
Di sisi lain sang jendral Alfado sungguh telah di buat pusing dengan menghilangnya sang Putra Mahkota kini yang di telan keramaian dihadapannya yang terus bertambah.
Ia terlihat amat bingung bercampur cemas keringat dingin mengalir turun dengan derasnya prihal dia tak merasakan hawa kehadiran Putra Mahkota yang saat ini tengah ia jaga.
Apa yang terjadi kenapa aku tak dapat merasakan aura yang mulia Putra Mahkota di dalam keramai ini..?? Bukankah tadi beliau mas...
" Apa yang kau pikirkan " Tanya seseorang yang secara tiba-tiba muncul di sebelah kanan sang jendral.
" Astaga!!? Naga..! " Teriak sang Jendral karna amat terkejut hingga melompat kesisi kiri cukup jauh, menatap sosok di sebelah kananya yang teryata adalah orang yang ia cari, sang Jendral sungguh shok sampai ujung bibir yang berkedut.
" Kau.. kenapa?? Jendral " Ungkap Damar dengan menatap aneh kearah sang jendral.
" A-Ah, itu,, itu, hamba hanya saja.. tadi.. aura, yang mu... " Kini otak sang Jendral belum sepenuhnya merespon pertanyaan yang Damar lontarkan hingga Damar memotongnya.
" Sudahlah, lebih baik kita temui kesatria lainnya. Mereka pasti telah menemukan penginapan yang cocok "
" Baik, yang Mulia " Jendral Alfado sungguh malu dengan tindakannya. Itu sungguh aib bagi dirinya bagaimana bisa.
Dia yang seorang berwibawa salah satu dari 4 Jendral perang yang amat tegas dan di segani di medan perang kini malah salah tingkah di depan seorang anak yang lebih cocok menjadi anaknya.
Sungguh tindakanku barusan itu, menghancurkan harga diriku...
.
.
.
Kini Damar berdiri di dalam satu dari 5 ruang dimensinya yang saat ini ia punyai, yaitu ruang dimensi Kehidupan.
Dimana di dalamnya hiduplah padang rumput hijau, berbagai jenis pohon besar dan juga sungai yang mengalir. Tetapi untuk luas tempat itu Damar hanya meperkirakan tempat itu sangat luas, Karna dengan kemalasanya harus menghitung dia lebih memilih tidur dan bersantai.
Kini terdapat empat orang tepat di hadapan Damar yang tidak lain empat orang yang Damar ambil sesuka hatinya tanpa memperdulikan respon dari sang pemilik tubuh, yaitu empat orang yang Damar temui di dalam goa bandit saat perjalanan ke Kota Danmia.
" Hemm.. Bagaimana keadaan kalian?? Apa kalian betah tinggal di sini?? "
Ucapa Damar dengan senyum tipis di bibirnya. Sedangkan ke-empat orang di depannya terlihat ragu untuk menjawabnya. Seketika Damar menepuk kedua tangannya memecahkan kesunyian itu.
" Baiklah sekarang akan tuan ini perjelas..
Pertama, aku bukan orang baik, aku membawa kalian kesini bukan tanpa alasan aku berniat membuat kalian menjadi bawahanku.
Walau aku meninggalkan kalian di sini tapi sebelumnya aku telah menaruh beberapa puluh hewan yang dapat di makan dan menanam cukup banyak pohon buah di sini, kalian atau pertumbuhan di sini begitu cepat jadi mankanan bukan masalah.
Kedua, aku bukan tipe seorang yang menerima penolakan, hanya terima atau mati. "
Damar berhenti sejenak melihat ekspresi apa di wajah empat orang di depannya. Sikembar memeluk sang kakak sedangkan sang kakak memasang wajah tegang tapi mata coklatnya hampir tertutup sempurna oleh rambut berwarna coklatnya yang mulai panjang.
Damar hanya menatap datar ke arah mereka lantas matanya ia alihkan ke peria berambut panjang berwarna kuning emas yang telah di tata rapih itu, kali ini ujung bibir Damar melengkung ke atas.
" Heh,, kau tak takut "
" Ck, Saya telah terlalau sering mendengar kata-kata mati. Hingga saya bosan mendengarnya. "
Ucap peria berambut emas itu dengan wajah datarnya, tak ada cahaya di matanya hanya ada kekecewaan yang mendalam di dalamnya. Sebersit ingatan kelam tentang peria berambut emas itu masuk kedalam penglihatan Damar scara tiba-tiba. Itu cukup mengejutkan.
Tapi tak ada simpati di mata Damar ia malah menertawai sebersit ingatan dan ungkapan dari peria berambut emas itu.
Hmm...
__ADS_1
Tidak sepertiku yang di tipu dan di hianati ... Dia lebih terlalu bodoh dan haus akan cinta,, Samapai dia merelakan tubuhnya di lecehkan seksual seperti itu... Sungguh BODOH...!!
Pfft..
