Kehidupan Manis Setelah Patah Hati

Kehidupan Manis Setelah Patah Hati
Rencana Dina


__ADS_3

Di suatu hari ketika


sedang jam istirahat, Cahyana melihat Oriza dan teman-temannya sedang berkumpul di depan kelas.


Mereka sedang asik mengobrol sambil duduk di bangku panjang yang telah di sediakan oleh pihak sekolah.


[Lagi apa? Seperti nya seru]. Ketika sesaat pesan itu telah di kirim kepada Oriza, Cahyana melihat Oriza yang berada di lantai dua membuka ponsel nya.


Terlihat Oriza hanya melihat sekilas pada layar ponsel nya, tanpa membalas pesan dari Cahyana.


Kenapa? Kenapa dia selalu menghubungi ku si.


[Sini ngobrolnya di bawah sama Aa]. Terlihat Oriza membuka lagi ponselnya namun tidak ada balasan pesan kepada Cahyana.


Kenapa dia tidak membalas pesan dariku?


Tidak berapa lama terlihat dari arah tangga Oriza dan Syifa teman nya berjalan menuju ruang guru sambil membawa beberapa buku di tangan.


Mereka mencari ibu Lia, seorang guru akuntansi dan menyimpan buku yang mereka bawa di atas meja bu Lia.


Entah karena kebetulan atau tidak, Syifa temannya Oriza itu malah ngobrol dengan Cahyana. Oriza tampak diam saja tidak bersuara, dia hanya menyimak obrolan kami.


"Pulang sekolah ada acara tidak". Cahyana mencoba memulai pembicaraan.


"Kenapa memangnya?".


"Katanya si Teteh ingin bertemu".


Teteh adalah panggilan Oriza kepada Dina, Dina bilang agar lebih akrab panggil saja teteh.


"Tadinya mau ke rumah teman".


" Teman? Yang rumah nya di belakang lapang dekat padepokan itu?". Tanya Cahyana penasaran dan Oriza hanya mengangguk.


Sebenarnya dia itu siapamu Oriza? Seperti ada daging yang terbakar di dalam dadanya.


Apakah ini perasaan cemburu. Guman Cahyana


"Kasian Teteh dan Nazwa menunggu". Cahyana mencoba beralasan agar Oriza tidak jadi ke rumah temannya itu, dan tidak bertemu dengan laki-laki yang d jumpai nya tempo hari.


"Hhheeeemmmm baiklah". Cahyana sedikit tersenyum, lebih tepat nya senyum kemenangan.


Memangnya ada perlu apa si istri nya sampai ingin bertemu segala?


Teng... Teng... Teng...


Bel masuk pun berbunyi tanda jam istirahat telah usai, Oriza dan Syifa pun pamit dan meninggalkan Cahyana . Berlalu menuju tangga yang ada di samping ruang guru.


***


Setelah kejadian tempo hari saat Cahyana membawa Oriza dan mengenalkan nya kepada Dina, dan Dina menangis sejadinya ketika Cahyana mengantar Oriza pulang.


Akhirnya Dina mengatur strategi baru untuk memisahkan Cahyana dan Oriza.


Suatu malam saat Cahyana sedang bersantai di bale, Tiba-tiba Dina menghampiri Cahyana dan memeluk lengan Cahyana.


"Ayah".


"Hhheeemmm". Cahyana sedikit melirik pada Dina.


"Aku ingin". Dahi Cahyana mengernyit.


Aneh, jarang sekali Dina meminta.


Pasalnya jika Cahyana yang meminta karena dia ingin pun, terkadang Dina menolak nya. Bahkan pernah

__ADS_1


Cahyana di tendang oleh Dina karena Cahyana sedikit memaksa.


Itu sebabnya Cahyana jadi jarang sekali memintanya karena takut di tolak dan sakit hati.


Bukan, bukan karena Cahyana tidak berselera hanya saja dia menjaga hati agar tidak mengumpat.


"Anak-anak sudah tidur?". Berharap jawabannya adalah belum.


"Sudah. Mereka sudah tidur dengan lelap". Tidak ada lagi alasan untuk Cahyana menolak.


Hah baiklah. Cahyana sedikit malas.


Dina menarik tangan Cahyana untuk masuk ke dalam kamar Solihin yang berada di dekat dapur tungku.


Kamar Solihin tidak pernah di kunci, dan Solihin pun memang jarang berada di rumah. Paling dia sedang nongkrong bersama teman-teman nya dan pulang larut malam.


Semoga rencana malam ini berhasil. Dina


Jadilah Cahyana dan Dina melakukan ritual suami istri di kamar Solihin dengan menggebu, karena tidak akan mengganggu anak-anak nya yang sedang tidur.


Kenapa dia begitu bersemangat? Cahyana


Cahyana merasa ada yang aneh, Dina yang memulai bahkan mencumbu Cahyana dengan caranya, hingga Dina membuat tanda merah di leher Cahyana.


Cahyana hanya meladeni sekedarnya saja, tadinya dia ingin menolak namun karena Cahyana masih menjaga perasaan Dina jadi Cahyana menuruti saja apa maunya.


