
Merekapun berjalan masuk. Leo membuka kuncinya, kastil tersebut selalu dirawat dan dibersihkan oleh suruhannya. Dulu ayahnya yang bayar, kini Leo lah yang membayarnya.
Melihat-lihat lantai satu. Mereka menyusuri setiap sudut kastil.
"Kalo dilihat-lihat kastilnya bagus banget bang. Lea pengen sesekali tinggal di sini." Jelas Lea.
"Kita ngindep aja?" Tanya Leo.
"Emang boleh?" Tanya Lea.
"Boleh dong."
"Ayah sama ibu?" Tanya Lea.
"Mereka masih di luar kota." Jawab Leo.
"Kita ke lantai 2 yuk!" Ajak Lea mengalihkan.
"Kok ngalihin pembicaraan?" Tanya Leo kesal.
"Iya, kita ngindep." Jawab Lea sambil berjalan ke tangga.
Kastil tersebut 2 lantai. Namun sangat besar.
"Abang kalo udah nikah, rencananya mau tinggal di sini aja. Makanya abang gak beli rumah." Jelas Leo.
Mereka sudah masuk kamar utama. Dan berdiri di balkon kamar, sambil melihat pemandangan yang indah dari atas sana.
"Emang, abang mau nikah kapan?" Pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut Lea.
"Hmm... Secepatnya!" Jawab Leo tersenyum.
"Sama siapa?"
"Kamu!"
"Abang! Serius."
"Kan abang bilang, akan bertanggung jawab. Tapi, abang nyari momen yang pas." Jelasnya.
"Terserah." Lea berjalan ke arah kasur besar yang awalnya ditutupi kain putih. Agar tak berdebu karena tidak ditinggali.
***
"Lea mau kan nikah sama abang? Lea mau kan tinggal di sini? Walaupun di tengah hutan." Tanya Leo bertubi-tubi.
Lea menatap langit kamar. Dan berpikir sejenak. "Lea mau bang. Sebenarnya, Lea udah suka sama abang. Diawal pertemuan, Lea tertarik sama abang. Terlebih ketika SD abang bela Lea, dari sana kan sikap Lea berubah?"
Leo diam sejenak. "Maksud kamu?"
"Lea suka sama abang, bukan sebagai adik kakak. Tapi, sebagai perempuan pada pria. Seandainya, abang hadir bukan sebagai kakak tiri Lea. Mungkin, Lea akan lebih cepat menerima kehadiran abang." Jelasnya.
"Lea!"
"Iya bang?'
Dia pun mendekati Lea. Dan menindihnya, menautkan bi birnya. Lembut dan penuh sensasi.
Lea yang terkejut awalnya diam. Tak membalas, lama kelamaan terpancing dan membalas setiap sentuhan Leo.
Ini pertama kalinya, bagi Lea menerimanya dengan senang hati. Bukan seperti waktu pertama kali merenggut keperawanannya.
Dan ketika memberi nafas buatan, yang membuatnya marah dan kecewa.
"Krukk...krukk..."
Suara perut Lea berbunyi. Leo menghentikan aktivitasnya.
"Lea lapar?" Tanya Leo menatapnya dari atas.
__ADS_1
Lea mengangguk. "Abang masak dulu yah?" Tanyanya, turun dari atas Lea.
Lea pun mengikuti Leo. Mereka berjalan ke dapur di lantai 1. Memang sangat bersih, rapih, dan wangi kastil tersebut. Namun, kesan angkernya belum hilang.
"Abang masak apa?"
"Bakso pentol sama buat kimchi sawi." Jelasnya.
"Lea bantu ya?"
Mereka pun makan bersama.
Malam harinya, mereka berdua di kamar utama. Awalnya mereka pisah kamar. Namun, Lea tak berani sendiri. Alhasil mereka tidur sekamar dan sekasur.
"Bang? Kesan angkernya sedikit berkurang ya?" Tanya Lea.
"Iya. Mungkin, karena kamu datang. Bisa aja kamu memang cinta sejati abang!" Ucapnya.
"Abang!" Lea malu pipinya merona.
"Kenapa? Kenapa malu?"
"Siapa yang malu?"
"Itu pipi kamu merah!" Ujar Leo.
"Ih gak."
Leo mencubit pipinya gemas. "Bang?"
