Keinginan Sang Pengacau

Keinginan Sang Pengacau
ch. 1 " Dasar Bodoh " (Revisi)


__ADS_3

Namaku Herya Damar. Umur ku saat ini 19 tahun hemm.. Lebih tepatnya lima hari lagi umurku 20 tahun.


Kalau mengenai hobbyku, Menghabiskan waktu untuk bersantai, Makan dan jalan-jalan. Kalau beladiri itu harus, bukan hobby tapi kebutuhan yang harus di penuhi, ya begitulah.


Aku salah satu mahasiswa kampus di universitas lampung yah,, aku tak akan membahas kalau aku salah satu anak populer. Cukup!! itu membuatku setres !.


Aku keturunan belasteran antara Amerika dan Asia jadi bisa di pastikan bila rambutku berwarna kuning cerah dan bola matanku berwarna hitam.


Tentu saja kalau parasku aku cukup percaya diri untuk itu. Bisa kalian pastikan ayahku yang tampan sangat pintar mencari istri. Oke setop!!


Hobi keduaku.. Aku seorang kolektor


yang gemar mengumpulkan barang-barang yang menurutku menarik tapi tidak seperti yangku harap kan karna tidak banyak barang yang menarik mataku.


Karna itu aku masuk sebuah organisasi di mana aku akan banyak mendapatkan informasi rahasi secara cuma-cuma.


Tentu saja aku harus mengumpulkan banyak kontribusi untuk organisasi itu hingga menjadi salah satu orang kepercayaan di organisasi itu.


Singkatnya di kehidupan keduaku ini aku mendapatkan apa yang tidak pernah aku dapatkan di kehidupanku yang sebelumnya.


Contohnya seperti kasih sayang dan cinta kedua orang tuaku yang seluruhnya tumpah hanya kepadaku. Oke ini memang kekanank-kanakan membahas ini tapi aku serius ini hal yang tak pernah aku dapatkan sebelumnya. Lalu,


Kebebasan memilih dan menetukan apapun sesuai kehendakku tampa ada kekangan, malah mendapatkan dukungan yang mutlak dan banyak hal lainnya lagi.


Seperti yang aku katakan tadi aku mempunyai sesuatu yang tak di punyai orang lain yaitu, ingatan kehidupan sebelumnya.


Ingatan dari kehidupanku yang pertama yang aku bawa di kehidupan ini.


Ingatan yang paling aku ingin lupakan, aku buang, aku hilangkan tapi semakin aku mencoba melupakannya maka semakin jelas dan nan mendetail pula ingatan itu muncul. Aneh.


Apa aku membenci ingatan itu??, bukan !! tapi aku membenci kehidupanku yang sebelumnya, kenapa?? Karna betapa bodohnya aku, betapa menyedihkannya aku, bukan karna aku harus mati di tangan saudara kembarku, tapi karana aku selalu masuk perangkap mereka dan membunuh semua orang yang setia terhadapku dengan tanganku sendiri.


Dan aku berakhir mati dengan menanggung semua kebencian dari rakyatku sendiri. Fitnah bener-benar sangat keji.


Sudah lah.. Mau di pikirkan seperti apa pun tak kan ada yang berubah, itu hanyalah sebuah ingatan kebodohan di masalalu yang telah berakhir.


Itulah pikiranku malam itu saat merenungkankan tentang identitas dari diriku.


Tapi hal yang tak di sangka terjadi, waktu membawaku kembali ke masalalu... Perjalananku pun di pulai dari awal kembali... Tapi ada yang berubah... Sejak kapan dunia berubah... Apa-apaan raja iblis itu... Ini tak terjadi sebelumnya...


.


.


.


(Lima hari menjelang ulang tahun ke-20 tahun. Ruangan, kamar tidur Damar )


*K**rinnnggg krinngg*


Alaram berbunyi menunjukan tepat jam 17:00


Suara alaram memaksa Damar untuk bangun dari kasur empuknya itu, ia terduduk di atas kasurnya. Setelah kesadarannya terkumpul semua hal yang pertama ia ingat ialah Ponselnya.


Melihat pesan di dalam ponselnya menunjukan harus memakai kode rahasia untuk membukanya yang artinya itu pesan dari organisasinya.


