Kehidupan Manis Setelah Patah Hati

Kehidupan Manis Setelah Patah Hati
Sebuah Rencana


__ADS_3

Sambil menunggu Dina, Annisa dan Use menaiki wahana biang lala. Nazwa yang berada dalam gendongan Cahyana pun turut serta ingin menaiki wahana permainan.


Cahyana lalu membeli tiket untuk Nazwa menaiki wahana kereta api anak yang biasa di sebut juga odong-odong.


Selain pasti menyenangkan untuk Nazwa, kereta api anakpun termasuk wahana permainan yang aman untuk anak seusia Nazwa.


Annisa dan Use tampak bahagia menaiki wahana biang lala tersebut. Pasalnya, momen seperti ini memang jarang sekali mereka lewati.


Dina tampak melamun di tengah perbincangan Annisa dan Use yang sedang asik mengobrol, Dina hanya melihat


sekeliling kadang melihat ke bawah mencari Cahyana dan Nazwa yang rupannya sedang menaiki kereta api anak.


Sesekali Dina pun memikirkan Cahyana, apakah Cahyana masih suka ada kontek dengan gadis itu atau tidak. Karena memang tumben sekali Cahyana mengajak jalan walau hanya di lapang dekat rumah.


Dina, Annisa dan Use sudah selesai menaiki wahana biang lala. Mereka bertiga turun dan berjalan menuju Cahyana dan Nazwa yang sedang asik berdua.


"Hallo sayannnggg... ". Sambil melambaikan tangan, Dina menyapa Nazwa yang masih berada di atas kereta anak. Nazwa tertawa riang.


"Eh, sudah selesai?". Tanya Cahyana kepada Dina. Dina hanya mengangguk dan tersenyum.


Tidak lama kereta anak pun berhenti tanda permainan telah selesai. Cahyana kembali menggendong Nazwa.


"Ayo kita ke sana". Sambil menggendong Nazwa, Cahyana berjalan menuju tempat pemancingan ikan,


hanya saja kolam ikan ini khusus untuk anak. Sengaja Cahyana membawa Annisa juga Use ke tempat pancing ikan, agar bisa bermain bersama adik nya, Nazwa.


Setelah lama bermain, akhirnya Cahyana, Dina juga ketiga anak nya memutuskan untuk pulang. Karena Nazwa juga sudah terlelap dalam gondongan Mamanya.


Setibanya di rumah, Annisa dan Use langsung berlari menuju kamar di susul oleh Dina untuk menidurkan Nazwa. Tentunya setelah mereka semua cuci tangan, cuci kaki, gosok gigi dan berganti pakaian memakai piyama.


Cahyana hanya duduk di teras, dia tidak langsung masuk ke rumah. Cahyana malah kepikiran lagi soal Oriza.


Masuk ke dalam rumah dulu sebentar lalu pamit kepada Dina. "Aku ke kolam pemancingan dulu yaa". Dina tampak berfikir, namun sesaat kemudian dia mengangguk tidak mau banyak bertanya.


"Tidur yang nyenyak". Sesaat Dina memejamkan mata, menikmati belaian tangan Cahyana pada puncak kepalanya, sebelum akhir nya Cahyana meninggalkan kamar, dan pergi keluar rumah.


Di kolam pemancingan, tidak lupa Cahyana menyapa beberapa temannya. Hari ini suasana kolam pemancingan lumayan ramai tenda dan tempat duduk pun hampir penuh.


Malam ini Cahyana tidak berniat untuk memancing ikan, seperti biasa tujuan Cahyana datang ke sini adalah agar bisa menghubungi Oriza dengan leluasa.


[Sudah tidur?]. Send. Cahyana mencoba mengirim pesan kepada Oriza.


[Belum]. Jawab Oriza dengan singkatnya.

__ADS_1


[Tadi pulang jam berapa?]. Karena penasaran akhirnya Cahyana tanyakan saja pada Oriza.


[Tidka lama aku sudah sampai di rumah]. Cahyana sedikit menarik nafas.


[Kenapa tidak mengabari Aa?]. Cahyana kembali bertanya.


[Takut sedang sibuk, bukannya ada jam mengajar sore?]. Jawaban Oriza membuat Cahyana menepuk keningnya.


Sebenarnya Cahyana ingin sekali menanyakan siapa sebenarnya laki-laki yang bersama Oriza tadi siang, dan


ada hubungan apa Oriza dengan laki-laki itu. Tapi Cahyana urung karena takut mengganggu suasana hati Oriza.


[Sedang apa sekarang?]. Akhirnya hanya pertanyaan itu yang bisa Cahyana lontarkan.


[Sedang menyiapkan keperluan untuk nanti lusa, takut ada yang tertinggal]. Cahyana hanya tersenyum. Bagi Cahyana balasan kali ini adalah balasan yang lumayan panjang dari Oriza.