Dina meminta sambil berbisik di telinga Cahyana, dia ingin Cahyana pun membuat tanda merah di leher Dina.


Sebelum akhirnya Cahyana mencapai puncak dan menyelesaikan tugasnya. Cahyana tidak sempat berfikir, dia menuruti saja ke inginan Dina malam itu.


Cahyana pun segera menarik diri dan pergi ke kamar mandi sesaat setelah dia selesai memenuhi kewajibannya. Dina pun tersenyum dengan penuh kemenangan, senyum yang tidak dapat di artikan.


Kita lihat, bagaimana respon Oriza besok.


Dina memakai kembali pakaiannya dan pergi ke kamar mandi lalu menyusul Cahyana yang sudah berada di rumah.


"Ayah".


"Hhheeemmmm".


"Bolehkah besok aku bertemu dengan Neng". Neng adalah panggilan Dina kepada Oriza.


Ada angin apa tiba-tiba Dina ingin bertemu dengan Oriza?


"Dia kan sekolah".


"Aku bisa menunggu nya saat Neng pulang sekolah".


"Baiklah aku akan coba bicara dengan Oriza".


Dia tidak sedang merencanakan sesuatu kan?


"Iya".


"Tapi aku tidak janji". Dina hanya mengangguk. Tidak berapa lama mereka terlelap, tenggelam dalam mimpi masing-masing.


***


[Aku di rumah mamah]. Dinaa pengirim pesan kepada Cahyana.


[Kenapa].


[Agar Neng tidak jauh menemuiku di sini].


[Heeemm baiklah].

__ADS_1


Rumah ibunya Dina berada di seberang jalan persis di depan gerbang sekolah SMK XX, tepatnya di sebuah rumah kontrakan petak yang berada di belakang toko bahan bangunan.


Anak-anak sudah bubaran, ada yang menuju tempat parkir untuk mengambil motornya masing-masing, atau yang berjalan menuju gerbang karena jam pulang telah tiba.


Seperti biasa, Cahyana menunggu Oriza di depan pintu kantor nya. Dari kejauhan Cahyana melihat Oriza, dengan cepat Cahyana menutup pintu kantor dan berjalan menuju gerbang utama.


Oriza sampai di hadapan Cahyana, Cahyana langsung mengajak Oriza untuk menyeberang.


Sebenarnya apa sih yang sedang mereka rencanakan?


"Kenapa tidak naik angkot?". Cahyana tersenyum.


Tumben Oriza mau Bertanya lebih dulu.


"Teteh ada di rumah ibunya". Oriza manggut. Cahyana dan Oriza lalu menyeberang.


Masuk melalui pintu gerbang toko bahan bangunan, berjalan melalui jalan kecil di samping toko hingga akhir nya sampai pada kontrakan yang di maksud oleh Cahyana.


Kontrakan yang di huni oleh ibunya Dina terletak paling ujung.


tok... tok.. tok...


"Assalamu'alaikum". Cahyana mengetuk pintu.


" Wa Alaikumsalam". Tidak berapa lama Dina membuka pintu dan keluar dengan Nazwa yang berapa dalam gendongan.


Seperti biasa Oriza mencium tangan Dina jika bertemu,


"Masuk neng". Senyum kepalsuan Dina.


"Di sini aja teh".


"Masa di luar".


"Tidak apa-apa teh, gerah". Dina hanya tersenyum.


"Sebentar yaa teteh ambilkan minum dulu".


"Iya teh terimakasih". Jawab Oriza sungkan, Cahyana hanya tersenyum menyimak.


Sepertinya mereka akur. Cahyana


Dina masuk ke dalam rumah untuk mengambil minum, Tidak lupa Dina pun mengikat rambut nya tinggi sebelum tadi rambut nya tergerai.


Semoga kamu melihat tanda kepemilikan ini, yang ada pada leher ku dan leher Cahyana.


Semoga kamu secepatnya *meninggalkan Cahyana.


Semoga tanda ini menjadi bukti, bahwa hubunganku dengan Cahyana begitu hangat bahkan dalam urusan ranjang*.


Walaupun sebenarnya rumah tangga nya mulai terasa hambar.


Beberapa gumaman Dina lontarkan, bahkan dia tersenyum getir saat mengucapkan kalimat terakhir.


Dina keluar rumah, kembali menghampiri Cahyana dan Oriza yang sedang berbincang. Seperti ada yang mencubit hati nya, sakit. Namun Dina tetap mencoba tersenyum.


Dari ekor mata, Dina melihat Oriza yang sedikit kaget. Namun sesaat kemudian Oriza minum dengan tenang.


Jadi ingin bertemu dengan ku hanya untuk pamer begitu, haha wajar kaliankan suami istri. Oriza


Di selingi obrolan yang menurut Cahyana basa-basi.


"Oriza mau pulang? sepertinya kamu lelah".Oriza hanya mengangguk, dan pamit kepada Dina.


Dina menatap kepergian Cahyana dan Oriza sampai mereka masuk ke jalan kecil. Dina menyeringai, lalu masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2