
"Ehmm, apa yang kau lihat di sana?," ucap Bima duduk di samping Annisa dengan nada dinginnya.
" Memandang pantai yang tidak ada satu orang pun Mas," ucap Saskia menatap pantai tanpa memperdulikan orang di sampingnya.
" Apakah kau ingin ke sana?," ucap Bima dengan dinginnya.
" Bagaimana dengan pakaianku Mas, ini di leherku juga banyak tanda merahnya," ucap Saskia yang merasa malu akan baju yang di pakainya dan menunjukkan ke Bima tanda-tanda di lehernya.
" Kenapa lehermu...? digigit serangga ya, Serangga mana yang berani menggigitmu? ucap Bima yang pura-pura polos dan ketus.
" Ih..., Serangga apaan..., serangga mesum iya..., bagaimana ini Mas, aku malu pakai baju begini," ucap Saskia kesal serta malu dengan bajunya dan berusaha menutupi lehernya menggunakan gardigannya.
"Di sini tidak ada orang lain, hanya kita berdua, kalau kamu ingin ke sana aku bisa menemanimu, atau kamu ingin menghabiskan waktu di kamar ini saja bersamaku, aku juga gak akan keberatan, supaya lebih banyak lagi tanda di tubuhmu. Bagaimana...apakah kamu mau di kamar saja?," ucap Bima dengan senyum liciknya dan kemesumannya.
" Gak mau," Saskia langsung menggeleng-gelengkan kepalanya, dia bergidik ngeri mendengar perkataan Bima, Irit bicara. Tetapi, selalu mesum perkataannya.
" Aku ingin ke pantai saja Mas, bisakah Mas menemaniku," ucap Saskia kepada Bima mencari jalan aman dengan perkataan lemah lembutnya.
" Ayo," ucap Bima menarik tangan Saskia. Saskia yang di gandeng merasa senang dan berbunga-bunga.
Saskia berjalan bersama Bima dengan menggunakan lingeria tipis dan gardigan yang sempat di pakainya ketika akan berangkat. Sebenarnya Saskia bukan hanya malu kepada orang lain. Tetapi Saskia juga malu kepada Allah, kepala Saskia terbuka tanpa menggunakan hijab. Walaupun suaminya memperbolehkan, tetapi Saskia merasa risih. Bima menggandeng Saskia sampai ke pinggir pantai, Saskia yang terkenal suka pantai dan pandai berenang rasanya sudah tidak tahan lagi ingin segera masuk ke air.
Angin sepoi-sepoi meniup rambut Saskia yang panjang. Leher jenjangnya memperlihatkan jejak-jejak kepemilikan Bima yang masih jelas warnanya. Saskia sangat senang bermain air seperti anak kecil yang mengejar ombak berkejar-kejaran seakan menghibur hati Saskia di bawah terik matahari. Saskia berfoto ria di sana mengabadikan dirinya di tepi pantai. Senyum indah di wajahnya seakan menjadi daya tarik orang yang melihatnya.
__ADS_1
Diam-diam Bima memperhatikan tingkah laku Saskia dari jauh dan memfotonya. Bima bingung dengan perasaan dan hasratnya setiap dia memandang Saskia, dia selalu ingin menerkamnya dan hatinya selalu bergetar manakala kulit mereka bersentuhan.
Hubungan yang sah bagi mereka membuat Bima memanfaatkan situasi, dia berjalan mendekati Saskia dan menawarkan diri untuk berfoto berdua. Tanpa sadar tangan Bima merangkul bahu Saskia. Saskia kaget dan terjepret ketika mereka bertatapan. Hasil jepretannya sangat bagus. Senyum terbit di wajahnya menggambarkan hatinya sedang bahagia.
Saskia meminta Bima untuk memfoto dirinya dengan berbagai gaya di tepi pantai dengan senyum ceria. Bima serasa menjadi fotografer dadakan. Tiba-tiba Bima mempunyai ide untuk mengirim sebuah foto Saskia ke ponsel pribadinya.
Ting
Satu chat terkirim ke ponsel Bima, Bima tersenyum melihat wajah Saskia, yang tersenyum berfoto bersamanya. Bima seakan lupa dengan kekasihnya yang sudah jauh di sana yang tidak tahu kapan dia kembali.
