
"Baiklah. Terimakasih atas informasinya".
Cahyana segera mengakhiri percakapan nya dengan Desi karena tidak mau emosinya terlihat oleh Desi.
Seakan terkena petir di siang bolong, Cahyana begitu marah ingin sekali melempar apapun yang ada di hadapannya.
Hati nya sakit batinnya menangis, mendengar anak-anak yang begitu di cintai nya malah Dina kirim ke panti asuhan.
Kalau kau tidak mampu mengurus anakku mengapa tidak kau pulangkan saja kepada ku..
Mengapa malah kau kirim anakku ke panti
Aaaaaaa. Cahyana menjerit tanpa suara sambul mengacak rambut nya, mengeluarkan semua sesak yang ada.
Namun di sela-sela kepedihannya Cahyana tetap harus profesional, dia tetap mengajar seperti biasa
haha-hihi dengan anak didik nya. Padahal di dalam dirinya sedang kacau, pikirannya sedang tidak fokus.
[Pulang sekolah, bisakah ke kantor Aa?]. Di jam istirahat Cahyana mengirim pesan kepada Oriza.
[Ada apa?].
[Aa tunggu]. Cahyana tidak menjawab pertanyaan Oriza. Karena pikirnya nanti saja Cahyana jelaskan secara langsung.
Teng... Teng... Teng...
Bel pulang telah berbunyi, Cahyana menunggu Oriza dengan hati yang bimbang.
Beberapa saat menunggu, akhir nya Oriza mengetuk pintu dan masuk ke dalam kantor setelah Cahyana mengizinkan nya masuk.
Duduk di kursi panjang, Cahyana ingin bercerita kepada Oriza tentang apa yang dia rasakan. Namun Cahyana tampak ragu,
terlebih Oriza baru saja selesai belajar pasti dia lelah, begitu kira-kira apa yang di pikirkan Cahyana saat ini.
"Besok Aa akan pergi ke XX untuk menemui Nazwa dan membawanya pulang". Akhirnya Cahyana berbicara hanya poin intinya saja.
Oriza menangguk "Hati-hati dijalan".
Yaa sudah pergi saja! Kenapa harus bilang sih.
"Do'akan Aa, semoga Aa bisa membawa Nazwa untuk pulang".
"Iya".
Setelah pembicaraan singkat itu, Oriza pun pamit pulang dan Cahyana hanya mengantar Oriza sampai di depan pintu kantor ruangannya.
***
Pagi-pagi sekali Cahyana telah bersiap, agar tiba di kota tujuan tidak terlalu siang.
Cahyana juga membawa beberapa baju ganti untuk jaga-jaga kalau saja Cahyana tidak pulang dan menginap.
Berangkat menggunakan angkutan umum untuk mengunjungi kota tersebut, berharap semua berjalan sesuai dengan apa yang dia rencanakan.
"Bismillah". Cahyana mulai melangkahkan kaki keluar dari rumah, setelah sebelumnya dia pamit kepada kedua orang tua nya.
Keluar dari gapura naik angkot hijau polet merah menuju Tol, di sana sudah menunggu beberapa bus mini dengan tujuan keberbagai kota.
__ADS_1
Di perjalanan.
Hati dan perasaan Cahyana tidak tenang, takut rencananya ini tercium oleh Dina dan dia semakin menjauhkan Nazwa dengan Cahyana.
Tidak ada yang tahu kemana kepergian Cahyana, bahkan pihak sekolah sekalipun. Karena Cahyana hanya bilang ada keperluan saat dia izin tidak masuk.
Takut rencana nya bocor jika Cahyana mengatakan yang sesungguhnya.
Karena di sekolah ada Desi adik dari Dina dan juga Afifah anak Dina yang masih duduk di bangku SMP.
[Aa sudah berangkat, ini sudah di angkot]. Cahyana hanya mengabari Oriza.
[Hati-hati di jalan].
Setelahnya Cahyana pun tidak mengirim pesan lagi kepada Oriza, dia tenggelam dalam pikirannya.
"Kiri". Begitulah salah satu cara untuk menghentikan laju angkot setelah kita sampai di tujuan.
Cahyana pun turun dan membayar ongkos kepada pak sopir.
Berjalan menuju sebuah mini bus yang telah berjajar menunggu penumpang, setelah dekat terdengar suara-suara kernet yang berteriak saling bersahutan menyebutkan kota tujuan mereka.
Sebelum menaiki bus, Cahyana membeli beberapa gorengan dan uras juga sebotol air mineral untuk sarapan. Untuk bekal di perjalanan nanti.
Usai membayar makanan yang dia beli, Cahyana segera naik ke dalam mini bus jurusan kota XX karena sebentar lagi perjalan akan segera di mulai.
Duduk di sisi kanan pojok dekat jendela, Cahyana mulai meng-eksekusi makanan yang tadi dia beli.
Tidak berapa lama, mata Cahyana mulai terasa berat. Seperti nya mulai mengantuk lagi karena perut sudah terasa kenyang.
Di tempat lain...
Hari ini adalah hari pertama Dina mulai bekerja di salah satu konter pulsa yang letak nya memang agak jauh dari rumahnya.
