
Mereka pun bersemangat. Leo dengan baik hati mengajarkan Tina. Sedangkan Lea, duduk di tepi kolam. Sia dan Adit sedang makan di kantin. Mereka juga, memilih naik perahu di danau yang disediakan.
"Lea! Ayo turun!" Ajak Leo.
"Gak."
"Kan ada abang!"
"Gak!"
"Masa kalah sama Tina?"
Akhirnya tanpa aba-aba Lea pun turun. Leo yang terkejut menghampirinya, dan menangkap tubuhnya.
"Lea! Kamu mau mati?" Kesal Leo.
"Itu semua salah abang! Kenapa membandingkan aku dengannya!" Kesal Lea.
Leo hanya bisa membuang nafas panjang.
Mereka pun selesai bersenang-senang dan makan di kantin yang disediakan. Setelah mengantar orang tuanya, mereka pamit pulang ke Jakarta.
****
Di kampus. Hari ini Lea dan Leo hanya latihan untuk teater. Pulang latihan, mereka mampir ke SMA Butterfly. Hanya sebentar untuk pengarahan. Dan pulang.
"Bang? Kita mau kemana lagi?"
"Kastil. Ayah dan ibu, udah kasih izin kok." Jelasnya.
"Hmm. Tapi, Lea kan belum bilang mau ikut bang?" Jawab Lea tak terima diajak tanpa diberitahu.
"Yaudah, mau pulang sendiri?" Tanya Leo.
"Maksudnya?"
"Kalo mau pulang, sendiri aja sana. Abang mau ke kastil!" Ucapnya.
Lea hanya menggeram kesal.
Sesampainya di kastil.
Lea beberapa kali mengedipkan matanya. Membuka dan menutup matanya berulang kali.
"Dimana ini? Istana?" Tanya Lea.
__ADS_1
"Hah?" Leo tidak mengerti.
"Abang gak lihat? Kastilnya berubah jadi istana bang!" Tanya Lea terkejut.
"Kamu itu ngelindur apa gimana sih? Jelas, jelas ini kastil terkutuk yang kita datangi kemarin!" Jawab Leo geleng-geleng kepala, sambil membuka kuncinya.
"Abang? Apa cuman Lea yang bisa lihat?" Tanya Lea.
"Lihat apa sih?" Heran Leo.
Lea mengambil buku gambar besar, di dalam tasnya. Dia menggambar apa yang baru saja dia lihat.
***
Beberapa menit kemudian.
"Lihat bang, abang gak lihat kastil ini berubah jadi istana?" Tanya Lea.
Leo melihat lama sekali gambar yang Lea lukis itu dengan sempurna. Seperti asli 4D.
"Kamu gak lagi becanda kan?" Tanya Leo.
Lea menggeleng. "Abang gak lihat?"
"Iya bang Leo!" Kekeh Lea.
"Ayo kita masuk!" Ajak Leo mengalihkan.
Sementara itu, Lea dibuat lebih tercengang. Dia menggambar tiap sudut kastil tersebut, satu persatu. Hingga buku gambar barunya habis.
Di lantai 2. Tempat terakhir yang mereka jelajahi. Lea pun menarik nafas berat, karena terlampau capek melukis semua yang lihatnya. Namun, anehnya hanya dirinya lah yang melihat.
***
"Huuh... Akhirnya selesai." Peluh Lea.
"Coba abang lihat!" Pinta Leo yang ingin melihat semua gambarnya.
"Wah... Bagus banget, untung kamu jago gambar. Selain jago nulis!" Ucapnya kagum.
__ADS_1
"Iya sih, tapi cita-cita Lea cuman jadi penulis, bukan pelukis." Jawabnya.
"Ya bisa sebagai penulis dongeng, komik, webtoon?" Tanya Leo.
"Gak, Lea cuma mau jadi penulis novel." Kekeh Lea.
"Penulis novel juga, kan pake gambar iya gak sih? Tanya Leo.
Lea mengangguk. "Iya, Lea punya sekamar penuh. Di rak buku, hampir novel semua." Jelas Lea.
"Lea suka genre apa?" Tanya Leo.
"Semua. Tapi, lebih dominan romantis sama fantasi." Jelas Lea.
"Lea udah coba nulis belum?" Tanya Leo.
"Lea udah menulis dari kelas 3 SD. Tapi, baru dipublikasikan. Sampai saat ini, Lea masih menulis. Udah 10 tahun Lea nulis di aplikasi noveltoon." Jelas Lea.
"Wah. Gimana udah dapet uang?" Tanya Leo.
"Alhamdulillah udah. Terus tahun depan, pas Lea genap 20 tahun. Lea diajak kerja di perusahaan buat nulis novel bang." Jelas Lea.
"Kok Lea merahasiakan ini dari kami?" Tanya Leo.
"Lea gak PD. Lea takut gagal dulu, makanya untuk sementara Lea rahasiakan. Abang juga jangan kasih tahu ibu dan ayah yah. Nanti, biar Lea yang bilang. Kalo Lea udah kerja di perusahaan nya." Pinta Lea.
"Hmm baiklah. Kamu gak akan jadi guru di SMA Butterfly lagi dong?" Tanya Leo berpikir.
"Masih. Kan ada jadwalnya bang, gak tiap hari. Toh ngajar di sana Lea cuman 2 jam, perpelajaran." Jawab Lea.
"Lebih lama abang dong!" Jawab Leo.
"Iya bang, kedepannya Lea cuma ngajar kelas menulis. Yang lainnya gak Lea ambil karena sibuk. Jadi Lea cuma ngajar di hari minggu. Kan kerja sama kuliah libur." Jelas Lea.
"Bagus itu."
"Tapi di caffe lembur kan kamu?" Tanya Leo.
"Iya sih. Di caffe Lea kerja hari Sabtu sama Minggu aja kalo udah di perusahaan." Jawab Lea.
"Kenapa gak keluar aja?"
"Sayang bang, terus kan Lea jadi sering ketemu sama sahabat dari orok. Iya si Anggun, kan setia kerja di sana bang." Jelas Lea.
"Yaudah, kamu harus pintar aja jadwal waktu!"
__ADS_1
***