Keinginan Sang Pengacau

Keinginan Sang Pengacau
ch.14 " Hadiah Terbaik Untuk Saudara Kembarku "


__ADS_3

" Hey,, tunggu. Kau tak akan menolong kami?? "


Teriak peria berusia 20 tahun itu tak percaya akan tindakan Damar seakan mereka tak terlihat oleh dirinya.


Tetapi yang lebih membuatnya tercengang ialah jangankan menoleh bahkan Damar sama sekali tak menghentikan langkah kakinya.


" Percepatlah langkahmu, terlalu banyak serangga di sini "


Celetuk Damar dengan wajah datarnya dan di angguki benar oleh gadis kecil berambut hijau panjang itu, tapi di sisi lain satu peria dan dua wanita yang masih setia berada di dalam kurungan besi itu hampir menjatuhkan rahangnya tak percaya.


" Ayolah... Jangan pura-pura tak mendengar kami dan siapa yang kau sebut Serangga.. "


Teriak peria itu penuh emosi, tapi bagaikan anggin yang berlalu hal itu tak menghentikan langkah Damar yang hendak melewati pintu leluar.


" HEY BOCAH TO... "


BRAKKK


Teriak peria itu yang sungguh terbakar emosi namaun sebelum selasai ia meneriaki Damar secara tiba-tiba sesuatu menghantam besi yang mengurungnya dengan kuat hingga besi itupun hancur berkeping-keping secara tak wajar.


Peria dua puluh tahun itupun ikut terpental menabrak dinding dengan kuatnya ajaibnya selain lecet-lecet dia tak mengalami pendarahan atau luka serius.


Dan saat ia membuka matanya kini posisinya terkapar di tanah dengan kaki kiri Damar yang tengah menginjak kepalanya.


" Siapa yang kau panggil bocah hah..!! "


Kening Damar kini penuh kerutan, entah mengapa dia tersinggung telah di teriaki bocah oleh orang yang seharusnya seumuran dengannya saat di bumi.


Itupun belum di tambah dengan umurnya saat kehidupan pertamanya, kalau di hitung-hitung umur dari sang Damar ini sudah sangat tua tapi tentu Damar sangat tak mau ngakui itu.


Ia hanya mau menghitung saat umurnya yang berada di Bumi. Seperti yang sudah di ketahui Damar sangat perhitungan, bahkan pada umurnya sendiri.


Injakan Damar kian menguat hingga peria malang yang tengah di injak kepalanya oleh Damar itupun sadar sepenuhnya dan cukup terkejut dengan posisinya sekarang.


Peria malang itupun memohon ampun dengan berbagai pujianya untuk melindungi kepalanya agar tak benar-benar hancur kala di injak anak berusia 10 tahun yang penuh emosi ini.


Sungguh kepalanya kini sedang di pertaruhkan.


" Ah, kakak yang salah adik manis. Tolong turun kan kaki mu, rasanya sakit "


" Heh "


" E, eh maksudku kau bukan bocah tapi... tapi... Ah,, cuma kurang tinggi..! "


" Maksudmu pendek "


" Iya, betul ?? Eh,, Bukan..!! A-Ah.. Maaf tadi salah sebut.. nona cantik.. Yang baik hati "


" APA "


Peria malang ini sungguh sial, karna ia sangat tak pandai dalam memuji setiap kata-kata pujian yang peria malang itu coba lontarkan malah akan memperdekat kannya dia dengan jurang kematian.


Wanita berambut putih di balik jeruji yang kini menyaksikan peria malang berusia 20 tahun itu mecoba bersilat lidah tapi malah menjadi bumerang untuknya sendiri, ia menepuk keningnya sendiri takpercaya lantas menghela nafas panjang.


Bukan hanya wanita berambut putih itu saja tapi wanita berambut pendek yang berada di jeruji besi sebelahnya juga berusaha membujuk Damar.


Sepuluh menit berlalu Damar baru menurunkan kakinya dari kepala peria malang itu, yang bahkan tak tau bila Damar adalah seorang peria.


" Menolong kalian..?? Apa peduliku..!! "

__ADS_1


Balas Damar dingin atas permintaan ke tiga orang di depannya kini.


" Apa kau mempunyai dendam dengan kami. Dimana hati nuranimu, tidakkah kamu kasihan kepada kami dan menolong kami "


Bentak wanita berambut coklat kemerahan sebahu itu tak terima ucapan nanar Damar seakan menganggap mereka remeh.


