Kehidupan Manis Setelah Patah Hati

Kehidupan Manis Setelah Patah Hati
Kekecewaan Oriza


__ADS_3

Saat itu...


"Apakah pak Hisam hari ini masuk?". Tanya Cahyana pada petugas TU. Rasanya aku belum melihat Pak Hisam, biasanya dia suka datang tepat waktu. Tapi sudah jam segini dia belum datang juga.


Pak Hisam, dia adalah guru bimbingan konseling. Dia juga seperti psikolog yang dengan mudah mampu membaca karakter, emosi juga perilaku siswa. Tentu dia pun dengan mudah dekat dengan siswa siswi di sini.


"Dua hari yang lalu pak Hisam mengajukan cuti, dia bilang ada keperluan yang tidak bisa di tinggal". Jelas petugas TU.


Heeemmmppp, sepertinya aku punya ide agar lebih tahu tentang Oriza.


Tersenyum senang sambil menggosok-gosok ke dua telapak tangan di depan dada.


Kebetulan Sekali Pak Hisam menitipkan tugasnya kepada Cahyana,


ini kesempatan bagiku untuk bisa berbincang dengan Oriza.


Cahyana memanggil satu persatu nama siswa siswi dari kelas XX sesuai absen, karena memang ini jadwal Pak Hisam di kelas itu. Dengan sabar aku berbincang bersama satu persatu murid yang ku panggil.


Hingga akhirnya nama Oriza pun aku panggil. Dia berjalan mendekati meja tempat ku berada, dadaku berdetak tak karuan.


Rasanya jantungku berdetak lebih kencang mengingat aku akan berbincang dengan Oriza dalam jarak dekat, berbicara saling berhadapan dan hanya terhalang oleh meja di antara kita.


Aku terkesima oleh wajahnya yang manis, namun garis wajahnya yang tegas menggambarkan bahwa dia adalah seorang wanita yang mandiri.


"Ada apa ya Pak?". Aku di sadarkan oleh pertanyaan nya.


Hai otak sadar kau! memalukan sekaliii. Cahyana


"Bagimana perasaanmu setelah hampir tiga semester bersekolah di sini? Apa kamu nyaman? Atau malah ada kendala?". Mencoba berbasa-basi yang sebenarnya


Chayana hanya mencari cara untuk sekedar menetralkan detak jantung yang sudah seperti kereta api saja, jugijagijug tuut.. tuuutt...


"Biasa saja Pak". Cahyana bengong


Sungguh sebuah jawaban yang tidak pernah terpikirkan oleh ku.


"Kenapa merasa biasa saja". Cahyana penasaran.


"Tempat ini bukan sekolah yang aku inginkan". Wajah Oriza tampak datar.


"Lalu mengapa kamu bisa bersekolah di sini". Pembicaraan yang menarik menurut Cahyana.


"Semua karena Ayah!".


"Maksud nya?".


Apa aku harus bercerita tentang ini? Tapi biarlah untuk sedikit mengurai rasa kesalku.


Ketika itu Oriza telah selesai di jenjang sekolah menengah pertama. Beberapa hari setelah kelulusan dan pengambilan ijazah,


Oriza dan Ayahnya terlibat sebuah obrolan,


"Teteh ingin melanjutkan sekolah kemana?". Ayahnya Oriza bertanya.


"Jika di izinkan masuk menengah atas aku ingin di SMA Negeri XX, jika menengah kejuruan aku ingin di SMK Negeri XX".


Kedua sekolah itu adalah sekolah elit di kecamatan XX ini dan berada tidak jauh dari tempat tinggal Oriza.

__ADS_1


"Jika Ayah memilih sekolah swasta?".


Oriza terkejut dengan pertanyaan Ayahnya sendiri, tapi mau tidak mau Oriza harus menjawabnya.


"Jika swasta maka kau akan memilih SMK XX". Ada rasa sedih di hati Oriza yang mati-matian harus dia sembunyikan demi melanjutkan sekolahnya.


Ayah Oriza hanya mengangguk mendengar jawaban dari Oriza, dan itu mengakhiri pembicaraan.


Selang beberapa hari kemudian, datanglah salah satu saudara jauh Oriza yang bersekolah di SMK XX tempat yang sekarang menjadi tempat Oriza menimba ilmu.


Sari namanya, dia membawa brosur sekolah ketika itu dan menyerahkannya kepada Ayah Oriza.


Malamnya Oriza berbicara lagi dengan Ayahnya.


"Bagaimana dengan sekolah ini?". Sambil menyerahkan sebuah brosur kepada Oriza, Ayah Oriza memulai pembicaraan.


Oriza masih terdiam melihat-lihat brosur tersebut.


Apa ini maksud nya. Oriza


"Ayah ingin kamu bersekolah di situ saja. Selain ongkos kendaraan yang sama besarnya, biaya sekolah itu pun sangat jauh lebih murah". Ayah nya menjelaskan, namun lebih ke arah ini adalah perintah.


"Aku tidak mau Ayah, bagaimana jika di sekolah swasta yang pernah aku sebutkan?". Sudah ada linang air di mata Oriza, dia mencoba bernegosiasi dengan keputusan sang Ayah.


