
Seperti nya Cahyana menyadari perubahan air muka pada Oriza, ketika naik angkot pun Oriza tidak pamit dan tidak mengatakan apa-apa kepada Cahyana.
Apa yang terjadi?.
Memikirkan perubahan yang tiba-tiba pada Oriza membuat Cahyana pusing.
[Kenapa?]. Kirim
[Tidak apa-apa]. Cahyana mengacak rambut prustasi.
Cahyana menyelesaikan tugas mengajar sore nya dengan pikiran yang tidak fokus. Pikiran Cahyana tetap mengarah kepada Oriza. Sesaat sebelum jam pulang,
[Menginap tidak?]. Cahyana mengirim pesan kepada Dina.
[Iya, kamu sudah selesai].
[Aku tunggu di gerbang].
[Baiklah, tunggu sebentar aku bersiap dulu]. Cahyana tidak membalas pesan Dina.
Dina bersiap dan memakaikan jaket pada Nazwa. Annisa dan Use tidak ikut, karena mereka ikut dengan tanteu nya, jadilah Dina hanya membawa Nazwa.
Setelah semua selesai, dengan semangat Dina berjalan menuju gerbang. Di sana sudah ada Cahyana yang
menunggu, sekilas Dina melihat tatapan kosong Cahyana yang sedang melamun memikirkan sesuatu.
Dina hanya tersenyum
Apa yang terjadi di antara Cahyana dan Oriza.
Dina membatin, namum berharap semua terjadi sesuai keinginannya.
Menyebrang jalan Dina menghampiri Cahyana yang sedang bersandar pada gerbang. Dina mengibaskan tangan di depan wajah Cahyana, Namun Cahyana tetap bergeming.
"Ayah". Dina menepuk-nepuk pipi Cahyana.
"Kenapa". Tanya Dina memastikan.
"Ah tidak apa-apa". Jawab Cahyana gelagapan.
Tidak berselang lama, Cahyana, Dina dan Nazwa yang berada dalam gendongan menaiki angkot berwarna hijau polet merah, ke arah sebelah kiri dari gerbang sekolah.
Sepanjang perjalanan di dalam angkot, mereka tidak terlibat obrolan apapun. Cahyana dan Dina tenggelam dalam pikiran nya masing-masing.
Turun dari angkot karena telah sampai di gapura, Cahyana pergi ke sebuah ruko di ikuti oleh Dina di belakangnya.
Menuju tempat pedagang menjual aneka masakan, karena seharian ini Dina berada di rumah Ibunya pasti dia tidak memasak.
Jadi Cahyana inisiatif saja beli dari pada harus menunggu Dina masak dulu, itu akan memakan waktu lagi.
Tiba di rumah, Cahyana langsung mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Saat Cahyana telah selesai memakai baju dan dia bercermin, betapa terkejutnya dia.
Menyadari tanda merah yang ada di lehernya juga di leher Dina, betapa Cahyana sangat menyesali. Mengapa dia baru menyadari, bahwa Oriza pasti melihat tanda yang sama di leher suami istri itu.
Jadi ini adalah salah satu strategi Dina. Ya dia pasti sengaja agar Oriza marah kepadaku.
Pantas saja kemarin, tidak biasanya Dia meminta duluan, rupanya ada maksud lain.
Cahyana sedikit menggeleng di sela-sela menyisir rambutnya. Setelah selesai baru Cahyana makan dengan masakan yang tadi dia beli di depan.
Cahyana makan sendirian. Ya, memang seperti ini. Dina memang tidak pernah menemani Cahyana makan,
atau sekedar ngobrol untuk melepas penat pun Dina tidak pernah melakukannya. Kecuali jika ada maunya,
Dina pasti akan bersikap sangat manis, apalagi jika berkaitan dengan uang.
Selama Cahyana sedang makan, Dina hanya main ponsel saja di kamar sampai dia terlelap. Cahyana pun sedikit tidak peduli,
selain karena dia sakit hati dengan penghianatan yang di torehkan Dina, pikiran Cahyana pun di penuhi oleh bayang-bayang Oriza.
__ADS_1
Malam itu Cahyana pergi saja ke kolam pemancingan, bukan untuk memancing ikan tapi supaya dia leluasa menghubungi Oriza.
Semoga Oriza masih mau membalas pesanku.
[Sudah tidur?]. Tiba di tempat pemancingan, Cahyana langsung mengirim pesan kepada Oriza.
[Belum].
[Boleh Aa telpon?].
Mau apa lagi dia.
[Iya]. Cahyana langsung menelpon Oriza setelah mendapat jawaban dari nya.
"Lagi apa?".
Heemm basa-basi.
" Lagi tiduran aja".
"Boleh tanya?".
Memangnya mau tanya apa?
" Iya".
"Kenapa tadi pulang tidak pamit?".