Hari-hari demi hari mereka lewati dengan status pasangan pengantin baru. Tidak terasa sudah satu minggu mereka liburan di Lombok. Jangan ditanya kalau soal hubungan suami istri, mereka seakan tidak pernah absen untuk menghabiskan malam bersama. Bima seakan candu akan tubuh istrinya, istri yang menjadi daya tarik tersendiri bagi Bima. Entah mengapa Bima bila dekat dengan istrinya dia selalu ingin lebih dan lebih lagi sehingga tiada hari tanpa melewati kegiatan panas yang setiap malam selalu di tagih Bima membuat tubuh Saskia selalu remuk bila di pagi hari.
Bagaikan burung dalam sangkar, Saskia selalu terkurung di dalam kamar. Bima tidak memberi celah sedikit pun kepada Saskia untuk melakukan aktivitas lainnya. Tubuh istrinya sudah menjadi candu bagi Bima. Sepengenal Saskia, Bima adalah orang termesum yang pernah dia kenal.
Bima juga tidak tau akan perasaannya, apakah ini perasaan suka, cinta ,sayang atau karena takut mengecewakan Mama dan Papanya. Selama sudah satu minggu mengenal Saskia dan sering menghabiskan malam bersama Bima menjadi sedikit suka dan perhatian kepada Saskia.
Ijab kabul yang di ucapkan Bima beberapa hari yang lalu membuat kepribadian Bima berubah 100 persen. Bima yang terkenal dengan Arogan, dingin, seperti gunung es di kutub selatan dan tidak romantis. Tetapi sekarang kebalikannya, Bima tampak menikmati berdua dengan Saskia. Walaupun belum terlalu banyak bicara, dengan berjalannya waktu Bima sudah menunjukkan keperduliannya kepada Saskia. Dimulai dari hal kecil seperti memperhatikan pola makannya dan mengeringkan rambutnya setiap sehabis keramas. Saskia menjadi klepek-klepek mendapat perhatian dari Bima. Benih-benih cinta sudah mulai tertanam di hati Saskia.
Sebenarnya Bima selama berpacaran dengan Selly Selviana tidak begitu romantis dan jarang berkencan seperti pasangan lainnya. karena kesibukkannya di perusahaan, hanya Sellylah yang mendatangi Bima ke kantornya.
Selly selalu lengket seperti ulat keket yang menempel kemana Bima pergi. Tetapi kalau di tanya masalah yang serius tentang pernikahan dia selalu menolak.
Sementara di dalam kamar Saskia masih bergelung di bawah selimutnya, cuaca yang dingin membuat dirinya malas untuk bangun. Tubuhnya yang letih akibat kegiatan ranjang tadi malam membuatnya betah di atas tempat tidur.
__ADS_1
Ceklek!
Bima membuka pintu kamarnya, membawa nampan berisi sepiring nasi goreng, satu gelas susu hangat dan secangkir kopi. Bima melihat istrinya di bawah selimut masih tiduran, segera mengangkat ke kamar mandi.
" Mas," ucap Saskia berontak memukul dada bidang Bima, dia terkejut badannya seperti melayang di udara diangkat Bima.
" Diam, apa kamu mau aku lakuin lagi yang tadi malam tanpa sarapan dulu," ucap Bima menjaili istrinya yang polos.
" Gak mau, aku lelah, aku juga lapar Mas" ucap Saskia masih berontak dalam gendongannya.
"Iya, makanya cepat mandi, nanti kita makan bareng," ucap Bima meletakkan Saskia di Bath tub, "Apa perlu aku mandikan?," ucap Bima dengan senyum liciknya.
"Enggak mau, nanti Mas macam-macam," ucap Saskia yang sudah berpikiran aneh-aneh.
" Ha...ha...ha..., macam-macam sama istri sendirikan gak apa-apa? Ucap Bima yang tertawa melihat kepolosan Saskia.
" Udah Mas keluar sana,"ucap Saskia mengusir Bima dari kamar mandi.
" Iya...ya...," ucap Bima sambil berjalan menuju pintu tetapi ketika akan melangkah keluar, dia kembali membalikkan badannya dan melangkah kembali menuju ke bath tub.
" Kita kan belum pernah mandi bareng, kalau begitu sekarang kita lakukan," ucap Bima membuang celana pendeknya dan masuk ke dalam bath tub bersama Saskia. Akhirnya Bima dan Saskia mengulang kegiatan mereka kembali tanpa mengenal waktu dengan kulit yang sudah memutih karena terlalu lama berendam di dalam air.
Saskia bahagia karena suaminya sudah dapat menerima dirinya dan Saskia mencoba memenuhi semua permintaan suaminya tanpa ada penolakan. Ini dia lakukan agar suaminya pelan-pelan dapat jatuh cinta kepadanya dan melupakan Kakak tirinya.
__ADS_1