[Ya sudah, jika sudah selesai tidurlah, istirahat]. Kembali Cahyana mengirim pesan kepada Oriza namun tidak ada balasan.


Cahyana tidak langsung pulang, seperti biasa dia bersantai dulu dan pulang larut malam setelah Cahyana meyakini


bahwa Dina sudah tidur agar tidak banyak pertanyaan dan dia pun bisa langsung beristirahat.


***


Cahyana memutuskan untuk di rumah saja bersama dengan istri dan ketiga anaknya. Cahyana memutuskan membuat essen untuk mengisi waktu luang nya.


Essen adalah senjata utama para pemancing ikan terutama pemancing ikan air tawar dengan karakter air tenang seperti rawa,


empang dan danau. Penggunaan essen sebagai pendongkrak umpan utama ternyata sukses diterapkan pada beberapa spesies ikan terutama ikan air tawar.


Essen yaitu aroma, mempunyai bentuk cairan yang nantinya akan ditambahkan ke dalam racikan umpan mancing. Banyak pemancing yang menggunakan essen dalam ramuan umpan mereka,


termasuk Cahyana. Apalagi jika ada even atau lomba, Cahyana pasti menggunakan essen untuk campuran umpannya.


"Apakah besok jadi berangkat?". Dina memberanikan diri untuk bertanya kepada Cahyana.


"Iya, kenapa?". Cahyana menatap Dina, heran juga kenapa pertanyaan Dina seperti itu.


"Hheeemmm... Apa boleh aku main ke rumah Mama?".


"Tentu saja, kenapa tidak". Cahyana sedikit menghela nafas,


ternyata Dina hanya ingin meminta izin dari Cahyana bahwa dia ingin ke rumah ibunya.

__ADS_1


"Tapi aku ingin meminta tolong". Dina berujar kembali.


"Ya katakan saja". Cahyana masih bersikap tenang sambil meracik essennya.


"Besok tolong bawalah Use untuk ikut bersamamu, aku akan membawa Annisa dan Nazwa saja agar aku tidak terlalu repot". Ucapan Dina


sukses membuat Cahyana membelalakkan mata, tentunya tanpa diketahui oleh Dina karena posisi Cahyana yang membelakangi.


Bukan, bukan Cahyana tidak mau membawa Use untuk ikut bersamanya. Namun Cahyana begitu takut, bagaimana nanti tanggapan Oriza tentang dirinya.


Cahyana yang meminta Oriza untuk menjadi teman dekatnya, namun ternyata dia sudah punya istri bahkan


tiga anak. Cahyana sungguh takut jika Oriza nantinya akan menjauh dari Cahyana.


Namun Cahyana juga menyadari bahwa dia tidak akan mungkin selamanya menyembunyikan status nya yang telah beristri.


Cepat atau lambat Oriza pasti mengetahui tentang dirinya, baik itu dari Cahyana secara langsung, atau dari orang lain yang memberitahu kepada Oriza.


"Baiklah". hanya itu yang bisa Cahyana katakan, dia pun tidak bisa menolak. Selain takut Dina Curiga,


Cahyana pun menyadari bahwa anak-anaknya masih sangat kecil-kecil, kasihan Dina jika membawa ketiga anaknya pasti akan sangat merepotkan.


Dina berlalu dengan senyuman, dia meneruskan kegiatannya di dapur yang sempat tertunda. Annisa dan Use sudah bisa bermain sendiri, sedangkan Nazwa di asuh oleh neneknya, ibu dari Cahyana.


Sebenarnya ini adalah salah satu rencana Dina agar Use bisa ikut bersama Cahyana, selain memang agar Dina


tidak terlalu repot jika harus membawa ketiga anaknya, cara ini juga bertujuan supaya gadis itu tahu bahwa Cahyana telah mempunyai anak juga istri.


Semoga dengan gadis itu mengetahui bahwa Cahyana sudah berkeluarga, hubungan mereka pun renggang dan menjauh. Ucap Dini membatin.


Tidak terasa hari mulai beranjak sore, angin bertiup sepoy-sepoy, keadaan langit yang tidak begitu cerah juga


tidak begitu redup serta matahari berwarna jingga, menambah ke indahan pemandangan di sore hari ini.


"Aku mau ke mini market dulu, membeli cemilan untuk bekal besok". Ucap Cahyana kepada Dina.


"Ayah aku ikut". Annisa yang tidak sengaja mendengar ayah nya akan pergi ke mini market, dia pun ingin ikut.


" Ayo". Cahyana mengulurkan tangan nya untuk di pegang oleh Annisa.


Cahyana hanya membawa Annisa, karena Use sedang asik bermain bersama temannya. Sambil bercengkrama dan berjalan


perpegangan tangan, ayah dan anak itu berjalan menuju mini market yang ada di sebrang jalan. melihat seorang ayah dan anak perempuannya, sungguh pemandangan yang sangat romantis.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2