
Bismillah..
"Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuhh
Bapak ibu guru yang saya hormati serta teman-teman seperjuangan yang saya sayangi.
Pertama-tama saya mengucapkan terimakasih atas waktu yang telah diluangkan untuk menghadiri acara ini.
Saya juga berterimakasih atas kepercayaannya kepada saya sebagai kandidat ketua OSIS periode berikutnya.
Sebelumnya ijinkan saya memperkenalkan diri kepada bapak dan ibu guru serta teman-teman. Nama saya Oriza Satifa dari kelas XI-A SMEA.
Menjadi seorang pemimpin memang bukan hal yang mudah untuk dilakukan, tetapi waktu dan proses akan mengajarkan segalanya.
Saya akan berusaha untuk terus belajar dan memberikan segala yang terbaik untuk kemajuan sekolah kita bersama.
Maka agar lebih mudah untuk mewujudkan hal tersebut saya akan menyampaikan visi dan misi osis.
Untuk memaksimalkannya saya membangun visi yaitu :
Menciptakan lingkungan sekolah yang bersih, nyaman dan tentram bagi seluruh siswa-siswi, guru, dan karyawan
Mewujudkan rasa kekeluargaan di lingkungan sekolah
Agar visi saya dapat tercapai secara optimal maka ada beberapa misi yang saya rencanakan untuk mendukung visi tersebut, yaitu:
Mengadakan kegiatan dengan tidak membedakan antara senior dan junior
Merawat dan menjaga fasilitas sekolah dengan menerapkan program 5 R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin)
Meningkatkan hubungan kekeluargaan di lingkungan sekolah melalui kegiatan organisasi
Demi memaksimalkan hasil kerja dari realisasi visi dan misi osis tersebut
maka kami akan memperbaiki program serta hasil kerja osis di periode sebelumnya yang telah dievaluasi.
Sehingga ke depannya akan ada perubahan yang dilakukan pihak osis dari waktu ke waktu sesuai dengan visi dan misi yang telah saya sampaikan.
Sekian penyampaian visi misi calon ketua osis yang bisa saya sampaikan, apabila nantinya saya diberikan kepercayaan menjadi ketua osis
maka saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk mewujudkan visi misi tersebut dengan baik.
Terimakasih atas perhatian bapak dan ibu guru serta teman-teman sekalian, akhir kata.
Wassalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuhh".
Panjang lebar Oriza menyampaikan sambutan dan visi misi nya sebagai calon ketua
OSIS, serta di akhir dengan tepuk tangan siswa-siswi juga staff guru yang ada di lapangan.
"Baiklah kata sambutan dan visi misi dari masing-masing kandidat calon ketua OSIS sudah di utarakan.
Upacara telah selesai, bubar barisan jalan". Ucap Cahyana dengan tegas.
Semua siswa-siswi membubarkan diri menuju kelas masing-masing.
Beberapa anggota OSIS membentuk sebuah kelompok yang terdiri dari dua orang.
Mereka menyiapkan sebuah kertas yang di potong menjadi bagian-bagian kecil.
Satu persatu mereka memasuki kelas, termasuk Ilham, Mila, dan Oriza.
Ketiga kandidat itu mengikuti dua orang anggota OSIS untuk memasuki kelas dan melakukan vout.
"Assalamu'alaikum, langsung saja yaa agar tidak terlalu banyak memakan waktu
kami akan membagikan selembar kertas kecil ini untuk selanjutnya teman-teman tolong tulis nama kandidat yang kalian pilih dari salah satu kandidat yang ada di depan.
__ADS_1
Mohon kerja sama nya yaa temen-temen". Dua orang anggota OSIS langsung membagikan kertas kecil kepada temen-temen di kelas tersebut.
"Waktu nya dua menit saja ya temen-temen.
kalau nama kandidat yang di pilih sudah di tulis di kertas itu, tolong kertasnya di gulung saja ya temen-temen, setelah itu
di kumpulkan kembali". Sambil menunggu yang lain menulis, salah satu anggota OSIS memberi pengarahan selanjutnya.