"Hmm?"
"Lea gak ngerti. Kenapa bunda hukum kastil ini dan abang, padahal dia kesalnya sama ayah?" Tanya Lea.
"Mungkin karena dia bangun kastil ini dengan bersusah payah. Alhasil menjadi pelampiasan." Jawab Leo mengira-ngira.
"Semoga, kutukan itu bisa hilang ya bang?"
***
Merekapun akhirnya tertidur. Dan tidak ada percakapan lagi. Pagi harinya, mereka mandi dan jalan-jalan di sekitar hutan tersebut.
"Bang, emang cuma kastil terkutuk ini yang ada di tengah hutan ini?" Tanya Lea.
"Ada lagi perumahan, tapi jaraknya agak jauh. Ya, harus pakai motor." Jelasnya.
"Kita gak punya tetangga dong?" Tanya Lea.
"Ada."
"Apa?"
"Hewan hutan lah." Jawabnya terkekeh.
"Lea serius bang!" Kesal Lea.
"Abang juga serius." Timbalnya.
"Kita mau kemana ini?" Tanya Lea.
"Ke suatu tempat. Gak capek kan, ini pakai sepeda. Kamu tinggal duduk." Jawabnya.
"Turun!" Ucap Leo setelah sampai.
"Wahh indah banget bang!" Ujarnya.
"Gimana, makin betahkan?" Tanya Leo berseri.
Lea mengangguk. "Lea pengen ke sini sesekali!"
__ADS_1
"Tiap hari juga boleh!"
"Tapi, kita harus kuliah, kerja dan bagaimana sama ibu dan ayah?"
"Mungkin nanti, kalo udah nikah. Ke universitas juga lumayan deket dari sini." Ucap Leo.
"Oh ya?"
"Iya."
"Abang tahu darimana?"
"Bulan kemarin, abang tidur di sini. Dan berangkat kampus dari sini." Jelasnya.
"Oh. Abang juga masih jadi pembina OSIS di SMA Butterfly?" Tanya Anya.
"Iya. Kamu mau juga bantu abang?"
"Gak. Mungkin Lea bakal ikut kerja di caffe kincana. Tempat Anggun kerja." Jawabnya.
"Oh yasudah."
"Berapa gaji jadi pembina OSIS?" Tanya Lea.
"Sebulan 5 juta. Abangkan dari Senin sampai Sabtu, terkadang hari Minggu juga ngajar. Kalo semisal ada acara." Jelasnya.
"Lumayan juga yah."
"Di caffe kincana berapa gajinya?" Tanya Leo.
"4,2 juta sebulan. Itupun 3 shift." Jawab Lea.
"Apalagi abang, kerjanya cuma sore aja. 2 atau 3 jam." Jelasnya.
Setelah lulus, memang Leo mendapat surat permintaan untuk berkerja menjadi pembina OSIS. Karena kerjanya yang sangat bagus. Terlebih dia juga pintar, dan selalu memenangkan lomba juara 1.
Lea juga mendapat surat permintaan bekerja sebagai guru lomba. Karena pembina OSIS sudah ada. Namun, Lea juga masih berpikir.
"Atau Lea ambil keduanya aja?" Tanya Lea.
"Ambil apa?" Tanya Leo menyadarkan lamunan Lea.
"Lea juga dapat surat permintaan untuk berkerja di SMA Butterfly." Jelasnya.
"Jadi apa?"
"Guru lomba. Karena Lea juga jadi juara 1 berturut-turut tiap lomba. Alhamdulillah." Jawabnya.
"Guru lomba? Lomba apa?"
"Kayak music, tari, olimpiade, menulis. Yang gitu, yang pernah Lea pelajari." Jelasnya.
"Abang juga kalo hari minggu ngelatih renang anak-anak SMA Butterfly." Jelasnya.
"Oh pantesan kalo sore atau pagi abang gak ada. Dikira ngapel, ternyata ngajar."
"Hmm. Dasar kamu!"
***
Visual🔥🔥
Guys sorry ya baru up, soalnya sibuk banget agustusan di kampung. Bener-bener full, dari baris festival, perlombaan juga banyak banget. Belum turnamen.
__ADS_1
Jadi aku up gak sesuai jadwal ini, karena untuk menebus kemarin-kemarin gak up😭