
"Aku nyebrang dulu yaaa". Seru Oriza.
Cahyana hanya mengangguk. Melihat pemandangan Oriza bersama laki-laki lain sungguh rasa nya sakit
sekali, menunggu sampai punggung Oriza dan lelaki itu tidak terlihat lagi, lalu Cahyana pun beranjak pergi.
Berlalu dan kembali kesekolah, Cahyana pun memasuki kantornyaa. Sambil bersandar pada kursi yang dia duduki, Cahyana memijat kening yang terasa berdenyut.
Mengingat-ingat wajah lelaki yang bersama Oriza tadi, rupanya laki-laki tersebut bukan salah satu siswa atau alumni di SMK XX tersebut.
[Siapa dia?]. Cahyana masih bertanya-tanya. Akhir nya dia memutuskan untuk mengirim pesan kepada Oriza.
[Siapa lelaki itu?]. Namun tiada balasan.
Pikiran Cahyana sudah kalang kabut, hatinya tidak karuan.
Sedang apa Oriza bersama laki-laki itu?. Cahyana membatin.
[Pulang jam berapa?]. Lagi Cahyana mengirim pesan namun tiada balasan.
[Pulangnya jangan terlalu sore yaa]. Pesan terakhir yang Cahyana kirim kepada Oriza sebelum akhir nya Cahyana duduk gelisah
tidak bisa diam, mimikirkan segala kemungkinan yang terjadi antara Oriza dan laki-laki itu.
Ingin rasanya tugas mengajar nya cepat selesai lalu pulang dan menghubungi Oriza.
Epilog...
Setelah menyebrang jalan laki-laki itu membawa Oriza ke rumahnya.
"Assalamu'alaikum Bi". Salam Oriza sambil mencium punggung tangan kanan sang Bibi.
"Wa alaikumsalam, eh Za baru pulang?". Bi Rose menyambut Oriza dengan hangat.
Bi Rose adalah adik dari ibunya Oriza, Oriza memang begitu dekat dengan keluarga sang ibu.
"Hayuk makan dulu?". Redi anak Bi Rose mangajak Oriza untuk makan.
Usia Redi dua tahun di bawah Oriza, tapi mereka cukup dekat.
"Tidak, aku masih kenyang". Tolak Oriza secara halus.
"Tadi di antar siapa?". Redi menahan tawa.
"Guruku di sekolah". Jawab Oriza dengan suara datar
"Kamu pacaran sama guru?". Lagi Redi menggoda Oriza.
"Enak saja!". Oriza memukul Redi pelan
Hahaha syukurlah jika dia bukan pacar mu, terlihat tua sekali.
"Aku ada wisata dari sekolah, kamu ikut yaa temani aku". Oriza
Redi tampak berfikir, "Gratis?". Redi
__ADS_1
"Bayarlahh".
"Sepertinya aku tidak akan ikut".
"Kenapa?".
"Nggak ada duit, Hahahah".
Tidak lama Oriza pun pamit pulang setelah obrolan basa-basi nya dengan Redi dan Bi Rose.
Maaf aku tidak bisa menemani.
Redi pun kembali mengantar Oriza sampai Oriza naik angkot.
[Apakah hari ini pulang telat lagi]. Sebuah pesan Dina kirimkan untuk Cahyana.
[Tidak... Hari ini langsung pulang]. Tidak sadar, pesan balasan dari Cahyana membuat Dina tersenyum.
Sebenarnya Dina sudah tidak ingin menghubungi Cahyana, tetapi dirinya tidak bisa jika harus bersikap tidak peduli.
Karena tidak bisa di pungkiri, jauh di dalam lubuk hati Dina masih ada rasa sayangnya untuk Cahyana.
Sore hari, ketika temaram senja
sudah mulai datang. Di ufuk sana bahkan sudah merona warna orange tanda
matahari akan tidur di peraduannya. Cahyana pun sudah selesai dengan aktifitasnya di sekolah. Sedikit mengemasi barang-barang yang akan di bawa pulang,
Cahyana pun lalu berjalan keluar kantor menuju gerbang utama dan menunggu angkot arah pulang.
[Memangnya mau kemana?]. Dina menjawab pesan dari Cahyana dengan sedikit bingung.
[Ke pasar malam]. Kebetulan tidak jauh dari rumah Cahyana ada sebuah pasar malam yang bertempatkan di sebuah lapangan desa.
Sengaja Cahyana mengajak Dina, istri dan ketiga anaknya untuk bermain sebentar ke pasar malam.
Sebenarnya Cahyana hanya ingin mengajak anak-anak nya saja, namun ketiga anaknya itu tidak bisa keluar rumah tanpa Mamanya.
[Sebentar lagi aku sampai]. Tidak lupa Cahyana pun mengabari kepada Dina.
[Iya, setelah sampai makanlah dulu sambil menunggu anak-anak bersiap]. Sebenarnya Dina telah selesai
bersiap, hanya anak-anak yang belum. Terkadang Dina kewalahan mengurus ke tiga anaknya, yang masih kecil-kecil dan sedang aktif-aktifnya.