'Akan ada pelelangan secara rahasia


di kota A gedung 5C lantai 46, terdapat barang aneh yang belum pernah di ketahui Dunia temuan dari reruntuhan kapal di dalam laut yang terbengkalai. Akan di mulai 7 hari lagi, datang lah, aku tunggu di tempat biasa'


Hemm...barang yang belum pernah di ketahui dunia, semenarik apa barang ini, pasti akan menjadi bahan rebutan. Dan akan banyak yang datang, aku harus melihatnya.


Damar pun pergi mandi dengan cepat. Hingga beberapa menit ia telah selesai bersiap ia turun kelantai satu untuk sarapan.


Kamar Damar berada di lantai dua dia sendiri yang memilihnya karna dia tidak mau terlalu lama turun kebawah bila kamarnya berada di lantai tiga atau empat, sedangkan kamar kedua orang tuanya berada di lantai tiga dan lantai empat hanya untuk kamar tamu dan tempat barang yang sudah tak terpakai.


Saat Damar menuju ke dapur ia mendapati sang ibu yang telah berada di depan meja makan untuk menunggunya.


" Sayang akhirnya kamu turun juga, ayo sini makan bersama mama, mama sudah menyiap kan makanan kesukaanmu sayang~ " Sapa ibu Damar dengan senyum hangatnya.


Damar pun membalas senyum hangat ibunya itu dengan sangat tulus " Ibu kau membuat ini semua untuk ku?? apa ini tidak terlalu banyak?? Aku tak ingin menjadi gemuk karna harus menghabiskannya!! "

__ADS_1


Gurau Damar melangkah mendekat meja makan dengan tatapan penuh gairah yang mengarah ke berbagai macam makanan yang tersedia di hadapannya itu.


" Hemm..begitukah?? kau tenang saja sayang kau akan tetap tampan bagi mamah dan papamu walau kau menjadi sangat gemuk sekalipun~~ " Jawab sang ibu santai. Berbanding kebalik dengan Damar yang merinding.


" Ibu itu bukan pujian, itu malah terdengar mengerikan " Ucap Damar tak percaya dengan pendapat sang ibunya ini.


" Mama~~ panggil mama agar terdengar lebih dekat ya..kamu ini kebiasaan loh.." Di sisi lain sang ibu malah fokus dengan cara sang anak satu-satunya itu menyebutnya, bukan pada inti pembicaraan mereka tadi.


Damar yang melihat tingkah ibunya yang sedikit merajuk karna membahas masalah yang berbeda malah tersenyum geli dan langsung menyetujui keinginan sang ibunya. Bahwa mulai sekarang ia berusaha memanggil mama bukan ibu lagi.


" ... tapi sangat tumben ib.. eh, mama tidak berangkat ke kantor, apa ada berita baik untukku mah?? " Tanya Damar yang tengah duduk di bangku sebelah ibundanya itu.


" Hemm.. kamu pengertian sekali sayang~~ "


Ucap sang ibunya dengan mencubit gemas kedua pipi Damar, sedagkan Damar sendiri sudah terbiasa hanya pasrah akan tingkah sang ibunya itu.


" Kabar gembiranya delapan bulan kedepan kamu akan mempunyai seorang adik loh~ Senengkan, bukannya mempunyai adik itu lucu... " Ungkap sang ibu bangga dan terus bercerita tentang kelucuan mempunyai sang adik dengan penuh kebanggaan.


deg..


Tubuh Damar mendadak kaku tapi hanya dua detik ingatanya melayang hingga ke tragedi kematiannya tapi seakan tak terjadi apapun setelah itu ia tersenyum sangat cerah.


" Bukan kah itu kabar yang sangat baik ib.. eh,maksudku mama " Jawab Damar dengan ukiran senyum manis di bibirnya.


Setelah itu merekapun berbincang-bincang banyak hal, cukup lama hingga tiba waktunya Damar harus berangkat kuliah.


Karna beberapa alasan Damar memilih berjalan kaki menuju kampusnya yang berjarak cukup jauh dari rumahnya walau begitu Damar sangat menikmati waktunya, walau di bisa saja menggunakan motor atau mobil karna Damar memang mempunyainya tapi entah mengapa hari ini ia ingin berjalan kaki.


