
Selama beberapa saat Dahlia dan Leo saling bertatapan, hembusan nafas saling menyentuh wajah mereka, detak jantung mereka berdua juga semakin kenceng, namun Dahlia dan Leo masih tidak bereaksi, masing-masing hanya diam terpaku..
"Loh sampai kapan mau menindih tubuh gue? Gue enggak bisa nafas, tau?" Sergahan dari Leo itu membuatkan Dahlia sadar akan kondisinya saat ini.. 'Ya ampun.' Desis hati Dahlia.. Lantas Dahlia mengalihkan tubuhnya dari terus berada di atas tubuhnya Leo.. 'Kok bisa aku terjatuh atas tubuh Leo sih, jatuh ke lantai aja kan bisa. Memalukan.' Hati Dahlia berbicara lagi..
Ketika itu Leo sudah duduk dari perbaringannya dan menatap wajahnya Dahlia dengan tatapan yang tidak bisa digambarkannya..
"Ma.. maaf, aku enggak sengaja, tadi kaki aku itu nyangkut di karpet ini." Dahlia mencoba untuk menerangkan kejadian sebenar kepada Leo..
"Tante nyuruh aku panggilin kamu untuk makan malam." Akhirnya Dahlia menyampaikan niat sebenarnya datang ke kamarnya Leo..
"Tadi tuh aku udah ketuk-ketuk pintu kamar kamu, tapi kamu enggak nyahut aku, makanya aku masuk ke kamar kamu." Jelas Dahlia lagi, seakan tidak mahu Leo menyalah fahami kedatangannya itu.. 'Kok dia diem sih, dia marah kali yah.. Yah, aku kan enggak sengaja.' Hati Dahlia berbisik sendiri..
Leo yang melihat tingkah Dahlia itu seakan ingin meletuskan tawanya saat ini.. 'Enggak usah cemas gitu kali, emangnya gue ini keliatan lagi marah kali yah.' Leo bicara dalam hati..
"Terus, ada apa-apa lagi?" Soal Leo dingin, tapi niat sebenarnya Leo hanya ingin mengusik Dahlia yang kayanya lagi menahan rasa malunya..
"Oh, itu aja kok, yah udah, aku turun duluan." Tanpa buang-buang waktu Dahlia terus melangkah pergi dengan laju seperti ingin lomba lari, dan sepantasnya hilang dari pandangannya Leo..
Leo tersenyum sehingga menampakkan baris giginya yang putih dan tersusun rapi, lantas menggelengkan kepalanya melihat Dahlia yang tidak keruan itu tadi.. "Takutnya sampai segitu sih, emangnya gue ini monster yang pengen makan orang apa. Dasar perempuan penakut, dari dulu loh itu emang enggak pernah berubah kali yah.'" Leo bermonolog sendirian sambil mengenang memori tentang Dahlia..
Leo akhirnya berdiri dari kasurnya dan terus melangkah keluar dari kamarnya untuk turun makan malam..
Ketika Leo sudah berada di lantai bawah, Leo melihat tante Rosita, om Herman dan juga Dahlia sudah duduk di bangku meja makan.. Leo menarik bangku di sebelah kanan dan duduk bertentangan dengan Dahlia.. Leo dapat melihat Dahlia sepertinya tidak betah pada saat ini.. Leo hanya tersenyum sendirian..
__ADS_1
"Malam ini mama masak spesial loh karena malam ini malam pertama Dahlia makan bareng sama kita, jadi Dahlia harus makan yang banyak yah." Bicara tante Rosita lantas menyendok nasi buat Dahlia yang duduk disebelahnya.. Setelah itu tante Rosita menyendokkan nasi buat om Herman dan juga Leo akhir sekali menyendok nasi buat dirinya sendiri..
"Yah sudah, ayo kita makan." Bicara tante Rosita lagi..
Selesai sahaja makan malamnya, aku membantu tante Rosita mengemaskan meja makan.. Om Herman dan Leo sudah pergi ke ruangan tamu.. Selesai saja meja makan dikemas aku terus pergi ke sinki untuk menyucikan semua pinggan-pinggan yang kotor..
"Aduh, non Lia, pinggannya biar bibik aja yang nyuci, sebaiknya non Lia duduk aja di ruangan tamu, istirahat." Bik Ina mencoba memberhentikan aku dari mencuci pinggan-pinggan yang ada di sinki..
