
Seorang gadis memanggil dan mendekati Oriza, Oriza tampak terkejud ketika tahu siapa yang memanggilnya.
Dia adalah Nela,
teman dekat Oriza namun beda kelas. Tidak banyak yang tahu memang, padahal Oriza lebih dekat dengan Nela dari pda dengan Lani teman sebangkunya.
Sedetik kemudian Oriza tersenyum cerah dan keluar dari kolam untuk menghampiri gadis itu.
"Kamu sama Pak Iyan?"
Oriza hanya mengangguk dan meninggalkan Cahyana serta Use.
Siapa gadis itu?.
Cahyana menautkan alisnya seperti sedang berfikir , lalu Cahyana hanya diam saja melihat Oriza dan gadis itu berlalu dan pergi meninggalkan Cahyana yang sedang bersama Use.
Tidak berapa lama Cahyana mengajak Use untuk berhenti sesi berendam karena memang sudah cukup lama Use berada di dalam
kolam. Sebelum bilas dan mengganti pakaian, Cahyana mengajak Use untuk makan terlebih dahulu.
Memakan makanan yang Cahyana bawa dari rumah, nasi plus mie goreng Cahyana siapkan untuk makan Use.
Satu suap, dua suap namun rupanya pikiran Cahyana tidak konsen saat menyuapi Use. Hati dan pikiran nya terus saja tertuju kepada Oriza.
Pasalnya, setelah Oriza di panggil oleh gadis itu, Oriza belum juga kembali dan menghampiri Cahyana.
Setelah selesai menyuapi Use, Cahyana dan Use hanya diam menunggu Oriza dengan perasaan khawatir.
"Ayah kakak kemana?". Tak di sangka Use pun menyadari bahwa Oriza tidak ada.
"Kakak sedang mengobrol dulu sama temannya". Mendengar jawaban dari ayahnya, Use mengangguk.
Di tempat lain..
Oriza dan Nela segera bersiap dan membersihkan diri. Ada banyak pertanyaan yang ingin Nela tanyakan kepada Oriza.
"Kamu ada hubungan apa sama Iyan?". Nela bertanya tanpa menyebut pak di depan nama Cahyana.
"Tidak ada". Jawab Oriza singkat.
"Kalau tidak ada, untuk apa kamu bersama Iyan?". Lagi Nela bertanya sedikit geram.
Aku juga tidak tahu mengapa aku mengikuti pak Iyan. Oriza
"Dia yang mendekati. Lagian kamu kemana? Aku sendirian. Aku kira kamu tidak ikut". Oriza bertanya sambil mengalihkan pembicaraan.
Nela hanya menggeleng menanggapi ucapan Oriza.
Beberapa saat kemudian, Oriza datang menghampiri Cahyana sudah dalam keadaan rapih. Rupanya Oriza sudah mandi dan berganti baju.
__ADS_1
Cahyana sediki melotot karena dia sama sekali tidak menyadari bahwa tas Oriza tidak ada, Cahyana hanya menggeleng merutuki kebodohannya.
"Kenapa melihatku seperti itu?". Oriza bertanya karena melihat Cahyana yang terlihat sedang melamun.
" Hah? Ah tidak".
"Aa mau bilas, boleh titip Use sebentar?". Sebenarnya Cahyana ragu mengatakan hal itu takut Oriza keberatan.
"Pergilah, Use biar aku yang urus". Cahyana sedikit tersenyum mendengar jawaban Oriza, apakah itu artinya Oriza menerima anak dari Cahyana? Entahlah.
Cahyana pun berlalu setelah mengangguk kepada Oriza. Sebenarnya Cahyana khawatir Use kenapa-kenapa, namun dia tepis. Mana mungkin Oriza berbuat yang tidak-tidak kepada Use.
Lama Cahyana untuk bilas dan berganti baju, pasalnya ruang ganti itu cukup padat, penuh, dan antrian panjang. Lalu Cahyana memutuskan untuk bilas di kamar mandi saja, karena di sana tidak terlalu antri.
Dengan cekatan Oriza membilas Use dengan air botol mineral. Sengaja tidak ke ruang bilas,
karena Oriza tahu di sana sangat padat dengan antrian panjang, sementara Use juga nampak sudah kedinginan.
Membantu memakaikan pakaian dalam milik Use, lalu mengganti baju dengan bersih lalu menyisir rambut Use.
Tentu sebelumnya Oriza mengoleskan minyak kayu putih terlebih dahulu agar Use tidak terlalu kedinginan.
Tiba giliran Cahyana untuk masuk ke dalam kamar mandi, dia mandi bilas dan ganti baju secara cepat karena khawatir dengan Use.
Beberapa saat kemudian Cahyana telah siap dengan pakaian barunya. Keluar dari kamar mandi, Cahyana mempercepat Jalannya untuk menuju tempat dimana Use dan Oriza berada.
