
Melihat kondisi Saskia, Bima merasa khawatir. Saskia yang muntah-muntah merasa nyaman bila di peluk Bima. Mualnya merasa berhenti. Junior seakan tahu bahwa dia memerlukan perhatian Papanya.
" Mas, Aku lapar Mas," ucap Saskia yang merengek minta makan.
" O, iya Mas pun lapar, sayang mau makan apa? Ucap Bima yang ingin menyiapkan menu kesukaan istrinya.
"Aku mau makan rujak Mas, yang dekat kampusku," ucap Saskia yang mengidam rujak.
"Sayang, kamu belum makan siang, nanti ya selesai makan baru di beli," ucap Bima yang tidak ingin istrinya sakit kembali.
" Enggak mau, maunya sekarang," ucap Saskia yang cemberut karena kepinginnya tidak dituruti.
" Kenapa harus kesana, itukan lumayan jauh Yang...," ucap Bima yang heran melihat tingkah istrinya selama hamil.
"Aku maunya yang disitu Mas..., aku gak mau tempat yang lain" ucap Saskia yang ngotot mau rujak yang didekat kampusnya.
"Iya Sayang, tapi di depan komplek kita juga enak," ucap Bima mencoba bersabar menghadapi istrinya yang ngidam.
" Enggak mau, titik, pokoknya rujak yang dekat kampus" teriak Saskia yang masih teguh dengan pendiriannya dan ngambeknya semakin parah.
Tok
Tok
Tok
Ceklek!
Bima membuka pintu kamarnya, terlihat Mamanya Bima didepan pintu yang ingin melihat keadaan Saskia dan ingin meminta mereka makan siang bersama. Mama Bima merasa heran melihat Menantunya cemberut.
" Kenapa dengan Saskia, Bima...? ucap Mama Bima yang penasaran ada apa dengan menantunya yang merajuk dan tidak memperdulikan mertuanya masuk kedalam kamar.
" Dia minta rujak Ma..., Bima mau nuruti tapi dia harus makan dulu," ucap Bima yang memberi pengertian kepada istrinya.
" Bima ini bukan kemauan dia, ini kemauan anakmu, apa kamu mau anakmu nanti ileran!," ucap Mama Bima mencoba menghubungkan keadaan menantunya dengan kemauan aneh yang di mintanya.
" Ya sudah Sayang..., ayo kita pergi cari rujaknya," ucap Bima mengalah dan menggandeng tangan istrinya.
"Beneran Mas," ucap Saskia merasa senang dan tersenyum semringah.
CUP
Saskia refleks mencium pipi Bima di depan Mama Bima. Mama Bima melotot melihat adegan mesra mereka. Sedangkan Bima yang dicium merasa seperti mendapat vitamin. Dia pun semangat menuruti kemauan istrinya.
Mamanya Bima sampai malu melihat ke mesuman menantunya. Dia Sadar bahwa kehamilan kadang mempengaruhi seorang wanita sampai agresif bila berhubungan dengan suaminya.
__ADS_1
"Beneran, ayo...," ucap Bima yang berbinar dan langsung menyambar kunci mobil dan menggenggam tangan istrinya.
Mereka pun berjalan bergandengan tangan keluar dari rumah menuju mobil yang ada di depan garasi. Bima menyetir dan Saskia duduk di sampingnya. Kepedulian Bima membuat Saskia merasa senang, karena suaminya sudah sangat perhatian. Bima dengan cekatan memasang seltbelt dengan wajahnya yang begitu dekat. Melihat bibir pink milik Saskia, dia langsung tergoda.
CUP
Bima menempelkan benda kenyal miliknya dengan milik Saskia. Saskia di bungkam tanpa bisa berkata sedikit pun. Tangan Bima sudah menjelajah kemana-mana menyusuri tubuh Saskia. Saskia merasa terengah-engah dan tanpa disadarinya mengeluarka suara-suara merdu.
Mama Bima yang melihat mobil Bima tidak jalan-jalan, sangat penasaran. Dia melangkah segera mengetuk pintu mobil.
Tok
Tok
" Bima..., ada apa dengan Saskia? kenapa kalian belum juga berangkat?" ucap Mama Bima yang penasaran dan jiwa keponya melonjak.
Saskia dengan segera mendorong tubuh Bima sebelum Saskia kehabisan napas dan Tertangkap basah dengan mertuanya karena melakukan sesuatu di dalam mobil.
" Mas..., udah Mas, kita jadi tidak perginya, lihat itu ibu heran lihat kita belum juga pergi," tanya Saskia yang mengalihkan pembicaraan karena kemuseman suaminya bisa menggagalkan rencana makan rujaknya.
" Makanya kamu jangan menggoda Mas, tadi yang duluan cium pipi Mas, siapa ayo. jadi bergerakkam di bawah sana,"tanya Bima memancing keadaan dan menunjukan kebawah tempat pusaka Bima yang mendesak ingin keluar.
