Keinginan Sang Pengacau

Keinginan Sang Pengacau
ch.15 " Tujuanku Ialah... "


__ADS_3

Di dalam sebuah gang kecil di dekat pasar yang sangat jarang di masuki bahkan berandalan sekalipun sangat enggan untuk memasukinya, selain kumuh dan bau sampah yang menyengat tempatnyapun amat gelap.


Tapi sekarang terdapat lima orang berjubah gelap menutup kepala mereka dengan tudung dengan tinggi mereka yang berbeda-beda berada di dalam gang yang kumuh nan bau itu.


" Em, Yang Mulia apa kita be,benar tak usah menolong Ayia dia sebenarnya gadis yang baik "


Ucap ragu-ragu seorang peria bertubuh paling tinggi di antara yang lainnya suaranyapun begitu rendah.


" Apa aku terlihat berkewajiban untuk menolongnya..? Kau tau siapa orang di hadapanmu ini bukan..! Aku bukan Ibunya..! "


Balas peria bertubuh lebih kecil itu tidak ada nada emosi di setiap katanya, di tempat yang sangat minim pencahayaan itu terlihat dari gerakan tubuhnya bahwa dia sangat tak peduli.


" E-Eh,, Ta-tapi Yang Mulia engkau membakar tempat itu. Engkau bahkan tak memperbolehkan kami membangunkannya terlebih dahulu "


Ucap kembali peria bertubuh tinggi itu gelisah, tapi peria kecil yang tengah berjongkok dan merakit sesuatu itu seakan bosan mendengar setiap kalimat ucapan yang peria di belakangnya itu selalu lontarkan.


" Huf, kau lebih cerewet dari yangku duga. Diamlah..! Dan lakukan tugasmu seperti anjing yang penurut..! "


Ucap peria kecil itu yang selalu di panggil Yang Mulia sedikit meninggikan suaranya saat ia sedang terlihat kerepotan akan suatu yang ia rakit sendari tadi. Kini peria yang tengah di bentak itu membuang wajahnya.


" Engkau... Bener-benar jahat. "


" Oh,, Adakah ada yang mengatakan bila diriku ini baik "


Balas peria kecil itu tak acuh terhadap peria di belakangnya, tangan yang tak henti-hentinya merakit sesuatu dengan kedua tangannya.


" Ah,, selesai juga "


Ucapnya lalu bangkit dari jongkoknya menepuk kedua tangannya untuk membersihkan debu yang menempel di sela-sela jarinya.


Peria bertubuh lebih kecil itu berbalik kebelakang menelisik satu persatu empat orang di belakangnya kini dengan bola mata ungunya yang berkilat tajam.


Tanpa di sangka terukir senyum miring di bibir manis peria kecil itu lalu berubah dengan senyum tulus nan ramah.


Sedikit sinar dari cela-cela menampakkan wajahnya, dengan umurnya yang 10 tahun itu ia terlihat imut sekaligus manis sungguh menggemaskan andai ia ramah dan tak kejam.


Peria kecil itu tidak lain dan tidak bukan adalah Damar, dan empat orang di belakangnya tidak lain ialah orang yang Damar temui di ruang budak khusus untuk pelelangan itu, yang baru-baru ini di ketahi nama mereka ialah.


Sang gadis kecil berambut hijau panjang bernama 'Prilly Pitriya' Sedangkan peria 20 tahun berambut coklat itu 'Galuh Hemo'.


Wanita 18 berambut putih tidak lain 'Naila Anarosea' dan yang terakhir wanita berambut coklat kemerahan sebahu 'Mitaria Assa' Sahabat sekaligus bawahan Naila Anarosea.

__ADS_1


Tetapi apa yang di tampakkan oleh Damar malah membuat bertabahnya kengerian dimata tiga sebagiannya hingga tanpa mereka sadari mereka sungguh merinding melihat senyuman sang Putra Mahkota Di hadapan mereka.


Di sisi lain satu orang berjubah paling kecil tidak lain Prilly Pitriya mengeluarkan tatapan biasa saja terhadap senyum sang Damar.


Selang dua detik keluarlah kabut berwarna hitam pekat keunguan dari tempat Damar merakit sesuatu tadi.


Kabut itu terus bergerak membentuk seperti lubang hitam, lalu kabut hitam menjalar seperti tanaman rambat liar berwarna ungu keluar dari tenengah-tengah kabut hitam itu.


" Ingat tugas kalian..! Dalam waktu 3 bulan itu kalian harus berhasil mendapatkan hadiah yang manis itu, dan kirimkan tepat di hari ulang tahun kami. Mengerti..! "


Tekan Damar dengan senyum manis di bibirnya tetapi terselip ancaman yang mematikan di dalamnya.


Tiga orang yang kini berada di hadapan Damar hanya bisa pasrah, walau begitu terdapat kemarah di dalam mata mereka.


" Tuan bolehkah saya bertanya tujuan tuan yang sebenarnya..?? "


" Oh,, Riya kamu bisa penasaran rupanya..!! Aku kira kau mau mengikutiku karna sudah tau tujuanku..? Em, baiklah akanku jawab rasa penasaran kalian!! "


Damar menatap Riya sang gadis kecil berambut dan bola mata hijauitu. Lalu mengalihkannya ke arah tiga orang di belakang Riya.


Lantas terukirlah senyum miring di bibir kecil peria licik ini.


" Tujuanku ialah... Mungkin, untuk saat ini ialah menghias seluruh ruang istanah dengan darah yang cukup kental..!! Dan yang pertama haruslah darah kerabatku kan..?!!