"Yah enggak apa-apa kok bik, Lia bisa kok ngerjain semua ini. Oh iya, panggil aku Dahlia atau Lia aja bik enggak usah pake enon enon, aku itu cuman tamu di rumah ini. Bibik istirahat aja, biar Lia yang cuci pinggangnya yah." Aku berbicara sambil tanganku memulai kerja mencuci..
"Yah sudah, kalau gitu bibik mau bikinin kopi buat bapak Herman dan ibu Rosita aja." Bibik Ina terus sahaja melakukan tugasnya.. Setelah selesai Bik Ina terus membawa air kopi yang dibuatnya ke ruangan tamu dan meninggalkan aku sendirian di dapur..
Aku sangat asyik melakukan tugasku sehingga kedatangan Leo tidak aku sadari..
"Besok loh punya kuliah apa enggak?" Pertanyaan Leo secara tiba-tiba itu membuatkan Dahlia benar-benar kaget..
"Ya ampun, kamu itu, buat aku kaget tau gak, untung aja hartanya mama kamu ini enggak hancur. Bisa-bisa aku dimarahin sama mama kamu." Bicara Dahlia saat memalingkan wajahnya dan melihat ke arah Leo yang masih berdiri di belakangnya..
"Maaf, gue kira loh sadar dengan kedatangan gue. Apa loh enggak apa-apa?" Soal Leo dengan perasaan bersalahnya..
"Aku enggak apa-apa kok, cuman kaget aja. Kamu nanyain apa tadi?" Dahlia bertanya sambil tangannya menyambung kembali kerjaannya yang terhenti sebentar tadi gara-gara Leo..
"Gue bilang, besok itu loh kuliah apa enggak? Loh lagi ada masalah pendengaran yah?" Soal Leo lagi, tapi ada sedikit penambahan soalan dari soalan yang awal tadi..
__ADS_1
Mendengar saja bicaranya Leo itu Dahlia lantas berpaling dan menatap Leo dengan wajah yang sedikit memerah karena marah dengan kata-katanya Leo sebentar tadi.. 'Soalannya itu kaya orang enggak pake hati aja yah. Enak-enakan aja bilang aku ini ada masalah pendengaran. Sepertinya dia yang lagi ada masalah kali yah.' Dahlia hanya meluahkan rasa sebalnya di dalam hatinya sendiri..
"Enggak, besok aku enggak punya kuliah. Kenapa kamu nanya?" Soal Dahlia kembali..
Saat Leo mendengar bicara Dahlia itu, dia terus melangkah pergi meninggalkan Dahlia tanpa menjawab pertanyaannya..
Dahlia sangat terpukul dengan reaksi yang diberikan oleh Leo..
"Wahhh!!! Enggak percaya gue sama tu orang, bisa-bisanya pertanyaan gue dicuekin. Dasar orang enggak punya moral, kok bisa sih dia jadi seorang mahasiswa?" Dahlia berbicara sendirian lalu menyambung lagi kerjaannya..
"Bisa-bisa kerjaan gue enggak lunas lagi nih gara-gara tuh anak. Enggak ngerti gue." Dahlia meneruskan ketidak puasan hatinya..
Setelah beberapa menit Dahlia akhirnya menyelesaikan tugasnya.. Lantas dia pun melangkah pergi untuk pulang ke kamarnya.. Tante Rosita dan om Herman sudah pulang ke kamar..
Sampai sahaja di kamar, Dahlia terus merebahkan tubuh di kasurnya dan melelapkan matanya untuk seketika..
Ring!! Ring!! Ring!! Bunyi telepon yang ada di meja belajar mengejutkan Dahlia lalu bangun untuk mengambil teleponnya..
Saat melihat nama pemanggil di teleponnya, Dahlia terus mengukirkan senyuman tanda senang melihat nama orang yang meneleponnya..
"Hello! Mama!!..." Dahlia menjawab panggilan telepon dari mamanya dengan penuh semangat.. Kali terakhir mamanya meneleponnya saat dia berada dalam bilik kuliah.. Mamanya memberi kabar bahwa mereka sudah sampai di Kota London dan sedang menunggu kak Rio datang menjemput mama sama papa..
"Hello sayang. Dahlia lagi ngapain?" Bicara bu Marina lembut.. Seakan mengerti kesedihan Dahlia saat ini..
__ADS_1
"Lagi kangen sama mama." Bicara Dahlia sambil tertawa, namun sebalik tawanya dia tetap merasa sedih.. Sedih karna harus berjauhan dari keluarga sendiri..
Namun kesedihan Dahlia itu hanya disimpan di dalam hatinya..