Keinginan Sang Pengacau

Keinginan Sang Pengacau
ch. 2 " kakek tua " (Revisi)


__ADS_3

Tiga hari kini telah berlalu Damar berada di ruang kelas duduk bersebelahan dengan Anggi.


Damar melirik Anggi di sebelah kanannya walaupun terlihat seperti memperhatikan dosen dengan serius tapi Damar menyadari bila Anggi sahabatnya ini sedang melamun kalau di perhatikan dengan seksama tatapan matanya kosong.


Damar pun menghela nafasnya ia pun jadi teringat tiga hari lalu saat ia menghubungi kedua sahabatnya itu dan memberitahu tetang kecelakaan yang merenggut nyawa Arsal.


Hanya dalam beberapa menit ke dua sahabatnya sudah sampai di rumah duka kediaman Arsal.


Damar yakin mereka mengendarai kendaraan secepet mungkin untuk memastikan kebenaran dari kata-kata Damar yang tidak mereka percayai sebelum melihat dengan mata kepala mereka sendiri.


Wisnu pertama sampai pun jatuh terduduk dengan tatapan tak percaya melihat mayat Arsal yang akan segera di makamkan ia menangis sejadi jadinya dengan menojok tanah berulang ulang hingga membuat tangannya berdarah.


Dan merguman ' sial sial sial sial '


Sedangkan Anggi dia sama sekali tak mengeluarkan air matanya tapi dia seperti mayat hidup tatapannya menjadi kosong jalannya sedikit terhuyung seperti jiwanya telah pergi bersama Arsal.


Mereka memberikan reaksi yang sangat berbeda tapi Damar tau mereka berdua sangat-sangat terpukul sama halnya dengan Damar yang masih merasa sesak didadannya sampai saat ini karna kepergian Arsal.


*T**eng ... teng* ... teng ...


Bunyi bel yang pertanda telah usainya pembelajaran kuliah pada hari ini.


" Damar hari ini aku tak bisa pergi bersamamu mengunjungi Wisnu,


walau seperti itu kau harus tetap mengunjunginya dia pasti sangat terpukul


setelah kehilangan kedua adiknya sekarang malah harus merasakan kehilangan sepupu sekaligus sahabaatnya "


Kata Anggi dengan senyum kecut di bibirnya tangannya yang masih memasukan buku ke dalam tasnya hingga selesai, Anggi pun memalingkan wajahnya menatap datar Damar yang masih menatapnya, yang seakan mengatakan kau sendiri akan kemana.


" Aku ada urusan mendesak. Di saat seperti ini kita harus ada di sisinya, aku akan menyusul tapi mungkin akan terlambat. Itu saja " Kata Anggi lantas berdiri dari tempat duduknya dan beranjak keluar kelas meninggalkan Damar yang belum sempat menjawab.


Heeh..


Kini sikap Anggi berubah menjadi dingin apa ini karna kepergian Arsal... Mungkin??


Tidak!! aku rasa ada hal lain yang ia tutupi ...


Huff..keluarga konglongmerat memang memusingkan...


Damar menggelengkan kepalanya tak berfikir bila dia sendiri keluarga konglongmerat.

__ADS_1


Damar pergi ke rumah Wisnu dengan mengendarai mobilnya.


Setelah sampai di kediamannya Wisnu, Damar di kejutkan oleh gembok yang berada di pagar rumah Wisnu.


" Hey, hey, kemana Wisnu dan keluarganya pergi.. " Dengan senyum getir Damar berkomentar dengan dirinya sendiri.


Lalu damar menghubungi wisnu tapi ponsel Wisnu tidak aktif.


Ck, kemana Wisnu ini pergi...


Pikirnya kesal tapi juga cemas, Damar pun menghubungi Anggi dengan ponselnya dan hal yang sama pun terjadi, ponsel Anggi tak aktif juga membuat banyak kerutan di kening Damar.


" Astaga... kemana kalian berdua pergi sebenarnya, kenapa hp kalian di matikan... " Teriak Damar emosi dengan dengan nada cukup tinggi karna terlalu kesal dan entah mengapa merasa sakit dan sedikit di hianati.


" Padahal aku cemas pada kalian, di saat seperti ini... " Alhasil Damar pun menghela nafas dalam-dalam lantas memasuki mobilnya lagi yang di parkir di depan gerbang rumah Wisnu dan pergi.


Karna tidak tau harus kemana Damar pun pulang ke rumah, tapi sesampainya di rumah hanya kekosongan yang menyambutnya karna kedua orang tuanya belum pulang dan beberapa tukang kebun dan pembatu sedang cuti. Alhasil,


Damar membaringkan tubuhnya di kasur dan menatap langit-langit kasur.


" Sekali lagi aku kehilangan orang terdekatku, ini sudah kedua kalinya ya...