Gaji nya mungkin tidak seberapa, tapi gajinya ini cukup untuk menghidupi dirinya, ibunya dan juga Nazwa, anak bungsunya.
Karena dendamnya kepada Cahyana, dengan berat hati Dina mengirimkan Annisa dan Use ke panti asuhan yang jauh di sana.
Dina ibu yang tega, iya. Tapi percayalah dia pun terluka jauh dengan kedua anaknya. Bukan,
bukan karena Dina tidak sayang. Bahkan hati nya takut dan tidak rela jika anak-anaknya di bawa oleh Cahyana.
"Aku harus semangat demi anak-anakku". Begitulah cara Dina untuk menyemangati dirinya.
Dina sangat bekerja keras, terlebih dia tahu. Dia akan menjadi seorang janda untuk yang kedua kalinya, ya. Janda anak empat.
***
Tidak terasa perjalanan panjang yang Cahyana nikmati dengan tidur lelapnya, sebentar lagi tiba di kota tujuan.
Cahyana hanya perlu menaiki lagi angkot satu kali dan ojek motor untuk tiba di tempat tujuan, yaitu rumah ibunya Dina.
Tidak memakan waktu lama, Tiba di rumah ibunya Dina, dari kejauhan Cahyana melihat Nazwa yang sedang main tanah di depan rumah.
"Anakku". Sambil tersenyum, Cahyana manahan rasa sedihnya.
Perlahan dia berjalan mendekati Nazwa, dan Nazwa pun melihat ayahnya mendekat.
__ADS_1
"Ayah..... ". Nazwa berlari kedalam pelukan Cahyana.
seperti nya Nazwa pun merasakan kesedihan jauh dengan orang tuanya, anak sekecil ini sudah harus menyaksikan perpisahan orang tuanya.
Cahyana memeluk Nazwa erat dan tidak berhenti menciumi pipinya untuk meluapkan rasa sedih, rindu dan haru menjadi satu.
"Cahyana". Guman ibunya Cahyana kaget melihat Cahyana ada di depan mata, ibunya Dina juga bingung entah dia harus bagaimana.
Cahyana hanya menoleh dan terseyum kepada ibunya Dina.
"Aku minta izin untuk membawa Nazwa paulang ikut bersama ku buu.. ", Ibunya Dina menggeleng
"Bagaimana?".
"Aku dan Dina sudah resmi bercerai bu". Ucap Cahyana menambahkan
"Aku datang kemari sebagai seorang ayah yang merindukan anak nya". Wajah Cahyana memelas
"Baiklah kamu boleh membawa anakmu pulang. Tapi jangan terlihat oleh Dina, Ibu tidak mau pertemuan ini memicu lagi pertengkaran". Cahyana mengangguk.
Cahyana tidak menyangka bahwa pertemuannya dengan Nazwa berjalan lancar tanpa ada kendala apa lagi drama.
"Ibu akan siapkan baju bekal untuk Nazwa selama bersama mu".
"Baik bu, terimakasih banyak".
"Bu apa aku boleh bertanya". Cahyana kembali bersuara. Ibunya Dina masih sibuk mengemasi baju dan barang apa saja yang nanti akan di bawa oleh Cahyana.
"Apakah ibu tahu Annisa dan Use dimana sekarang". Ibunya Dina hanya menggeleng, dia menahan bulir air mata nya Cahyana tidak menyadari itu.
"Cepatlah pulang, sebelum Dina kembali"
"Baik bu terimakasih banyak, saya pamit". Ucap Cahyana kemudian berlalu
Betapa senang nya hati Cahyana bisa membawa Nazwa kembali bersama nya. Namun di sisi lain, Cahyana pun sedih. Tidak ada sedikit pun informasi yang dia dapatkan mengenai Annisa dan Use.
Cahyana bertekad suatu saat nanti dia dan ke tiga anaknya akan kembali berkumpul. Cahyana akan tetap berjuang untuk bertemu dengan Annisa dan Use serta membawa mereka pulang.
Sebelumnya Cahyana memasuki sebuah warung terlebih dahulu untuk membeli susu
kotak, camilan dan makanan lainnya untuk nanti bekal di perjalanan agar Nazwa tidak merasa lapar.
Perjalanan pulang yang panjang di tambah kondisi jalan yang padat, sehingga menyebabkan macet yang tidak berkesudahan.
Sebentar lagi sampai. Cahyana tidak turun untuk berganti angkot, dia tetap berada di dalam mini bus tersebut bersama
Nazwa, karena arah laju bus tersebut pasti melewati gapura yang menuju ke rumah Cahyana.
Hingga mini bus tiba di gapura, Nazwa tertidur dengan lelap nya berada dalam gendongan Cahyana.
Turun dan membawa tasnya yang ada di bagasi bus, Cahyana berjalan dengan semangat nya menuju rumah.
"Alhamdulillah". Tiba di rumah, Nazwa langsung di tidurkan di kamar rumah Cahyana.
Menatap Nazwa yang sedang terlelap, Tiba-tiba mata Cahyana berembun. Dia memikirkan bagaimana nasib Annisa dan Use di panti asuhan.
Bersambung...
__ADS_1