
2 tahun kemudian.
Lea mendapatkan kabar istri baru ayahnya sudah melahirkan.
"Lea, kamu gak jadi anak bungsu!" Ucap Adit di teleponnya.
Hati Lea bagai disobek-sobek mendengarnya.
"Ibu tiri melahirkan pak?" Tanya Lea. Dia enggan memanggilnya ibu.
"Iya nak."
"Bapak, gak sayang lagi dong sama Lea?"
Deg.
"Jangan bilang gitu! Bapak selalu sayang sama Lea!" Ucap Adit sedikit emosi.
"Tut... Tut..."
"Lea, bapak harap kamu mau menerima. Dan lain kali, pamit dulu jika mau mematikan teleponnya!" Pesan dari Adit.
Lea hanya membacanya, dia engan membalasnya.
Jika ada kabar buruk. Lea selalu mematikan teleponnya duluan. Tanpa pamit.
"Lea kenalin ini pak Wijaya. Dan ini anaknya Leo!" Ucap Tya mengenalkan.
Lea terdiam. Belum selesai urusan dengan bapaknya, harus menjalani hidup baru.
"Lea cantik banget." Ucap Wijaya.
Lea tersenyum. "Salam dong sama pak Wijaya." Ucap Tya.
Lea pun menyalaminya. "Halo Lea, aku Leo. Kita kayak adik kakak ya, namanya hampir sama." Ucapnya memberikan tangan sebagai pengenalan.
Lea diam saja. "Nak, terima dong!" Ucap Tya.
Lea menerimanya. "Lea." Jawabnya singkat.
"Maaf ya, Lea kalo belum kenal suka gitu. Tapi, kalo udah deket dia sendiri yang merusuh." Ucapnya tak enak pada Wijaya dan Leo.
"Gak apa-apa, namanya juga anak kecil."
"Apa-apaan sih ibu. Sok tahu banget. Lea juga bukan anak kecil kata bapak itu, Lea udah 11 tahun sekarang." Ucapnya dalam hati.
Saat Lea akan beranjak pergi. "Ibu sama pak Wijaya akan menikah minggu depan." Ucap Tya.
Sontak membuat Lea terdiam membisu. Ia menghentikan langkahnya, dan seperti ada yang menusuk jantungnya.
"Lea seneng kan, bisa dapat ayah baru. Sekaligus sodara baru, jadi Lea gak akan kesepian." Tanya Tya.
"Lea gak kesepian. Dari dalam perut sampe saat ini, Lea selalu ditemani Anggun." Ucapnya pergi.
"Lea!" Panggil Tya yang akan mengejar Lea.
"Bu, biar Leo aja." Ucapnya mengejar Lea.
Lea naik ke rumah pohonnya. Leo pun ikut naik, setelah menemukannya.
"Ngapain kamu ke sini?" Tanya Lea sinis.
Leo tersenyum. "Ini untukmu!" Ujarnya memberikan buku dongeng.
"Untuk apa?"
"Kamu pasti suka baca kan?" Tanya Leo.
"Hmm."
"Terima ya. Leo sama ayah baik kok. Jadi, Lea terima kami ya sebagai keluarga baru." Ujarnya setelah beberapa menit hening.
Berbeda dengan Leo yang amat bahagia, karena merasa kesepian selama ini.
Lea justru engan untuk memiliki keluarga baru. Yang dia inginkan, keluarganya utuh lagi seperti dulu. Walaupun hal itu mustahil.
__ADS_1
"Lea ngantuk mau tidur." Ujarnya turun, dan mengabaikan perkataan Leo.
"Leo malam ini, boleh gak ngindep di sini?" Tanyanya.
"Nggak."
"Kenapa?" Tanya Leo kecewa.
Dia terus mengikuti Lea. "Lea gak suka ada orang asing."
"Kita kan akan menjadi keluarga?"
"Belum kan?" Sanggah Lea.
"Yaudah, Leo gak maksa."
Lea berpikir sejenak. Dia juga dulu mau seorang abang. "Usia kamu berapa?" Tanya Lea untuk pertama kalinya memulai pembicaraan.
"12 tahun." Jawab Leo senang.
"Abang!" Ujarnya.
Leo sontak terkejut. Namun dia senang sekali. "Jadi kamu udah Nerima aku?"
"Gak. Lea cuman menghormati orang yang lebih tua." Jawabnya.
"Emm gak apa-apa kalo gitu, perlahan kamu pasti menerima kehadiran aku." Jawabnya.
Dan akhirnya Leo mengindap, Leo tidur di kamar Lea. Sedangkan ayahnya pamit pulang.
"Titip Leo ya, Tya. Semoga mereka bisa rukun!" Ucap Wijaya pada Tya.
"Tentu saja."
Di sisi lain.
"Kamu ngapain tidur di sini?" Tanya Lea tak ramah.
"Aku kan calon abang kamu!" Jelasnya.
"Masih calon kan? Di sini ada kamar kosong kok." Jelas Lea.