Sesampainya di kampus ia di kejutkan dan harus menanggung malu karna ulang sang sahabatnya Arsal itu. Sangat tidak tau malu ia meneriaki Damar sayangku, cintaku tunggulah aku, walau Damar berusaha tak menghiraukannya atau bahkan ingin tak terlihat bahwa ia mengenal Arsal tapi naas semua tatapan orang orang tengah berjalan di lingkungan depan gerbang kapus itu telah lebih dahulu menatap Damar dengan tatapan yang menurut Damar aneh, iba dan beberapa ada yang jijik.


Malu tak tertolong itulah yang Damar rasakan saat ini. Dengan wajah jengkelnya Damar memasuki ruang kelasnya dan Arsal yang tertawa tak henti hentinya di sebelah Damar.


Di ruang kelas Damar dan Arsal mendapati sahabatnya Wisnu yang memasang wajah begitu terpukul dan Anggi yang mencoba menghibur Wisnu.


" Ada apa dengan Wisnu, Anggi " Tanya Damar melangkah duduk di sebelah Anggi.


" Haiih,, kejadian tak masuk akal terjadi. Begini ceritanya, ada kejadian aneh di sekolah adiknya Wisnu kemarin siang, kau ingat adik kembarnya Wiliam dan Wiliya itu mereka satu kelas, dan saat ini mereka kelas satu di SMK pembangunan, kejadian aneh itu adalah seluruh murid kelas yang di tempati oleh Wiliam dan Wiliya menghilang secara misterius tidak ada yang tau kenana perginya seluruh murid di kelas itu, cctv juga tidak banyak membantu ia hanya merekam cahaya kuning aneh yang menyelimuti kelas itu dan seketika ketiga puluh siswa itu menghilang begitu saja, sampai sekarang masalah itu masih di sembunyikan oleh pihak sekolah dan pihak pemerintah, hanya keluarga korban saja yang mengetahui hal ini. Sangat aneh bukan "


*T*eryata berita yang aku dapat kemarin sama persis dengan cerita Anggi,, Yang menjadi pertanyaan, kemana mereka menghilang??


Pikir Damar seris namun tiba-tiaba Arsal menceletuk dengan bangganya, menghancurkan keheningan yang tengah terjadi.


" Wah wah hebat sekali adik-adik mu Wisnu aku yakin mereka terpanggil untuk menjadi pahlawan dan bersenang-senang di sana Ckckck,, kasian sekali sang kakak yang pecundang ini hanya bisa menangis dan meratapi kepergian sang adiknya, Malang- malang.. Sungguh malang "


Arsal mendapati tatapan aneh dari semua orang yang saat ini tengah berada di dalam ruangan kelas itu karna suaranya yang melengking sangat tinggi dengan dada di busungkan dan ketidak tau maluanya yang melampaui batas.


" Eh, apa?? eh,, hoyy.. kurang ajar kau Arsal mita di di tonjok ya!! siapa yang pecundang .."


Teriak Wisnu langsung menggampit kepala Arsal yang tidak sempat kabur dari wisnu di tangan kanannya. Wisnu baru saja menyadari bahwa dia sedang di ejek seorang pecundang oleh sahabat sekaligus sepupunya ini, tentu ia tak terima lantas langsung bertindak.


" Ampu ampun kakek jangan marah lagi..." jawab Arsal yang di jitaki oleh wisnu dan berhasil menambah kerutan di wajah wisnu.


" Hehh.. apa kau bilang sekarang, belum puas mengataiku pecundang sekarang kau ejek aku kakek-kakek hah.. sahabat macam apa kau ini, tak punya ahlak... " Teriak Wisnu kesal tak mau kalah, tindakn mereka malah menambah kebisingan di ruangan itu dan menjadi pusat perhatian.


Mungkin karna terlalu malu menjadi gunjingan dan tatapan dari berbagai mata Anggi berbicara dengan senyum di bibirnya nan percaya diri bahwa dia tak mengenal kedua orang memalukan yang tengah bergulat di depannya ini kepada orang-orang di sampingnya.


Damar yang menyaksikan tingkah ketiga sahabatnya ini benar-benar tak henti-hentinya tertawa sampai harus memengangi perutnya.


Di sisi lain Wisnu tidak lagi murung dan juga sedih tapi juga tidak melepas kan gapitannya dan terus menjitaki Arsal walau pun Arsal sudah berkali kali minta maaf dengan caranya yang konyol.


