Keinginan Sang Pengacau

Keinginan Sang Pengacau
ch.8 " Mencari Harta Karun 1 "


__ADS_3

Kini Damar telah memasuki ke dalam goa itu dengan tenangnya, setelah sebelumnya meledakan seluru kepala bandit yang menghadangnya. Walau sedikit menjijikkan ia tetap melakukannya. Di dalam goa ini hanya ada satu lorong yang cukup luas dengan penerangan obor di sisi kanan dan kirinya.


Damar terus melangkah hingga akhirnya dia menemukan lima lorong di depannya.


Hmm..


Apa aku membuat boneka manusia saja ya, untuk menjelajahi lorong-lorong itu, Mungkin kan ada jebakan ?? Siapa tau kan??


Pikir Damar serius dengan meyentuh dagunya seakan berpikir keras.


" Tapi tidak akan seru bila bukan aku sendiri yang masuk bukan?! "


Tanya Damar dengan wajah serius pada dirinya sendiri. Dengan keyakinan penuh ia pun melangkahkan kakinya memasuki lorong yang berada di sisi kanan.


Setelah memasukinya lorong ini teryata tidak terlalu dalam dan kini Damar melihat ruangan yang sangat luas, terdapat satu kursi paling tinggi di sebelah kanan lalu terdapat banyaknya lubang tempat tidur di setiap dinding juga beberapa lorong lainnya.


" Eh,, jadi begini markas goa bandit, unik juga. Kalau di derama kolosal tidak terlalu di jelaskan karna mereka hanya pemeran sampinga.. Eh, kenapa jadi derama kolosal?? Astaga !! Aku tak boleh membuang buang waktu, Aku harus segera 'menemukan ruang harta karunnya' mungkin ada barang yang bagus "


Jadi itu lah tujuan dari sang Putra Mahkota ini pergi secara diam-diam ini, sungguh mengejutkan. Damar pun tanpa berlama-lama keluar dari ruangan tak peting itu yang pastinya itu ruangan peristirahatannya para bandit tak berguna itu.


Dengan santai Damar melangkah kan kakinya di karnakan tak adanya satupun bandit yang berjaga di gowa itu selain orang yang ia temui di depan goa tadi.


Aku harap ini ruang hartanya agar aku tak perlu susah susah mengecek yang lainnya.


" Lorog ini cukup dalam juga "


Ucap lirih Damar lalu mendapati jeruji-jeruji terbuat dari kayu. Damar mendekatinya dengan sedikit curiga dan penasaran, lantas ia membuka pintu kayu di sisi kiri.


Saat Damar memasukinya dan melihat daerah sekitar alangkah terkejutnya Damar melihat pemandangan di depannya, hingga Damar menutup mulutnya oleh tangan kanannya, tatapan miris dan ekspresi seakan tak percaya dia menggelengkan kepalanya.


Kini di hadapan Damar terdapat puluhan wanita dari umur sepuluh tahun hingga tiga puluh tahun meringkuk di setiap pojok ruangan goa itu tanpa sehelai kain yang menutupi tubuhnya, bahkan terlihat jelas beberapa memar di tubuh mereka, adapun yang telah mati membusuk dengan keadaan yang begitu mengenaskan.


Kini mereka semua tengah menatap Damar, karna bagi mereka sangat aneh bagi anak berumur sepuluh tahun memasuki ruang itu tanpa ada yang menariknya tapi tak ada yang berbicara atau bergerak bahkan tak ada cahaya di tatapan mereka hanya kekosongan dan rasa putus asa yang tak terlukis yang terlihat.


Seketika terlihat senyum di bibir Damar tetapi senyum itu terlihat mengerikan pupil matanya pun mengecil sekarang timbul keinginan membunuh yang sangat pekat di hati Damar. Keluar suara tawa di bibir Damar tapi suara itu melengking dan mengerikan.


" Heh, he he he hua ha ha ha... ******* SIALAN... "


Ucap Damar dengan tatpan matanya yang menajam.


