
Kini Damar tengah berbaring di atas ranjangnya yang bisa di bilang sangat luas hanya untuk satu orang, di kamar yang luas nan mewah itu kini Damar sedang menjalani pemeriksaan dari sang tabib lerajaan.
Dengan hati-hati sang tabib membuka kain yang membalut luka di bagian betis dan paha sang Putra Mahkota ini, hingga akhirnya sang tabib istanah itu hanya dapat menghela nafas pendek tak percaya.
" Ini sungguh luar biasa, walau tak ingin percaya tapi hanya ini penjelasan yang menjelaskan semuanya. Yang mulia Ratu, menurut hamba ini tubuh dari yang mulia Putra Mahkota sangat sepesial, di karnakan tubuh dari yang mulia Putra Mahkota dapat menyembuhkan dirinya sendiri.
Bila seharusnya membutuhkan waktu selama satu bulan purnama penuh untuk bisa mengeringkan luka secepat ini dan lagi, yang mulia Putra Mahkota dapat seketika berdiri tanpa merasa sakit, padahal ini baru hari ke lima setelah kejadian buruk yang menimpa yang mulia Putra Mahkota saat itu. Luka separah itu, Ini sungguh keajaiban. "
Akhir penjelasan sang tabib lantas berdecak kagum. Sang Ibunda Ratu yang duduk dengan anggun di bangku tempat duduk tidak jauh dari ranjang Putra Mahkota yang tidak lain adalah Damar lantas mencibir.
" Apa maksudmu?!, putraku dapat menyembuhkan dirinya sendiri saat terluka?, lalu kenapa dia sampai tak sadarkan diri hingga lima hari!!. "
Ungkap yang mulia Ratu berambut emas menjuntai dengan bola mata biru cerahnya seakan memarahi sang tabib dan terlihat mengkhawatirkan anaknya pertamanya yang tidak lain sang Putra Mahkota ini.
Di sisi lain Damar yang masih berbaring di ranjangnya itu menyaksikan adegan di hadapannya dimana sang tabib membalas pertanyaan dari sang Ratu dengan tutur kata yang selalu meyanjung dengan penuh pujian dan selalu mengagung-agungkan keluarga kerajaan. Damar meyadari sesuatu.
apa ini... aku seperti menonton derama kolosal. padahal selama ini aku selalu menghujat kebiasaan mama yang terlalau gemar menonton derama kolosal?!.
Apa ini yang namanya Karma??
Damar masih asik dalam pikirannya sendiri di mana dia dulu selalu berebut remot saat menonton tv bersama keluarganya, yang di mana ibunya selalu berhasil mendapatkannya dan alhasil suka tak suka Damar di paksa menemani sang ibu menonton derama kolosal, hingga menjadi kebiasaan Damar menghujat setiap pemeran di dalam cerita derama kolosal yang ibunya tonton.
Sedangkan sang ratu yang melihat Damar yang menatap datar ka arahnya dengan sang tabib, ada rasa tak suka di matanya biru cerahnya. Sang Ratupun menghampiri sang Damar, lantas duduk di tepi rangjang.
" Bagai mana keadaanmu putraku? " Tanya Ratu dengan separuh wajahnya di tutupi oleh kipas berbulunya yang selalu setia ia bawa kemanapun.
" Keadaanku kini sudah lebih membaik Ibunda, ini semua berkat dari do'a dari Ibunda yang tiada henti dan begitu tulus terhadap Ananda ini "
Jawab Damar yang lantas duduk menatap ibundanya dengan menampilkan senyum tulus di bibirnya walau bisa di bilang sangat tipis, tanpa ada satu orang pun yang menyadari sebenarnya Damar begitu geli mendengar ucapannya sendiri sampai bulu kuduknya pun berdiri tanpa sebab.
Tanpa di sangka sang Ratu yang tidak lain ibunda kandung dari Damar di kehidupan ini tidak menayakan banyak hal, lalau pergi dari ruang kamar Damar bersama dengan tabib dan para pelayannya.
Walau Damar senang tak perlu lama-lama menghadapi ibundanya itu, dengan etika bercapa kerajaan yang menbuatnya geli sendiri, tapi itu memperjelas suatu hal di mana ibundanya di kehidupan ini memang tak pernah menyayanginya sendari kecil, itu terlihat jelas di dalam tatapan sang ibundanya yang terlihat tak senang berlama-lama berada dekat dengan anak pertamanya ini.
Ah,, rupanya aku memang sudah tak di sayaingi olehnya sejak aku masih kecil. Itu telah menjawab semuah hal yang terjadi saat itu.
Hanya tawa dingin yang keluar dari bibir Damar yang entah mengapa didengar cukup mengerikan bagi pelayan dan para kesatria yang berjaga di dalam ruangan itu. Hingga akhirnya Damar membuka suara.