Begitu saja di bahas.
"Nggak kuat sakit perut ingin cepat pulang dan sampai rumah".
Ya Tuhan....
Aku bahkan sampai prustasi memikirkannya ternyata dia sakit perut.
Cahyana tertawa tanpa suara, menertawakan dirinya yang begitu berlebihan memikirkan Oriza.
"Apa tidak ada tugas rumah?". Cahyana kembali bertanya
"Dari tadi tiduran?".
"Tidak. Dari tadi bolak balik ke kamar mandi buang air. Perutku mules dan terasa panas".
Akibat coba-coba makan baso ikan pake pedas tadi. Oriza
Kasihan dia pasti lemas sekali. Cahyana
"Sudah minum obat?".
"Sudah".
"Sudah mendingan perutnya".
"Iya".
Oh ayolaaahhh jangan singkat begitu jawabnya, aku jadi bingung harus bertanya apa lagi. Sejenak Cahyana terdiam.
"Baiklah ayo tidur, istirahat. Aa temani". Akhirnya hanya kata-kata itu yang bisa Cahyana Ucapkan.
"Maksudnya, temani bagaimana?"
"Iya Aa temani tidur nya, jangan di matikan telponnya yaa". Oriza pun tidak menjawab lagi.
Oohh terserah.
Cahyana tersenyum sendiri, bucin sekali sampai menemani tidur lewat telpon.
Beberapa saat kemudian terdengar dengkuran halus di sebrang telpon.
"Oriza". Tidak ada jawaban.
__ADS_1
"Selamat istirahat, Aa sayang sama Oriza". Lalu Cahyana memasukkan ponsel nya ke dalam saku celana tanpa mematikan telpon nya, nanti setelah satu jam telpon nya akan mati secara otomatis. Begitu pikirnya.
Cahyana bersiap untuk pulang, dia tidak memancing karena tidak membawa kail dan umpan.
Sebuah lagu yang begitu saja lewat di pikirannya,
Masih terasa hangatnya malam pengantin
Masih teringat ikrar setia pengantin
Tapi di hatiku, hadir cinta lain
Cinta seorang gadis, hai, si Cincin Putih
Kusadari semua kenyataan ini
Takkan mungkin aku mudah melepaskannya
Walau berat hati menduakan istri
Tapi berat pula berpisah dengannya
Kar'na Cincin Putih tulus pula cintanya
Cincin Putih, Sayang, tak menyesalkah engkau
Membukakan hatimu, mencurahkan cintamu
Padaku, seorang lelaki yang t'lah beristri?
Cincin Putih, Sayang, apakah cinta ini
Mampu untuk bertahan atau hancur perlahan
Dan hanya menjadi kisah cinta satu malam?
Memang kuakui, di antara kita jelas berbeda
Epilog
benarkah dia tulus pada ku? walau dia tidak pernah menghubungi ku terlebih dahulu, dia terlihat cuek, tapi aku merasa Oriza menyayangiku.
Akhirnya Cahyana pun tertidur dengan lelap, tidur dengan tenang setelah tadi mengobrol dengan Oriza dan Oriza tidak marah kepadanya.
Beberapa minggu kemudian, Di pagi yang cerah matahari bersinar dengan ceria Cahyana mendapat kabar dari pak satpam
yang bertugas menjaga keamanan di tempat Cahyana berkerja. Benar, dia seorang Garda terdepan di sekolah.
Cahyana tampak terkejut dengan pesan yang dia baca, sebuah pesan yang belum di yakini kebenarannya dari pak satpam.
Pesan yang membuat hatinya begitu sakit terasa di cabik-cabik, kecewa, marah bercampur jadi satu.
[Apa bapak punya bukti?]. Cahyana berusaha meyakinkan hatinya bahwa ini hanya sebuah isu belaka.
Apakah benar informasi yang aku terima ini?
[Bukan hanya bukti, bahkan banyak saksi]. Dduuaarr
Lemas, hancur sudah pertahanan Cahyana. Dada nya kembang kempis menahan amarah yang bergejolak, tangannya terkepal menahan segala umpatan yang ingin dia lontarkan.
[Dimana?]. Pesan terkirim kepada Dina namun sama sekali tidak ada jawaban.
[Tunggu aku, sebentar lagi aku berangkat menuju sekolah]. Segera Cahyana mengirim pesan kepada pak satpam.
[Baik pak Iyan].
Setelah turun dari angkot, dengan langkah tergesa Cahyana menyeberang jalan dan menghampiri pak satpam.
"Mana bukti itu?". Mata Cahyana sudah memerah menahan amarah
Pak satpam menyerahkan ponsel nya kepada Cahyana dan memutar sebuah Video.
__ADS_1
Betapa panas nya hati Cahyana melihat video tersebut, karena video itu adalah.......
...****************...