" Sialan, kendalikan dirimu Damar, huff. Sekarang aku faham, apa yang di cari para pendekar yang dengan sukarela menolong dan membantai para bandit. "


Damar nerusaha menenangkan dirinya, mengusap-usap dadanya dan mengendalikan nafasnya agar lebih tenang tapi, secara tak terduga sosok bayangan ibunya yang ia sayangi yang kini berada di bumi muncul di ingatnnya, wajahnya pun menggelap seketika saat ingatan itu bercampur dengan orang-orang yang berniat melukai ibunya.


" Hehehe adai itu terjadi pada orang yang aku sayangi, maka aku sendiri rela menjadi iblis yang akan memberikan kematian paling menyakitkan kepada mahluk yang lebih rendah dari pada kotoran hewan sekalipun. "


Tekan Damar dengan seringainya disaat sela-sela jarinya yang menyikap rambut hitamnya panjangnya yang tadi tengah menutupi wajahnya.


Kini Damar menyadari tindakannya telah membuat seluruh wanita yang berada di dalam ruangan itu bergetar hebat sebagian menangis dan sisahnya tak sadarkan diri.


Damar menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya secar perlahan untuk menenangkan diri dan pikirannya yang mulai kalut, dia melakukan itu berulang-ulang, hingga diri dan pikirannya benar-benar telah tenang.

__ADS_1


Damar lantas berbalik meninggalkan mereka, Damar memasuki lorong sebelumnya yang ia tinggalkan begitu saja dan kini ia merampas sebanyak mungkin kain yang dapat di pakai untuk menutupi tubuh wanita-waniat itu.


Damar memasukannya ke dalam ruang waktu penyimpanannya lalu melangkah kembali ketempat para wanita-wanita itu kembali.


Damar mengayunkan tangannya, seketika berbagai kain yang ia dapat tadi bertebaran ke arah para wanita tak berbusana itu. Dalam satu petikan jadi terdapat setumpuk koin emas di hadapannya.


Dengan wajah dinginnya Damar memberi intruksi kepada para wanita yang menerima setiap pakaian yang jatuh ke arah mereka kini.


" Denrkan perkataanku. Sekarang kalian bebas !! Pakailah kain yang saat ini kalian pegang untuk menutupi tubuh kalian, lalu ambillah kain emas yang berada di hadapan kalian ini lalu keluarlah. kalian tak perlu khawatir tentang bandit karna Para bandit biadap itu telah M**ati**. "


Lantas Damar mengangguk penuh arti kepada para wanita itu, iapun berbalik meninggalkan mereka yang masih seakan tak percaya dengan ucapan Damar. Tapi setelah Damar melangkah cukup jauh terdengar teriaka bahagia dari tempat yang baru ia tinggalkan itu.


Kali ini Damar memasuki lorong ke tiga tapi tak ada kecerian di hati dan sikap Damar, tatapannya pun jadi begitu dingin. Entah apa yang ia pikirkan. Tapi sangat terlihat ia dalam suasana hati yang buruk.


Damar terus melangkah menelusuri lorong ketiga itu, hal yang sama terjadi Damar melihat jeruji dari kayu seperti lorong kedua yang baru saja ia tinggalkan. Tapi kali ini dengan ekspresi sedingin es Damar menendang jeruji kayu itu hingga menjadi hancur berantakan.


Damar melangkah masuk dengan tenang, kali ini yang meyapu pandangan Damar adalah para peria. Puluhan mungkin hampir seratus lebih peria dengan berbagai usia di dalam ruangan itu dengan keadaan hanpir sama mengenaskannya.


Mereka terlihat seperti gembel yang kumal, tidak! mungkin gembel lebih baik. Dengan keadaan begitu kurus dan lemah, bahkan ada yang di rantai, di paku di dinding, di biarkan membusuk atau mati kelaparan. Sungguh biadap tindakan para bandit-bandit sial itu.


Mereka semua menatap Damar heran tapi saat melihat jeruji kayu yang Damar hancurkan, mereka seperti memiliki secercah harapan bahkan ada yang sudah bangkit dari tempat duduknya.


Lagi-lagi Damar mengayunkan tangannya, tapi kali ini kabut hitam yang muncul dengan cepar menyelimuti seluruh ruangan itu. Secara mengejutkan dari rantai dan paku yang menjerat mereka semua hancur seketika kala menyentuh kabut hitam itu. Beberapa luka ringan merekapun sembuh tanpa sebab.