"Itu terserah kamu, Ayah yang membiayai kamu. Kamu tinggal bersekolah saja. Jika kamu tidak mau sekolah di SMK XX,


maka ayah tidak akan menjamin jika suatu saat nanti kamu putus sekolah di tengah jalan". Ini adalah keputusan final,


padahal Ayah nya sangat mampu untuk membiayai sekolah Oriza walau pun harus di cicil.


Mengapa bertanya kepada ku jika hanya keputusan ayah yang harus ku patuhi.


Di dalam hatinya Oriza marah. Namun Oriza hanya bisa mengangguk pasrah dengan keputusan ayahnya.


Dari hari ke hari dengan sabar Oriza melewati masa sekolahnya. Dari pada putus sekolah, begitu pikirnya.


Mendengar cerita Oriza, hati Cahyana pun tersentuh.


Sayang sekali, padahal Oriza siswi yang berprestasi tapi malah berakhir di sekolah swasta seperti ini. Cahyana


"Tetap semangat ya Oriza". Cahyana memcoba menghibur Oriza.


"Sebenarnya semangatku sudah tidak ada lagi pak, yang ada sekarang hanya terpaksa". Oriza


"Apa yang membuatmu hilang semangat?". Cahyana menggali lagi informasi, dan Oriza pun kembali bercerita.


Pertama kali masuk dan menjalani hari-hari di sekolah, Oriza sangat bersemangat walau sekolah ini bukan ke inginannya.


Semua berjalan dengan lancar..


Di semester pertama, Oriza meraih peringkat pertama.


ketika memasuki semester ke dua, seperti biasa nilai akhir dari setiap guru di tempel di papan pengumuman kelas masing-masing.


Jadi setiap siswa-siswi mengetahui nilai yang ada di raport nanti dari setiap pelajarannya. Juga bisa mengetahui jumlah nilai dan memiliki gambaran peringkat.


Tibalah hari yang di tunggu-tunggu hari yang mendebarkan walau sudah mengetahui siapa-siapa saja yang mendapat peringkat masuk sepuluh besar.

__ADS_1


Di semester ke dua ini Oriza mendapat peringkat ke dua.


Hah! Apa yang salah? Padahal jika di lihat dari jumlah nilai punya ku paling tinggi. Oriza


Ya jumlah nilai Oriza paling tinggi di antara teman-temannya yang lain walau hanya tipis sekali perbedaan dengan jumlah nilai paling tinggi ke dua, yaitu di bawah Oriza.


Di rumah Oriza terus saja memikirkan kenapa bisa dia mendapat peringkat ke dua. Lama di cari, di sesuaikan dengan catatan nilai akhir,


rupanya nilai pelajaran matematika yang ada di raport nya di kurangi lima poin.


Besok akan aku tanyakan kepada bu Elis.


Besoknya di sekolah, Oriza langsung menemui bu Elis di ruang guru. Bu Elis guru mata pelajaran matematika di kelas Oriza.


"Bu maaf mau tanya, apakah nilai matematika yang ada di papan pengumuman adalah nilai raport?".


"Iya, nilai itu adalah nilai akhir yang ada di raport Za. Memangnya kenapa?".


"Tapi nilai di raport ku berbeda dengan yang ibu kasih". Terlihat gurat sedih di wajah Oriza.


"Coba Oriza tanyakan sama wali kelasnya yaa".


"Baik bu, terimakasih". Oriza pun berlalu.


Dia berjalan menuju ruang bendahara sambil menenteng buku raport nya, karena di sana ada wali kelas Oriza.


"Maaf pak, mau tanya".


"Iya ada apa Za". Wali kelas Oriza mendekat


"Ini pak kenapa nilai matematika di raport berbeda dengan yang di kasih sama bu Elis?


Aku sudah tanya ke bu Elis bahwa itu adalah hasil akhir di raport".


"Maaf Za bapak salah tulis". Ucap wali kelas Oriza tanpa merasa bersalah


Dengan ringan nya dia menjawab salah tulis.


"Terus bagaimana pak?".


"Ya mau bagaimana lagi, nilai yang ada di raport tidak bisa d ubah".


Oriza hanya mengangguk dan berlalu setelah mengucapkan terimakasih karena tidak ada solusi yang berarti.


Berjalan menuju kelasnya dengan membawa sebongkah rasa kecewa di hatinya.


Sejak saat itu Oriza tidak peduli lagi soal peringkat kelas.


Cahyana pun ikut merasa kekecewaan yang mendalam di hati Oriza. Bagaimana tidak, Oriza pasti dengan susah payah memperjuangkan dan mempertahankan peringkatnya.


Namun semua sia-sia, terlebih ini murni bukan kesalahan Oriza.


"Apa yang menjadi motivasi mu sehingga tetap bertahan?". Lagi Cahyana bertanya setelah Oriza selesai bercerita.


"Semua ini tidak akan lama, hanya tiga tahun saja. selebihnya pergi dari sekolah ini dan mendapatkan ijazah". Ya hanya ijazah tujuan Oriza, soal peringkat bukan lagi menjadi priorias.


Selesai pembicaraan, Cahyana hanya bisa menyemangatj Oriza. Namun sepertinya Oriza telah mati rasa karena berkali-kali di buat kecewa.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2