" Aku akan istirahat, jadi kalian semua, keluarlah dari ruangan ini. Kalian cukup mengganggu konsentrasi tidurku "
__ADS_1
Perintah sang Putra Mahkota dingin dan di dengar oleh semua orang yang berada di ruangan itu, tetapi terlihat keraguan di mata pelayan, prajurit maupun ksatrianya yang berjaga di dalam ruangan itu, hingga salah satu ksatria memberanikan diri maju mendekat Damar.
" Sungguh kami tak berani mambantah engkau yang mulia Putra Mahkot, tetapi kami harus tetap bejaga di sekitar yang mulia Putra Mahkota karna ini adalah titah dari yang mulia Raja, untuk selalu berada di sisi engkau yang mulia Putra Mahkota kam... "
Ucap peria itu dengan nada sedikit begetar Kesatria itu tau betul sifat anak sepuluh tahun yang berada di depannya hampir sama dengan sifat sang Raja kerajaan ini, begitu dingin dan kejam. yah itu mungkin dikarnakan didikan yang di berikan kepada sang penerus kerajaan memang seperti ini. Dan itu cukup mengerikan.
" Cih, tua bangka itu " Decih Damar dengan suara dingin dan memalingkan wajahnya.
Hal itu sungguh mengejutkan seisi ruangan besar ini, mereka semua hampir menjatuhkan rahang mereka tak percaya dengan apa yang barusan saja mereka dengar. Putra Mahkota yang sangat menghormati Ayahnya, barusan saja menghina sang Raja, yang tidaklain Ayah kandungnya sendiri?? Bagaimana itu mungkin ?? apa pendengaranku yang salah? Tadi barusan putra mahkota berdecih dan..??. Itulah seisi pikiran mereka yang terlihat jelas di wajah mereka.
Secara berbarengan mereka menatap peria kecil berumur sepuluh tahun itu yang tengah duduk di ranjang dengan wajah kesalnya, masih tak percaya dengan hal ini, mereka sungguh shok.
Kali ini Damar beranjak turun dari ranjangnya lantas menatap tajam kearah ksatria yang sebelumnya berbicara kini sedang tertundung menutupi wajahnya yang masih terlihat shok, Sebelum Damar berucap kembali secara tiba-tiba seluruh pelayan, prajurit, dan ksatria bersujud serempak, sontak membuat Damar terkejut walaupun terkejut tapi tak ada perubahan dari mimik wajah peri kecil berumur sepuluh tahun ini.
Mereka semua mengucapkan hal yang sama memohon ampun atas nyawa mereka, apa lagi telah lancang mendengar apa yang seharusnya mereka tak dengar, beberapa pelayan bahkan telah terisak. Mereka semua berfikir apa yang mereka dengar barusan walau sangat terkejut tapi mereka seharusnya tak boleh mendengarnya, karna nyawa mereka bisa saja hilang walau hanya mendengar satu dua kata saja.
Hah,, ngapain kalian sujut. Eh, ada yang nangis.. Haiss
Haah.. Hukum kerajaan memang kejam?!. hemm.. Tidak aku ralat bukan hukum kerajaan yang kejam tapi hukum dunia ini. Jadi, andai aku ingin bertahan di dunia ini aku harus lebih kejam dari dunia ini. Haruskah??
Damar kalut dengan fikirannya sendiri lantas berjalan keluar dari kamar itu tanpa memedulikan para pelayan, prajurit serta ksatria yang tengah bersujud memohon ampun itu.
Hingga akhirnya Damar menemukan sebuah pintu yang terbentuk dari tanaman rambat dan tanaman pagar khusus yang menjulang tinggi, peria kecil ini tanpa ragu melewati pintu itu yang dimana itu adalah pintu masuk sebuah labirin kerajaan. Sekilas Damar melirik ke belakang terukir senyum nakal di bibir kecilnya.
Akan ku buat kalian menyesal telah mengikuti ku.
Teryata terdapat beberapa prajurit yang tengah mengikutinya secara diam-diam dari belakang, Damar mempercepat langkahnya lantas berbelok kekanan kekiri lantas berlari dan terus berbelok hingga akhirnya tak terlihat lagi beberapa peajurit yang tadi diam-diam berusaha mengikutinya.
Damar menghentikan langkah kakinya menatap ke depan di mana tidak ada jalan lagi, yang ada hanya rumput khusus labirin yang menjulang tinggi, yang menandakan ini jalan buntu. Terlihat senyum licik di bibir merah cerrynya.
" Inilah mengapa, tidak ada yang bisa memecahkan teka teki labirin ini, dan menemukan titik tengahnya. "
Ucap Damar dengan sembari melangkah maju merabah pojok bagian kiri rumput khusus itu dan hal mengejutkan terjadi, tangan Damar tembus. Semakin lebar senyum di bibir Damar ia menerobos masuk dalam rumput itu yang biasanya tak mungkin dapat di tembus bahkan oleh kekuatan yang kuat atau misterisu sekalipun.
