
Kini matahari telah tenggelam, Damar dan rombongannya membuat tenda tidak jauh dari jalan yang akan mereka lalui.
Sikap Damar sebagai seorang Putra Mahkota dikenal dingin dan tak banyak berbicara, saat ini Damar tengah berada di dalam kereta seorang diri tak ada yang berani meyapanya, bila benar-benar hal yang penting, bahkan bila itu adalah satu dari empat jendral kerajaan terkuat yang saat ini tengah mengawalnya.
Keadaan yang sebenarnya Damar tidak ada di dalam kereta tapi dia meninggalkan auranya seakan dia ada di dalam kereta.
Damar kini tengah berada di dalam Ruang Dimensinya yang di sediakan oleh Rubik Hitam itu, dia sedang berlatih mengontrol dua kabut yang berada di depannya, satunya berwarna ungu tipis sampai hampir tak terlihat sedangkan yang satunya lagi berwarna hitam pekat terlihat seperti Kabut hitam tebal yang menjalar tapi secara bersamaan terlihat seperti Api hitam yang berkobar.
" Huaahh,, tubuhku pegal semua, sudah berapa lama aku berada di ruangan putih ini "
Damar berdiri dari tempat duduknya, dan seakan berpikir keras.
" Ruang Dimensi di dalam rubik aneh ini sungguh unik bahkan untuk perbandingannya. Di ibaratkan 1 jam di dunia nyata maka 1 hari di ruang dimensi rubik hitam ini. Unik sih. Tapi,
Yang Pertama, Ruang Dimensi khusus penyimpana. Yang bahkan dapat aku masuki.
Ke Dua, Ruang Dimensi putih, di sini terdapat kekuatan aneh yang sangat padat dan dapat aku serap kemudian dapat menjadi kekuatan fisik maupun tenaga dalamku.
Ke Tiga, Ruang Dimensi kehidupan, di dalamnya terdapat tanah, rumput, pohon walau tak berbuah dan sungai walau tak ada ikannya, sih. Tapi tetap saja, itu aneh.
Ke Empat, Ruang kosong, sungguh tak ada apa-apa di sana. Tidak seperti ruang dimensi putih yang masih ada lantai dan warna putih, di sana sungguh kosong, gelap gulita bahkan aku tak merasa menginjak apapun. Dan itu cukup seram.
Sedangkan yang terakhir masih tersegel. Walau penasaran tapi aku tak tau cara membukanya. Jadi, ya sudahlah. "
Ungkapnya takbpeduli, lantas Damar mengubah posisinya. Setelah lama berputar putar ia kembali duduk.
" Lalu berbagai jenis kekuatan aneh yang kejam masuk dalam ingatanku, aku bersyukur otakku mampu menampung semua ingatan ini dan tidak meledak terlebih dahulu.
Huff,, uniknya kekuatan ini tak menggunakan Mana, Qi atau Energi Dalam dari Dunia ini, tapi seakan tubuh dan kekuatanku di ciptakan di Dunia lain.
Aku telah berfikir keras rupanya...
Damar kau sungguh hebat.. Tapi, "
Baru sejenak Damar bersantai namun kini Damar terlihat berpikir keras kembali.
" Apa ini tidak terlalu licik ??! Seakan aku memang di suruh untuk menjadi kuat secapatnya. Siapa orang yang di balik ini semua??! Ah, tidak.. Pasti bukan mausia. Sangat mustahil bila manusia... Huff, seterah,, Intinya aku akan memanfaatkan ini semua dan menjadi kuat, lalu ak... "
Degg
Tiba tiba Damar terdiam.
" Ada yang terjadi di luar "
Damar memetikan jarinya seketika derdapat lubang hitam pekat yang cukup besar, lantas memasukinya.
.
.
.
__ADS_1
" Lindungi kereta Yang Mulia Putra Mahkota "
Teriak jendral Alfado yang berada di dekat pintu kereta. Tiga puluh Kesatria dengan sigap mengelilingi kereta yang di naiki oleh sang Putra Mahkota sedangkan Enam Puluh Prajurid yang mengawal Damar, bertarung melawan hampir Empat Ratus Bandit.
Terlihat mustahil Empat Ratus Bandit berbanding Enam Puluh Perajurit tapi beda cerita bila Enam Puluh Perajurit itu Perajurit terlatih khusus.
