bima yang emosi.


Saskia yang dibentak merasa takut, dia pun segera mengemasi barang-barangnya. Saskia heran melihat Bima di pagi ini. Ada masalah apa sebenarnya, sampai-sampai membuat dia begitu marah. Diapun segera Membersihkan tubuhnya setelah bangun tidur dan bersiap memakai baju serta hijabnya. Pakaian yang di pakainya ketika berangkat pertama kali ke Lombok. Hanya baju itulah yang terlihat sopan dan yang Saskia miliki ketika di Lombok.


Bima sudah berpakaian Rapi, tanpa berkata-kata dengan Saskia, dia langsung menarik kopernya. Saskia hanya mengikut apa yang di kerjakan Suaminya.


Pesawat pribadi milik Papa Bima sudah tiba menjemput Bima dan Saskia. Saskia merasa takut naik pesawat itu. Bima tidak duduk di sampingnya, ketika pesawat Take off  Saskia terlihat ketakutan. Entah kemana Bima sampai meninggalkan istrinya sendirian di bangku penumpang. Rasa takut yang menderanya membuat Mata Saskia selalu terpejam, sampai keadaan dirasanya normal kembali barulah membuka matanya. Saskia melihat sekeliling ruangan pesawat, tetapi tidak ada tanda-tanda Bima di sana. Hatinya terus bertanya-tanya, mengapa Bima berubah, apakah ini sifat aslinya.


Beberapa jam kemudian,


Pesawat mereka landing, Bima baru keluar dari tempat persembunyiannya bersama orang kepercayaannya. Daniel, sebelas dua belas dengan Bima, sama-sama tidak mau tersenyum, dingin dan arogan.


Mereka pun keluar dari pesawat, Bima segera bergegas berjalan dengan langkah lebarnya meninggalkan Saskia sendirian. Saskia merasa lelah mengejar suaminya yang seakan tidak perduli akan keadaan dirinya.


Padahal saskia merasa pusing, Ia merasa mabuk udara. Langkah Bima amat cepat, sehingga Saskia tertinggal jauh di belakang. Supir yang melihat Saskia kelelahan mengejar Tuannya segera membawakan koper sang Nyonya.


Supir telah memasukkan koper Saskia ke dalam bagasi mobil dan dengan cekatan membukakan pintu kepada Saskia. Saskia heran kemana perginya suami dan orang kepercayaannya. 


"Mang kemana Mas Bima?," ucap Saskia yang tidak tahan bertanya akan rasa penasarannya.

__ADS_1


"Maaf Nyonya, tadi Tuan Bima berpesan, Nyonya di suruh pulang ke rumah, Tuan langsung ke perusahaan, karena perusahaan dalam masalah," ucap Mang Arif yang sudah masuk ke mobil.


"Sudah jalan Mang," ucap Saskia yang lelah dengan sikap Suaminya yang acuh.


Apakah Mas Bima tidak memperdulikan diriku sebagai istri? Apakah diriku tidak ada harganya bagi kamu Mas? Apakah segitu pentingnya perusahaanmu dari pada aku? Satu kata pun tidak ada kau ucapkan langsung untuk meninggalkan pesan atau berpamitan kepadaku.


Hari yang cerah serasa mendung  di hati Saskia. Perkiraan  Saskia Bima sudah mulai suka padanya karena selama 3 minggu, Bima selalu memperlakukan Saskia dengan baik dan tidak pernah membentak. Tetapi di hari ini sikap Bima sungguh berubah. 


Oh mungkin dia banyak masalah jadi  dia murah emosi.


Mobil pun sampai di halaman rumah mewah, Mama Bima menyambut Saskia di depan rumah dengan bahagia. Wajah tampak berbinar seperti seorang gadis yang menunggu pujaan hatinya datang. Salah seorang pelayan datang mengambil koper Saskia dan  membuatkan minum.


"Bagaimana Sas, enak liburannya? Ucap Mama Bima yang antusias dengan wajah cerianya.


" E...enak Ma, kok sepi Ma, Papa di mana? Ucap Saskia yang celingukkan melihat Papa Bima yang tidak kelihatan.


" Papa ke perusahaan, perusahaan Bima dalam masalah," ucap Mama Bima menjelaskan.


"Apakah Kalian sudah....," ucap Mama Bima yang mengasih kode dengan menaik turunkan alisnya.