"Tapi abang mau sama Lea!" Jawab Leo.
***
Setelah menikah. Lea pindah sekolah ke Jakarta. Dan satu sekolahan dengan Leo.
Di hari pertamanya sekolah. Lea belum menemukan teman. Mereka pikir Lea itu jutek.
"Lea!" Panggil Leo.
"Hmm?"
"Aku ikut makan di sini ya?" Tanya Leo duduk di depan Lea.
"Emang abang gak punya temen?" Tanya Lea.
Dia tersenyum. Leo sebenarnya memiliki banyak teman. "Gak."
"Hmm yaudah."
"Kamu betah gak di Jakarta?"
"Gak. Lea kangen banget sama Anggun. Kita seperti kepompong." Jelasnya.
"Nanti juga, Lea pasti punya teman baru."
"Lea lebih suka Anggun." Jawabnya.
"Kita sebulan sekali, atau seminggu sekali ke Bandung gimana? Pas hari Sabtu aja. Terus pulang hari minggu."
"Sebentar."
"Daripada gak sama sekali?"
"Hmm."
Pulang sekolah, geng perempuan yang diketuai oleh Jasmine menghadang Lea.
Lea mendongakkan kepalanya. Menatap satu persatu dengan sinis.
"Heh! Lo anak baru yang songong." Ucap Jasmine.
__ADS_1
Lea mengacuhkan dan berniat meninggalkan mereka.
"Byuuuuurrrr.."
Lea disiram air bekas pel'an. Dan satu persatu yang lainnya memberikan terigu, dan telor.
Lea tersungkur karena 10 lawan 1. Tentu saja kalah.
Dari arah lain, Leo melihat keributan. Dia ingin menjemput Lea. Dan bareng pulang dengannya. Menggunakan mobil jemputan.
"LEA!"
Sontak Leo membawa Lea untuk meninggalkan tempat itu. "Leo! Kamu kenal sama dia?"
"Mulai sekarang kita bukan sahabat!" Ujar Leo pada Jasmine.
"Kenapa? Kamu belain dia, dan putusin hubungan kita demi dia?" Tanya Jasmine tak terima.
"Lea adik ku!"
"Apa? Setahu ku kamu anak satu-satunya."
"Itu kan setahu kamu!"
"Leo!"
"Jangan pernah temui aku lagi."
Di ruang ganti. Leo memberikan seragam olahraga miliknya pada Lea. Setelah mandi di kamar mandi sekolahnya Lea pun mengganti bajunya.
Baju perempuan berwarna pink, sedangkan laki-laki berwarna biru. Namun, karena darurat Lea tak masalah memakai pakaiannya Leo. Daripada harus memakai pakaian kotor.
Lea terharu melihat pembelaan Leo. Dia tak menyangka Leo begitu menyayanginya, ada rasa yang aneh di hatinya. Bukan karena rasa sayang, tapi seperti cinta.
Dari pertemuan pertama, sebenarnya Lea sudah tertarik dan menyukai Leo. Seandainya dia hadir bukan sebagai kakak tiri. Mungkin dengan cepat Lea akan menerima Leo.
"Abang. Makasih ya." Ucap Leo setelah masuk ke taxi. Karena terlambat masuk ke mobil jemputan biasanya.
Leo tersenyum sambil memeluk Lea.
***
5 tahun kemudian.
Lea daftar sekolah bersama Leo. Kebetulan Leo adalah ketua osis di SMA butterfly.
"Dia adik kamu?" Tanya seorang guru yang menerima pendaftaran.
"Iya. Tolong dipermudah ya Bu." Jawab Leo.
"Tentu saja. Apalagi adik kamu pernah mengikuti lomba olimpiade dan lomba menulis. Dan selalu menang juara 1." Jelasnya.
"Kalian memang sama-sama pintar." Lanjutnya.
"Minggu depan kamu masuk dan MPLS ya!" Ucap wakil OSIS Bram.
"Iya. Makasih."
"Kamu mau pulang sendiri apa dianter?" Tanya Leo.
"Sendiri aja, abang pasti sibuk." Jawabnya.
"Gak apa-apa, ada Bram dan yang lainnya. Abang kan ketua osis. Biasanya yang daftarin sekolah ayah, tapi sekarang abang. Jadi, gak apa-apa abang lanjut aja belajar." Jelasnya.
Lea dan Leo selalu 1 sekolahan, setelah orang tuanya menikah. Selain untuk menjaga adiknya, agar lebih mudah juga kalo ada rapat orang tua.
"Yaudah. Hati-hati ya."
"Hmm." Lea mengangguk.
"Bro. Adek Lo cantik bener." Bisik Bram.
"Awas jangan Lo ganggu!" Ujarnya.
"Calon OSIS baru nih? Lagian, dia multitalenta banget. Ya, 11, 12 lah sama Lo!" Ujarnya.
"Hmm."
***
Visual🍁
__ADS_1