Si kembar masih setia dalam dekapan sang kakak sedangkan sang kakak dan peria berambut emas itu menatap Damar aneh. Kenapa dia tertawa??. Itulah isi pikiran mereka. Tak memperdulikan reaksi mereka Damar melanjutka ucapannya.
" Baiklah, akan ku ubah penawaranku. Jadilah bawahan setiaku maka akanku berikan kekuatan untuk kalian balas dendam. Bagaiman??! "
Tawar Damar dengan kedua tangan terlentang dan senyum misterius terukir di bibirnya. Kabut hitam keunguan entah dari mana datang dan memutari tubuh Damar seperti seekor peliharaan yang dengan bahagianya mendatangi majikannya.
" Hey,, Kau, Terlihat... Menyeramkan!! "
Apa dia masih termasuk manusia???
Tapi tubuhnya manusia!
Astaga apa aku akan mati?? Tapi aku harus melindungi adik-adikku
Pikiran kalut sang kakak dari si kembar dengan yang mulai melayang ke mana-mana. Lagi-lagi Damar menatap datar peria berusia tujuh tahun dan kedua adiknya yang berusia lima tahun itu.
Dia,, bodoh!!. Yah, Membuatku bernostalgia pada seseorang. Eh,, Apa aku terlalau memaksa anak kecil ya,, dia kan baru berusia 7 tahun dan kedua adiknya berusia 5 tahun.
Oh,,
sekarang aku tahu kenapa dia dari tadi tidak merespon ucapanku. Bukan karna dia anak yang tenang tapi dikarnakan dia sama sekali tak paham ucapanku. Hahh merepotkaan...
Pikir Damar menghela nafas berat melihat tingah tiga manusia di depannya yang saling berpelukan. Beralih kepada peria berambut emas ia seperti sedang berpikir keras.
" Kau tak kan bisa kar... "
" Apa yang tak bisa. Pangeran Kekaisaran Lasterfir. 'Raistes Nirkarfirs Savian' yang telah di campakkan dari Kerajaan, di siksa, bahkan sampai di jual ke negri budak, saat berhasil kabur dari benua RUI ke benua KAI pun malah tersesat. Tak tau tujuan,
Belum lagi berakhir di wilayah kerajaan asing, itupun malah tertangkap oleh bandit Ck ck ck... Nasib mu sungguh buruk Pangeran Kekaisaran. "
Apa yang Damar katakan adalah fakta membuat peria berambut kuning emas itu yang tidak lain pangeran Raistes menegang seketika ia mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat menatap tajam ke arah peria kecil bermata keristal ungu kental dan berambut hitam panjang di hadapannya.
" Bagai mana kau tau, apa kau mata-mata keparat itu. "
Ucap Raistes penuh penekanan ke arah Damar. Sedangkan Damar seketika mengerutkan keningnya tidak setuju dengan tuduhan Raistes.
" Bocah sialan. Aku tak serendah itu hingga menjadi mata-mata orang lain. Apa lagi mahluk Menjijikan itu. "
Tekan Damar penuh kerutan di dahinya. Tanpa aba-aba kaki Damar menendang tepat wajah Raistes hingga membuat Raistes terpental cukup jauh terseret tanah dan berakhir menghantam pohon besar.
Lantas Damar menghilang di telan kabut hitam detik berikutnya Damar telah berdiri di depan Raistes dengan tatapan remehnya menatap Raistes di bawahnya yang tersungkur dan berusaha untuk duduk dengan benar.
" Huh,, bangun lah, itu tak kan membunuhmu hanya beberapa tulangmu saja yang patah. Cih, aku masih kesal atas ucapanmu apa kau tak dapat membedakan orang, Hah.
Jangankan menghormatinya. Aku bahkan akan menginjak-injak wajahnya bila bertatap muka dengannya.
Kaisar yang mementingkan diri sendiri, menelantarkan rakyatnya, meniduri banyak gadis perawan di kekaisarannya sendiri, lalu mengorbankan ratusan bayi manusia untuk memperkuat ilmu sesatnya. Menjijik kan.
Sungguh sangat menjijikkan. Walaupun aku cukup kejam tapi aku tak kan pernah mengorbankan nyawa mereka yang tak bersalah. "
Omel Damar penuh emosi mengungkit Kaisar di Benua RUI itu dari Kekaisaran Lasterfir. Kabut hitam keunguan yang tadinya mulai menghilang dari sekitar tubuh Damar kini kian menebal. Menatapa tajam ke arah Raistes.
Pandangan Raistespun berubah di kala Damar mengungkapkan ke tidak senangannya kepada Kaisar benua RUI itu ia tau betul cara membedakan kebohongan dan kebenaran dan kini dia benar-benar melihat kejujuran dari setiap kata yang Damar ucapkan.
Entah mengapa ia melihat pancaran aura yang amat kuat di kala menatap peria 10 tahun itu saat sedang emosi. Raistes merasa ia mempunyai harapan, dan harapan itu tepat berada di hadapannya saat ini.