" Ah, masa kamu gak paham, kalian sudah buatkan cucu untuk Mama...,"ucap Mama Bima yang langsung ke intinya karena Saskia terlalu polos.


" Uhuk...uhuk," Saskia terbatuk-batuk mendengar kemesuman Mamanya.


Pantasan anaknya mesum, eh rupanya menurun dari mamanya.


" Doain aja Ma, masih proses," ucap Saskia kepada ibu mertuanya.


"Beneran..., ye...bentar lagi Mama punya cucu,  bentar lagi punya cucu...," ucap Mama Bima dengan gembiranya dan meninggalkan Saskia sendirian menuju ke kamarnya.


Saskia geleng-geleng kepala melihat kelakuan ibu mertuanya, yang tingkahnya seperti anak kecil mendapat undian.


Saskia merasa lelah, dia menuju kamarnya yang berada di lantai 2. Kamarnya bersebelahan dengan kamar tamu dan ruang kerja suaminya. Saskia membuka pintu, dia masih merasa asing dengan kamar Bima karena baru sehari dia menempati kamar itu. Harum parfum Bima tercium memenuhi kamar tidur mereka, membuat Saskia merasa nyaman dan ingin tiduran. Entah perasaan apa yang ada di hati Saskia. Saskia merasa dia mulai mencintai Bima. Walaupun Bima masih belum sepenuhnya menerimanya di dalam hatinya.


Saskia terlebih dahulu membersihkan  tubuhnya sebelum rebahan. Dia berendam dalam bath tub, pikiran yang mengganggu kepalanya akhir-akhir ini seakan-akan hilang karena harum terapi dari sabun yang di miliki Bima.

__ADS_1


1 jam Saskia berendam, membuat dia ketiduran. Terdengar ketukan dipintu kamar mandi, Saskia berpikir itu pasti Bima sudah pulang. Dia segera bergegas membuka pintu hanya memakai baju kimono yang ada di kamar mandi. 


Ceklek!


Pintu terbuka, Saskia melihat kepala pelayan membawakan nampan berisi menu makan siang dan segelas air putih.


" Nyonya, maafkan saya masuk ke kamar Nyonya tanpa permisi, Nyonya besar meminta saya mengantarkan makanan untuk Nyonya,"


Ucap kepala pelayan yang bernama Bi Ijah.


"Kenapa di bawa kemari Bi, saya bisa ke bawah untuk makan bersama Mama," ucap Saskia kepada Pelayan Bima.


Pelayan yang melihat wajah saskia tidak berhijab merasa kagum.


Sungguh cantiknya Nyonya Saskia, alangkah beruntungnya Tuan Bima mendapatkan istri se cantik ini. 


" Nyonya besar tidak dirumah, beliau baru saja pergi ingin menemui teman arisannya," ucap Bi Ijah yang masih menatap Saskia.


" Ya sudah Bi, tinggal kan saya," ucap Saskia yang terlihat lesu.


"Iya nyonya, kalau ada perlu apa-apa, panggil saya saja Nyonya," ucap Bi Ijah meninggalkan kamar Saskia.


" Iya Bi,"Jawab Saskia dan menutup pintu kamarnya.


Saskia memakai bajunya, baju yang sudah beberapa minggu ini tidak di pakainya. Dengan Hijabnya Saskia terlihat cantik. Di lihatnya menu di atas meja, dia berpikir apakah Bima sudah makan atau belum.


Di ambilnya ponsel mencari nomor Bima


Dan mengirim 1 chat.


' Mas, jangan lupa makan'


Saskia makan sendirian, menu di hadapannya terlihat enak tapi nafsu makannya tidak ada. Dia merasa kesepian. Selesai makan Saskia melihat group kuliahnya. Banyak chattingan di sana menanyakan dirinya. Tapi dia tidak ingin membalasnya. 1 chat yang menyentuh hati Saskia, nama seseorang yang pernah singgah dihatinya.


' Kia, apa kabarmu,'

__ADS_1


Panggilan istimewa dari orang yang pernah singgah dihatinya membuat Saskia mudah menebak orang tersebut. Saskia berwudu untuk melaksanakan kewajibannya. Dan di sempatkannya membaca Al Quran. Suasana rumah sangat sepi, Saskia merasa bosan di kamar terus, akhirnya dia memutuskan untuk mencari angin dan berjalan-jalan ke taman belakang. Terdengar suara canda tawa dari para pelayan. Saskia penasaran apa yang di bicarakan mereka, dan dia pun mendekat.


__ADS_2