Keinginan Sang Pengacau

Keinginan Sang Pengacau
ch.16 " Orang Yang Paling Tak Ingin Mereka Temui "


__ADS_3

Setelah Dua hari dari kepulangan Damar, orang yang pertama kali memberinya selamat dengan senyum tulusnya walau sangat tipis ialah sang Guru Ahli Setrategi yang biasanya selalu berwajah datar itu.


Guru berumur 29 tahun itu selau memasang wajah datarnya, dengan wajahnya yang rupawan, tinggi dan pembawaannya tenang, rambut putih panjangnya yang di kepang kesamping serta mata tegasnya yang berwarna hijau cerah sangat menyejukkan di pandang.


Kini Damar berada di ruang belajar bersama sang Guru, dimana ruangan khusus belajar untuk sang Putra Mahkota, ia mencatat materi yang kini di berikan sang Guru.


Nama sang guru ialah ' Raefal Daiv Da ' sang Guru adalah salah satu bangsawan terhormat dengan reputasi yang bisa di bilang luar biasa di bidang politik, Setrategi dan perbukuan.


Damar memperhatikan sang Guru yang selalu dia panggil dengan sebutan 'Guru Fal'.


Guru Fal adalah salah satu dari lima orang jenius di benua KAI ini yang diakui kemampuannya, dalam bidang politik dan strategi..


Di kehidupanku sebelumnya dia salah satu seorang yang memihakku. Tanpa ku ketahui demi membelaku dia harus kehilangan kedua tangan, kedua kakinya, lidahnya, bahkan hingga setatus dan reputasinya yang tinggipun harus hancur lebur..!


Dan aku baru mengetahuinya pada hari dimana, Aku sebagai Raja para rakyatku yang harus mati di penggal karna kesalahan yang tidak pernahku perbuat.


Saat itu aku baru mengetahui keadaan guru Fal dimana dia mengalami cacat parah, di saat seperti itu dia datang dengan menaiki kursi roda yang di dorong oleh keponakan perempuannya, yang berusia sepuluh tahun itu.


Dalam keadaan seperti itu dia masih berusaha membelaku, lalu berakhir di tebas oleh salah satu prajurid hingga mati bahkan keponakannyapun tak di biarkan hidup..


Aku melihat semuanya..!! Dengan mata kepalaku sendiri..!! Kebencian dan Dendam saat itu.. Takdir ini.. Akan peria pendendam ini bayar kembali..!! Bukankah karna itu, takdir membawaku ke masalalu ini..!!


Guru Fal yang tengah menjelaskan materi pelajaran mengerutkan keningnya saat mendapati sang Putra Mahkoata tengah melamun, baru kali ini ia melihat sang Putra Mahkota melamun setelah lima tahun lamanya ia mengajar Putra Mahkota ini.


" Ehem. "


Deheman sang Guru, seketika Damar tersentak Damar baru sadar walau Gurunya ini sangat baik, kaku, dan tak mudah menunjukan perasaannya tapi ada satu fakta lainnya yang hampir tertinggal.


Yaitu terlalu tegas atau bisa di bilang sangat galak dengan tatapan tajam yang menyelidik itu, seakan bisa melihat seluruh isi tubuh dan fikiran Damar. Sungguh hal itu membuat Damar cukup malau dan sedikit ngeri.


" Apa yang tengah engkau pikirkan Baryu "


Dan salah satu orang yang tak sungkan memanggilku dengan nama saja


" Ah, maaf Guru Fal "


Guru Fal menatap Putra Mahkota itu dalam, lalu menghela nafas pendek seketika sang Guru menutup bukunya.


" Kita sudahi pembelajaran hari ini. Pikiranmu sedang tak jernih, mari ikuti Guru "


Guru Fal lantas bangkit dari duduknya melangkah keluar pintu yang di ikuti oleh Damar. Sepanjang perjalanan Damar dan sang Guru melangkah dari melewati beberapa lorong dan jalan berpagar.


Beberapa perajurid akan menunduk dengan tegas tangan dikepalkan tepat di bawah dadanya kala sang Damara dan gurunya melewati mereka.