Begitulah tingkah mereka terlebih lagi Arsal orang yang paling usil di antara mereka tapi juga paling pengertian dan perasa.


Arsal selalu saja melalukan hal yang konyol dan membuat para sahabatnya kesal akan tingkahnya tapi itu tidak semata-mata hanya untuk membuat para sahabatnya kesal tapi ada makna di setiap tindak kannya, dan kami para sahabatnya sangat tau itu.


Hingga beberapa saat kemudian Wisnu pun terpaksa melepaskan Arsal karna dosen telah masuk ke dalam ruangan dan pembelajaran pun di mulai.


*T**eng ... teng* ... teng ...


Setelah pembelajaran usai mereka empat sahbatpun berjalan bersama hingga melewati gerbang dan kini Damar memisahkan diri dari mereka karna ia mendapat pesan dari organisasinya.


Ia melewati jalan yang berbeda dari jalan biasanya menuju kerumah karna ia akan pergi ke tempat organisasinya berkumpul dan Damar tidak terburu-buru jadi dia berjalan santai di samping jalan raya tempat pejalan kaki berada.

__ADS_1


Damar yang hanya fokus pada Ponselnya saja hingga tidak perhatian dengan keadaan sekitarnya tiba-tiba terdengar suara tabrakan yang keras antara mubil truk berangkutan bahan bangunan dan seseorang.


Tiiinnn ... *Bru**a**ghh*.


Dentuman yang sangat keras itu menyita semua perhatian setiap rang yang berada di sekitar jalan itu tidak kecuali Damar yang langsung melihat kearah kecelakaan terjadi.


Yang tidak terlalu jauh dari jangkauan pandanganya seketika tubuh Damar menegang, matanya membesar dan wajahnya memucat tanpa aba-aba tubuhnya terhuyung kakinya melangkah secepat mungkin bahkan berlari secepatnya ketempat tragedi kecelakaan itu tengah berlangsung.


" ARSALL... " Jerit Damar menghampiri peria yang telah tergeletak di tengah jalan raya itu dengan darah yang telah berceceran di sekitarnya yang tidak lain adalah Arsal.


Dengan cepat Damar menghampiri Arsal, ia tersentak tak tahan melihat kondisi Arsal dengan tangan kana yang hancur, kaki kirinya yang patah tak beraturan dan darah yang tak berhanti keluar dari kepala bagian kirinya.


Tapi masih terlihat bila Arsal masih hidup karna nafasnya yang memburu.


" Arsal... Arsal sadar.. Hoy bangun.. " Cemas Damar merangkul tubuh bagian atas Arsal dengan suara bergetar Damar mengguncang pelan tubuh Arsal karna mengetahui Arsal masih sadar dan mencoba membuat keadaannya tetap terjaga.


Damar terus mengguncang-guncang kecil tubuh Arsal, bagian kepalanya kini di letakan di pahanya agar memudahkan Arsal menghirup udara, Damar tidak meperdulikan darah dan sepihan daging tangan kanan Arsal yang sudah berkececeran di baju dan celananya. Karna kecemasanny melampaui segalanya.


Arsal yang menahan sakit di sekujur tubuhnya di tambah guncanhan dan jeritan Damar membuatnya tidak tahan lagi dan teriak walau serak.


" Hoy Damar aku belom Mati jadi gk usah teriak teriak... Berisik tau... Ak,auh sakit,, " Jerit ganti Arsal penuh emosi walau serak malah tak terdengar seperti jeritan tapi Arsal tetap memaksa, sangat jarang bertemu momen untuk memarahi sahabatnya ini.


Dengan menahan sakit berusaha membuka matanya berniat memelototi Damar dan mengomeli orang yang dengan teganya menghuncang tubuhnya ini, namun ketika matanya bertemu mata Damar yang saat ini Damar tengah berteriak meminta seseorang cepat menelfon ambulan, yang Arsal lihat kini.


Damar dengan wajah merahnya dan air mata yang sudah tumpah entah sajak kapan dan bibirnya yang bergetar lantas mengomelinya untuk tetap menjaga kesadarnnya karna sebentar lagi abulan pasti akan datang.. Jadi bertahanlah sebentar lagi..


Arsal benar benar tersentak padahal dia sama sekali tidak menangis dengan keadaan yang dia alami tapi Damar, dia benar-benar sangat mengkhawatir kannya.