Dan benar itu kenyataannya, kini Damar tersenyum geli menahan tawanya agar tak meledak, menatap remeh wanita yang telah membentaknya itu.


Hati..? Yang benar saja..!! Di dunia yang pernah membunuhku dengan kejam ini..?? Jangan naif, hanya orang yang berguna untukku yang akan Damar ini tolong.


Jugaan aku sekarang tengah berperan menjadi seorang yang kejam. Mana boleh aku berbelas kasihan.


" Tuan muda kami tau kau orang yang hebat, karna itu kami mohon bantu kami membuka rantai segel budak ini dari leher kami dan juga jeruji ini. Kami usahakan akan memenuhi apa yang tuan muda inginkan sebagai balasannya. Kami bisa berjanji "


Ucap wanita berambut putih itu dengan santun nan anggun nadanya pun penuh kebijakan dan kepastian. Dan di setiap ucapan di benarkan dengan antusias peria berusia 20 tahun itu yang kini tengah duduk bersila di depan Damar.


" HUAHAHAHA "


Tawa Damar meledak hingga beberapa menit dan itu sukses membuat banyak kerutan di wajah wanita berambut coklat kemerahan sebahu itu.


Ia hendak meneriaki dan memaki peria berusia 10 tahun ini tapi di hentikan oleh wanita berambut putih dengan menggelengkan kepalanya.


Sedangkan wanita berambut pirang itu masih setia dengan pingsannya, belum ada tanda-tanda ia hendak bangun.


" Memangnya apa yang dapat kalian berikan..?? Nyawa kalian..?? Sungguh Damar ini tak butuh..!!


Jugaan hanya seorang idiot diantara orang idiot yang membiarkan dirinya tertangkap oleh pedagang budak padahal dirinya setara dengan pendekar ahli tahap menengah. "


Ejak Damar menggelengkan kepalanya, menatap remeh ke arah kedua wanita di hadapanya.


Oh,,


Ini kusus untuk kalian.


Nasib wanita itu akan sangat sial..!! Karna mereka akan berakhir di setiap ranjang bangsawan-bangsawan tua bangka bau tanah untuk memuaskan napsu birahi mereka.


Hemm, mereka tak kan pernah bisa melawan karna rantai budak di leher mereka mengekang kekuatan mereka,


Dan setelah mereka para bangsawan menjijikana itu bosan, penderitaan wanita itu belum berakhir sampai di situ.


Selanjutnya para wanita itu akan di jual kepelacuran untuk mengganti rugi uang yang telah mereka keluarkan untuk membeli wanita itu. Belum puas sampai situ mere... "


" CUKUP...!! "


Setiap kata-kata yang keluar dari bibir Damar penuh dengan ejekan dan hinaan itu membuat dada mereka bertiga yang mendengar menjadi panas terutama wanita berambut coklat kemerahan sebahu.


Rasanya ingin kurobek mulut sial anak kurang ajar ini


Pikir wanita berambut sebahu itu mulai gemetaran emosinya, kesal, dan juga merasa takut dengan cerita yang di jabarkan dari anak berusia 10 tahun ini.


Kami harus bertahan dengan ejekannya mau bagai mana lagi, Selain ceritanya memang benar, cuma anak berusia 10 tahun di depan kami inilah yang dapat menolong kami


Ungkap fikiran wanita berambut putih itu menundukan kepalanya walaupun wajahnya memucat mendengar setiap kata yang keluar dari bibir Damar.


Namun tanpa mereka sangka satu-satunya peria yang memakai rantai di ruangan itu menghentikan ucapan Damar. Wajahnya ikut terilihat pucat.


Matanya bahkan mengatakan sungguh tega kau mengatakan hal itu di saat seperti ini, yang pastinya di tujukan kepada Damar.


" Tolong hentikan tuan muda yang tampan. Kata-kata itu tak pantas di ucapkan, apalagi di depan mereka yang sedang terkena musibah. "

__ADS_1


Ucap peria 20 tahun itu menatap dalam Damar.


Mendengar tegoran itu bukannya Damar sadar dan menghentikan ucapannya, Damar malah semakin mengembangkan senyumnya. Kini Damar merasa menang lagi, memang ini yang ia cari.


Hinaannya kian makin menjadi-jadi hingga mereka yang berada di depan Damar telah angkat tangan dengan ucapan Damar yang setajam belati yang selalu ia lontarkan.


