
Tiba di mini market, Annisa begitu senang melihat begitu banyak makanan dan ice cream. Makanan minuman atau ice cream yang Annisa
ambil, pasti dia ambil dua karena yang satu untuk Annisa berikan kepada Use.
Seromantis itu memang ketiga bersaudara ini, walau usia mereka masih balita namun ketiga bersaudara ini saling sayang, saling peduli, dan
saling melindungi. Annisa sengaja tidak memilihkan makanan untuk Nazwa karena takut
salah, jadi Cahyana lah yang memilah dan memilihkan cemilan untuk Nazwa.
Mengingat Oriza yang tidak akan membawa bekal cemilan dan dia hanya akan bawa
bekal nasi dari rumah, Cahyana berinisiatif membelikannya cemilan untuk Oriza.
Cukup banyak cemilan makanan ringan juga minuman yang di beli oleh Cahyana. Ada Ciki-ciki, kue wafer, susu, minuman soda, ice cream dan masih banyak lagi.
Sampai di rumah, Annisa langsung memanggil ke dua adiknya, Use dan Nazwa. Tentunya setelah barang belanjaan tadi Cahyana bayar pada kasir mini market tersebut.
"Aaasssiiikkkk". Sorak Use dan Nazwa yang berlari menuju Annisa,
walau pun Nazwa berlari dengan tertatih namun semangat nya berjalan jalan patut di acungi jempol.
Melihat kemeriahan anaknya, Dina juga menjadi penasaran. Apa saja yang tadi di beli oleh suami dan anak sulung perempuannya.
"Banyak sekali belanjanya?". Tanya Dina,
heran juga karena Cahyana dan Use hanya pergi berdua tapi sampai banyak begini makanan dan minuman yang akan di bawa.
"Ini untuk bekal Use di dalam bis nanti agar tidak kosong perut nya, juga agar Use bisa berbagi pada kakak-kakaknya".
Cahyana yang sedang sibuk mengemasi barang-barang dan makanan yang akan di bawa besok hanya menjawab pertanyaan Dina tanpa menoleh ke arahnya.
"Hhheeeemmmm". Dina mengangkat ke dua alisnya sambil menatap Cahyana.
"Ka-kalau anak kenyang dia pasti happy". Jawab Cahyana gugup menutupi kebohongannya. Dina hanya manggut-manggut.
Kita lihat saja besok. Batin Dini
"Sudah malam, ayo tidur istirahat". Cahyana mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Istirahatlah, aku tunggu anak-anak dulu". Sambil berlalu dari hadapan Cahyana, Dina pun menghampiri ke tiga anaknya.
__ADS_1
***
Subuh Cahyana telah bangun dan bersiap, mandi dan menyiapkan segala keperluannya serta barang-barang Use yang harus di bawa.
Sengaja Cahyana belum membangunkan Use, selain karena semua keperluan telah siap, jam keberangkatan pun agak siang.
Cahyana tinggal menyiapkan bajunya dan baju Use yang akan di pakai untuk berangkat serta makanan berat jaga-jaga jika nanti Use lapar di perjalanan.
"Apa semua sudah siap?". Bertanya kepada Cahyana yang sedang memilah baju,
Dina berlalu menggendong Use menuju kamar mandi setelah mendapat anggukan dari Cahyana.
Sebenarnya Cahyana ingin sekali mengabari Oriza, tapi dia takut ketahuan oleh Dina jadi Cahyana urung untuk mengontek Oriza. Biarlah, sebentar lagi juga bertemu, pikir Cahyana.
Setelah Use pun siap, Cahyana pamit kepada Dina saja karena kedua anak gadis Cahyana masih tidur dengan nyenyaknya.
Cahyana sengaja menggendong Use agar lebih cepat menuju gapura dan menunggu angkot. Beberapa saat tibalah angkot yang di tunggu-tunggu,
angkot berwarna hijau polet merah siap membelah jalan raya menuju SMK Bandung Raya dengan waktu tempuh kurang lebih lima belas menit, itu pun jika tidak terjebak macet.