Pertempuran terus berlanjut, hingga terlihat peria kecil berumur sepuluh tahun keluar dari dalam kereta dengan wajah datar bercampur tatapan dinginnya.
" Yang Mulia Putra Mahkota, saya mohon tetaplah di dalam kereta, saya khawatir ada akan terluka atau menjadi incaran para Bandit di sini. "
Kata sang Jendral membungkuk hormat di depan peria kecil itu yang tidak lain adalah Damar sendiri.
" Ini hanya pertempuran kecil, suatu saat aku juga akan masuk dalam medan perang dan sebelum itu. Bukan kah ada dirimu di sisiku saat ini, apa kau akan membiarkanku terluka Jendral Alfado. "
Ucap Damar penuh ketegasan dengan tatapan tajamnya, yang membuat sang Jendral tertegun. Lalu sang Jendral berdiri tegak dengan senyum yakin di bibirnya.
" Itu memang benar Yang Mulia. Kalau begitu perhatikan lah cara kami mengalahkan Bandit-bandit ini "
Sang Jendral berkata keras dengan semangat berkobar, lantas berbalik dan bergabung menghancurkan pasukan Bandit yang datang mengganggu.
Sedangkan Damar bersender di kereta dengan tangan meyilang di dada matanya mengamati setiap pertarungan di depannya. terlihat ada nada seakan mengatakan, Ah ini membosankan di mata unggunya.
Walau saat ini menjelang malam tapi sinar bulan purnama begitu terang hingga semuanya terlihat cukup jelas di mata Damar.
Di rimbunnya dahan salah satu pohon besar di sekitar kereta itu terdapat dua peria dewasa dibalut pakaian hitam tengah mengamati pertempuran yang berlangsung di bawahnya, tetapi yang sangat mereka perhatikan adalah sosok peria kecil beramput hitam panjang yang tak lain ialah Damar sendiri yang dengan santainya mengamati pertempuran itu.
Tanpa mereka sadari terdapat peria bertubuh lebih kecil di belakang dua peria itu dengan tubuh dan kepala tertutup jubah hitam, satu petikan jari dari peria kecil itu mengejutkan kedua peria dewasa itu membuat mereka secara reflek menjauh tapi sebelum itu terjadi terdapat lubang hitam pekat yang muncul secara tiba-tiba lantas menghisap kedua peria dewasa itu yang tanpa sempat untuk melawan.
" Yang mulia Putra Mahkota, kita akan melajutkan perjalanan demi keamanan yang mulia Putra Mahkota. Karna hamba merasa janggal, padahal empat kereta kita terlihat lambang kerajaan tapi para bandit tetap menyerang kemungkinan besar ada... "
" Aku mengerti kecemasanmu Jendral, kau urus sisanya kita harus secepatnya tiba di Kota Danmia "
" Baik, yang mulia Putra Mahkota. "
Damar menatap sang jendral mengangguk lalu memasuki keretanya.
" Para tabib sembuhkan yang terluka, sedangkan perajurit dan ksatria yang tak terluka ikut aku membakar mayat para Bandit."
Teriak Jendral menggelegar di turuti oleh semua Kesatria dan para Perajurit. Setelah satu jam berlalu semuanya selesai. Kereta pun kembali berjalan.
Setelah seluruh rombongan menjauh keluarlah seorang peria kecil dari balik pohon dengan jubah yang menutupi seluruh tubuhnya.
" Bodoh. Bahkan tak dapat membedakan yang mana tuan dan buatan "
Kata peria berjubah itu, lantas membuka tudung di kepalanya. Terlihatlah peria tampan dengan bola mata berwarna keristal ungu kental dan rambut hitam pekat panjang sepinggang tergerai, peria itu tidak lain adalah Damar sendiri.
Terpaan angin membuat sosokya terlihat sangat misterius dengan balutan kain berwarna hitam yang hanya di sinari oleh rembulan di malam kala itu. Terlihat senyum meremehkan di bibirnya melihat kereta yang berjalan menjauh.
Damar berlari memasuki rimbutnya hutan di hadapnnya secepat mungkin. Hingga Damar tiba di sebuah Goa yang terdapat beberapa Bandit yang menjaga gerbangnya.