Wah,, waktuku sudah hampir habis, jugaan pelelangannya sudah di mulai..


" Baiklah karna Damar ini sangat baik hati maka akan Damar beri satu syarat lantas kalian akanku bebaskan. Bagaimana..? "


Mereka bertiga menatap Damar lelah, menunggu syarat apa yang Damar inginkan. Apa anak laki-laki ini akan mempermainkan kita lagi. Itulah yang mereka bertiga pikiran saat ini menatap curiga Damar.


" Kenapa kalian menatapku seperti itu. Ayolah ini hanya permintaan sederhana "


Tiba-tiba suasana berubah, kini mimik wajah Damar terlihat sangat dingin tak jahil dan penuh ekspresi mengejek seperti beberapa detik yang lalu.


" Sangat,, sederhana..!! "


Ulang Damar dengan nada renda bersama senyum licik yang terpapar di bibirnya membuat mereka bertiga tegang dan merasakan perasaan aneh terhadap Damar.


Seakan ada perasaan waspada menyelimuti mereka bertiga. Tanpa basa basi Damar mengungkapkan keinginannya.


" Naila Anarosea "


Ucap Damar menatap wanita berambut putih panjang lalu melanjutkan kembali ucapannya.


Yang tidak lain Damar meminta kepala dari kakak sang gadis ini, dan perlu mengirimkanya ke hari ulang tahunnya tepat 3 bulan lagi dari sekarang.


".. Narlard Anarosea, itulah nama kakamu bukan. Aku sungguh tak ada dendam padamu Nona Naila tapi kakakmu dia teman juga sahabat dari adikku.


Adiku dan sekaligus kembaranku Bahra Ray Anjas aku sungguh membencinya. Jadi sebagai kakak yang amat membencinya aku harus memberikan hadiah yang takkan terlupakan untuknya bukan..!! "


Akhir ucapan Damar di barengi dengan seringai kian melebar dan tatapan liciknya. Dan masih banyak kejutan yang ia akan siapkan untuk saudara tercintanya itu.


Sedangkan dari pihak lawan bicaranya bahkan sudah tak ada kata yang sanggup terucap lagi untuk mengutrakan keterkejutan yang kini mereka alami saat ini kejutan bertubi-tubi yang Damar berikan sungguh membuat mereka shok.


Tapi tidak dengan gadis berambut hijau panjang yang setia berdiri di belakang Damar dia seakan sudah tau identitas Damar dan tak perduli dengan identitas wanita berambut putih panjang itu ekspresinya sangat biasa.


Seakan tak peduli dengan keterkejutan yang mereka alami Damar melanjutkan ucapannya.


" Ah,, akanku beritahu satu hal, tak kanku biarkan kalian tetap hidup setelah mengetahui identitasku kecuali menuruti permintaan sederhanaku tadi..!


Karna itu akan menjadi hadiah terbaik untuk saudara kembarku saat ulang tahun kami ke 11 tahun tiga bulan lagi "


Terukir senyum tulus di bibir kecil merah cerry Damar saat mengatakan hari ulangtahunnya seakan mereka di undang di acara meriah itu.


Tapi mereka tau arti dari ucapan peria kecil di depan mereka ini yang bila di artikan itu akan sangat mengerikan lantas tanpa mereka sangka terukirlah sesuatu segel di kening ketiga orang yang tengah terkejut ini dengan berbagai pemikiran mereka masing-masing.


Yang tidak lain tentang identitas peria berusia 10 di hadapan mereka kini dan permintaan yang tidak masuk akal peria kecil ini, yang dia ucapkan 'bilang itu hanya permintaan sederhana saja'.


Segel perintah yang terukir di kening ketiga orang malang ini ialah, andai mereka tidak melakukan seperti perintah peria kecil di hadapan mereka ini atau.


Yang tidak lain identitas aslinya adalah seorang Putra Mahkota dari Kerajaan besar Karlarss yang mereka singgahi saat ini, maka kepala mereka akan meledak hingga isinya berhamburan ke manan-mana.


Dan mereka tak mau hal itu terjadi, sungguh mereka masih sangat menyayangi nyawanya.


Hal itu sebenarnya masih cukup mengerikan dan menjijikkan bagi Damar. Tapi itulah Damar dia amatlah perhitungan dan tak terima rugi sekecil apapun, kecuali terhadap beberapa orang yang telah ia akui.


####

__ADS_1


__ADS_2