[Baiklah]. Cahyana hanya membalas singkat.
Tiba di rumah, Cahyana di sambut oleh sang istri. Setelah Dina mencium punggung tangan Cahyana dengan
takzim, Cahyana pun memberikan tas nya kepada Dina dan mulai membuka sepatunya.
Setelah selesai, Cahyana pun masuk ke rumah di sambut dengan suka cita ketiga anaknya, Annisa, Use dan Nazwa. Mereka bertiga memeluk Cahyana dengan perasaan bahagia.
"Ayah, Mama bilang kita mau ke pasar malam yaa?". Use anak kedua Cahyana bertanya.
"Iya, tapi tunggu ayah bersiap dulu yaa". Jawab Cahyana berlalu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
__ADS_1
"Ini nasinya. Makanlah dulu!". Seru Dina Sambil memberikan nasi kepada Cahyana beserta lauk pauknya setelah Cahyana bersiap.
Cahyana pun menangguk. Sambil meneguk segelas air bening untuk menyegarkan tenggorokkannya, dia pun mulai memakan nasi serta lauk pauk yang Dina berikan.
"Ayo anak-anak, sambil menunggu ayah makan. Kita bersiap dulu". Dina mengajak ketiga anaknya bersiap dan berganti baju.
"Horee..... Ayo mah". Jawab Annisa, dan Use dengan serempak.
Sedangkan Nazwa hanya bisa bertepuk tangan dengan semangat karena memang Nazwa belum bisa berbicara.
"Aku selesai. Sini aku bantu anak-anak bersiap". Cahyana membantu Use dan Annisa untuk bersiap sedang Dina menyiapkan Nazwa anak bungsu nya.
"Ayo anak-anak, sudah siap". Tanya Cahyana kepada ketiga anaknya sambil mengangkat tangan kanan ke atas dan telapak tangan terkepal.
"Yeay..... Ayoooooooo". Annisa dan Use melompat dengan riang gembira, sementata Nazwa sudah berada dalam gendongan Cahyana.
Berjalan keluar rumah menyusuri sebuah gang karena memang lokasi pasar malam yang tidak terlalu jauh, berjalan kaki menjadi salah satu alternatif menuju pasar malam.
Siapapun yang melihat meraka pasti berfikir sama, bahwa mereka keluarga yang lengkap dan bahagia. Namun siapa sangka bahwa Cahyana mempunyai duri untuk rumah tangganya.
Ketika sampai di pasar malam, riuh terdengar suara dari orang-orang yang sedang menaiki beberapa wahana permainan.
Ada beberapa wahana permainan di pasar malam tersebut, diantaranya bianglala, kora-kora, ombak banyu dan masih banyak lagi.
Tidak hanya wahana permainan. Biasanya, pasar malam juga menyediakan berbagai macam barang dagangan, seperti produk-produk pakaian,
kerajinan tangan, produk jasa, elektronik, dan sebagainya. Selain itu, ada juga berbagai macam jajanan atau
kuliner, serta hiburan seperti pertunjukan musik, dan pagelaran seni.
Sebenarnya pasar malam tidak jauh berbeda dengan mall. Pasar malam juga menyediakan berbagai hiburan bagi masyarakat, khususnya pada malam hari.
Pasar malam merupakan tempat alternatif bagi masyarakat yang ingin memperoleh hiburan bersama keluarga, kerabat, atau teman-teman.Tak terkecuali Cahyana.
Tujuan Cahyana yang sebenarnya bukan hanya untuk memberi hiburan kepada istri dan ketiga anaknya, tapi juga supaya Cahyana sedikit melupakan kejadian tadi siang tentang Oriza.
Sungguh jika mengingat lagi tadi siang Oriza pergi bersama laki-laki lain hatinya begitu sakit, padahal Cahyana pun punya anak dan istri yang begitu sayang dan bergantung pada Cahyana.
"Ayah aku mau naik itu". Annisa menunjuk biang lala, dia ingin menaikinya.
Wahana berbentuk seperti kincir besar yang menyerupai sangkar burung untuk tempat duduknya itu membuat Annisa penasaran.
"Ayah.... ". Annisa dan Use sedikit berteriak sambil menarik ujung baju Cahyana. Karena tidak ada respon dari Cahyana.
"Ah iya apa?". Cahyana sedikit tersentak merasa ada yang menarik ujung bajunya.
"Aku dan kakak ingin naik itu ayah". Kali ini Use yang bersuara sambil menunjuk wahana permainan biang lala.
"Boleh". Cahyana merogoh uang yang terdapat di dalam saku celana, dia memberikan beberapa uang berwarna coklat kepada Dina untuk membeli tiga tiket.
Ya, sengaja Cahyana memberi uang untuk tiga tiket. Karena Dina akan ikut bersama Annisa dan Use untuk menaiki biang lala,
tidak tega rasanya jika hanya Annisa dan Use saja yang naik, takut terjadi sesuatu yang tidak di inginkan. Jika Dina ikut naik setidaknya ada yang menjaga Annisa dan Use.
...****************...
__ADS_1