Hal yang di lakukan setiap prajurid adalah cara mereka sebagai bawahan menghormati junjungannya.


Hingga sampailah Damar dan sang guru di taman yang di kelilingi berbagai macam bunga dengan terhamparnya danau besar di depan mereka. Tepat sebelah kiri danau terdapat salah satu dari dua pintu masuk dalam labirin.


Guru Fal tanpa di duga langsung duduk di bawah satu-satunya pohon besar di tepi danau itu, ia menepuk rumput di sebelah kanannya.


" Kemarilah duduk bersamaku di sini "


Sebenarnya Damar cukup terkejut seorang bangsawan terhormat seperti Gurunya ini dengan setelan baju putihnya, ia duduk di atas rerumputan asal seperti itu.


Tapi jujur dari lubuk hatinya Damar tersenyum melihat tingkah Gurunya itu yang tak pernah ada di kehidupan sebelumnya.


" Apa Guru Fal ingin mengajakku untuk kotor "


Ungkap Damar tapi tetap melangkah dan duduk senyamannya di samping Guru Falnya itu.


" Entah mengapa tapi perasaanku mengatakan kau berbeda dari Baryu yang biasanya, tapi kau tetap Baryu. Dan aku percaya perasaanku, jadi aku tak sungkan mengajakmu menjadi kotor "


Mata Damar membulat menatap Gurunya tak percaya.


" Guru kata-katamu ambigu?! "


" Biarlah tak ada yang mendengarnya "


Jawab Guru Fal dengan santainya yang tengah menatap danau yang cukup luas dan indah terhampar di hadapannya.


" Aku, Aku mendengarnya "


" Oh,, benar, danau di istanahmu memang selalu terlihat sangat indah.. "

__ADS_1


Damar terperangah dia benar-benar kehabisan kata-kata untuk mengungkapkan setiap tindakan sanggurunya ini, yang amat terkenal akan wibawa dan ketegasannya.


" Guru Fal di mana sikap tegasmu itu..?"


Kini Damar benar-benar tak dapat diam dia benar-benar mempertanyakan di mana sikap garang dari sang Guru yang ia segani ini.


" Bicaralah santai denganku hanya kita berdua di sini, perajurid dan pelayan juga menunggu di luar taman "


" Hah..?? Guru Fal, apa kau sakit..?? "


Wajah Guru Fal menggelap seketika, sang Guru menjewer telinga kiri Damar geram.


" Siapa yang sakit..?? Kau yang sakit.. Dasar murid lagnat..!! Gurumu sudah bicara santai seperti ini kau malah mengejeknya..!! "


" A-Aw, aw, aw.. Sakit Guru Fal. Maaf.. Maaf Guru Fal"


Setelah perdebatan antar Guru dan murid selesai, Sang Guru Fal baru memulai percakapannya kembali.


" Baryu apa tujuanmu masih sama. Yakni ingin menjadi seorang Raja yang bijaksan "


Damar menatap sang Guru lekat sedangkan sang Guru masih menatap danau di depan mereka.


" Entahlah, itu pilihan yang sulit "


Bagaiman jadi Raja yang bijaksana, bila saat nanti aku sendirilah yang akan membantai seisi istanah ini..??


" Jujur aku lebih suka dirimu yang eksperif seperti sekarang ini di banding dulu Baryu. Tapi perasaanku mengatakan kau saat ini sangat-sangatlah berbahaya..!! Entahlah tapi,


Bahkan lebih berbahaya dari apapun yang pernahku temui danku ketahui, kemudian hanya bahaya yang lebih besarlah yang dapat menghantikan bahaya yang ada di dalam dirimu. "


Guru Fal menghela nafas berat menatap Damar yang tengah menatap biasa saja ke arah danau.


