Kakak Tiriku, Maduku

Kakak Tiriku, Maduku
Kembar 3


__ADS_3

Sore menjelang, Saskia dan Bima sudah bersiap ingin ke rumah sakit memeriksakan Kehamilannya. Bima ingin mengetahui Apakah kandungan istrinya sangat sehat atau tidak. Bima dengan overprotektifnya menuntun Saskia berjalan sampai ke mobil, dia takut kalau istrinya sampai tersandung sehingga dapat membahayakan kandungannya.


" Hati-hati yang....," ucap Bima yang sangat perhatian.


" Iya mas, aku bisa jalan sendiri. Mas menuntunku seperti orang buta, aku masih bisa melihat Mas... " ucap Saskia yang sangat heran akan kelakuan suaminya.


CUP


"Jangan banyak bicara. ikuti kemauan Mas," ucap Bima dengan sikap posesifnya. Saskia menarik napas, melihat sikap suaminya yang terlalu berlebihan.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Tidak berapa lama sampailah dirumah sakit yang masih kepemilikan Bima. Rumah sakit yang cukup besar dan peralatan media yang begitu lengkap. Membuat rumah sakit itu terkenal karena pengobatan yang bagus dan perawatnya yang ramah-ramah kepada pasien.


Bima membukakan pintu Untuk istrinya dan menuntunnya kembali sampai masuk kedalam. Semua mata memandang dan bergosip membahas kelakuan Bima yang sangat sayang kepada istrinya. Bima mendaftar kepada resepsionis. Butuh deretan panjang menunggu antrean.


Saat menunggu antrean, Bima terus mengelus perut Saskia yang masih rata. Saskia merasa risih karena perutnya juga belum kelihatan besarnya. Seorang perawat yang melihat aksi Bima kepada istrinya senyum-senyum sendiri melihat perhatian Bima.


Di seberang kursi tunggu, Seorang ibu-ibu yang hamil besar menjadi pusat perhatian Saskia. Pemandangan yang sangat mengharukan baginya. Dengan perutnya yang sudah membuncit, dengan setia suaminya mengelus perut istrinya yang mungkin sudah terasa memulas. Sesekali istrinya meringis mengatasi kontraksi pada kandungannya.


Jangan ditanya dengan Bima yang seakan tidak perduli dengan keadaan sekitar. Banyak mata memandang dirinya yang sangat aneh. Masih asik juga mengelus perut istrinya yang masih rata. Saskia sampai malu sendiri karena kelakuan suaminya.


Ibu yang hamil tadi mengerang kesakitan ternyata sudah waktunya dia melahirkan. Hanya saja dia harus menjalani operasi caesar karena anak yang di kandungnya ternyata anak kembar dan tidak bisa melahirkan normal.


Bahagianya punya anak kembar, andai diriku mempunyai anak kembar, betapa bahagianya hatiku. Pasti Bima juga bahagia. Alangkah Ramainya suasana rumah nanti mendengar suara anak-anakku.


Lamunan Saskia buyar kala dia mendengar panggilan perawat yang mmanggil namanya. Saskia dan Bima melangkah menuju ruang periksa. Terlihat Dokter cantik yang memakai hijab berwarna putih. Parasnya sangat ayu dan tatapan yang lembut membuat siapa saja betah melihatnya. Namanya Dokter Mia yang merupakan teman SMA Bima yang juga sangat mengerti keadaan diri Bima yang arogan.


" Assalamu'alaikum," ucap Saskia ketika masuk kedalam ruangan.


"Wa'alaikum Salam," jawab Dokter Mia melihat siapa orang yang baru masuk ke ruangannya dan dia terkejut ketika melihatnya.


Deg


Jantungnya berdebar kencang kala melihat orang yang dulu di sukainya ada di depannya bersama istrinya yang cantik. Untuk menutupi kegugupannya Dokter Mia langsung menyapa mereka berdua.


" Ayo silahkan duduk," Ucap Dokter Mia mempersilahkan.


"Apa kabar Nyonya," ucap Dokter Mia menyapa dengan ramahnya karena Rumah sakit ini adalah masih pemilik Bima jadi dia harus menghormati istri pemiliknya.


" Ba..baik Dokter," jawab Saskia yang terlihat gugup dipanggil Nyonya.

__ADS_1


" Ada keluhan apa?," tanya Dokter Mia dengan ramahnya.


" Perut saya sering mual, dan tidak napsu makan Dok...," Dokter Mia tersenyum mendengar pengakuan istri temannya yang sangat polos.


" Sudah tes kehamilan???," tanya Dokter Mia kepada Saskia.


"Belum Dok" jawab Saskia dengan Jujur.


" Ayo kita coba tes dulu ya..., supaya lebih akurat. Ini wadah isi dengan air seni, biar dapat hasilnya," Dokter mia memberikan Tespack dan wadah kecil untuk menampung air seninya.


Sepeninggal Saskia ke kamar mandi, Dokter Mia melirik Bima yang masih sangat tampan seperti dulu. Dia pernah menyukai Bima sewaktu SMA, tapi sekarang perasaan itu di buangnya jauh-jauh. Karena orang yang di sukainya, sekarang sudah memiliki istri dan kini sedang mengandung benih Bima.


