
Lorong ke-4 goa ini, Damar melangkah memasuki lorong yang minim penerangan itu yang begitu senyap beruntunglah di sini tidak lembab, Mungkin di karnakan sering di lalui.
Cukup lama Damar melangkah, hingga Damar telah tiba di ujung lorong dan mendapati 12 penjaga yang sedang asik mengobrol, bahkan sebagian tertidur hingga pulas, mereka di kejutkan dengan munculnya bocah pendek yang tidak lain adalah Damar yang saat itu baru datang.
" Woy, bangun-bangun ada yang datang. Lihat itu "
" Hah,, Dasar ganggu tidurku saja kau jugaan dia cuma seorang bocah "
" Bagaimana bocah itu bisa sampai sini..?"
" Benar dia terlihat seperti anak berusia sepuluh tahunan "
" Biarkan saja. Tangkap Agoh dan masukan saja dia ke ruang budak "
" Baik "
" Tunggu ketua, coba ketua perhatikan, rambut anak itu berwarna hitam pekat dan matanya berwarna keristal ungu, kan. "
" Memangnya ken.. Eh,, "
Ketua dari kelompok itu yang tengah duduk dengan tenang tiba-tiba menegang seakan mengingat sesuatu lalu dia menatap Damar kembali di ikuti dengan semua bandit yang berada di ruangan itu.
Mereka semua menatap anak berjubah hitam ini yang tengah menunggu percakapan mereka dengan bersandar di tembok terukir senyum merekahnya kala bandit-bandit itu mulai menyadari identitasnya.
Sudah ku duga mereka mengetahui identitasku, berarti para bandit yang menyerang itu memang di rencanakan.
Anak kecil yang para bandit itu tatap kini juga tengah menatap mereka dengan mata yang menyipit seakan menyeledik. Hal ini berhasil membuat para bandit itu merinding.
" A- apa benar, k-kau, Putra Mahkota Kerajaan Karlarss, itu.."
Tanya peria besar yang tengah berdiri itu panik dengan pikirannya yang mulai menerka-nerka.
" Ya "
Jawab Damar singkat masih mempertahankan senyum penuh artinya.
" Be,, Berarti, ketua gagal lalau apa... Tempat ini telah di kepung oleh seluruh pasukan Kerajaan.. dan... dan... "
Ucap ketua itu dengan bibir bergetar tubuhnya yang telah lemas terhempas ke bawah berbarengan dengan seluruh bandit yang menjaga ruangan itu, mereka sudah tak kuasa mempertahan kan tubuh mereka.
Tatapan mereka kosong seakan mereka tahu akhir dari cerita hidup mereka bila rencana besar itu gagal.
" Ki, kita berakhir "
" I- ini tidak mungkin, bu,, bukan kah ada panah gelap yang membantu kita.."
" ju,, juga ratusan pasukan bantuan yang mereka janjikan "
" Kita ti.. Tidak akan mati di sini kan.. "
__ADS_1
Di depan Damar mereka semua tenggelam dalam kepanikan mereka sendiri hingga tak menghiraukan sang Putra Mahkota Kerajaan Karlarss, yang kini berada di hadapan mereka semua.
" Eh,, Halo... "
Ucap Damar melambaikan tangannya menyadarkan mereka yangtak memperhatikannya kembali.
Astaga... Aku bahkan belum memamerkan kekuatanku tapi jiwa mereka sudah pergi kedunia lain terlebih dahulu ??!
Pikir Damar heran bercampur kesal.
" Haah.. membuatku sudah tak bersemangat lagi untuk menyiksa kalian.. Ck ck ck sayang sekali "
Damarpun berlalu melewati mereka yang masih bergetar dengan pikiran mengerikan mereka masing-masing mendekati pintu yang mereka jaga, Sebelum pintu yang terbuat dari kayu yang cukup besar itu terbuka Damar menggumankan sebuah mantra singkat ciptaanya sendiri.
" Rantas si "
Walau mantra ini begitu singkat di karnakan Damar paling malas untu menghafal tapi ini adalah salah satu kekuatan yang Damar dapat dari rubik hitam itu.
Damar tak tau efeknya seperti apa, sebenarnya Damar penasaran tapi dia lebih penasaran dengan ruang harta karun di depan matanya. Sungguh mata kolektor.
Hadiah itu aku tinggalkan untuk para bandit yang frustasi itu. Untuk mengakhiri fristasinya mungkin?? Itulah ungkap datar Damar lalu membuka pintu lebar-lebar.
Hal pertama yang Damar lihat adalah tumpukan menggunung koin emas dicampur bersama perhiasan emas seperti kalung, gelang, cincin, batu giok dan lain sebagainya.
Lalu di sebelah kiri terdapat berbagai macam pedang dan senjata tajam lainnya dari yang kecil hingga yang besar, sedangkan di sebelah kanan terdapat berbagai macam kain sutra dan ratusan botol pil dengan berbagai bentuknya.
Damar mematung sesaat melihat ruangan besar di depannya yang penuh dengan harta itu, walau tak perseratus harta kerajaan tapi ini cukup terbilang lumayan.
" Oke, isi ruangan ini cukup fantastis bila di temuka olehku pada saat di bumi. Tapi sekarang berbeda Damar ini sudah tidak di bumi. Koin emas, berlian, kain sutra, obat dan perhiasan atau apalah itu, sangat melimpah di istanah. "
Damar menggelengkan kepalanya pelan Damar memang tidak butuh tapi dia berkata lagi mungkin itu akan berguna suatu saat nanti walau mungkin bukan untuk dirinya sendiri. Damar menghela nafas pendek.