***
Total semua bus ada lima yang berkapasitas banyak dan satu mini bus khusus untuk guru dan staff, satu persatu siswa siswi memasuki bus nya masing-masing. Setiap di depan bus di beri spanduk yang bertuliskan dari A hingga E,
Setiap bus ada satu panitia yang mengabsen, dan satu panitia lagi membagikan snack. Di absen sesuai tempat duduk dan kode bus, Oriza sendiri berada di bus D kursi nomor enam, kursi dempet dua sebelah kiri.
Seperti nya Oriza bingung, karena dia hanya duduk sendiri, sedangkan kursi nomor 7 belum ada yang menempati, panitia yang mengabsen pun tidak menyebutkan itu kursi siapa.
Selang beberapa saat, Cahyana yang menggendong anak kecil itu duduk di samping Oriza.
Itu anank siapa? Eh sudah pasti anaknyalah masa iya anak tetangga.
Sengaja Cahyana naik bus di detik-detik terakhir keberangkatan, karena menyiapkan hati untuk segala kemungkinan yang
terjadi nanti jika Oriza mendengar pengakuannya bahwa anak itu adalah buah hati Cahyana bersama istri nya.
Cahyana tersenyum kepada Oriza sambil menjatuhkan bobot tubuhnya pada kursi.
"kakak". Dengan riang Use memanggil Oriza dengan sebutan kakak, seolah Use pernah melihatnya.
Oriza tersenyum menanggapi sambil sedikit mengelus pipi anak itu,
__ADS_1
"Ini anak siapa? Lucu banget". Pertanyaan Oriza membuat Cahyana keringat dingin.
"An-anak ini adalah anak Aa". Oriza manggut-manggut sambil menanggapi celotehan Use.
Benarkan. Sudah ku duga. Oriza
Cahyana tampak heran dengan reaksi Oriza yang biasa saja.
Aku takut kamu menjauhiku setelah mengetahui semuanya.
Sungguh di sudut hati Cahyana, dia sangat tidak ingin jauh bahkan kehilangan Oriza. Sikap Oriza yang biasa saja malah membuat Cahyana takut diam-diam Oriza menjauhinya.
"In-ini ada cemilan buat Oriza, sengaja kemarin Aa beli untuk bekal". Cahyana memecah keheningan di antara dia dan Oriza yang tiba-tiba terasa ada jarak.
"Terimakasih". Oriza mengambil satu ciki untuk di makan bersama-sama dengan Use.
Oriza dan Use tampak akrab sekali seperti bukan kali ini saja mereka bertemu.
Sekitar pukul sepuluh pagi rombongan tour tiba di lokasi Kawah Putih, tempat pertama yang akan di kunjungi.
Semua siswa siswi turun dari bus nya masing-masing dan langsung di arahkan untuk menaiki angkot atau biasa
di sebut ontang-anting berwarna kuning yang akan membawa wisatawan menuju tempat yang di tuju yaitu Kawah Putih.
Jarak dari pintu masuk sampai dengan kawah kurang lebih sekitar lima kilo meter atau lima belas menit menggunakan kendaraan roda empat.
Tiba di pusat kawah putih ada beberapa wahana, diantaranya Kuda Tunggang, Panahan, Taman Bermain Mini, View Desk Sunan Ibu, Jembatan Apung, Jasa Fhotographer Profesional, Charge Fhoto Sesion / Preewedding, dan Charge Shooting.
Biaya wahana di pusat Kawah Putih di luar biaya yang sudah di bayarkan di awal atau di loker tiket, jika ingin menikmati wahana tersebut, bayar masing-masing.
Di sekitar Kawah Putih juga terdapat pedagang yang menjual abu belerang dan bebatuan khas Kawah Putih.
Cinderamata tersebut berkhasiat menyembuhkan penyakit kulit hingga menghilangkan jerawat.
Sebelum menuju pusat Kawah Putih harus melewati dulu beberapa anak tangga yang mengarah ke bawah, suhu di Kawah Putih ini juga cukup dingin karena memang berlokasi di pegunungan.
"Oriza, sini". Panggil Cahyana.
"Aku??".
...****************...
__ADS_1