Haiih..


Damar ini harus berpikir keras memberikan kematian yang indah nan menyakitkan untuknya sampai dia bahkan takkan bisa lupa sekalipun telah berada di alam kematian sana "


Ucapa Damar terkekeh kecil dan di angguki oleh Riya tapi berbeda cerita dengan tiga orang sisahnya mereka amat terkejut bukan main.


Dasar monster gila..!! jadi tujuannya untuk menghancurkan kerajaannya sendiri..!!


Tirani..!! Saya harus berusaha membunuh saudara saya hanya untuk memuaskannya..?? Candaan macam apa ini..??


Apa dia pantas menjadi Putra Mahkota..?? Calon raja berikutnya..?? Kerajaan ini akan hancur di tangannya..!! Bagaimana dengan kami rakyat kerajaan Karlarss Apa dia tak pernah memikirkan nasib kami..!! Sialan aku bahkan tak bisa membantahnya karna segel ini..


Damar dapat melihat jelas bahwa tiga orang di belakang Riya itu tengah frustasi dan itu cukup menghiburnya.


Sesungguhnya ucapan Damar memangalah fakta yang hendak ia lakukan tapi tidaklah semuanya, selebihnya hanya untuk menakuti ke tiga orang di hadapannya ini.


Ini adalah hiburan tersendiri bagi Damar yang tengah bahagia mendapati pihak lain frustasi.

__ADS_1


Setelah itu tanaman rambat berwarna ungu yang yengah keluar dari dalam lubang hitam itu melilit pinggang ketiga orang yang di antaranya Mitaria, Naila, serta Galuh dengan satu ayunan tangan Damar mereka di tarik paksa masuk ke dalam lubang hitam itu.


Setelah itu muncul kabut berwarna hitam keunguan yang menyelimuti Damar dan Riya satu detik kemudian mereka telah menghilang dari keberadaan tempat itu.


Dengan suasana hati Damar yang cukup menyenangkan. Bahkan senyumnyapun masihlah terukir di bibir merah cerrynya.


Di satu sisi lain. Naila, Mitaria dan Galuh di lempar secara kasar di tumpukan salju wilayah Kerajaan Evterlly tempat asal Naila dan Mitaria.


Setelah dilempar dengan kasar hingga wajah Mitaria menghantam tumpukan salju lebih dalam dari yang lainnya, ia dengan cepatnya berdiri lalu menyumpah serapahi Damar sepuasnya, sama halnya dengan Galuh ia juga mengumpati Damar sesumbar hingga tenggorokannya kering.


Kini yang paling sabar ialah Naila ia hanya mengela nafas berat dengan beban yang di tanggung dengan membunuh adiknya sendiri hanya untuk menyelamatkan nyawanya serta dua orang yang tengah mengamuk di depannya ini.


.


.


.


Dua hari telah berlalu tapi berita tentang terbakarnya ruang pelelangan yang telah menelan banyak korban apalagi saat tengah menggelar pelelangan, belum juga reda malah termasuk berita yang menggemparkan di kota itu untuk tiga puluh tahun terakhir.


" Aku dengar tak ada satupun dari empat puluh perajurit penjaga barang dan budak yang selamat "


" Haah benar sekali.. Aku bersyukur saat pelelangan duduk di kursi bawah bagian belakang jadi saat api mulai menjalar ke panggung, dengan cepat aku dapat keluar "


" Astaga.. Siapa orang kejam yang melakukan pembataian masal dengan api seperti itu..! Aku sangat bersyukur, andai pintu masuk di kunci saat itu aku yakin tak ada yang selamat kala itu, bahkan aku pun tidak "


" Di dalam ruangan itu terdapat 500 orang di lantai bawah 80 orang lantai dua dan 20 orang di lantai paling atas, tapi yang selamat cuma 346 saja, sisahnya terluka parah bahkan ada yang terjebak dan mati.. Haiihh, aku termasuk orang yang beruntung rupanya "


Itulah percakapan antara orang-orang di tengah pasar dengan kegiatannya masing-masing yang tengah berdagang.


Dan kini semakin banyak timbulnya dari dugaan tertentu dan rumor-rumor anehpun mulai tersebar luas, karna tak semua kota besar mempunyai tenpat pelelangan yang menampung lebih dari seribu jiwa seperti tempat pelelangan kota Danmia.


Di bangunan empat lantai berdekorasi mewah tempat di mana Damar tinggal sementara, kini tengah sibuk untuk persiapan kepulangan Sang Putra Mahkota kembali ke Kerajan Karlarss.


Tapi sebelum itu Damar tengah berdiskusi kepada dua orang yang dimana salah satunya adalah sang Pemilik Pelelangan Kota Danmia.


Damar berkata karna kota ini telah berada di bawahnya maka kerugian atas Kota ini akan ia tanggung sebagian besarnya. Damar juga menaruh dana yang cukup fantastis untuk membangun dan lebih menpermaju Kota yang telah berada di bawah namanya itu.


Setelah itu Damar beserta jendral Alfado dan rombongannya pulang menggunakan formasi khusus yang langsung mengantar mereka ke Ibukota Kerajaan Besar Karlarss.


Itupun paksaan dari sang jendral Alfado mengingat saat kejadian badit kala itu, yang dimana mereka menaiki kereta kuda yang sebenarnya itu adalah permintaan sendiri dari sang Putra Mahkota yang kini tengah mereka layani ini.

__ADS_1


####


__ADS_2