Kehidupan Manis Setelah Patah Hati

Kehidupan Manis Setelah Patah Hati
Makan-makan


__ADS_3

"Maafkan aku mah". Cahyana memeluk ibunya.


Ibunya hanya menggeleng sambil membalas pelukan dari Cahyana.


"Aku akan menemui Nazwa". Cahyana mengusap punggung ibunya dan ibunya pun mengangguk.


Cahyana masuk ke rumah orang tuanya, dia berjalan menuju kamar keponakannya itu. Menghampiri dan memeluk Nazwa yang sedang bermain bersama nya.


Membawa Nazwa pulang ke rumah, dan menyiapkan air hangat untuk Nazwa mandi.


Panggilan terhubung...


"Assalamu'alaikum, sedang di rumah?". Cahyana menelpon Oriza.


"Iya, kenapa?". Oriza


"Nazwa ingin ngobrol sebentar". Sebenarnya Cahyana hanya berbasa-basi, dia sedang ingin menenangkan dirinya dengan menelpon Oriza.


Kamu kaliiii yang ingin ngobrol, haha


"Ooohhh boleh". Oriza


Cahyana menempelkan ponsel di telinga Oriza.


"Hao kakak nana". -Halo kakak dimana-


"Kakak lagi di rumah, Nazwa lagi apa?". Lembut Oriza berbicara kepada Nazwa.


"Duduk". Nazwa menjawab dengan lucunya.


"Kakak ninih". -Kakak ke sini-


"Iya in syaa Allah yaa". Oriza.


Cahyana mengambil alih ponsel nya kembali dia berbicara dengan Oriza.


"Besok apa ada acara?". Aku rindu. Cahyana


"Tidak". Oriza


"Besok main ke sini ya, kita makan-makan". Cahyana


"Ada acara apa?". Oriza


"Tidak apa-apa. Besok bapak panen kita makan-makan nasi lewet di rumah". Cahyana


" Hemm, baiklah". Oriza


"Besok Aa jemput yaa". Cahyana


Panggilan pun terputus saat ke duanya sepakat untuk mengakhiri sambungan telpon.


Sementara itu air untuk mandi Nazwa telah mendidih Cahyana membawa Nazwa ke kamar mandi, menuangkan air panas ke dalam


ember yang lumayan besar dan menambahkan air dingin ke dalam ember tersebut agar air menjadi hangat.


Beberapa saat setelah selesai Nazwa mandi dan berganti baju, adik bungsu Cahyana datang menghampiri.


"Nazwa, sudah mandinya? Main di rumah nenek yuk?". Om nya itu mengulurkan tangan nya kepada Nazwa, untuk meraih dan menggendongnya.


"Aa nanti ke rumah yaa, di tunggu mamah sama bapak".


Cahyana mengangguk "Aku mandi dulu, nanti menyusul". Adik Cahyana pun berlalu dari pandangan Cahyana.


Di rumah orang tua Cahyana.


"Eeyy cucu abah sudah cantik". Ayah Cahyana meraih Nazwa dari gendongan anak bungsunya.

__ADS_1


"Sudah makan?". Nenek


"Eyum... ". -Beluuummm-


"Ahhaha" Semua orang tertawa, merasa senang dengan perkembangan Nazwa yang kini sudah bisa di ajak ngobrol.


"Ayo ayo makan dulu yaa, nenek ambilkan". Nazwa hanya tersenyum riang.


Tidak berapa lama Cahyana muncul di depan pintu,


"Masuk". Ucap ayah Cahyana.


"Mamah ingin memastikan perihal ucapan kamu dan Dina yang tadi


sore mamah dengar". Ibunya Cahyana memulai pembicaraan.


"Ucapan yang mana mah". Cahyana tampak gusar.


"Semoga apa yang mamah dengar tadi tidak benar.


Apakah benar Annisa dan Use ada di panti asuhan?". Wajah ibunya Cahyana terlihat sedih.


Cahyana hanya mengangguk perlahan menjawab pertanyaan ibunya, sungguh Cahyana pun terluka jauh dari anak-anak nya.


Apalagi Cahyana tidak bisa menemuinya.


Ibunya Cahyana menunduk menyembunyikan wajahnya yang telah berlinang air mata.


"Kamu tahu dari mana Annisa dan Use ada di panti?". Kini ayah nya Cahyana yang angkat bicara


"Awalnya aku tahu dari Desi adik nya Dina. Lalu semua itu di benarkan oleh ibunya Dina saat kemarin aku menjemput Nazwa pulang".