Tok
Tok
" Iya Ma...," jawab Bima kepada Mamanya yang melihat Menantunya dari kaca jendela. Terlihat jilbab Saskia sedikit berantakan. lipstik Saskia juga belepotan.
" Kenapa kalian belum jalan, apa Saskia pingsan? atau kamu Bima semakin mesum sampai mau melakukan di dalam mobil?," suara Sopran Mama Bima terdengar nyaring seperti kicauan burung di atas genteng.
" Tidak Ma...," ucap Bima kalau menyalakan mobilnya. Saskia mengambil tisu untuk memperbaiki lipstik dan merapikan jilbabnya.
Mobil melaju keluar dari gerbang dan membelah jalanan yang ramai merayap.
"Makanya Sayang..., jangan menggoda Mas, Mas pantang di pancing langsung On, ini aja belum turun," ucap Bima dengan kemesumannya.
" Ih...alasan, tadi itu spontan karena Aku bahagia Mas, karena Mas mau menuruti kemauanku " ucap Sasiia dengan pandai bersilat lidah.
Di tengah perjalanan tangan Bima yang sebelah kiri terus memegang perut Saskia, Saskia merasa geli merasakan elusan dari tangan Bima. Bima yang menyadari Saskia merasa geli mencoba menghentikan gerakan tangannya.
" Kenapa Sayang," ucap Bima yang merasa istrinya tidak nyaman.
" Geli Mas," ucap Saskia kepada suaminya.
"Mas pikir kamu kenapa-kenapa Yang...," ucap Bima yang sudah terlihat wajah ke khawatirannya.
__ADS_1
" Emangnya Saskia kenapa Mas...," Tanya Saskia balik.
" Mana tahu anak kita nakal, nendang -nendang perut kamu," terang Bima kepada istrinya yang kedengaran sangat mustahil.
" Ada-ada saja Mas ini, masih kecil juga, masih sebesar biji kacang hijau," ucap Saskia menjelaskan kepada suaminya.
" Itu Mas, tempatnya," ucap Saskia menunjukkan tempat penjual rujak.
Mobil pun berhenti didekat tukang rujak yang di tunjuk Saikia.Bima melarang Saskia untuk turun. Bima harus rela mangantri karena banyaknya pembeli dan rela berpanasan sampai keringat memenuhi dahinya Saskia melihatnya merasa tersanjung.
Bima membelikan dua bungkus dan kembali dalam mobil.
" Ini Sayang... rujaknya, kalau gak suka jangan dipak...,"ucap Bima kepada istrinya dan membuatnya terperangah karena sikap biasanya.
Belum selesai Kak Bima ngomong, Saskia sudah merebut kantong plastik berisi rujak. Dengan perlahan Saskia menikmati.
Tusukan demi tusukan masuk mulutnya sampai kandas 1 bungkus. Bima yang melihatnya merasa ngeri.
" Apa enak Sayang???," tanya Bima kepad istrinya yang merasa merinding bumbu rujak yang bertabur pecahan cabai yang banyak.
" Enak Mas..., malah enak Banget, besok kita kemari lagi ya Mas," ucap Saskia yang sangat menikmati rasa rujak yang baru di bukanya dari bungkusan. Keringat di dahinya pun menetes membasahi wajahnya.
" Jangan tiap hari Yang..., nanti kamu sakit perut," ucap Bima mencegah istrinya agar jangan terlalunsering makan pedas.
" Mas , apa gak mau ngerasai?," tanya Saskia kepada suaminya yang sudah menahan rasa pedas dan terlihat sangat rakus.
"Gak, kayaknya pedas banget,"ucap Bima yang merasa ngeri dengan rasa rujak yang dimakan istrinya.
" Gak Lho Mas, sini aku suapi, aa...," ucap Saskia yang menyendokkan sepotong rujak yang di suapkan ke mulutnya.
Bima membuka mulutmu dan mengingat satu tusukan potongan rujak yang diberikan Saskia.
" Ih, pedasnya Dek..., masam.., apa enaknya ini," ucap Bima yang menggigit sedikit potongan rujak yang rasanya sangat masam dengan mata terpejam.
"Enakkan Mas..., coba lagi deh," ucap Saskia meminta agar suaminya merasai rujaknya kembali.
Bima mengunyah satu potongan tadi sampai habis ditelannya.
"Iya, enak Yang..., lagi Yang...," ucap Bima yang merasa ketagihan merasai rujaknya.
Bima ingin di suapi lagi, Saskia dengan suka rela menyuapai suaminya. Tanpa terasa dua bungkus rujak sudah kandas mereka makan.
Bima seakan sangat menikmati rujak yang yang disukai istrinya. Mereka pun memutuskan untuk jalan-jalan sebentar sampai waktu zuhur menjelang.
__ADS_1