Saat beberapa langkah lagi akan sampai ke tempat dimana Oriza dan Use menunggu Cahyana, dia menghela nafas lega.
Sambil berjalan perlahan, dari kejauhan Cahyana melihat dua orang yang begitu akrab. Oriza dan Use sedang makan cemilan sambil mengobrol dan sesekali mereka tertawa.
"Ramai sekali". Cahyana mencoba menyapa Oriza. tetapi yang di sapa hanya mengangguk saja.
"Ayo, sebagian yang lain sudah meninggalkan tempat menuju bus". Cahyana membawa Use dalam gendongannya
dan membawa tas, tas yang satu Cahyana bawa di punggung, sedangan tas yang satunya lagi dia bawa di tangan.
beberapa siswa siswi yang telah bersiap satu persatu meninggalkan tempat menuju bus yang tadi membawa mereka masing-masing.
guru beserta panitia meninggalkan tempat paling akhir karena terlebih dahulu memastikan anak-anak tidak ada yang
tertinggal. Sebelum nantinya panitia juga mengabsen ulang setelah semua berada di dalam bus.
"Terimakasih telah mengurus Use". Cahyana menatap lalu merapihkan barang-barang nya.
"Sama-sama". Hanya itu yang di ucapkan Oriza.
"Kakak aku mau melihat jendela". Oriza dengan sigap menggendong Use dan Cahyana pun memberikan Use kepada Oriza.
Satu persatu bus keluar parkiran munuju arah pulang, Use dan Oriza asik
__ADS_1
bercerita sambil ngemil lagi makanan yang di bawa. Mungkin karena suhu dingin jadi bawaannya lapar terus.
Bus melaju dengan kecepatan sedang, karena kondisi jalan yang menurun juga keadaan jalan tidak terlalu rata.
Beberapa saat kemudian, Oriza dan Use tidak lagi bersuara. Keduanya sudah tidur cukup lelap, mungkin karena badan yang lelah dan perut yang kenyang, Oriza dan Use jadi cepat tidur.
***
"Dimana". Dina mengirim pesan
"Di sentra oleh-oleh masih di kawasan Kawah Putih". Ucap Desi.
"Kamu mengikuti mereka?". Dina bertanya lagi.
"Iya, aku berada tidak jauh dari mereka".
"Seperti nya Oriza melihatku". Desi mengirim dua pesan.
Dina duduk termenung di sebuah bale dekat dapur milik orang tua Cahyana, dapur tersebut berada di luar rumah karena menggunakan
tungku dengan bahan bakar kayu. Sedangkan rumah Cahyana dan rumah orang tuanya saling berhadapan.
Dina memikirkan lagi beberapa rencana agar Cahyana dengan Oriza tidak saling berhubungan lagi. Ya, pasalnya setelah Oriza tahu Cahyana telah memiliki anak mereka bahkan terlihat semakin dekat.
Dina mengetahui semua ini dari adiknya, Desi. Dia sengaja menyuruh Desi untuk memata matai Cahyana.
Biarkan saja, biar Oriza melihat adikku Desi agar dia mengadu pada Iyan. Agar Iyan pun menyadari bahwa aku telah mengetahui hubungan mereka.
Gumam Dini sedikit membara. Jika bisa terlihat, mungkin kini di mata Dina ada kilat api.
"Ayah sudah sampai mana". Dina menelpon Cahyana.
"Ini sedang perjalanan pulang". Cahyana menjawab dengan nada bicara sedikit pelan.
"Kenapa bicaranya berbisik". Dina merasa heran karena memang dia pun tidak mendengar suara Use.
"Use sedang tidur, kasihan dia mungkin dia lelah". Jawab Cahyana, Dina hanya mengangguk tanpa terlihat oleh Cahyana.
"Baiklah, jika sudah dekat kabari aku". Dina berpesan.
"Iya". Mereka sepakat untuk memutuskan telpon setelah selesai pembicaraan.
Cahyana berbicara sedikit berbisik karena dia takut, takut Oriza bangun atau bahkan mendengar Cahyana sedang menelpon.
Dina tidak mengetahui kalau Cahyana dengan Oriza duduk bersisian satu kursi, karena Desi beda bus dengan Oriza, jadi Desi pun tidak mengetahui hal ini.
Oriza dan Use tidur lelap sekali, hingga Oriza tidak sadar bahwa bus sudah berada di dekat gapura menuju rumahnya.
"Sudah mau sampai". Cepat Cahyana membangunkan Oriza.
__ADS_1
Oriza terjaga dari tidur nya, sedikit mengucek matanya yang perih karena masih mengantuk. Oriza pun memberikan Use yang masih lelap dalam tidurnya kepada Cahyana.
menyiapkan tasnya, Oriza lalu melangkah menuju pintu bus. Setelah dekat gapura sopir bus menghentikan bus nya dan Oriza pun turun setelah pamit kepada Cahyana.