" Akhirnya ketemu juga markas mereka. setelah nyasar beberapa kali..!! "
__ADS_1
Ucap Damar cukup bahagia dan kesal secar bersamaan sedetik kemudian muncullah seringai menyeramkan di bibirnya, ada rasa bahagia meluap luap di hatinya.
Aku sudah tak sabar melihat kinerja kekuatan baruku ini, apa kah semenyeramkan penjelasannya??! siap yang tau kalau belum di coba kan !!.
Damar melangkah maju muncul di depan para bandit yang berjaga itu, seketika itu pula bandit yang melihat Damar berteriak.
" Siapa kamu, berani sekali datang ke sini "
Teriak bandit itu, dan tiga lain nya telah bersiap-siap, tapi terlihat delapan orang keluar dari dalam goa dan berteriak.
" Siapa yang datang ?!. Astaga dia hanya anak kecil apa yang kalian lakukan tangkap saja dia. Kita jadikan budak seperti yang lainnya "
Semua bandit yang berjaga itu berkata siap lantas tiga orang menghampiri Damar dengan pedang di tangan mereka. Sedangkan Damar masih berdiri di tempatnya dengan berdecak gembira.
" Ck.ck.ck. Teryata aku tak pernah salah mencari kelinci percobaan "
Ucap Damar yang entah mengapa dia menjadi lebih bersemangat.
" Percobaan pertama,, HADAS "
Seketika bayangan dari ketiga bandit itu berubah menjadi kabut hitam lalu melilit tubuh mereka begitu kuat, hingga membuat mereka terkejut dan panik secara bersamaan.
" Ap.. apa ini... penyihir di apa ya... "
" Hada 1 "
Mantra yang singkat ini buatanku sendiri jadi nikmatilah.
Ucap Damar kembali menikmati kepanikan mereka, Damar bahkan menyilangkan tangannya di depan dada dan dengan santai menatap tiga orang percobaan pertamanya.
Sedangkan ketiga orang yang kini di lilit oleh kabut hitam itu kini berteriak sejadi jadinya merasakan sakit yang luar biasa merambat menuju otak mereka.
Darah mereka di paksa naik keatas berkumpul di otak tanpa memikirkan kondisi sang pemilik tubuh. Dengan cepat bahkan belum ada satu seperkian detik teriakan memilukan itu berhenti berubah menjadi hamburan darah dan otak yang berceceran tak beraturan, bahkan terlihat sangat menjijikan.
Tiga orang itupun tewas dengan keadaan sangat mengenaskan, bagian kepalanya hancur tak beraturan dan bercecran di sekitar tubuhnya yang terbujur kaku.
Sedangkan kesembilan bandit lainnya yang tengah berada di depan goa itu menyaksikan hal yang begitu sadis ini, merekapun begitu panik dan syok terlihat di wajah mereka penuh ketakutan dan kengerian keringat dingin pun tak kunjung henti mengalir di punggungnya.
Walau mereka kejam dan senang membunuh tapi tak ada kurang kerjaan sampai menghancurka kepala isiannya hingga tak berbentuk seperti ini. Mereka pun pasti akan merasa sangat jijik dan ngeri dengan tindakan sangat sadis ini.
Saat mereka handak lari mereka baru menyadari bahwa bayangan mereka telah berubah menjadi kabut hitam yang melilit tubuh mereka, seketika kepanikan berlipat-lipat ganda di tubuh mereka, hingga akhirnya mereka berteriak histeris, menangis, meminta ampun dan memaki maki.
Di sisi lain Damar yang melihat apa yang terjadi di depannya membuat ujung bibirnya berkedut. Damar pun hampir shok.
Hey,, hey, apa ini tidak terlalu kejam. Entah mengapa aku malah terlihat seperti pesicopat bila terus seperti ini ??!
Tidak tidak ini bukan kesalahanku, ini kesalahan kekuatan ini !!?
" Benar ini salah rubik hitam itu..!! Salah siapa dia memberikan kekuatan padaku sesadis ini "
Damar bahkan tak mau mengakui kesalahannya, walau ia tau ialah yang salah tapi tak ada perasaan penyesalan di dalam hatinya. Sungguh.
__ADS_1
####