Kastil Terkutuk

Kastil Terkutuk
bab 12 - Teater


__ADS_3

"Ada perubahan. Kita tidak bisa menampilkan semua teater. Hanya boleh pilih satu!" Jelas pak Tomo.


"Kenapa pak?" Tanya Leo.


"Iya pak, kita juga udah latihan sering begini. Kalo gak tampil ya buat apa?" Tanya Erik.


"Ketua yayasan universitas, mengumumkan bahwa yang terpilih hanya satu. Agar kita bisa fokus ke sana." Jelas Tomo.


"Selain itu, waktu kita hanya satu hari. Karena akan segara diadakan KKN, tour dan banyak kegiatan lainnya." Lanjut Tomo


"Memangnya dari awal bapak tidak izin dulu?" Tanya Yuda.


"Enak saja. Bapak izin lah, hanya saja ketua yayasan yang merubah. Bapak sudah pilih, snow white saja yang tampil." Jelasnya.


"Aduhh bapak bikin kecewa aja!" Ujar Sindi.


"Maaf ya. Karena untuk penebusan maaf itu, bapak mengajukan kemah. Dan disetujui oleh ketua yayasan. Jadi, setelah teater selesai bisa fokus pada latihan organisasi dan kemah!" Jelasnya.


"Horeee...."


***


Sementara itu.


"Bang? Mau ikut kemah?" Tanya Lea.


"Menurut mu bagaimana?" Tanya Leo.


"Ikut aja bang."


"Kamu udah gak lihat kastil ini seperti istana?" Tanyanya.


"Gak bang. Entah kenapa, tapi malam kemarin aku mimpi!" Jelasnya.


"Mimpi apa?"


"Di balik tembok gudang. Ada semacam cahaya yang bisa kita masuki. Dan setelah masuk, kita berada di alam lain." Jelas Lea.


"Alam apa?"


"Seperti surga. Banyak ilalang, taman bunga dan laut. Bahkan air terjun yang jernih yang dapat menghilangkan dahaga bang. Burung berkicauan, kupu-kupu terbang bebas."


"Abang tahu gak siapa aja yang berada di sana?" Tanya Lea.


"Tentu saja abang tidak tahu!"


"Kita berdua bang!" Jelasnya.


"Entahlah. Kita berjalan-jalan dan tertawa bebas, tetapi...."


"Apa?" Tanya Leo.


"Aku melihat ada makhluk bersayap, apakah itu malaikat? Entahlah, ketika aku mendekatinya. Tiba-tiba dia mengepakkan sayapnya sangat besar dan tinggi. Kemudian, aku terbangun." Jelas Lea.

__ADS_1


"Ilusi?"


"Mimpi itu, mimpi seperti nyata bang." Jawab Lea.


"Hanya mimpi Lea!"


"Bukan bang, kalo abang penasaran. Gimana kalau kita lihat ke gudang itu?" Tanya Lea.


"Buat apa?" Tanya Leo.


"Membuktikannya bang!"


***


Merekapun masuk. Alangkah terkejutnya mereka, ketika melihat gudang itu begitu rapih dan bersih.


"Dimana cahaya itu?" Tanya Leo.


"Di sini bang! Tapi.... Kenapa jadi ada lemari ya, bukan dinding seperti dulu saat kita ke sini?" Tanya Lea.


"Mungkin penjaga kastil ini yang merapihkan! Ayo keluar?"


"Lea masih penasaran dengan mimpi itu. Lea kan gak punya kekuatan semacam itu, setelah masuk ke kastil ini, Lea jadi semacam masuk ke dunia dongeng bang!" Jelas Lea.


"Ah kamu. Berkhayal saja!" Jawab Leo.


Setelah keluar. Mereka pun memutuskan untuk makan dan beristirahat usai pekerjaan selesai. Pekerjaan paruh waktu mereka dikurangi. Karena setelah menikah, mereka ingin lebih menikmati kebersamaan.


"Sayang?" Tanya Leo.


