Kehidupan Manis Setelah Patah Hati

Kehidupan Manis Setelah Patah Hati
Terkejut


__ADS_3

Sementara itu di rumah, hati dan pikiran Dina tidak tenang, sebenarnya Dina pun masih bertanya-tanya siapa gadis yang berbalas pesan dengan Cahyana.


Sebenarnya Dina orangnya lurus-lurus saja. Namun entah mengapa malam itu saat dia terbangun dari tidurnya,,


rasanya penasaran sekali. Entah dorongan dari mana tiba-tiba Dina ingin membuka ponsel suaminya. Suami yang sudah hampir lima tahun ini membersamai nya.


Membaca pesan demi pesan yang ada, sakit tapi tidak berdarah. Terluka hatinya merasa di hianati oleh Cahyana.


Lalu Dina menulis kata-kata di ponsel Cahyana, sebuah lirik lagu yang sedikit banyak mengungkapkan perasaan kepada Cahyana.


Kata-kata yang Dina tulis itu dia simpan di draf pesan, entah kapan Cahyana akan membacanya Dina pun tidak tau.


Namun Dina memutuskan untuk tetap menanyakannya kepada Cahyana.


Dina ingin tahu, alasan apa yang akan di pakai oleh Cahyana. Atau bis jadi Cahyana malah mengakuinya.


Hari sudah sore, itu artinya sudah saatnya Cahyana pulang dari tempatnya mencari nafkah.


Dina pun segera bersiap menyiapkan makan untuk Cahyana seperti biasa. Tidak lupa Dina pun menyiapkan pertanyaan untuk Cahyana.


Tidak berselang lama Cahyana datang. Mandi dan makan telah selesai.


Ini saatnya aku bicara kepadanya.


"Kamu selingkuh?". Dina bertanya saat Cahyana sedang membuat umpan untuk memancing.


"Jangan asal bicara". Cahyana berusaha menyembunyikan rasa kaget takut Dina melihatnya.


"Aku melihat ayah berbalas pesan dengan wanita". Dina berbicara terus terang.


"Wanita yang mana?". Berkerut kening Cahyana mendengar pertanyaan dari Dina.


"Salah satu siswi di sekolah tempat ayah bekerja".


Deg aku harus jawab apa? Aku lupa menghapus pesan semalam. Gumam Cahyana


"Ayah mau ke kolam pemancingan dulu ada janji, Use mau ikut ayah


tidak?" Mencoba mengalihkan pembahasan kali ini, semoga saja Dina tidak membahasnya lagi.


Seperti biasa jika Cahyana bicara dengan istrinya selalu dengan nada lembut. Aneh nya, belum juga aku mendekati


wanita yang telah menarik perhatianku tapi istriku sudah berkata seperti itu. Entah itu hanya sekedar firasat seorang istri atau dia benar-benar tahu.


Aku jadi pusing sendiri memikirkannya.


"Desi, dia bilang pada ku kalau kamu sedang mendekati salah satu murid seangkatan


dengannya". Tatapan dia sungguh seperti tatapan yang sedang mengintimidasi.


Cahyana terbelalak, mengapa aku sampai lupa kalau dia punya adik seangkatan dengan Oriza.


Mereka hanya beda kelas. Namun gosip-gosip seperti ini memang mudah sekali menyebar, seperti kutu yang cepat sekali berkembang biak.


"Jangan berpikir macam-macam itu hanya gurauan". Cahyana masih berusaha mengelak, berharap Dina percaya kepada nya.


"Jangan sampai aku menemukan bukti!". Dina berlalu mengurusi anak Cahyana yang ke tiga.

__ADS_1


*Tunggu. Kok aku tidak melihat tangis di matanya yaa saat tadi dia bertanya seperti itu. Biasanya kan


wanita mudah sekali menangis jika ada suatu hal yang tidak sesuai dengan perasaan nya*.


Tapi Cahyana pun tidak bisa bohong pada hatinya sendiri, setiap Cahyana melihat Oriza rasa nya bahagia sekali. Seperti bunga-bunga di taman yang bermekaran, rasa ini tampak begitu indah.


Cahyana tidak tahu saja, semenjak Dina mengetahui isu itu Dina sering menangjs sendirian. Mau itu malam hari, atau saat Cahyana tidak ada di rumah.


Use adalah anak Cahyana, anak yang ke dua dan yang paling dekat Cahyana. Use anak laki-laki satu-satunya yang paling Cahyana sayang, Use adalah kekuatan untuk Cahyana.