__ADS_1
" Ah,, Maaf, teryata saya salah menilai anda. Sebenarnya kala di nilai dari kekuatan anda, yang aneh.. "
" Apa!! "
" Eh, maksud saya unik, I-itu memang tak ada di kerajaan kami. Apalagi penampilan anda yang sangat mencolok, berambut hitam kelam dan bola mata berwarna keristal ungu kental.
Sekali lagi saya minta maaf kepada anda atas tuduhan tak mendasar yang saya lontarkan. Tapi anda juga harus membantu saya menyembuhkan beberapa tulang saya yang patah karna anda tendang tadi "
Kali ini ucapan Raistes menjadi santai dan canggung secara bersamaan. Karna ia tak memandang Damar sebagai musuh lagi tapi kali ini tatapan Damar tak lagi tertarik terhadap Raistes di gantikan dengan tatapan kesal.
Lebih tepatnya sangat kesal.
" Sekarang kau bermain nego bersamaku. Cih kalau kau mau jadi bawahanku akan ku pertimbangk... "
" Oke-oke sekarang saya jadi bawahan anda hehe "
Damar terdiam beberapa saat. Sungguh tak mengerti cara berpikir orang yang berada di depannya.
" Kau ingin menjebakku ya "
Tutur curiga Damar, dengan tatapanya yang meyipit.
" Saya serius. Tolong jangan curigai saya. Semua yang anda katakan tentang si keparat itu tadi semuanya benar bahkan saya tidak tau tentang pengorbanan bayi-bayi itu, tapi saya akan percaya pada anda "
Tanggap Raistes sungguh-sungguh sesekali menahan rasa sakit di bagian tubuh yang tulangnya kini patah. Sedangkan Damar mengamati tingkah Raistes dengan seksama.
" Heehh... Apa jaminannya kau tak kan menghianatiku "
" Anda dapat memasang tato budak di tubuh saya. Tapi satu hal yang saya sangat pinta. Tolong,, tolong beri saya satu kekuatan yang dapat saya gunakan untuk balas dendam kepada mereka semua itu, walaupun itu kekuatan iblis atau nyawa saya sebagai gantinya sekalipun itu tak masalah bagi saya.
Asalkan saya masih mempunyai harapan untuk dapat membalas dendam maka saya sangat mohon. Entah mengapa tapi saya mempunyai firasat anda tak sesederhana yang terlihat "
" Hemm... Ambisimu cukup besar. Firasat mu juga cukup bagus "
" Apakah permintaan saya cukup sulit. Saya akan melakukan apa pun apa yang anda printahkan "
" Maksudmu seperti anjing begitu " seringai Damar merendahkan. Dan teryata Damar masih saja meyimpan kesalnya atas tuduhan tadi.
" It... Anda dapat menyebutnya seperti itu " Jawab Raistes meyakinkan peria yang ia rasa cukup mengerikan ini.
" Heeh,, tidak buruk "
Terlihat senyum miring terukir di bibir Damar. Damar melukai telapak tangan kanannya lalu meminta Raistes menghisap darah yang keluar dari luka yang ia buat. Raistes tak membantah ia menghisap darah di telapak tangan Damar.
Setelah tiga menguk kan darah Damar, jantung Raistes seakan di pompa lebih cepat tiga kali lipat seakan darah Raistes mengalir lebih cepat lalu rasa terbakar di sekujur tubuh dan aliran darahnya kini yang Raistes rasakan sungguh mengerikan sampai nafasnya sungguh tak beraturan lagi.
Darah kental mulai mengalir keluar dari hidung, pelupuk mata dan telinga Raistes. Rasa perih yang amat menyakitkan kini Raistes rasakan.
Tak tahan Raistes ia berteriak tapi suaranya seakan tak mau keluar dari rongga tenggorokannya kini otaknyapun sudah mulai tak bisa berfikir jernih lagi.
Raistes pun menatap sang peria berambut hitam di depannya ia berusaha menggapainya dengan penuh harap menghilangkan rasa sakit yang ia derita saat ini sungguh tak tertahankan. Ini amat menyakitkan.
Tapi kini peria berambut panjang hitam kelam itu yang tengah di tatap harap oleh Raistes tengah tersenyum melihat setiap penderitaan dan rintihan yang Raistes rasakan.
Raistes tak habis pikir dengan apa yang ia lihat, Apakah ini hukuman untuknya?? Apakah ia sedang di siksa ?? Atau ini ujian untunya?? Itulah pikiran Raistes yang telah takkaruan saat ini, detik berikutnya, Raistes tumbang ke tanah dari tempat duduknya dengan mata yang masih terbuka.
Hemm..
" Apa begitu sakit kah menerima kekuatan Rubik Hitam ini??!. Padahal baru kekuatan dasar yang aku masukan dalam tubuhnya loh?? "
__ADS_1
Haaah.. kalau begini caranya akan memakan waktu lama ia menjadi kuat... dan berguna untukku...!!
####