Begitu seterusnya, hingga dua belas kelas dari kelas X hingga kelas XII SMK memberi suara nya melalui kertas kecil yang telah di berikan.
Setelah selesai pengambilan suara dari setiap kelas, selanjutnya kertas tersebut di kumpul kan di ketua OSIS.
Kegiatan belajar mengajar pun berlanjut dengan lancar.
***
Bel tanda jam belajar mengajar telah usai,
semua siswa-siswi membubarkan diri, kecuali anggota OSIS kelas XII mereka berkumpul di kantor Cahyana.
Kantor pembimbing OSIS, karena kertas-kertas hasil vout dari setiap kelas tadi akan di buka dan di hitung.
Serta menjadi penentu, siapa yang akan menjadi ketua OSIS selanjutnya.
"Mila".
"Ilham"
"Mila lagi"
"Oriza"
"Ilham"
"Oriza"
Begitu seterusnya hingga kertas kecil habis di hitung dan di bacakan.
"Hasil voting ini jangan sampai bocor sebelum minggu depan, karena
akan di umumkan kembali saat upacara bendera nanti". Cahyana memberikan putusan.
"Baik pak". Semua anggota OSIS menjawab serempak lalu membubarkan diri.
[Sudah sampai di rumah?]. Cahyana mengirim pesan kepada Oriza setelah semua anggota keluar dari kantor nyaa.
[Sudah dari tadi]. Oriza.
[Sedang mengerjakan kerajinan tangan]. Oriza
[Oohhh, sudah makan?]. Cahyana.
[Sudah tadi]. Oriza
[Kenapa? Apa ada yang Oriza pikirkan?]. Cahyana
[Aku hanya takut terpilih menjadi ketua OSIS]. Cahyana tersenyum membaca balasan pesan dari Oriza.
[Jangan terlalu percaya diri... Bisa jadi orang lain yang terpilih]. Cahyana
[Syukurlah]. Oriza
Cahyana tidak membalas lagi pesan dari Oriza, pasalnya bel masuk telah berbunyi.
Itu saat nya Cahyana mengajar jam sore, mengajar siswa-siswi SMP di sekolah XX.
Selesai mengajar, rasanya Cahyana sangat rindu kepada Nazwa padahal setiap hari
bersamanya. Tapi kali ini rasanya berbeda, Cahyana pulang cepat dan ingin sekali bertemu dengan Nazwa.
Sementara itu di rumah Cahyana.
Dina datang seorang diri. Dari kejauhan adik bungsu Cahyana melihat Dina,
karena memang posisi dia sedang ada di lapang bola dan sedang nongkrong bersama teman-temannya di sana.
Adik Cahyana itu lalu berlari mencari ibunya, lalu mengatakan bahwa Dina datang.
"Mah ada Dina datang".
"Masih jauh tidak?". Ibunya tampak panik.
"Dimana Nazwa? Bawa dia ke dalam rumah! Jangan sampai Nazwa tahu kalau Dina datang!"..
Untung saja Nazwa sedang main di lamar bersama keponakan Cahyana.
Dina pun tiba di rumah Cahyana saat ibunya sedang membereskan karung padi di halaman rumahnya.
__ADS_1
"Nazwa... Nazwa... ". Dina mencoba berteriak memanggil anak nya, tanpa mengindahkan mantan ibu mertuanya.
Datang tanpa salam, tanpa permisi malah Dina berteriak-teriak memanggil anaknya.
Di dalam kamar, keponakan Cahyana sengaja menyalakan lagu anak-anak agar Nazwa tidak mendengar kegaduhan di luar rumah.
Sepertinya berhasil, karena Nazwa hanya asik bernyanyi dan berjoget dengan riangnya.
"Nazwa... Nazwa... ". Dina mulai naik ke atas teras rumah mantan mertuanya tanpa melepaskan sandal yang dia pakai.