"Apa kamu sudah mencari tahu lagi di panti asuhan mana Annisa dan Use tinggal?".


"Belum, aku buntu.


Karena sudah malam, semua orang masuk ke kamarnya masing-masing, termasuk Cahyana.


Dia pulang ke rumah dengan membawa Nazwa dalam gendongan yang telah lebih dulu terlelap


***


Pagi hari semua kakak beradik kumpul dirumah orang tua Cahyana.


"Jadi Oriza main ke sini?". Tanya kakaknya Cahyana memastikan.


"Iya, sebentar lagi aku menjemputnya". Cahyana


"Naik angkot?". Tanya nya lagi memastikan. Dan Cahyana hanya mengangguk.


"Pakai saja motorku agar lebih cepat". Kakak dari Cahyana itu memberikan kunci motor nya kepada Cahyana.


Cahyana menerimanya dengan wajah berbinar. Pasalnya jika naik motor, Cahyana dengan Oriza bisa sedekat itu.


Terlebih waktu yang di tempuh jauh lebih singkat.


"Nazwa, ayah pergi dulu yaa". Cahyana pamit pada Nazwa yang sedang anteng memainkan sebuah balon.


"Nana ayah". -Kemana ayah-


"Ayah mau jemput kakak, kan mau main sama Nazwa ya". Nazwa pun mengangguk.


"Aku titip Nazwa ya mah". Cahyana


"Hati-hati di jalan". Cahyana mencium punggung tangan ibunya lalu pergi.


Sepanjang perjalanan, Cahyana benyanyi-nyanyi tidak jelas saking senang nya dia akan bertemu dengan Oriza, salah satu wanita yang dia sayangi.

__ADS_1


Tiba-tiba Cahyana memberhentikan motornya di pinggir jalan, dia lupa akan sesuatu.


[Aa sudah berangkat, ini sudah di jalan]. Ya Cahyana lupa mengabari Oriza.


[iya]. Oriza


[Aa bawa motor, jadi tidak akan lama]. Cahyana


Motor? Bukannya dia tidak punya motor yaa.


[Jemputnya di TK saja]. Oriza


Cahyana kembali melajukan motor yang dia kendarai.


tidak lama Cahyana tiba di TK yang di sebutkan Oriza tadi.


[Aa sampai di TK]. Cahyana


[Tunggu]. Oriza.


Tidak lama Oriza pun menghampiri Cahyana, dan naik ke atas motor setelah Cahyana memberi kode.


Motor pun mulai melaju..


"Katanya tidak punya motor". Oriza memulai pembicaraan.


"Iya ini motor punya kakak Aa". Oriza hanya mengangguk


Sebelum sampai di gapura menuju rumah Cahyana.


"Mau beli jajanan dulu gak?". Cahyana


"Susu aja". Oriza


Sepertinya Oriza suka sekali dengan salah satu minuman itu. Pasalnya beberapa kali


waktu main ke kota pun, Oriza hanya ingin susu saja saat Cahyana tanya mau beli jajanan.


Seperti sekarang ini, Oriza pun hanya ingin susu. Tapi Cahyana membelikannya beserta cemilan.


Akhirnya Cahyana dan Oriza tiba di rumah.


Cahyana langsung membawa Oriza ke bale dekat dapur tungku, dimana orang tua, kakak, adik Cahyana serta Nazwa ada di sana.


Oriza menyapa kedua orang tua Cahyana dan mencium punggung tangan mereka.


Cahyana pun mengambil Nazwa dalam gendongan adik bungsunya.


"Sini Nazwa ini ada kakak". Cahyana


"Kakak". Nazwa pun mencium punggung tangan Oriza.


"Ayo main sama kakak". Oriza mengulurkan tangannya untuk menggendong Nazwa.


Rupanya tangan Oriza pun di sambut hangat oleh Nazwa.


Sengaja Cahyana tidak membiarkan Oriza membantu ibunya memasak, dia membiarkan saja Oriza bermain dengan Nazwa agar mereka lebih dekat.


Untuk urusan membantu ibunya memasak biar Cahyana saja, begitu pikir nya.


Walaupun Cahyana laki-laki, tapi dalam urusan memasak dia pun cukup mahir dan tidak di ragukan lagi.


Cahyana menyiapkan bahan dan bumbu untuk membuat nasi liwet.


Ada beras, air, salam, serai, bawang merah, bawang putih, dan penyedap rasa.


Bahannya simpel memang, tapi pasti enak. Apa lagi di makan bersama dengan menu yang sederhana, sungguh makan nikmat itu tidak perlu mewah.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2