
"Hueeekkk... Hueeekkk..." Lea terus memuntahkan isi perutnya.
Leo yang mau mengetuk, seketika khawatir dan langsung masuk ke dalam. Untunglah pintu tidak di kunci.
"Lea! Kamu kenapa?" Tanya Leo yang sudah di kamar mandi, melihat Lea muntah di wastafel kamar mandinya.
"Gak tahu nih bang, Lea masuk angin kali!" Ujarnya berbohong.
Leo terus memijat tekuk leher belakangnya.
"Mau ke dokter? Atau abang kerokin? Abang sering lihat kalo Lea dari kecil dikerokin ibu kalo sakit." Tanya Leo.
"Abang kerokin aja!" Ujarnya.
Leo mendudukkan Lea di WC duduknya. Leo memeluknya, Lea juga membalasnya memeluk pinggang Leo yang berdiri di depannya.
Saat mau keluar, tiba-tiba Lea memuntahkan isi perutnya. Tepat ke baju Leo. Saat dia duduk dan memeluk Leo.
"Huek...."
"Bang maaf!"
"Hmm gapapa. Abang ikut mandi di sini ya?" Tanyanya.
Lea pun keluar dan membiarkan Leo mandi di dalam kamar mandinya.
Leo mandi dan membersihkan diri, dia pun memasukkan bajunya ke keranjang baju yang disediakan. Khusus baju yang akan dicuci.
"Lea sebenernya kenapa sih?" Tanyanya sambil bercermin setelah mandi.
Leo berniat mengambil handuknya. Namun, dilihatnya benda persegi panjang yang kecil.
"Testpack?" Tanya Leo.
Dia memakai handuk kimono milik Lea. Berwarna hijau botol.
Kemudian melihat lagi, ada 4 jenis testpack berbeda. Dan hasilnya sama, semua positif. Leo bergegas keluar kamar mandi.
Dilihatnya Lea sedang duduk di tepi ranjang, mukanya yang pucat dan lemas.
"Lea!" Panggilnya.
"Hmm?" Lea mendongakkan kepalanya.
"Ini punya kamu?" Tanya Leo sambil mengangkat ke 4 testpack itu.
"Abang! Dapet darimana itu?" Tanya Lea syok, bukannya menjawab malah balik bertanya.
"Jawab!" Ucap Leo dingin.
"Iy-iyaaa bang. Itu punya Lea!" Jawabnya gugup sambil menundukkan kepalanya.
"Kenapa kamu rahasiakan dari abang?" Tanya Leo berusaha merendam amarah.
"Kar-karena Lea takut."
__ADS_1
"Takut apa?" Tanya Leo dingin kembali.
"Takut abang marah! Takut abang meminta mengugurkan kandungan Lea, takut abang pergi dari Lea, takut abang ngusir Lea-" Jelas Lea terhenti. Kala Bagas mendekatinya dan memeluknya hangat.
"Bagaimana mungkin, abang melakukan itu? Abang yang pertama mem*ek**a kamu. Kamu adik abang, dan abang sayang sama kamu!" Jelasnya.
"Jadi abang gak marah? Abang menerima anak ini?" Tanya Lea mengangkat wajahnya dan melihat ke arah Leo.
"Tentu saja sayang, Lea adalah kesayangan abang!" Ucapnya mengelus lembut kepala Lea.
"Bagaimana dengan kedua orang tua kita abang?" Tanya Lea mulai gusar lagi.
"Itu, biar menjadi urusan abang. Ayo kita periksa ke dokter?"
***
"Kandungannya, berusia 7 minggu. Iya, jalan 2 bulan." Jelas sang dokter kandungan.
"Bagaimana mungkin dok, sekali melakukan jadi hamil?" Tanya Leo.
"Tentu saja mungkin, apa kalian memakai pengaman atau pil KB pencegah kehamilan?" Tanya dokter Syana.
"Tidak." Jawab mereka kompak.
"Apa lagi seperti itu, mengeluarkannya di dalam apa di luar?" Tanya Syana.
"Sepertinya di dalam dok!" Jawab Leo.
"Berkali-kali?" Tanya Syana lagi.
Syana pun tersenyum penuh arti.
"Baiklah, wajar dan normal. Kalian seperti masih muda ya?" Tanya Syana.
"Lea berumur 19 tahun dok, jalan 20." Jelas Lea.
"Leo 20 jalan, 21." Jawab Leo.
"Kalian kakak beradik?" Tanya Syana yang baru menyadari, nama keduanya hampir sama.
"Iya." Jawab keduanya.
"Kok bisa?" Tanya Syana belum mengerti.
"Saudara tiri. Kita tidak ada ikatan darah, beda ayah dan ibu." Jelas Leo.
"Oh saya paham. Berarti kalian sepasang suami istri?" Tanya Syana.
"Belum dok." Jawab Leo.
Syana hanya bisa menepuk jidatnya. Melihat pasangan muda, kakak beradik yang sudah jadi calon orang tua. Tanpa pernikahan ini.
***
Leo menelpon kedua orang tuanya, yang berada di luar kota. Dia ingin menjelaskan semuanya.
__ADS_1
"APA?" Tanya Jaya kaget. Setelah mendengar penjelasan Leo.
"Hamil?" Tanya Tya hampir pingsan.
"Plak!"
Satu tamparan lolos.
"Yah, jangan terlalu kasar!" Ujar Lea.
"Apa yang dia lakukan padamu nak?" Tanya Jaya.
"Emm emm."
"Leo yang per ko sa Lea yah!" Jawab Leo jujur.
"Plak!"
Kini Tya yang menamparnya.
"Bu! Kak Leo jangan ditampar terus, ka Leo mau bertanggung jawab!" Ucap Lea.
"Kamu pikir menjadi seorang ibu mudah? Kamu masih 19 tahun Lea. Kehamilan yang masih dini, kamu juga masih kuliah dan berkalir. Usia kalian hanya terpaut 1 tahun. Meskipun kalian berprestasi dan mandiri. Apakah itu cukup?" Bentak Tya.
"Ibu akan mengirim kamu ke Belanda. Di sana ada paman kamu, agar keluarga tidak dipermalukan!" Jelas Tya.
"Bu!" Panggil Lea dan Leo kompak.
"Lea gak mau, Lea mau kuliah dan berkalir sambil berumah tangga. Kenapa ibu misahin Lea sama abang?"
"Kamu pikir setelah menikah, semua itu selesai?" Tanya Tya.
"Bu. Setidaknya Lea sama abang harus menikah, biarkan kami hidup di kastil di hutan yang jauh dari masyarakat." Jelas Lea.
"Iya bu, Leo gak mau kita dipisahin. Leo gak mau dipisahin dari Lea dan anak Leo. Leo menyayangi mereka, dan akan bertanggung jawab penuh. Leo punya kastil yang dibuatkan bunda. Leo bisa tinggal di sana dengan Lea!" Jelas Leo.
"Kalian pergi ke sana sekarang! Biar masalah ini diselesaikan setelah kepala dingin!" Ujar Jaya yang sedari tadi diam merendam amarah.
"Bagaimana bisa kalian adik dan kakak?"
"Cinta terlarang!"
***
Visual🥝🥝🥝
__ADS_1