Di sisi lain beberapa prajurit yang tadi mengikuti sang Putra Mahkota secara diam-diam kini tengah frustasi di karnakan bukannya menemukan sang Putra Mahkota tapi malah terjebak di dalam labirin ini.
Karna memang hanya orang tertentu yang berhasil mencapai titik tengah, di labirin ini, sekuat apapun orangnya bila telah memasuki ruang labirin ini maka tak kan berguna semua elemen kekuatan netral di dalam labirin ini, dan tak pernah ada yang tau penyebabnya karna pembuat labirin ini adalah Raja Pertama Kerajaan Karlarss di masa lalu bahkan sebelum perang dunia terjadi, karna itulah kerajaan karlarss salah satu kerajaan tertua di Benua KAI ini.
" Haahh... tempat ini adalah tempat yang paling cocok untukku, Damai dan tenang " Damar menghirup udara sebanyak banyaknya untuk menenagkan pikirannya yang kalut.
__ADS_1
Titik tengah atau inti dari labirin ini begitu rahasia, dan tak ada yang tau bila di titik tengah ini terdapat danau biru yang indah dengan air yang sedingin esnya dan padang rumput yang hijau cukup luas.
Juga terdapat sepasang batang pohon unik karna batang pohonnya bukan berwarna coklah seperti batang pohon lain melainkan putih dan cukup dingin ia begitu besar dan indah. Anehnya walau pohon ini besar tapi tak terlihat di luar labirin padahal pohon ini tingginya melewati pagar-pagar labirin. Aneh.
" Danau ini kan?!!... Kalau tidak salah di dalamnya terdapat peti mati kuno yang terpendam, anehnya di dalamnya bukan mayat melainkan harta karun seperti kitap langka dan pedang hemm.. Kalau tidak salah adik ke lima yang menemukannya setelah hampir mati karna tenggelam "
Ucap lirih Damar dengan serius, lantas terukir senyum manis dengan tatpan mata serakahnya.
Aku mengetahui apa yang terjadi di masa depan bukankah ini menarik, hal yang paling ingin aku lupakan malah menjadi penuntun jalanku untuk balas dendam kepada seluruh penghuni Kerajaan Karlarss ini..
" Haiihh kalian semua sungguh sial, orang yang sangat membenci kalian telah kembali, dan kini kalian akan menyaksikan masa depan penuh adegan yang akan orang ini siapkan.. Ckckck. Sungguh sial. "
Ucapnya menggelengkan kepalanya menyayangkan sesuatu.
" hmm... Hal pertama yang akan kita kacau kan apa ya.. Apa aku harus mengganti julukanku ' Mutra Mahkota sang pengacau ' aku rasa belum pernah ada yang menrima julukan itu dalam sejarah, Ah,, "
Plok
Tepuk kedua tangan Damar. " Aku akan menjadi yang pertama, dalam sejarah "
Jugaan aku punya ini..
Damar mengangkat tangan kirinya di hadapannya yang seketika keluar kabut hitam pekat keunguan, merembas dari udara berputar-putar diatas telapak tangan dan akhirnya membentuk sebuah kubus lantas kubus itu berhenti dengan posisi yang miring, barulah terlihat kubus itu ialah rubik hitam yang sama, tidak lain yang dengan sengaja membunuhnya dan melemparnya ke kehidupan pertamanya.
Damar tersenyum sinis melihat rubik hitam itu. Sungguh miris. Ingatan kesalnya kembali lagi kala melihat rubik hitam keseluruhan itu.
" Ini adalah rubik yang membawaku dalam kematian tapi di kehidupan ini, rubik inilah yang akan selalu menyelamatkan nyawaku. Haiih bila mengingat kejadian itu rasanya ingin sekali kuhancurkan benda menyebalkan di depanku ini "
Ucap Damar lantas menghela nafas berat ia mendongakan kepalanya, menatap kearah langit kini matahari mulai tenggelam malam segera datang mengubah langit menjadi gelap.
" Tuhan bila ini memang takdir yang kau berikan padaku aku mau tak mau aku akan berusaha menerimanya. Kau harus jaga keluargaku yang di bumi dan walaupun aku tak mempunyai penyesalan tapi kalau bisa sebenarnya aku ingin melihat sepupu dan sahabatku Arsal untuk terakhir kalinya,, yah,, walaupun itu tak mungkin sih. Huuh.. Sudahlah lagi-lagi aku terlihat bodoh bicara sendiri. "
Damar menggelengkan kepalanya pelan ia berdiri dengan senyum tipis di bibirnya masih dengan memandang langit yang telah keseluruhannya menggelap.
Damar pun menutup matanya menikmati angin semilir yang menghampirinya satu detik kemudian kabut hitam pekat menyelimutinya detik berikutnya kabut hitam itu menelan seluruh tubuh Damar dan seketika Damar menghilang dari posisinya meninggalkan kabut hitam tipis yang terbawa angin berlalu.
Mari mulai permainan nya!!
####
__ADS_1