Sebagian kecil kabut yang berada di depan Damar berubah menjadi Kabut hitam yang sangat pekat lalu saat kabut itu menghilang ratusan koin emas berada di hadapan Damar.


Sebagian orang di ruangan itu masih di selimuti dengan kebingungan dan lekaguman dengan apa yang barusaja terjadi.


Apa yang terjadi..?? Lukaku menghilang..! sakit di tubuhku sembuh..! Kabut apa ini..? Siapa anak itu..?. Berbagai pertanyaan timbul di benak mereka, dan sangat minim menyuarakannya.


Mereka memperhatikan peria kecil itu dengan intens seakan mereka mengenali ciri-ciri fisik yang menawan ini, tapi entah mengapa mereka malah tak dapat mengingatnya.


Sedangkan Damar masih dengan wajah dinginnya menghampiri peria di pojok kiri berambut panjang berwarna kuning keemasan dan luka di tubuhnya lebih banyak dari pada yang lain bahkan sebagian ada yang mulai membusuk.


Kenapa kabut hitam itu tak terlalu berfungsi padanya, hanya sebagian kecil luka yang sembuh terlebih terlalu banyak luka yang ia dapat.


Peria malang itu sekitar berumur tiga tahun lebih tua dari Damar. Setelah rantai di kedua tangan dan lehernya hancur kini dia terduduk lemas bahkan lukanya hanya sebagian kecil yang sembuh dia menunduk dengan rambut yang acak-acakan menutupi wajahnya.


Damar berjongkok di depan peria itu, meyilakan beberapa helai rambutnya dari wajahnya lalu mengangkat dagu peria malang itu hingga Damar melihat wajahnya dengan jelas.


Heh,


" Sungguh tidak dapat di percaya.. Apa yang terjadi sehingga seorang pangeran dari kerajaan besar sepertimu berakhir di tempat menyedihkan seperti ini. Ck ck ck.. "


Ucapan Damar yang mengenali indentitas peria malang itu berhasil menyadar kannya, peria beeumur 13 tahun itu tentu sungguh terkejut, siapa anek kecil di depannya bagaimana mungkin anak ini mengetahui identitasnya. Ia membuka matanya lebar dan menatap Damar seakan ingin mengatakan sesuatu.


" Aku akan mendengarnya nanati "


Tahan Damar datar lantas menpuk pundak peria itu seketika peria itu menghilang dari hadapan Damar hanya tersisa beberapa kabut hitam yang memudar.


Tindakan dan kata-kata Damar mengejutkan semua yang ada di ruangan itu. Damar mengalihkan tatapannya ke sema orang di ruangan itu.

__ADS_1


Tidak ada lagi yang menarik. Sudahlah...


Saat hendak berbalik Damar menemukan seorang anak berumur tujuh tahun dengan memar di sekujur tubuhnya tengah memeluk dengan erat ke dua adik kembarnya yang berumur lima tahun.


Seketika bibir Damar melengkung ke atas. Entah datang dari mana kabut hitam itu seketika menyelimuti Damar, hanya dalam satu detik Damar menghilang dan muncul tepat di depan ketiga anak itu yang cukup menjauh dari semua orang di ruangan itu.


" Ikutlah dengan ku. "Ungkap Damar berjongkok di depan ke tiga anak itu.


Kehadiran Damar mengejutkan anak yang berusia tujuh tahun itu yang tadi tengah menatapnya dari kejauhan, walau teriaknya singkat tapi itu telah membangunkan kedua adiknya yang tertidur dengan pulas di dekapannya.


"Sebagai gantinya akanku jamin kehidupanmu dan kedua adikmu "


Lanjut Damar tanpa memedulikan suasana mengejutan yang barusaja ia ciptakan, mau peria berusia tujuh tahun di depannya itu atau juga semua orang yang berada di ruangan itu semuanya bahkan hampir menahan nafas.


Bagaiman tidak tindakan seperti menghilang dan muncul kembali adalah tindakan yang langka, bahkan penyihir terkuatpun sangat jarang yang bisa melakukan seperti apa yang Damar lakukan.