Lagi lagi aku bicara sendiri
Keluhnya tentu cuma dalam benaknya. Damar membungkuk dan mengambil koin emas yang berada di dekat kakinya, dia melempar koin emas ke udara dengan jarinya, koin emas itu berputar-putar di udara hingga akhirnya jatuh kembali ke tangan kanan Damar.
Damar menatap koin emas yang sudah dia genggam di tangan kanannya lalu mata Damar beralih ke ruangan di depannya yang sudah berubah menjadi ruangan kosong dan tidak terdapat satu barang pun di dalamnya, semuanya menghilang berpindah keruang penyimpanan tanpa batas milik Damar.
Dengan senyum puas di bibirnya dia berbalik dan membuka pintu kayu itu, kini suasana hatinya mungkin telah terobati dan cukup membaik.
Tapi saat pintu kayu itu terbuka hal yang Damar lihat adalah Ratusan Rantai berwarna ungu dengan duri tajam di seluruh sisinya, timbul dari tanah menusuk dan menembus setiap bagian sisi dari tubuh seluruh bandit yang menjaga tempat itu tadinya.
Ratusan ratai itu lantas tertancap di atas goa atau sisi setiap goa hingga tubuh setiap bandit itu tergantung di tengah-tengahnya.
Tubuhpun sudah tak berbentuk lagi hanya gumpalan-gumpalan daging yang berserakan di lantai, bahkan banyak pula yang tersangkut di rantai-rantai yang saling bergesekan, hampir tak ada satupun yang utuh di setiap bagian tubuh seluruh tubuh tercerai berai takberaturan, rantaipun telah di selimuti oleh warna merah yang kental.
Rantai itu juga telah memenuhi ruangan itu hingga tak tersisa jalan untuk Damar lewati.
Damar mematung melihat itu semua lagi-lagi Damar di buat takjub dan ngeri sekaligus, senyum getir terlihat di bibirnya.
__ADS_1
" A, apa ini salah ku juga ?? Tidak-tidak ini salah kekuatan rubik hitam itu yang terlalu mengerikan ??! Walau, sebenarnya ini terlihat lumayan keren..?!"
Ucapnya dengan pose percaya dirinya walau terlihat keraguan di wajahnya Damarpun menggelengkan kepalanya pelan.
" Ah,, aku harus keluar dari tempat menjijikkan ini "
Seketika kabut hitam mengelilinginya dan menyelimutinya satu detik kemudian Damar telah tiada di ruangan itu, seakan memang tidak pernah ada orang di ruangan itu.
Kini Damar muncul secara tiba-tiba dengan kabut hitamnya yang dengan cepat menghilang, di depan goa bandit itu tepat di tempat pertama kali ia datang. Tindakannya itu mengejutkan seluruh orang yang tengah berada di sekitar situ.
Damar menatap mereka dengan heran di balik tudung hitamnya di karnakan semua orang itu semua orang yang telah dia tolong tadi dari kaum peria yang seperti gembel dan wanita yang seperti mayat hidup.
Kini semuanya dengan tergesa-gesa mengelilingi Anak kecil berumur 10 tahu yang memakai tudung hitam itu lantas mereka bersujud di depan peria kecil itu sang penolong hidup mereka dan orang yang mereka kagumi.
" Terimakasih telah membebaskan kami tuan "
" Terimakasih telah menolong kami "
" Tuan pendekar kau telah menolong kami apa yang harus kami lakukan untuk membalasnya "
" Tuan pe... "
Bagi orang awam yang tak tau atau tak bisa mempelajari kekuatan beladiri atau tenaga dalam, maka mereka menyebut orang berbakat atau seseorang yang mempunyai kekuatan sebagai seorang pendekar.
Semuanya yang tengah bersujut berteriak mengutarakan ketulusan hati mereka untuk berterimakasih kepada anak yang telah menolong mereka ini yang mereka kira adalah seorang pendekar.
Tapi tak adanya respon dari orang yang telah menolong mereka itu hanya keheningan di tempat berdirinya sang pendekar diantara banyaknya teriakan terimakasih.
Salah satu peria muda penasaran, hingga iapun mengintip, namu dia tak melihat adanya seorang yang berdiri di tengah mereka. Dan teryata sang penyelamat mereka telah lama meninggalkan mereka dalam keadaan bersujud tadi.
Semuanya menjadi heboh kembali menayakan kemana perginya penolong mereka hingga salah satu anak kecil menemukan kertas putih dengan tinta hitam di atasnya, lalu seorang peria paruh baya membacakan isinya agar semuanya mendengar.
' Namaku Damar. Kalian terlalu berisik karna itu aku pergi. Dan kalian berhutang padaku. '
Itulah isi tulisan di kertas itu yang berhasil membuat semua orang diam seribu bahasa.
" hah..??? "
Itu adalah satu satunya suara sang pembaca yang terdengar saat itu.
Lima menit kemudian goa yang berada di belakang mereka runtuh nan hancur tampa sebab itu berhasil membuat mereka hampir gila karna terkejut.
" A,, Apa yang terjadi... Siapa yang dapat menghancurkan goa besar itu hingga tak berbentuk seperti ini ??? "
.
.
.
__ADS_1
Di sisi lain sang pelaku yang tidak lain Putra Mahkota Kerajaan Karlarss ini yang telah tertidur pulas di dalam kereta kudanya, yang tengah dikawal oleh puluhan perajurit, kesatria dan seorang jendral yang tak tau menau apa yang telah di perbuat oleh sang tuan mereka ini.
####