Sedangkan Bima asik dengan ponselnya, dia memeriksa pekerjaannya yang baru dikirim Daniel melalui telpon genggamnya.


Saskia tanpa bertanya langsung mengambil tespack dan membawanya ke kamar mandi. Sesuai perintah Dokter Mia, dia menampung air seninya ke dalam wadah yang di sediakan. Dan tidak berapa lama dia keluar kembali.


Ceklek!


"Sudah selesai?," tanya Dokter Mia kepada Saskia.


" Sudah Dok..., tapi emm....saya bingung menggunakan ini," ucap Saskia menunjukkan Tespack yang masih terbungkus.


" Ayo duduklah," ujar Dokter Mia kepada Saskia.


Saiki kembali duduk dikursi di samping Bima. Bima menutup ponselnya kembali. dia ingin mendengar Dokter Mia menerangkan.


Dengan cekatan Dokter Mia memasukkan ujung tespack kedalam Wadah yang berisi air seni.


"Kita tunggu sebentar ya, nnti akan kelihatan hasilnya," ucap Dokter menjelaskan.


5 menit kemudian Tespack diangkat dan terlihatlah garis dua yang sangat jelas.


" Ini dia hasilnya, Selamat ya..., Nyonya akan menjadi ibu, dan kamu Bima akan menjadi ayah," ucap Dokter Mia kepada Bima dan Saskia.


Wajah Bima terlihat ceria. Dia sangat senang.


" Ayo kita lihat dulu perkembangan janinnya, Nyonya coba berbaring, biar saya periksa," ujar Dokter Mia kepada Saskia dan Saskia terlihat mengerti.


Saskia menuju ranjang dan membaringkan dirinya di atasnya. Dokter Mia sedikit menyingkap baju Saskia, terlihatlah perut datar Saskia yang putih. Yang di lakukan Dokter Mia selalu di pantau Bima. Dia ingin melihat sedetail mungkin apa yang dilakukan pekerja rumah sakitnya kepada istrinya.

__ADS_1


Dokter Mia memberikan Gel keatas permukaan perut Saskia. Melalui Layar dapat di lihat, perkembangan janin yang sudah terlihat. Masih terlalu kecil, sebesar bijinkacang hijau. Tapi alangkah di luar dugaan dan tanpa disangka.


"Bima!!!, kemari, coba lihat anakmu" teriak Dokter Mia kepada Bima yang tadi masih betah duduk di kursinya dengan keadaan terkejut.


Bima dengan penasaran berjalan mendekati istrinya yang berbaring. Dia takut ada Apa-apa dengan anaknya. Kalau sampai ada masalah dengan kandungan istrinya maka dia tidak segan-segan akan memecat Dokter yang memeriksa istrinya.


"Ada apa dengan anakku???," tanya Bima yang langsung melihat layar tiga dimensi.


"Lihatlah, ini anak-anakmu," Ucap Dokter Mia menunjuk layar yang ada di depannya.


" Apa maksudmu???," tanya Bima dengan dinginnya.


" Lihatlah di layar ada titik 3, ini sangat ajaib, berarti anak kamu ada...," ucap Dokter Mia mencoba menjelaskan tetapi langsung di potong oleh Bima.


"Kembar 3 maksudmu???," ucap Bima menaikkan alisnya mencoba menebak perkataan Dokter Mia.


" Iya benar," ucap Dokter Mia terlihat berbinar.


" Alhamdulillah," ucap Bima dan Saskia bersamaan.


"Sekarang kita dengar dulu ya degub jantungnya," ucap Dokter Mia kepada sepasang suami istri yang lagi bahagia.


Dug


Dug


"Dengarkan..., itu suara degub jantung anakmu Bima..., calon bayi kalian sangat sehat, kalau bisa ,ibunya jangan kerja berat, karena awal kehamilan sangat rentan. Dan kehamilannya sudah berumur 4 minggu," ucap Dokter Mia menjelaskan.


" Sekarang Nyonya bisa duduk di sana lagi," Ucap Dokter Mia yang tidak diperdulikan oleh Bima dan Saskia. Bahkan Dokter Mia malah harus melihat adegan yang sangat memalukan bagi yang melihatnya.


Bima sangat senang kepada istrinya sampai menciumi semua wajah istrinya dan terakhir mencium bibir pink sang istri begitu lama di depan Dokter Mia. Dokter Mia yang melihat aksi Temannya sampai geleng kepala.


" Terima kasih Sayang.. ," ucap Bima kepada istrinya. Tanpa di sadarinya air matanya keluar di sudut matanya dan mencium pipinya istrinya kembali.


Saskia mengangguk kepalanya, dia begitu terharu melihat suaminya yang bahagia. Sakin bahagianya, suaminya sampai mengeluarkan airmata.


" Ehemm," Dokter Mia menegur dua insan yang romantis di depannya dengan deheman.


Bima salah tingkah akan perbuatannya. Dia tidak sadar kalau di ruangan ini masih ada orang lain. Saskia sangat malu, wajahnya sampai merah seperti kepiting rebus.

__ADS_1


__ADS_2