Padahal orang tuanya sendiri mungkin tidak akan perduli apapun yang terjadi pada dirinya. Miris.


Itu membuat Arsal membeku tak berkedip hingga suara Damar mengagetkannya.


" Syukurlah kau masih sadar, terus bertahan kan kesadaran mu, Itu harus.. hingga sampai kerumah sakit nanti Arsal Tahanlah sebentar lagi aku mohon... Aku mohon.. Bertahan lah.. " Cemas Damar berusaha mengangkat tubuh Arsal yang di bantu beberapa peria yang yang berkimpul disan. Karna mobil ambulan telah sampai.


Tapi sebelum sempat di angkat Arsal batuk darah.


Uhuk uhuuk uhuk


" Tunggu... uhuk.. anak kecil yang aku tolong tadi juga uhuk.. uhuk.. di mana di selamat kan uhuk..uhuk.. " Kata Arsal menoleh kanan kiri dengan suara serak karna tersumbat darahnya sendiri.


" Apa yang kau lakukan !!! pikirkan saja lukamu saat ini,, apa jangan jangan kau menjadi seperti karna menolong seorang anak yang tidak kau kenal itu,, kau BODOH ARSAL " Teriak Damar dengan mengelap air matanya dengan tangan kana secara kasar karna menghalai penglihatannya.


*Kenapa jadi seperti ini ?? ,, kenapa dia harus selalu menolong orang dan membahayakan nyawanya !! Kau terlalu baik Arsal !! Tapi..


kenapa aku tidak tau ada dia sekitarku,, kenapa aku tidak mengetahuinya dan berlari menolongnya. Aku terlambat kalau tadi aku mengetahuinya pasti tidak akan terjadi seperti ini, aku ini agen elit jadi harusnya bisa tapi... ini... lagi lagi..lagi lagi***..


Keluh isi pikiran Damar yang marah pada diri yang telah teledor hingga menbuat sahabatnya terluka separah ini.


" Aku memang bodoh uhuk.. Tapi aku tak menyesal.. Setidaknyakan aku berguna untuk orang lain hehe uhuk.. Uhuk" Jawab Arsal lirih dengan menampilkan senyum terbaiknya dia tau batasannya sudah dekat.


"Uhh.. Masa bodo yang penting kau harus pergi ke rum..." Kata kata Damar di potong oleh Arsal dengan lirih..


" Semoga..Uhuk.. Dikehidupan selanjutnya..Uhuk.. Uhuk.. Aku bisa bertemu denganmu lagi Damar... " Setelah mengucapkan itu Arsal perlahan tapi pasti menutup matanya. Padahal Damar telah mengangkat Arsal tapi seketika terhenti.


Damar yang mendengar yang mendengar kata kata Arsal yang lirih itu tak kuasa menahan air matanya lebih yang terus tumpah meruah tampa bisa ia kendalikan.


Tangan kiri Arsal yang memegang pundak Damar telah jatuh sepenuhnya. Itu menandakan sahabatnya ini telah tiada, dia telah pergi ke tempat yang berbeda, Damar sadar ia takkan pernah bisa bertemu dengan sahabtnya Arsal ini kembali.


Bibir Damar bergetar hebat, wajahnya telah menjadi pucat pasi nafasnya pun memburu segera ia memeluk tubuh tak bernyawa sahabatnya yang ada di pangkuannya itu. Rasa sakit, kesal, perih, marah, tak berdaya, dan terpuruk kini tengah bercampur aduk tak karuan.


" Da, DASAR ARSAL BODOHHH...


DASAR IDIOT. APA YANG TELAH KAU LAKUKAN SEKARANG...kau hu..hu..


KAU BODOHHH... MAHLUK TERBODOHHH...hu.. hu.. " Teriak pilu Damar yang mempererat pelukannyarasa tak berdaya dan penyesalannya kini lebih terasa lebih dalam dari sebelumnya.


Semua yang menyaksikan dan mendengar teriakan Damar dapat merasakan perih dan pilunya yang di rasakan peria muda itu saat ini.


Tangisan ini tangisan pertama Damar selama dia hidup di kehidupan keduanya itu


rasa sakit yang sangat menyesakkan saat ia kehilangan orang yang sangat berarti di sekitarnya.

__ADS_1


__ADS_2