" Lalu apa yang akan Guru lakukan terhadapku "


" Entahlah,, Dulu aku memilihmu mejadi muridku karna aku merasakan kebijaksanaan di balik sikap dinginmu itu, dan aku menolak mentah-mentah saudara kembarmu karna aku melihat hatinya penuh dengan dendam dan iri selain itu sikap yang di tunjukan itu benar-benar tipu muslihat "


Ungkap sang guru menggeleng pelan merasa penuh kecewa mengingat kembaran dari muridnya ini. Damar yang mendengarpun cukup tetsentak, lantas terlukis senyum tipis di bibir kecilnya.


" Guru Fal kau mempunyai kemampuan yang bagus. Aku kagum padamu "


" Teryata kau telah tau sifatnya?? "


Damar mengangguk membalas tatapan sang Guru yang ia hormati ini.


" Lebih dari yang engkau ketahui Guru Fal "


" Hoo,, Tapi kau sekarang seratus kali lebih mengerikan dari pada dirinya. Kau harus tau itu "


Angin semilir berhembus membuat rambut hitam panjang Damar terbang melambai-lambai, Damarpun terlihat menikmatinya.


Di sampingnya sang Guru masih tetap memperhatikan sang muridnya ini.


" Baryu.. Kau terlihat menikmatinya, kau.. Benar-ben... "


" Guru Fal apa kau akan selalu memihakku, apapun situasinya "


Guru Fal berkerut di keningnya di karnakan ucapannya seenaknya dipotong oleh murid kurang ajarnya ini, dan seenaknya memberi pertanyaan yang sudah tau pasti jawabanya.


" Haah, Dasar murid kurang ajar.. Tentu saja kau tau jawabannya, Gurumu Raefal ini hanya akan memihak yang benar. Walau kau muridku satu-satunya tapi aku takkan pernah memihakmu bila kau yang melakukan kesalahan. Bahkan sampai kau mati sekali pun. "


Jawab dingin sang Guru yang terkenal atas ketegasannya ini. Tetapi Damar malah terkekeh kecil mendengarnya.


" Oh, ya.. Aku rasa tidak begitu.. "


Kau bahkan rela kehilangan segalanya hanya demi untuk membelaku..!!


Guru Fal menatap Damar menyelidik dan rasa curiga mulai muncul, tapi hanya di balas oleh senyum ramah dari bibir manis muridnya ini, juga suasana baik yang kini hadir di hati Damar saat ini.


" Kau... "


.


.

__ADS_1


Damar tengah berjalan-jalan menikmati suasana sore hari ini, Sangatlah jarang mempunyai waktu luang seperti ini bagi sang Putra Mahkota Kerajaan Karlarss ini.


Kini Damar tengah berada di area taman yang dimana di tata dengan rapih nan indah.


Cukup menyejukan mata kala Damar menikmati pemandangan yang jarang ini, di saat bunga-bunga yang bermekaran dan serbuk wangi dari berbagai jenis bunga yang melewati indra penciumannya.


Apalagi tanpa kesatria dan para pelayan yang mengikutinya menambah semangatnya saat ini.


BRUUKK..


" Haah, dasar sampah. Masih dengan tidak tau dirinya berada di istanah yang luas ini... "


Ucap sombongnya peria berumur 8 tahun itu yang tengah mendorong seseorang hingga jatuh. Anak ini bernama 'Liando Van Anjas' yang tidak lain Pangeran ke-3 Kerajaan Karlarss.


Posisi mereka sekarang berada di area taman bungga yang dekat dengan taman bermain.


Ucapan Liando pun di benarkan oleh sang gadis kecil berusia 6 tahun di sampingnya bernama 'Bellita Bissell Anjas' Tuan Putri satu-satunya di kerajaan Karlarss ini.


Kini mereka tengah menghardik adik bungsu mereka yang tengah terduduk di tanah akibat terjatuh saat di dorong kasar oleh sang kakaknya Liando.


Walau terjatuh dengan lutut dan telapak tangannya terluka akibat tergores batu kerikil tajam tapi ia sama sekali tak menangis.


Anak ini hanya menundukkan kepalanya dalam-dalam, terlihat bahwasannya ia sudah terbiasa akan tindakan jahat para kakaknya ini. Sungguh malang.


'Tara'es Luka Anjas' inilah namanya, pangeran bunggsu Kerajaan Karlarss yang berusia sama seperti kakak perempuannya yakni 6 tahun.


