Kehidupan Manis Setelah Patah Hati

Kehidupan Manis Setelah Patah Hati
Bimbang


__ADS_3

Setelah kejadian talak cerainya kepada Dina, Cahyana jadi lebih sering membawa Oriza berkumpul dengan


keluarganya. Syukur keluarga Cahyana pun menerima Oriza dengan tangan terbuka.


"Maukah menjadi kekasih Aa". Cahyana menatap Oriza dengan penuh harap.


Hah! Apa? Aku tidak salah dengarkan.


Pertanyaan Cahyana tersebut di saksikan langsung oleh kedua orang tua Cahyana, kakak serta adik bungsu Cahyana di dalam rumah orang tuanya.


Oriza menggeleng sambil menunduk.


"Kenapa?". Tanya Cahyana kecewa.


"Aa kan punya istri". Cahyana tersenyum, ini pertama kalinya Oriza


menyebut nya dengan panggilan Aa. Cahyana menghela nafas nya pelan mendengar jawaban Oriza.


"Aa sudah men-talaknya, kita sudah cerai". Pandangan Oriza beralih kepada Orang tua Cahyana, dan orang tua Cahyana pun mengangguk seolah mengatakan bahwa yang di katakan Cahyana benar adanya.


Oriza hanya terdiam.


Apakah aku harus senang atau sedih mendengar semua berita ini. Oriza


"Aa dan Dina tinggal menunggu sidang". Cahyana mencoba terus meyakinkan Oriza.


"Selesaikanlah dulu". Cahyana tersenyum sambil mengangguk.


Apa itu artinya Oriza akan menerimaku? Yes.


Setelah pembicaraan itu, semua yang ada di rumah Cahyana hanya mengobrol basa-basi. Membicarakan tentang waku


panen sawah yang orang tua Cahyana urus, sebuah bangunan cukup besar yang biasa di pakai olah raga oleh para warga sedang dalam perbaikan dan lain-lain.


Setelah cukup berbasa-basi, Cahyana dan Oriza pamit. Mereka berjalan keluar menuju sebuah bale dekat dapur tungku.


"Apakah dengan jawaban Oriza tadi, itu artinya adalah Iya". Cahyana memastikan dan Oriza hanya tersenyum.


Semoga keputusanku tidak salah.


Beberapa bulan berlalu, dan akta cerai pun sudah ada di tangan Cahyana.


Dengan senang hati Cahyana menunjukan nya kepada Oriza.


"Lihat apa yang akan Aa tunjukkan kepada Oriza". Dengan antusias Cahyana masuk kedalam rumah nya untuk mengambil sesuatu.


Oriza menerima akta cerai tersebut lalu membacanya.


"Apakah ini artinya?" Oriza tidak menyelesaikan kalimatnya.


Namun seakan Cahyana tahu apa yang akan di katakan oleh Oriza, Cahyana hanya tersenyum dan mengangguk.


"Iya Aa dan Dina telah selesai, secara agama maupun negara". Cahyana meyakinkan Oriza.


Oriza tersenyum.


"Tapi Aa izin untuk tetap memperjuangkan anak-anak Aa" Cahyana menunduk.


"Iya". Cahyana mendongak melihat ke arah Oriza dan mengucapkan terimakasih.


***


Semakin hari hubungan Cahyana dengan Oriza semakin dekat.

__ADS_1


Cahyana pun tidak pernah menyimpan uang lagi di kantin untuk uang jajan Oriza, karena Cahyana sudah memberikan uang itu secara langsung kepada Oriza.


[Pulang sekolah aku mau ke rumah teman]. Tiba-tiba pesan masuk dari Oriza, ini pertama kalinya Oriza menghubungi Cahyana.


[Mau Aa antar?]. Sebenarnya ada rasa cemburu di hati Cahyana yang berusaha dia redam.


[Tidak usah, aku tidak akan lama].


[Baiklah]. Akhirnya hanya itu yang bisa Cahyana ucapakan.


Sebenarnya Cahyana begitu khawatir Oriza dekat dengan laki-laki lain, dia begitu takut untuk kehilangan lagi.


***


Pulang sekolah Oriza datang ke rumah Bi Rose untuk menemui Redi.


Redi pun termasuk salah seorang yang sering mendengar cerita Oriza. Jarang sekali Oriza bicara kepada teman perempuan nyaa.


"Eh jam segini sudah di sini aja". Redi tampak kaget tiba-tiba Oriza ada di rumah.