Dina mengintip jendela bagian depan rumah mantan ibu mertuanya, Berharap dia menemukan Nazwa.
"Ada apa?". Ibu mertua berteriak sambil menarik pundak Dina.
"Dimana Nazwa? Mengapa kalian mengambil nya dariku?". Dina melotot ke arah mantan ibu mertuanya.
"Dia juga cucuku". Ibu mertua tidak kalah emosi.
"Tapi aku ibu nya". Dina berteriak sambil menghentakkan kaki.
"Tidak usah khawatir kan Nazwa, di sini kami mengurusnya dengan baik.
Bukankah di sini juga Nazwa tinggal bersama ayahnya?". Ucapan adik bungsu Cahyana malah membuat Dina kesal.
"Dimana Nazwa.... ". Kembali Dina berteriak.
Tidak berapa lama Cahyana datang.
Melihat ibunya sedang menangis di teras rumah nya, emosi Cahyana langsung naik ke ubun-ubun.
"Ada apa kamu kemari". Cahyana mendorong Dina
"Aku akan menjemput Nazwa". Dina melotot sambil berkaca pinggang.
"Kamu boleh menjemputnya.. ". Dina tersenyum
"Tapi antarkan Annisa dan Use kemari". Kembali Dina kesal dengan ucapan yang di lontarkan Cahyana.
"Kembalikan Nazwa, dia anakku". Dina berteriak.
"Bagaimana kau akan mengurus Nazwa, sedang Annisa dan Use saja kau kirim
ke panti asuhan?". Cahyana tak kalah berteriak karena Dina terus saja mengoceh.
Dina terdiam.
Bagaimana Cahyana tahu kalau Annisa dan Use aku kirim ke panti asuhan. Begitu pikirnya.
"Sekarang katakan! Ke panti asuhan mana kamu mengirim Annisa dan Use?". Emosi Cahyana mulai mereda.
Dina hanya diam, dia telah terpojok.
"Jawab". Cahyana kembali berteriak kesal karena Dina hanya diam tidak menjawab pertanyaan Cahyana.
"Aku tidak akan pernah memberi tahu mu". Dina tersenyum Menyeringai.
"Dimana anak-anakku". Cahyana melotot ke arah Dina sambil mencengkram tangan nya dengan kuat
Dina meringis "Lepaskaaannn".
Dia menghentakkan genggaman Cahyana.
"Aku tidak akan memberikan anakku kepada mu". Dina menatap Cahyana dengan berurai air mata
Tiba-tiba sekelebat bayangan Cahyana bersama Oriza menari-nari dalam ingatannya.
Bayangan Cahyana mengatakan bahwa dia mencintai Oriza, bayangan
Cahyana tengah berbelanja bersama Oriza, serta perhatian-perhatian kecil Cahyana terhadap Oriza.
Seakan menegaskan bahwa Cahyana telah memiliki pengganti, Cahyana tidak lagi menginginkan Dina.
Dina terluka dan kembali hati nya kecewa. Namun Dina tidak pernah
menyadari, bahwa dialah yang menyebabkan Cahyana berpaling.
"Cuuiiihhh, ibu macam apa kau yang membiarkan anaknya membawa wanita lain kedalam rumah
tangganya". Dina meludah ke arah wajah mantan ibu mertuanya yang sedang tergugu di teras.
Plaakkk..!
"Kurang ajar". Cahyana kalah cepat dengan adik bungsunua, dia telah lebih dulu menampar Dina.
Dengan dada kembang kempis adik Cahyana menahan segala emosi, dia tidak terima ibunya di lecehkan seperti itu.
"Pergi kau dari sini. Pergi...!". Cahyana mengusir Dina sambil mendorong nya.
__ADS_1
Dina pun pergi dengan derai air mata, dia tidak berhasil membawa Nazwa pulang kembali bersamanya.
Bersambung...