[Apakah ada yang sms sama Oriza dari nomor ini?]. Cahyana takut Dina istrinya menghubungi Oriza.


[Tidak ada]. Cahyana menghembuskan nafas lega.


[Kenapa memangnya?]. Lagi Oriza mengirim pesan.


Oriza pun tidak memberi tahu apapun kepada Cahyana.


[Tidak apa-apa]. Tidak ada lagi balasan.


Sore itu Cahyana meneruskan memancing bersama Use anaknya setelah berkirim pesan dengan Oriza.


Ini adalah kesempatan bagi Cahyana bisa bermain bersama anaknya, sangat jarang Cahyana melewatkan momen seperti ini.


Apalagi bermain dengan anaknya yang ke tiga, Nazwa. Karena Nazwa masih berusia empat belas bulan dan masih meng-asi pada mamanya.


***


Pagi tadi tanpa sepengetahuan Cahyana, Dina datang ke SMK XX untuk menemui Seseorang.


Dina menemui seorang wanita setelah di beritahu kebenaran oleh adiknya, Desi.


Ingin bertemu? Siapa?


"Siapa?". Oriza penasaran


"Tidak tahu. Dia menunggu mu di dekat gerbang".


"Baiklah. Kamu bisa mengantarku?".


Desi pun mengangguk dan mereka berjalan beriringan menuju gerbang.


Dari kejauhan Oriza melihat satu-satunya wanita sedang duduk di bangku panjang.


Siapa dia?


Oriza mencoba menghampiri wanita itu.


"Assalamu'alaikum". Oriza menyapanya terlebih dahulu dan mencium punggung tangan kanan wanita itu.


"Wa alaikumsalam, Oriza?".


Dia tahu namaku dari mana?


"Iya, Maaf teteh siapa?".


"Saya Dina istrinya pak Iyan?".

__ADS_1


Pak Iyan siapa? Kedua alis Oriza berkerut.


"Cahyana". Dina menjawab dengan nama jelas


Apa! Dia istrinya.


Oriza tersenyum sambil mengangguk dengan santainya.


"Ada yang bisa saya bantu teh?".


Memalukan di labrak sama istri sah, ahahah.


"Tolong Jauhin Cahyana yaa. Sebelum terlalu jauh". Dina mulai bersua.


Maksudnya apa sih.


"Kalau ada apa-apa kan kasihan anak-anak, kami mempunyai tiga orang anak yang masih kecil-kecil".


Hah! Tiga orang anak? Bodohnya aku yang tidak pernah mencari tahu.


"Kalau ada apa-apa? Maksudnya?". Oriza mencoba mengurai pernyataan Dina.


"Jangan berhubungan lagi dengan Cahyana".


Berhubungan? Ahaha aku ingin tertawa di depan wajah nya.


"Aku bahkan tidak ada hubungan apa pun dengan Pak Iyan".


"Tapi kenapa kalian berbalas pesan?".


"Selama ini yang aku lihat pak Iyan seperti seorang pemuda yang baru mencari cinta.


Aku bahkan tidak tahu kalau pak Iyan punya anak istri". Oriza sedikit menjelaskan


"Aku mohon maaf jika ketidaktahuan ku ini mengganggu ketenangan hati dan rumah tangga Teteh". Oriza.


"Jadi Iyan tidak memberi tahu mu kalau dia sudah punya anak dan istri?. Dina tampak kaget


Berarti ini bukan sepenuhnya salah Oriza.


Oriza mengangguk pelan.


"Kalau begitu aku juga minta maaf yaa, seharusnya aku bertanya terlebih dahulu kepada Cahyana sebelum aku menemui mu.


Maaf juga telah mengganggu jam istirahat nya". Dina tersenyum dan meminta maaf dengan tulus lalu pamit.


*Rupanya ada yang tidak beres dari Cahyana. Dia sengaja menyembunyikan


jati dirinya untuk mendekati wanita*.


Oriza dan Desi pun kembali menuju kelas masing-masing.


"Apa kamu mengenal Teh Dina?". Tanya Oriza kepada Desi


"Yaa dia kakak pertamaku".


"Benarkah?". Tapi wajah kalian tidak ada mirip-miripnya, begitu kira-kira maksud pertanyaan Oriza.

__ADS_1


"Kami satu bapak beda Ibu". Seolah paham dengan pertanyaan Oriza, Desi pun menjawabnya dengan lugas.


...****************...


__ADS_2