Apa yang terjadi ya, kalau aku kehilangan kedua orang tuaku... hem,,


Aku sungguh tak mau membayangkannya, sungguh, itu bisa membuatku setres dan menua lebih cepat, dan aku tak mau itu terjadi.." Gumam Damar dengan senyum miring di bibirnya lalu tak terasa matanya memberat iapun terlelap dalam tidurnya.


Di subuh hari seorang peria memakai pakaian trening sedang berlari dengan keringat mengucur dari wajah hingga ke lehernya dan terus turun tapi ia tak kunjung berhenti hanya untuk sekedar istirahat ia pun terus berlari hingga mentari menampakan sinar cerahnya.


Lantas ia berhenti di sebuah taman dengan memandangi mentari pagi hari ini yang terus naik hingga di saat mentari mulai mengeluarkan panasnya peria itu mengerjapkan matanya, dengan cahaya yang mengelilingi tubuhnya benar-benar suasana yang damai.


" Semoga hari ini terjadi hal yang baik..


dan semoga kau bahagia di alam sana Arsal..


Dan yang terakhir semoga ingatan dari kehidupan masalaluku sedikit demi sedikit menghilang..."


Kata peria itu yang tidak lain adalah Damar, dengan senyum tipis di bibirnya dan memejamkan mata karna terlalu lama memandangi mentari.


Damar pun berbalik dan mulai berlari tapi Damar di kejutkan oleh kakek tua yang berpakaian gelandangan dengan luka-luka yang cukup parah di tubuhnya.


Awalnya Damar ingin mengabaikannya dan mulai berlari menjauh dengan perasaan gelisah dan saat sudah cukup jauh dan mulai meyakinkan hatinya untuk tak perlu menolong oranf yang tak di kenalnya, tapi secara tiba-tiba dia malah teringat kata-kata Ibunya yang selalu meningatkannya untuk menolong sesama manusia yang membutuhkan.

__ADS_1


"Apa-apaan ini ingatan ini sangat tidak tepat datngnya" gerutu Damar.


" Sial " Umpatnya lalau berbalik dan menemui kakek tua nan kumal yang tergeletak di bawah pohon dengan bayak luka di tubuhnya itu.


Setelah Damar berjongkok untuk memeriksa keadaan sang kakek tua itu.


deg..


Kali ini Damar bener-benar di buat terkejut dengan seluruh luka yang di dapatkan kakek tua itu, luka tusukan dan sayatan pedang yang cukup dalam dan setiap sayatan tepat di titik vitalnya selain itu kakek itu masih bertahan hidup dengan keadaannya yang begitu parah dan darah yang telah terlalu banyak terbuang. lihat saja,


Leher tergores, dada pun tertusuk, di pergelangan tangan dan kakinya bahkan lebih parah dengan lukanya terbuka sangat lebar hingga terlihat bagian tulangnya, darahnya pun masih tak berhenti terus mengalir keluar seakan luka itu baru saja di dapat kan.


Apa-apaan kakek ini??


Semua lukanya di akibatkan oleh pedang dan semuanya masih baru seakan ia berusaja meyudahi sebuah perkelahian!!


Tepi aku dari tadi berada di sekitar sini tapi tak mendengar dan merasakan adanya perkelahian??


Ini sangat mencurigakan,


Pikir Damar melayang, tapi ia segera menyudahi pikirannya karna kakek di depannya sepertinya mulai siuman dari pingsannya. mungkin??


" Kakek lukamu sangat parah " Ucap Damar tanpa memedulikan respon sang kakek Damar berbalik dan memberikan punggungnya.


" Naik lah kepunggung saya kakek, akan saya antar anda kerumah sakit " Pinta Damar meyakinkan sang kakek tapi si kakek yang akhirnya bersuara malah menolaknya.


" Tidak perlu anak muda, luka ini mengandung racun yang tak bisa di sembuhkan " Jelas sang kakek dengan nada yang lembut namun tegas membuat Damar reflek membalik tubuhnya seketika untuk menatap sang kakek. Secara reflek pula Damar pun bergumam.


" Seorang bangsawan "


Sang kakek tersentak kala mendengar gumaman Damar. Akhirnya Damar yang menyadari perbuatannya pun bangkit dari jongkoknya dan mundur beberapa langkah menjauh.


" Ah, maaf kakek saya tadi kemari karna melihat kakek terluka tapi sepertinya saya tak dapat membantu kalau begitu saya pemit dulu kakek "


Kakek ini kuat dan berbahaya aku tak mau mendapatkan masalah yang akan merusak kehidupan damaiku.


Pikir Damar lantas pergi begitu saja mempercepat langkahnya tanpa menghiraukan sang kakek tua itu terlebih dahulu, tanpa diduga sang kakek yang di tinggalkan malah tersenyum misterius.


" Nak, kau harus benar-benar menjaga benda itu... "


Gumama sang kakek dengan tubuhnya yang mulai memudar dan akhirnya menghilang menjadi serpihan cahaya kecil.

__ADS_1


__ADS_2