Benar hal seperti ini telah sering Tara alami seperti di maki, di hina dan bahkan kedua kakaknya ini tak sungkan memukulnya hingga terluka.


Sungguh menyakitkan dan menyesakkan tapi mau bagaimana dia tak bisa mengadu kepada siapapun, setatus ibunya terlalu rendah bila bersaing kepada kedua kakaknya ini.


Apalagi sekarang kini dia tinggal sendirian, di karnakan sang ibunya telah meninggal sesaat setelah melahirkannya. ya, dia bahkan belum pernah melihat rupa sang ibunda kandungnya itu.


Tara pun di rawat oleh sang bibi pengasuh tapi bahkan bibi itupun tak benar-benar tulus merawatnya, walau tak sampai menyiksanya tapi ia sangat mengabaikan Tara. Sangat tak peduli dengan apapun yang terjadi pada Tara.


Jangankan membelanya sang bibi pengasuhpun tak pernah berkata lembut terhadapnya, sang bibi akan berkata lembut kepada Tara kala mereka berada depan orang yang bersetatus lebih tinggi darinya yang tengah menayai keadaan Tara atau hanya sekedar melirik.


Cih..


" Iya, kenapa kamu tidak mati saja seperti ibumu itu.. "


" Haha benar sekali Bellita kau memangang sangat pintar.. "


Puji pangeran ke-3 yakni Liando itu terhadap sang adik perempuanya Bellita yang selalu mengikutinya dan mendukung setiap tindakannya.


Liando lantas tertawa puas dan mulai mengejek Tara kembali dengan bangganya seakan itu memang kegiatan meyenangkan baginya.


Ejekan tak berperasaannyapun semakin menjadi seperti mahluk rendahan, menjijikkan, tidak pantas hidup dan sampai tanpa di sadari ada yang mendatangi mereka.


" Hahaha benar mati saja ka... "


" Siapa yang mati "


Seketika suasana menjadi hening, Kala mereka mendengar suara yang menimpali mereka terdengar dingin dan tajam. Kedua kakak beradik ini sangat tahu siapa pemilik suara yang amat dingin dan tajam ini.


Setiap pangeran mempunyai satu kesatria yang di khususkan untuk mngawal, melindungi dan menjaganya.


Akan tetapi walau di bilang melindungi dan menjaganya, tetap saja mereka tak bisa ikut canpur bila yang membuli majikan mereka adalah keluarga kerajaan lainnya, yang mempunyai kedudukan yang lebih tinggi dari majikannya.


Asal tidak mencelakai majikan mereka hingga keracuran, cacat dan meninggal mereka tak boleh bertindak gegabah mereka akan bersikap seakan mereka taka ada. Memang sangat egois.


Karna mereka sangat menyayangi nyawa mereka, nyawa mereka bagaikan semut yang dengan mudahnya di injak di depan keluarga Kerajaan besar ini hingga mereka harus menjaganya hati-hati, jangan sampai meyinggung keluarga inti dari Kerajaan Karlarss ini.


Itulah sebabnya walau Tara mempunyai kesatria pribadinya, kesatria itu sama sekali tak berani membantunya walau ia di ejek, di hina, di tindas dan di perlakukan tak layak oleh kedua saudaranya ini.


Tetap saja kesatria pribadinya hanya akan diam seperti tak terjadi apapun.


Namun kini hanya butuh satu suara saja dapat membuat dua orang kakak yang selalu membuli Tara ini bungkam seribu bahasa seta gemetar takkaruan.


Hoo..


" Kenapa tak ada yang menjawab. Apa kalian bisu? Apa harusku tarik terlebih dahulu tenggorokan kalian agar kalian dapat menjawab? "


Seseorang keluar dari balik bunga pagar yang membatasi tempat itu. Dengan suara dingin dan kejamnya membuat semua orang yang berada di balik tempat itu langsung mengetahui siapa yang tengah bertanya pada mereka ini.

__ADS_1


Tentu orang yang paling tak ingin mereka temui.


__ADS_2