Bahkan peria kecil yang berada di depan Damar kini tengah mematung dalamketerkejutannya, kedua adiknya yang baru bangun pun hanya mengerjapkan mata dengan bingung.


" Aku anggap kau setuju "


Ucap Damar dengan seriangi kemenangan di bibirnya.


" Eh,, A- ap... "


Seakan masuk dalam jebakan dan menyadar sesuatu, peria berusia tujuh tahun itu berusaha mengutarakan pendapatnya, namun naas pendapatnya tak di butuhkan lagi, belum selesai ia beucap Damar telah memasukannya ia dan kedua adiknya ke dalam Ruang Dimensi Kehidupannya.


Damar berdiri lalu menatap semua orang yang berada di ruangan itu, yang mematung melihat setiap aksi peria yang menurut mereka berusia sepuluh tahun itu selalu melakukan hal tak terduga.


" Ini kesempatan terakhir bagi kalian, bila kalian menginginkan hidup. Kini seluruh bandit telah mati, goa ini telah aman. Maka keluarlah sekarang, ambil koin-koin ini sebagai modal kalian di luar sana. Lalu hiduplah, bila kalian memang menginginkan hidup "


Ucap datar Damar, tetapi entah sihir apa yang memasuki mereka kini setiap kata yang keluar dari bibir Damar menjadi penyemangat mereka untuk tetap bertahan hidup.


Sorak sorai kebahagiaan terjadi di ruangan gelap ini, lantas dengan cepat mereka berusaha bangkit ada sebagian yang memapah yang sudah tidak kuat lagi berjalan atau berlari untuk berusaha keluar dari dalam goa itu secepatnya.


Sedangkan Damar malah menyingkir sedikit untuk memberi mereka ruang keluar, ia bersender pada tembok dan memikirkan setiap tindakannya hari ini.


" Padahal aku hanya iseng saja, kebetulan kembali ke masalalu, kebetulan bertemu bandit lantas kenapa tidak merampok balik saja kan..! Haah aku fikir ini akan menarik dan menyenangkan " Damar menepuk jidatnya merasa rugi akan suatu hal.


"Siapa sangka hari ini aku. Seorang Damar, mau menolong banyak orang tak di kenal, tanpa mendapat imbalan apapun dari mereka...! Sungguh lucu...! Bahkan aku menberi mereka koin emas secara cuma-cuma, Kerugian macam apa yang telah aku perbuat " Damar kini menghela nafas kembali.


Damar yang pernah meraskan sakitnya penghianatan, dan pernah merasakan kehancuran yang menyiksa kala itu membuat batasan pada dirinya sendiri.


Ia memang tak jahat dan tak akan mengganggu siapapun tapi ia juga tak baik yang akan menolong siapapun tanpa imbalan, ia menjadi sosok yang amat perhitungan.


Karna itulah Damar paling tak mau berhutang kepada siapapun dan bagaimanapun keadaannya, bila dia berhutang ia akan cepat menbayarnya, mau itu jasa uang atau berbentuk apapun.


Tapi tetap saja itu semua tak kan berlaku pada orang-orang yang terdaftar dalam kata ia sayangi, seperti orang tuanya di bumi, ketiga sahabat karibnya dan bibik-bibik yang selalu setia merawat rumahnya dan merewatnya di kala sang ibu dan ayahnya sibuk. Itulah daftar yang ia buat sendiri.


Di masa mendatang pun Damar akan memakai prinsipnya ini tapi tak ada yang tau apa yang akan terjadi di masa yang mendatang, bisa jadi sesuatu akan berubah bukan.


" Huff... Bukankah lebih baik di bunuh saja dari pada di kurung sampai mati seperti ini ??! "

__ADS_1


Hela Damar setelah berfikir sejenak, Sebenarnya ia merasa cukup kasihan dengan peria-peria malang itu, tapi Damar lebih memilih lebih kasihan pada para wanita yang ia temui dari pada para peria ini. Kini Damar menatap semua peria-peria lusuh itu berusaha berjalan keluar dengan susah payah dan bahagianya.


####


__ADS_2