" Sudaaahhh jangan banyak tanya. Ayo duduk". Oriza


"Haha ada apa? seperti ada yang penting saja". Ejek Redi


"Heh jangan bilang tapi ya". Oriza berbisik sambil melihat Bi Rose yang ada di dapur.


"Apa?". Redi heran


"Ada duda anak tiga mau dengan ku, haha". Oriza menyandarkan punggungnya.


"Apa?". Tanpa sadar Redi berteriak.


"Suuuuttt, jangan teriak". Oriza memukul pundak Redi pelan.


"Bagaimana menurut mu?". Oriza tampak serius menatap Redi.


"Kalau aku boleh kasih saran, sebaiknya kamu carilah yang lajang saja".


"Kenapa?".


"Kamu ini sekolah juga belum selesai sudah memikirkan duda beserta anak nya".


"Ahahah, baiklah aku pulang dulu. Terimakasih saran mu".


"Bi aku pulang dulu". Oriza pamit kepada Bi Rose dan mencium punggung tangannya.


"Hati-hati di jalan Za". Ucap Bi Rose lembut


"Ayo antar aku sampai aku naik angkot". Ucap Oriza kepada Redi


"Huh". Redi bangun dari duduk nya dan menyusul Oriza


Ini anak tadi datang sendiri, sekarang pulang mau di antar. Dasar bocah,..


Epilog


[Sudah pulang]. Sore setelah Cahyana selesai mengajar dia mengirim pesan kepada Oriza.


[Sudah].


[Syukurlah].


Cahyana menarik nafas lega, sesuai dengan dengan apa yang di katakan Oriza, dia tidak lama.

__ADS_1


[Baiklah Aa bersiap untuk pulang].


[Iya].


Cahyana langsung membereskan kantor nya setelah mendapat jawaban dari Oriza. Sampai Cahyana tiba di rumah pun tidak ada lagi obrolan antara Cahyana dan Oriza.


[Sudah tidur?]. Cahyana mencoba kembali mengirim pesan namun tidak ada balasan.


[Oriza].-


Akhirnya Cahyana pun menelpon Orisa namun tidak di angkat.


***


Cuaca cerah matahari bersinar.


Cahyana mencoba menghubungi Oriza lewat telpon.


"Sudah berangkat?".


"Sudah".


"Sudah sampai mana?".


"Pertigaan". Cahyana tersenyum, itu artinya sebentar lagi Oriza sampai.


"Ohiya, semalam apakah sudah tidur? Aa telpon tapi tidak di angkat". Sebenarnya hanya basa-basi saja bertanya agar Oriza tidak jenuh di dalam angkot.


"Belum. Semalam aku mengerjakan tugas kerajinan tangan. Tidak tahu ada telpon karena ponsel nya silent dan sedang di charge".


Cahyana tersenyum di balik telpon nya, dia senang Oriza sudah mulai banyak bicara kepada nya, dan mulai terbuka.


"Sebentar lagu aku sampai".


"Baiklah Aa tunggu".


Seperti biasa Cahyana selalu menunggu kedatangan Oriza di depan pintu kantor nya, sambil sesekali berbincang


dengan siswa-siswi yang lain agar tidak ada yang curiga kalau sebenarnya Cahyana sedang menunggu Oriza.


Dari pintu kantor, Cahyana melihat Oriza turun dari angkot lalu memasuki gerbang. Cahyana dan Oriza hanya tersenyum ketika mereka berpapasan dan Oriza berlalu menuju kelasnya.


Teng... Teng... Teng...


Setelah bel masuk berbunyi, Cahyana meminta tolong kepada salah satu siswa untuk memanggil seorang siswi ke kantor nya.


Tidak berselang lama siswi itu pun datang untuk memenuhi panggilan Cahyana. Siswi itu masuk dan duduk setelah Cahyana mempersilahkan nya.


"Apa kau tahu, dimana kakakmu berada?". Cahyana melihat siswi di depannya dengan tatapan megintimidasi.


"Dia ada di kota XX bersama ibu". Cahyana menarik nafas lega.


"Tapi tidak dengan anak-anak".


"Ma-maksudnya?". Cahyana belum bisa mencerna apa yang di katakan siswi tersebut.


Desi, adik dari Dina


Saat ini hanya dia yang bisa di mintai informasi tentang Dina dan keberadaan ke tiga anaknya.


"Annisa dan Use di kirim ke panti asuhan, sedangkan Nazwa ada bersama ibu". Seakan ada yang mencekik Cahyana, nafasnya tiba-tiba sesak.


"Apa ada nomor yang bisa aku hubungi?". Desi hanya menggeleng.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2