"Aku kan hanya jadi pembina OSIS di SMA. Aku udah meminta izin, untuk membantu di universitas juga. Aku terpilih sebagai asisten dosen!" Jelas Leo.


"Emm baguslah bang. Lea juga sekarang memutuskan untuk menjadi guru kepenulisan saja di SMA, dan setiap Sabtu Minggu ke caffee kencana. Karena hari selanjutnya, Lea akan menulis di perusahaan." Jelas Lea.


"Jadi kamu bekerja setiap hari?" Tanya Leo.


"Tidak. Lea kerja 4 hari aja bang." Jawab Lea.


"Hari Senin Lea mengajar di SMA Butterfly. Sebagai guru kepenulisan, itupun hanya 1 jam. Di hari Kamis Lea ke kantor, untuk memberikan laporan. Sabtu dan Minggu Lea ke caffee kencana. Dan hari-hari lainnya Lea hanya bekerja di rumah di laptop." Jelas Lea.


"Abang kan yang kerja tiap hari?" Tanya Lea.


"Sabtu dan Minggu Abang libur." Jelasnya.


"Senin sampai Jumat?" Tanya Lea.


"Senin sampai Jumat abang 3 jam mengajar OSIS. Tapi, jadwal akan di ubah. Tiap hari Senin dan Kamis OSIS. Sedangkan abang di hari Selasa menjadi asisten dosen, mengajar MTK. Mengajar tambahan." Jelasnya.


"Abang justru 3 hari kerja."


"Yaudah beda sehari, gak apa-apa kan bang?" Tanya Lea.


Leo hanya mengangguk.

__ADS_1


"Baiklah. Kita sepakat untuk itu ya?"


Leo pun mengangguk lagi.


***


"Lea, kamu tahu tidak. Di belakang kastil ini ada lorong." Jelas Leo yang duduk di halaman kastil.


"Yaudah kita ke sana?"


"Untuk apa? Di sana banyak misteri. Ya, sebenarnya abang juga gak percaya." Jelas Leo.


"Kita coba saja, kita buktikan. Memangnya misteri apa?" Tanya Lea.


"Entahlah hutan ini dulu bekas apa atau ada tragedi apa. Abang juga binggung, kenapa bunda harus membangun kastil di tengah hutan, ya walaupun beberapa meter dari sini, ada perkampungan dan toserba." Jelasnya.


"Tapi, kita itu seperti sedang masuk ke dalam dunia lain saja ya bang. Ketika masuk ke wilayah kastil ini." Tanya Lea.


"Mungkin saja. Atau kita sedang bermimpi?" Jawab Leo.


"Lea akan ke belakang, Lea penasaran sekali." Jelas Lea.


Lea berjalan ke belakang kastil. Namun, tidak menemukan lorong yang Leo maksud. Dia malah menemukan buku tergeletak di rerumputan belakang kastil.


Lea mengambilnya, dan duduk di bawah pohon. Dia membacanya, alangkah terkejutnya Lea setelah membaca isi buku itu.


"Bang!"


Lea mencari Leo sambil memanggilnya.


"Lihat ini, ini kita bukan?" Tanya Leo menyodorkan buku tersebut.


"Iya, kamu buat buku Le?" Tanya Leo.


"Nggak bang, aku temuin di belakang. Seperti yang tertulis di sini, jika kita memasuki wilayah kastil. Maka kehidupan akan berubah bang, dan kita dikendalikan oleh buku ini." Jelas Lea.


"Kamu percaya?"


"Terus, kenapa buku ini ada? Aku gak mau percaya, tapi ini persis seperti yang buku ini ceritakan." Jelas Lea.


"Lalu, kenapa hanya berlaku pada kita berdua? Penjaga kastil dan yang pernah ke sini, kenapa tidak diceritakan? Padahal mereka juga pernah alami hal serupa." Tanya Leo.


"Lea juga gak tau bang. Ya mungkin saja, kita pangeran dan putri?"


"Jangan ngaco kamu! Itu hanya karangan penulis, dan mungkin saja penulis itu kenal sama kita!" Jelas Leo.


***


Visual🦚🦚🦚



__ADS_1




__ADS_2